Chozin, Petani Milenial Dari Jambi

Keterbatasan teknologi tidak menyurutkan semangat para petani. Dengan kemampuan seadanya mereka berusaha memaksimalkan lahan usaha taninya. Berbekal keinginan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, petani mencari berbagai cara untuk mengolah lahan menjadi lebih produktif.

Chozin, Ketua Kelompok Tani Subur Mulyo, di Desa Sungau Duren, Kecamatan Jambi Luar, Kab. Muaro Jambi saat berada di lahannya, Kamis (10/10), mengungkapkan bahwa di wilayahnya masih banyak lahan tidur milik orang kota yang belum termanfaatkan karena keterbatasan tenaga kerja dan teknologi. Saat ini Chozin tengah menggarap lahan 4 hektare lahan untuk bertanam cabai, ketela pohon, kacang panjang dan sayuran lainnya. Kondisi tanamannya tetap terawat meskipun kekurangan air.

Tinggal di pedesaan dengan kondisi terbatas, Chozin adalah sosok petani milenial inspiratif. Lahan pertanian sempit itu ia kelola bersama sang istri.

Luasan 1 hektare ditanami cabai, 2 hektare ditanami ketela pohon dan sisanya daun ubi dan pisang batu. Selain mengandalkan hasil tanaman cabai, ia mendapatkan penghasilan dari ketela pohon seharga Rp 2.500 per kilogram (kg). Sementara daun pucuk ubi dia jual Rp 1.000 per ikat. Per hari dirinya bisa menjual sebanyak 60 ikat.

Selain itu ia juga menanam pisang batu yang dapat dijual daunnya. Sehari terjual 70 lembar dengan harga Rp 1.750 per pelepah. Ia mengatur pola tanam supaya tidak terjadi kekosongan produksi dari berbagai komoditas tersebut.

“Triknya adalah mampu mengatur jadwal tanam dan panen yang sekiranya bisa berputar mengisi kas keluarga. Selalu berfikir efisien dalam melakukan teknik budidaya yang terukur waktunya dan tidak mudah menyerah dengan keadaan walau modal terbatas,” ujar Chozin.

Kepala UPTD sekaligus Koordinator Penyuluh setempat, Sri mengungkapkan bahwa Kelompok Tani Subur Mulyo merupakan salah satu kelompok yang mendapatkan alokasi APBN 2019 untuk pengembangan kawasan cabai. Dari semua komponen bantuan yang diberikan sangat bermanfaat bagi petani.

“Semua bantuan sangat dirasakan manfaatnya, khususnya likat kuning. Sebelumnya petani hanya menggunakan botol yang dicat dan diitempeli dengan lem pabrikan,” ujarnya dalam siaran pers.

Petani lain, Erwin, asal Kelurahan Bagan Pete, Kecamatan Alam Barajo sudah mengenyam asam garam dan manis pahitnya bertani cabai. Mulai dari belajar tanam hingga gagal panen pernah dialaminya. Dirinya pernah sukses menghasilkan puluhan juta sekaligus merasakan rugi ratusan juta. Meskipun demikian tidak pernah ada kata jera menanam cabai.

“Ini sudah panggilan jiwa dan garis tangan kami ada di kebun. Kami melalui hari-hari dengan bercocok tanam dan sekarang sudah mulai pintar walau soal hasil tetap Allah yang menentukan,” ucap Erwin.

Erwin mengaku banyak lahan belum termanfaatkan maksimal karena keterbatasan terknologi. Bersama petani lain dirinya berharap bantuan sarana produksi pertanian bisa singgah di lokasinya.

“Kami berharap pemerintah dapat memberikan teknologi-teknologi produksi seperti alsintan yang dapat menghemat waktu dan biaya pengolahan serta sarana pengendali sarana dan prasarana perlindungan tanaman seperti screen house, parannet, atau kelambu. Selain itu, kami juga ingin adanya jaminan harga supaya petani jangan sampai rugi,” pungkas Erwin penuh harap.

Dwi Sartono, Petani Muda Yang Sukses Berbisnis Melon

Seorang petani asal Kepatihan, Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Dwi Sartono, 38, berhasil menanam aneka sayuran terong, cabai, pare, hingga kembang kol di lahann seluas 4.000 meter persegi.

