Petani di Pesawaran Minta Kepada Pemerintah Segera Atasi Langkanya Pupuk Urea

Pesawaran – Para petani desa Karangrejo Kecamatan Negerikaton Pesawaran keluhkan langkanya pupuk urea, hal ini di sampaikan Muji kepada sejumlah awak media hari Sabtu, (30/01/2020).

Muji anggota poktan (Kelompok tani) setempat mengatakan, Saya sudah tanam padi dari bulan Desember 2020 seharusnya persiapan pupuk sudah ada. kemudian tanya dengan Gapoktan, jawabanya belum dikirim dari Distributornya sedangkan pihak distributor menerangkan belum dikirim dari pabrik pupuk. Maka saya terpaksa beli ditempat lain dengan harga Rp 130 ribu /sak.”kata Muji.

Ditempat terpisah Supadi anggota poktan desa Karangrejo juga kecewa adanya keterlambatan pupuk urea karena terkadang kami petani tidak punya uang untuk beli pupuk, sedangkan tanaman padi harus dipupuk supaya hasilnya memuaskan. Yah, dengan terpaksa hutang pupuk di tempat lain, kendatipun harganya Rp 130.ribu /sak.”Tandas Supadi.

” Marwoto selaku Gapoktan desa Karangrejo menjelaskan kepada awak media hari Sabtu pagi 30/01/2021 melalui ponselnya.”Benar pak memang pada waktu petani menanam padi, pupuk terlambat datang dari pabriknya, Pihak distributor juga nenunggu pengiriman pupuk dari pabrik, Tapi bagi anggota poktan lain yang sudah mentransfer dana pupuk dua bulan sebelum tanam padi, rata-rata pupuknya sudah dikirim.”Pungkas Marwoto

Sumber: https://mitrapol.com/2021/01/30/petani-di-pesawaran-minta-kepada-pemerintah-segera-atasi-langkanya-pupuk-urea/

Wisnu Saepudin, Petani milenial dari Bandung Barat

Wisnu Saepudin, petani milenial asal Kampung Barunyatu, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) sukses menjadi petani Paprika di usia muda.

Selama 4 tahun bertani sayuran Paprika dengan mengusung konsep kolaborasi dan edukasi, dia berhasil menjadi sosok pembaharu untuk milenial di kampungnya dan sekarang mempunyai 22 petani binaan.

Tak tanggung, dari ketekunan serta konsistensinya memilih jalan hidup menjadi petani, sekarang dia mampu mendapatkan laba bersih sampai puluhan juta sebulan dan menjunjung kesejahteraan petani binaannya.

Wisnu baru saja selesai mengirim sayuran paprika kualitas terbaik ke pasar Kramatjati Jakarta. Sehari, ia bisa memasok 1 sampai 1,5 ton Paprika berbagai jenia untuk memenuhi permintaan pasar yang kian melonjak.Disela aktifitasnya ini, Wisnu sedikit berbagi kisah sukses menjadi petani milenial yang kini kurang diminati sebagian besar generasi muda.

“Tidak gengsi, mau belajar dan konsisten untuk berjuang menjadi petani,”ucap dia membuka perbincangan.

Wisnu mengatakan, awal mula ia memilih menjadi petani Paprika sebetulnya dengan alasan sederhana. Lahir dan dibersarkan pada daerah pertanian, dia berinovasi melihat peluang besar menjadi kaya dengan menanam Paprika.”Simpel saja sebenarnya, disini banyak petani sayuran seperti brokoli dan seladah, tapi yang jadi petani kaya itu menanam Paprika. Atas dasar itu saya belajar menanam Paprika,”cetus dia.

Diwarisi orang tua lahan seluas 1.200 meter persegi, Wisnu memberanikan diri membangun green house diatas lahan tersebut. Memang butuh modal yang tidak sedikit untuk bertani Paprika, setidaknya green house dibangun dengan biaya Rp105 juta namun tahan hingga 8 tahun.

Tapi ia tak begitu khawatir, nilai jual Paprika di pasaran tak pernah anjlok, jika lesu pun Paprika terbilang mempunyai harga yang lebih baik ketimbang sayuran lainnya.

Disamping itu, panen Paprika warna merah, hijau dan kuning akan berlangsung sepanjang tahun asalkan mahir merawat dan menjaganya dari hama.

“Secara mandiri itu mulai tahun 2016, orang tua sudah memulainya tahun 2012. Tapi pengolahan dan perawatan Paprika jauh berbeda dengan saya,” kata dia.

Babinsa Koramil 28/Pirak Timu Mencabut dan Menanam Benih Padi Bersama Petani

Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 28/Pirak Timu Kodim 0103/Aut Kopda Tito membantu petani mencabut dan menanam bibit padi di lahan sawah milik salah seorang petani Desa Alue Bungkoh, kecamatan Pirak Timu, Kamis (27/01/2021).
Dalam kesempatan itu Babinsa Koramil 28/Prt Kopda Tito saat mendampingi petani menggungkapkan, bahwa pihaknya akan terus membantu petani di desa binaannya masing-masing. Hal ini dilakukan sebagai wujud nyata TNI dalam mewujudkan Swasembada pangan Khususnya di Wilayah Kodim 0103/Aut.
“Seperti saat ini, kami ikut terjun kesawah dalam membantu para petani untuk mengumpulkan bibit padi yang siap untuk ditanami,” pungkasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan pendampingan kepada kelompok tani merupakan kegiatan rutin yang kami laksanakan, ini sudah merupakan tugas kami sebagai aparatur kewilayahan membantu para petani dalam hal pertanian.
“Seperti kegiatan tanam padi dan mencabut bibit padi yang siap untuk di tanam seperti yang sedang saya kerjakan ini adalah merupakan wujud kemanunggalan TNI-,rakyat”, ujar Kopda Tito.
Ditempat terpisah Komandan Kodim 0103/Aut Letkol Arm Oke Kistiyanto. S.A.P melalui Danramil 28/Prt Kapten inf Sarman menyampaikan bahwa apa yang telah di laksanakan oleh Babinsa Koramil jajaran Kodim 0103/Aut adalah suatu bentuk kepedulian TNI mendukung program Pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mensejahterakan masyarakat terutama para petani padi.
“Babinsa melansanakan pendampingan kepada para petani bukan hanya saat panen padi saja tetapi juga di saat penyemaian bibit padi, pengolahan lahan sawah, perawatan sampai panen padi. Seperti saat ini mereka lakukan ialah menanam padi di sawah, sebagai wujud rasa kepedulian terhadap para petani.
Ia menambahkan, untuk menambah produktivitas panen padi kali ini, kita telah menghimbau kepada para petani agar mengupayakan percepatan masa persiapan tanam.
“Dengan mengerahkan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) yang ada dan perluasan lahan sawah, sehingga target produksi padi dapat dicapai.” ungkap Kapten Sarman. 

Sumber: https://www.indometro.id/2021/01/babinsa-koramil-28pirak-timu-mencabut.html

Sosok Jatu Barmawati petani milenial yang sukses berbisnis manggis

Segala cara terus dilakukan Kementerian Pertanian untuk melakukan regenerasi petani. Salah satunya dengan program YESS. Di program ini, kisah-kisah sukses petani milenial diangkat ke permukaan. Salah satunya kisah Jatu Barmawati yang sukses menjadi eksportir.

Jatu Barmawati terlahir dari seorang petani di pinggiran Lampung. Wanita berusia 29 tahun ini menjalani profesi yang bisa membuatnya menjadi sarjana pertanian di salah satu kampus di DI Yogyakarta.

Anggapan miring terhadap profesi petani yang identik dengan kuno, kotor, kumuh, tidak mendapatkan banyak uang berhasil ditepis oleh Jatu Barmawati. Ia menjelma menjadi seorang wirausaha pertanian milenial yang telah sukses mengekspor manggis ke wilayah Eropa. Jatu bahkan bertekad menjawab tantangan yang umumnya menganggap pekerjaan pertanian dilecehkan, terlebih lagi bagi seorang wanita.

“Setelah saya lulus kuliah, image miring profesi petani menjadi tantangan, motivasi dan juga peluang untuk dapat mengembangkan diri saya pribadi dan mengubah mindset orang sekitar,” kisah Jatu.

Menurutnya, pertanian itu sustainability sexy, semakin ditekuni semakin penasaran dan menggairahkan.

Awalnya, Jatu memberanikan terjun ke dunia pertanian karena memperhatian usaha pertanian yang dikelola ayahnya. Dari itulah ia pun tergugah melanjutkan pendidikannya di jurusan pertanian sampai akhirnya bisa menjadi eksportir wanita muda yang bisa dibilang sukses.