Di lahan yang sama dia menanam melon, labu, dan lainnya. Padahal, lahan di sekelilingnya dibiarkan bera mengingat kemarau sedang ada di puncaknya.

Air yang ia pakai berasal dari sumur pantek di lahan yang sama. Manajemen air ini menjadi kunci keberhasilan menanam buah dan sayur pada musim kering seperti saat ini.“Air perlu kita atur. Hortikultura bukan tanaman air tapi dia butuh air. Kalau ada air sedikit, jangan paksa tanam banyak. Tanam secukupnya yang penting hasilnya bagus,” ucap dia, saat ditemui solopos.com di sawahnya, baru-baru ini.

Menurut Dwi Sartono, kebutuhan air tanaman hortikultura dibanding padi mencapai 1 banding 3. Air punya mengalir melalui sela-sela bedengan. Penggunaan air ini bahkan bisa lebih hemat jika menggunakan sistem selang drip.“Model ini cocok untuk merespons perubahan iklim. Ini kesempatan luar biasa ketika orang patah arang. Negatifnya, kita harus kerja ekstra. Positifnya, hama dan penyakit berkurang dan persaingan tanaman kecil. Artinya, nilai jual lebih tinggi,” ujar pria petani melon itu.

Konsep itu dilahirkan sebagai respons kesedihannya atas kondisi petani masa kini. Menurut dia, dari data Badan Pusat Statistik BPS menunjukkan penguasaan lahan petani hanya 0,3 hektare. Tanah itupun kadang statusnya sewa.

Akibatnya, petani hanya bisa menghasilkan sekitar 1,5 ton gabah per musim panen. Ia yakin dengan penghasilan sejumlah itu petani sulit untuk hidup layak.

Ia lalu mencari cara mengembangkan pertanian yang bernilai ekonomis tinggi, salah satunya hortikultura. Ia menanam melon. Hasilnya, dari satu hektare lahan bisa meraup omzet Rp100 juta. Sedangkan, dengan luasan yang sama padi hanya mampu menghasilkan Rp30 juta.

“Dari situ saya improvisasi agar orang bisa melihat. Di lahan ekstrem inilah bisa ada satu demplot. Jangan bandingkan kami dengan lahan kaya air,” jelas pria asal Sokomarto, Kepatihan, Selogiri itu.

Selain hemat air, tanaman hortikultura juga lebih menguntungkan dengan masa panen lebih cepat yakni dua bulan. Sayuran tertentu bahkan bisa lebih pendek dari itu. Lahannya pun tak perlu luas. Dengan lahan seluas 500 meter persegi bisa menghasilkan Rp10 juta.

“Saya berharap petani padi bisa memanfaatkan sedikit lahannya untuk menanam hortikultura. Kalau menguntungkan ayo lanjut, kalau tidak, beri kami alasan,” ucap dia.

Model pertanian ini juga memberikan efek domino bagi tenaga kerja di sekitarnya. Lahan seluas 4.000 meter persegi yang ia garap membutuhkan 3-5 tenaga kerja. Hal itu di luar kebutuhan tenaga tanam, repacking, pemupukan, dan lainnya.

“Melalui edukasi ini kami berharap banyak orang mau belajar. Hal itu akan mendorong kuantitias makin banyak. Kualitas output produknya juga baik. Kami akan jamin pasar hasil produksinya,” tambah Dwi.