Bersama rekannya, Jatu memulai usaha dengan membuat tiga pilar kegiatan, yaitu edukasi, RnD serta pengabdian masyarakat. Beberapa event pun diselenggarakan seperti Little Farmers Academy, Earth Camp, serta Healthy Hangout Bazaar.Dari berbagai kegiatan tersebut, komunitas Agriculture Youth Organization-Community (AYO) membuat suatu gerakan untuk mengembangkan produk-produk anggotanya melalui AYOMart sebagai sayap mandiri dalam fund rising. “Profit yang ada dari AYOMart kemudian untuk kegiatan sosial tim kami,” ujarnya.

Petani Aceh Tamiang Dilatih Tanam Padi Organik, Ini Kelebihannya dari Anorganik

Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan (Distanbunak) Aceh Tamiang melatih sebagian petani menanam padi secara organik.
Pelatihan ini dilakukan di lahan seluas 8 hektare milik kelompok Tani Jaya di Tanahterban, Karangbaru, Aceh Tamiang, Senin (25/1/2021).

Petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) Karangbaru Distanbunak Aceh Tamiang dan PPL swadaya, Armand Lubis yang baru saja menyelesaikan kontrak pertanian di Qatar dilibatkan dalam pelatihan ini.

“Kita melibatkan penyuluh senior kita, bang Armand Lubis terlibat dalam pelatihan ini. Keahlian beliau di bidang tanah pertaniaan kami rasa cukup dibutuhkan,” kata Kadistanbunak Aceh Tamiang, Yunus.

Yunus menjelaskan pelatihan ini cukup penting untuk meningkatkan kesejahteraan petani dalam mengolah tanaman padi. Sebab kata dia, banyak kelebihan yang diraih dari sistem organik dibandin anorganik.

“Jelas organik ini memiliki banyak keunggulan, makanya ke depan kita berharap petani kita semuanya menerapkan organik,” lanjut Yunus.

Dijelaskannya kelebihan pertama yang diperoleh petani mengolah tanaman organik ialah ongkos produksi.

Bahkan dalam pelatihan ini, petani turut dilatih membuat pupuk organik yang otomatis akan semakin menurunkan biaya tanam.

Di sisi lain, harga jual padi organik juga jauh lebih tinggi. Bila padi hasil tanam anorganik memiliki haga jual berkisar Rp 5 ribu, padi organik sudah mencapai dua kali lipatnya.

“Ternyata masih sedikit yang tahu kalau beras organik ini memiliki kelas tinggi. harganya pun bisa sampai Rp 10 ribu,” kata Yunus.

Harga jual tinggi ini kata dia didukung rasa yang lebih pulen dan tidak mudah basi.

“Kualitasnya lebih baik, selain pulen, lebih tahan lama dibanding anorganik,” sambungnya.

Bagian lain yang tak kalah penting kata dia, pola tanam organik ini tidak mematikan kesuburan tanah.

Hal ini sangat memungkinkan petani meraih produksi lebih besar dan bisa melakukan tanam lebih banyak.

Yunus mencontohkan lahan demonstrasi plot (demplot) di Tangsilama, Seruway berhasil memproduksi padi organik 5,7 ton per hektare.

Padahal di lahan serupa dengan pola anorganik. Produksi yang dihasilkan hanya 5,2 ton.

“Ini hasil uji coba, artinya produktivitas ini masih bisa ditingkatkan lagi,” ujarnya.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2021/01/25/petani-aceh-tamiang-dilatih-tanam-padi-organik-ini-kelebihannya-dari-anorganik?page=2





Sosok Jayadi, Petani Muda Sukses dari Indramayu

Di kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura), Kabupaten Indramayu menjadi salah satu kantong pertanian yang selalu diharapkan produksinya. Sebab itu, gerakan Kostratani harus terus menggema di seantero Kota Mangga tersebut. Termasuk dalam menciptakan milenial milenial yang terus mengerjakan pertanian Indramayu.

Adalah Jayadi, salah seorang petani milenial yang dimiliki oleh Kabupaten Indramayu. Selain sebagai petani padi berusia 32 tahun ini pun menekuni komoditas hortikultura diantaranya bawang merah dan cabai.Jayadi menggarap lahan padi seluas 2 hektar dengan rata-rata produksi 6,3 ton per hektarnya. Ia menanam cabe diluasan 100 bata (1 bata = 14 m, red) dengan hasil 7 kwintal per sekali petik serta bawang merah di lahan seluas 100 bata dengan hasil 4 ton per 100 bata.

Untuk mengembangkan daya jual hasil pertaniannya bawang yg ia tanam diolah menjadi bawang goreng dan Siwang (terasi bawang).

“Saya pernah memilih pergi keluar negeri untuk menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI), tapi kemudian memutuskan untuk kembali di tempat kelahirandan menekuni sektor pertanian sekitar 7 tahunan lalu,” ungkap Jayadi.

Ia pun terus menambah pengetahuannya tentang budidaya, panen serta paska panen melalui berbagai cara salah satunya adalah mendatangi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Lelea yang selama ini telah membinanya.

Abdullah Muklas adalah penyuluh pertanian yang mendampingi Jayadi. “BPP Lelea banyak memiliki petani milenial, salah satunya Jayadi. Komoditas yang digeluti pun beragam mulai dari tanaman pangan, hortikultura baik budidaya maupun pengolahan,” jelasnya.

Produk olahan bawang goreng produksi Jayadi awalnya masih sangat tradisional dan dikemas seadanya, akan tetapi setelah mendapatkan informasi dan pelatihan ia pun memperbaiki serta meningkatkan kualitas produknya. “Bahkan kini produknya sudah bisa ditemui di pasaran dengan kemasan yang menarik”, jelas Abdullah.

Sinergitas antara Jayadi selaku petani dan Abdullah selaku penyuluh merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Didukung dengan keberadaan BPP sebagai pusat simpul koordinasi (posko) pembangunan Pertanian di tingkat Kecamatan menjadi wadah belajar dan berlatih bagi petani untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuannya.

Terlebih BPP Lelea menjadi model Kostratani di kabupaten Indramayu yang didukung digitalisasi dalam menjalankan tugas, peran dan fungsi BPP guna mendukung peningkatan produksi dan produkfitas pertanian.

Tambah Milenial

Dalam setiap kesempatan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) Dedi Nursyamsi mengatakan ada 3 faktor pengungkit produktivitas di sektor pertanian. Mulai dari teknologi, peraturan perundangan termasuk Peraturan Daerah yang bisa menjamin luas sawah serta sumberdaya manusia (SDM). Dari ketiga faktor tersebut, SDM pertanian memiliki kontribusi paling besar yaitu mencapai 50%. Karena, SDM-lah yang mengarahkan teknologi, sarana prasarana, termasuk kebijakan.

“Jumlah petani di Indonesia sekitar 33, 4 juta orang, dan sekitar 76?alah pria dan sisanya wanita. Berdasarkan kelompok umur, mayoritas petani kita berada di usia 45 hingga 54 tahun. Jumlahnya sekitar 27%, pada rentang usia 55-64 sekitar 21%, dan usia petani di atas 65 tahun sebanyak 13%. Jika dijumlahkan jumlah petani usia tua mencapai 61%,” jelasnya

Sedangkan dari petani dari kelompok milenial sangat sedikit. Pada rentang usia 35-44 tahun, jumlahnya sekitar 24%. Petani usia 25-34 tahun sebanyak 12%, dan sisanya petani berusia di bawah 25 tahun. Kategori petani milenial adalah yang usianya kurang dari 40 tahun. “Kondisi ini yang harus menjadi perhatian. Sebab, ada prediksi yang menyebutkan jika 10 tahun yang akan datang kita bisa mengalami krisis jika tidak terjadi regenerasi. Karena, sampai saat ini petani masih didominasi oleh yang berusia tua,” tambahnya.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo juga mengatakan sektor pertanian sangat terbuka untuk semua usia. “Semakin muda semakin kuat, semakin enerjik, semakin kritis, makin apik kerjanya. Anak milenial harus mau diajak melihat teman-temannya yang sukses. Online sistem, startup, digital sistem menjadi jawaban peluang bisnis pertanian,” ujarnya.

Sebab itu, pertanian dengan semangat baru juga harus diluncurkan. Seperti membangun perilaku baru dan behaviour anak muda untuk mendapatkan pendapatan yang jauh lebih baik dari bidang pertanian.

Hal ini pun diamini oleh Plt Bupati Indramayu, Taufik Hidayat yang sangat mendukung regenerasi petani khususnya di wilayah Indramayu. Hadirnya BPP Kostratani tak hanya dapat membantu meningkatkan produksi dan produktivitas tetapi sekaligus meningkatkan minat generasi milenial untuk menekuni sektor pertanian.

“Kami ingin menciptakan dan terus menanmbah jumlah petani milenial. Kita akan ajak anak-anak muda untuk tetap di Indramayu, bekerja dan berusaha di Indramayu, tetapi dengan penghasilan seperti di kota melalui sektor pertanian,” ungkapnya.

Babinsa Bantu Petani Tanam Benih Padi di Aceh Utara

Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 28/Pirak Timu Kodim 0103/Aut Kopda Tito membantu petani mencabut dan menanam bibit padi di lahan sawah milik salah seorang petani Desa Alue Bungkoh, Kecamatan Pirak Timu, Kamis (27/01/2021).

Dalam kesempatan itu Babinsa Koramil 28/Prt Kopda Tito saat mendampingi petani mengungkapkan, bahwa pihaknya akan terus membantu petani di desa binaannya masing-masing.

Hal ini dilakukan sebagai wujud nyata TNI dalam mewujudkan swasembada pangan khususnya di wilayah Kodim 0103/Aut.

“Seperti saat ini, kami ikut terjun ke sawah dalam membantu para petani untuk mengumpulkan bibit padi yang siap untuk ditanami,”

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan pendampingan kepada kelompok tani merupakan kegiatan rutin yang sering dilaksanakan

“Ini sudah merupakan tugas kami sebagai aparatur kewilayahan membantu para petani,” ujar Kopda Tito.

Ditempat terpisah Komandan Kodim 0103/Aut Letkol Arm Oke Kistiyanto melalui Danramil 28/Prt Kapten Inf Sarman menyampaikan bahwa apa yang telah di laksanakan oleh Babinsa Koramil jajaran Kodim 0103/Aut adalah suatu bentuk kepedulian TNI mendukung Program Pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mensejahterakan masyarakat terutama para petani padi.

“Babinsa melansanakan pendampingan kepada para petani bukan hanya saat panen padi saja tetapi juga di saat penyemaian bibit padi,” terang Dandim.

Selain itu sambung Dandim, pengolahan lahan sawah, perawatan sampai panen padi. Seperti saat ini yang sedang mereka lakukan menanam padi di sawah, sebagai wujud rasa kepedulian terhadap para petani.

Ia menambahkan, untuk menambah produktivitas panen padi kali ini, pihaknya menghimbau kepada para petani agar mengupayakan percepatan masa persiapan tanam.

“Dengan mengerahkan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) yang ada dan perluasan lahan sawah, sehingga target produksi padi dapat dicapai,” demikian Letkol Arm Oke Kistiyanto.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2021/01/28/babinsa-bantu-petani-tanam-benih-padi-di-aceh-utara



Shofyan Adi Cahyono, Duta Petani Milenal

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta generasi milenial pertanian untuk memanfaatkan paradigma baru dunia digital dalam mengembangkan pertanian. Pertanian era sekarang tidak bisa disamakan lagi dengan era sebelumnya.

“Pertanian sekarang tak lagi sama dengan pertanian di masa lalu. Di era digital seperti sekarang, sektor pertanian juga beradaptasi dengan teknologi 4.0 untuk menjawab tantangan ke depan. Di situlah peran serta generasi milenial,“ ujar Mentan Syahrul, saat mengukuhkan 67 orang Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan, dalam keterangan tertulis, Kamis, 16 April 2020.

Salah satu Duta Petani Milenial asal Semarang yang sudah mengikuti arahan tersebut adalah Shofyan Adi Cahyono.Duta Petani Milenial asal Semarang ini sudah memulai bisnisnya sejak usia belasan tahun. Sekarang, Shofyan menjadi pengusaha pertanian yang sukses.

Sebagai Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Citra Muda dan pendiri P.O Sayur Organik Merbabu (SOM), Shofyan juga menjalani profesi sebagai konsultan pertanian, fasilitator, serta asesor pertanian organik di Lembaga Sertifikasi Profesi Pertanian Organik (LSPPO) Jakarta.

Dia mengaku bangga Kementan telah memilihnya, sebab dengan menjadi Duta Petani Milenial dapat lebih banyak mengenal orang-orang hebat. Terlebih, ia bisa membagikan ilmu dan pengalamannya untuk memotivasi petani muda yang lain.

Pertanian telah membawa saya ke Taiwan untuk belajar pertanian organik. Pertanian pula yang menuntun saya bertemu dengan tokoh-tokoh penting di Indonesia, bahkan bertemu Presiden Jokowi,“ ujarnya, bangga.

Memulai bisnis menjual sayur organik sejak 2014, sekarang Shofyan bisa menikmati manisnya berbisnis di sektor pertanian. P.O Sayur Organik Merbabu (SOM) yang digagasnya sudah memasarkan 50 jenis sayuran organik ke sejumlah daerah di pulau Jawa hingga Kalimantan. Bahkan sampai ke Singapura dengan omzet mencapai Rp60 juta sebulan.

“Rencana ke depan, kami akan tetap fokus pada pertanian organik dengan mengembangkan bisnis, menjalin relasi, kemitraan, serta membuat konten-konten seputar pertanian organik supaya pertanian organik dapat lebih dikenal masyarakat terutama petani muda,” ujar Shofyan.

Terhubung hal ini, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menambahkan, peningkatan petani pengusaha milenial sebagai upaya Kementan untuk mempercepat regenerasi petani. Petani pengusaha milenial ini juga didorong untuk ekspor.

“Turunnya jumlah petani berusia muda akan menimbulkan krisis petani. Oleh karenanya, regenerasi petani mutlak dilakukan karena mereka paling berperan sangat strategis dalam pembangunan pertanian Indonesia ke depan, di era modern. Mereka dipastikan melek teknologi dan cerdas,“ kata Dedi Nursyamsi.

Petani Keluhkan Sulit Tanam Padi di Lahan Food Estate

Pada tahun 2020 lalu, Pemerintah Pusat telah mencanangkan program food estate atau lumbung pangan merupakan upaya Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Tujuannya, mengantisipasi krisis pangan akibat dampak pandemi Covid-19, yang hingga kini masih berlangsung.

Sebagai salah satu wilayah yang dijadikan lokasi program food estate adalah Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis), khususnya untuk jenis tanaman padi. Namun, sebagian petani di lokasi tersebut mengaku kesulitan menanam padi, khususnya jenis padi IP 300.

Hal ini diungkapkan Kepala Desa Tahai Jaya, Jasimin mewakili petani di desanya ketika kegiatan kunjungan kerja Senator DPD RI Agustin Teras Narang melalui daring, Jumat (29/1/2021) siang.

Menurut Kades Tahai Jaya, Jasimin, lahan di desanya yang masuk kawasan food estate seluas 490 hektare, khusus untuk tanaman padi. Untuk musim tanam sekarang yang berbarengan dengan program food estate telah panen untuk padi IP 300, tetapi hasil panen tak sesuai yang diharapkan.

“Barangkali perlu evaluasi kembali. Contohnya, saya menaman padi jenis IP300 luas 5,5 ha hanya bisa panen 4 sak. Salah satu alasan kemungkinan kondisi tanah yang belum siap untuk padi IP 300, dan dukungan pemerintah juga harus maksimal,” ungkap Jasimin.

Dipaparkannya, kendala yang dialami tidak hanya soal tanah saja, melainkan banyak masalah yang lain, di antaranya penyakit hama, keterlambatan pupuk, infrastruktur jalan tani dan lainnya, sehingga benar-benar memerlukan kesiapan yang lebih matang agar hasil panen ke depan jauh lebih baik._

Jasimin berharap kendala-kendala ini ke depan dapat teratasi melalui program food estate yang sedang berjalan sekarang ini. Terlebih, hasil panen padi para petani bisa berkali lipat dari sebelumnya.

Menanggapi persoalan itu, Teras mengaku telah mendapat informasi berkenaan dengan pelaksanaan program food estate di wilayah setempat. Teras berjanji akan berkoordinasi, baik dengan Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian.

“Saya sudah bisa menangkap beberapa hal yang penting. Nanti, saya akan berdialog dengan pemerintah kabupaten dan provinsi. Kemudian nanti saya juga akan sampaikan kepada Menteri Pertanian terkait masalah-masalah yang dialami petani selama ini,” ujarnya.

Teras juga menekankan pentingnya pendampingan dalam rangka keberhasilan program food estate. Dengan pendampingan, tentunya akan diketahui kesulitan-kesulitan dari hulu ke hilir yang dihadapi, baik infrastruktur jalan, jembatan, irigasi, bibit, pupuk, dan lainnya.

“Saya mengharapkan keberadaan food estate ini memang betul-betul membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Tidak hanya bagi masyarakat Kalteng, tetapi juga masyarakat luar daerah bisa menikmati,” pungkas Teras. adn

Sumber: https://www.tabengan.com/bacaberita/48727/petani-keluhkan-sulit-tanam-padi-di-lahan-food-estate/

Nopi Herdinal Petani Muda dari Jambi

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) terus mendorong anak muda termasuk kalangan milenial mau bertani. Dia meyakini generasi muda menjadi penentu kemajuan pertanian nasional. Menurut Menteri, estafet petani selanjutnya berada di pundak generasi muda. Karena mereka memiliki inovasi dan gagasan kreatif yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan pertanian. “Generasi milenial adalah masa depan sektor pertanian. Generasi yang mampu memanfaatkan teknologi yang tersedia, dunia dalam genggaman mereka,” papar SYL

Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi adalah daerah yang potensial untuk pengembangan pertanian, baik itu tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Potensi inilah yang dimanfaatkan oleh salah satu generasi muda milenial kelahiran Kota Sungai Penuh yang bernama Nopi Herdinal.

Bagi Nopi Hardinal, menjadi petani adalah pilihan bukan pelarian. Sebagai generasi muda, dia ikut terpanggil mengajak generasi muda yang lain untuk berkontribusi memajukan pertanian Kota Sungai Penuh. Nopi bergerak dibidang tanaman pangan yaitu padi sawah dengan luas lahan ¬+ 2 hektar yang produktivitas hasilnya mencapai 10,5 ton/hektar dengan bimbingan dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura serta penyuluh Kota Sungai Penuh. “Alhamdulillah untuk produksi terus meningkat setiap tahunnya,” ujar Nopi

Pemuda yang menjadi petani berprestasi Kota Sungai Penuh tahun 2020 ini juga menekuni bidang tanaman hortikultura diantaranya tanaman cabe, tomat dan bawang merah. ”Pada saat ini tanaman tomat telah berumur 2 bulan 1 minggu, sudah siap panen dan memasuki panen ke-4 dan Alhamdulillah hasilnya cukup bagus,” Disamping itu, Nopi juga menekuni tanaman perkebunan yaitu tanaman kopi Arabica yang telah berumur 2 tahun dan sudah mulai berproduksi di lahan seluas 2 hektar.

Nopi yang juga pernah menjadi petani berprestasi tingkat nasional pada tahun 2016 lalu ini telah menggagas rencana kedepannya dibidang pertanian. “Kita berencana membuat channel youtube untuk penyebaran informasi dibidang pertanian ditambah untuk mengangkat profil dari teman – teman yang sukses dibidang pertanian. Selain itu, kita juga merencanakan pendirian usaha fresh market yang dengan tujuan untuk pemasaran hasil produk – produk pertanian yang bermutu dengan packaging yang bagus dan menarik ditambah dengan pemanfaatan media social sebagai sarana promosi dan juga sarana pemasaran,” terang Nopi.

Sementara itu penyuluh swadaya Kota Sungai Penuh, Asmaneli memberikan sarannya tentang profil Nopi Hardinal. “Saya cukup mengenal Nopi dalam berbagai kegiatan – kegiatan yang dilakukan olehnya tentang pertanian. Dan Nopi Herdinal juga pernah menyampaikan beberapa materi dan menjadi narasumber pada kegiatan pelatihan di bidang pertanian,” ucap Asmaneli.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa keberadaan para petani milenial sangat dibutuhkan untuk menjadi pelopor sekaligus membuat jejaring usaha pertanian. “Mereka (petani milenial) diharapkan mampu menarik minat generasi milenial menekuni usaha dibidang pertanian. Apalagi sudah banyak petani milenial yang kini telah menjadi pengusaha sector pertanian dan mengembangkan usahanya dari hulu hingga ke hilir,” ujar Dedi.