Diah Meidiantie, Petani Milenial Dari Bekasi

Anggapan bahwa usaha bercocok tanam hanya bagus dijalankan di daerah atau pedesaan, ternyata tak selamanya benar. Bertani dengan modal lahan sempit di perkotaan terbukti juga dapat menghasilkan, bahkan nilainya jutaan rupiah. Diah Meidiantie, warga Bekasi, Jawa Barat, adalah salah satu yang sudah membuktikan hal itu. Menanami lahan sempit di sekitar rumahnya, Mei—panggilan sehari-harinya—dapat meraup untung belasan juta rupiah per bulan. Semua bermula pada 2008, saat dia mendapat izin menggunakan lahan seluas 3.500 meter persegi di lingkungan perumahan Taman Galaxy. “Dulu, di daerah itu masih banyak lahan tidur, makanya timbul ide untuk bercocok tanam,” kisah Mei, seperti dimuat Kontan.co.id, Kamis (28/2/2013). Mei lalu mengelola tanah itu untuk menanam sayuran organik. Adapun jenis sayuran yang dia tanam, yaitu kangkung, bayam hijau, bayam merah, pokcay, dan caysim. Agar mendatangkan profit tinggi, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) itu memasarkan langsung hasil kebunnya ke supermarket terdekat. Di situ, sayuran organiknya dihargai Rp 8.000–10.000 per kilogram. Dalam sepekan Mei bisa memasok sayuran sebanyak tiga kali ke supermarket itu. Dalam satu kali kirim, dia bisa menyediakan setiap 25-60 kilogram sayuran per jenis. Bukan berarti perjalanan usahanya mulus-mulus saja. Usaha pertanian Mei ini sempat surut pada pertengahan 2010 karena lahan yang bisa dia tanami berkurang. Pengelola perumahan membangun rumah baru di lahan tersebut. Namun, seperti kata orang, kalau sudah rezeki memang tak akan ke mana. Dia mendapatkan lahan baru seluas 3.000 meter persegi di Ciganjur, Jagakarta, Jakarta Selatan. Hasilnya, panen sayurannya pun bertambah.
Tambahan hasil panen mendorong Mei memperluas pasar sayurannya, tak lagi memasok supermarket saja. Dia pun menjual hasil kebun ke warga sekitar. Omzetnya lalu melejit sampai Rp 14-30 juta per bulan, dengan keuntungan bersih sekitar Rp 7-15 juta. “(Usaha ini) modalnya pun sangat terjangkau, sekitar Rp 7,5 juta untuk membayar dua karyawan, serta membeli pupuk dan benih,“ ungkap Mei.

Muhammad Amin, Petani Muda Yang Sukses Menanam Jagung Dan Bawang Merah

Kota Parepare bukan daerah pertanian, namun tetap saja pemberdayaan masyarakat petani jadi perhatian pemerintah kota.
Bahkan berkat program di bidang ketahanan pangan itu, membuat sejumlah petani sukses di kota bukan lumbung pangan ini.

Salah satu petani sukses Parepare adalah Muhammad Amin. Dia berhasil mengelola lahan perkebunan sempit di Kelurahan Lompoe Kecamatan Bacukiki, menjadi produktif dan ekonomis.

Lahan yang seluas 20 are itu dia sulap menjadi perkebunan jagung yang menghasilkan. Kini setelah panen jagung, dia beralih menggarap bawang merah.

“Ini berkat pembinaan yang dilakukan Ketahanan Pangan (eks Kantor Ketahanan Pangan, red). Saya sudah menanam jagung, sekarang bawang merah, nanti saya akan coba tanaman hortikultura lainnya,” ucap Amin yang sudah sukses membeli satu unit mobil pick-up untuk kelancaran usahanya ini, Jumat (16/3/18).

Amin terbilang petani modern. Dia memadukan metode konvensional dan modern dalam bercocok tanam. “Saya banyak belajar dari internet tentang metode bertani dan bercocok tanam. Alhamdulillah, hasilnya lumayan baik. Apalagi program-program pemerintah mendukung pertanian, hasilnya tambah baik,” ujar Ketua Gapoktan Bacukiki ini.

Misbar, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Cabai

Inovasi pertanian terus dilakukan petani di Bantaeng.Salah satu yang sedang dibudidayakan adalah cabai besar untuk wilayah dataran rendah.Cabai besar selama ini umumnya baru dibudidayakan pada kawasan dataran tinggi Bantaeng.Salah satu petani cabai besar di Kelurahan Bonto Manai, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng, Misbar telah membuktikannya.Dia mengembangkan tanaman ini sejak tahun 2018, karena menguntungkan maka dibudidayakan hingga kini.Cabai itu dipanen saat mencapai usia tiga bulan, ditanam pada lahan seluas 25 are.

Meski dengan lahan yang terbilang sempit, tetapi saat panen, tanaman cabai miliknya bisa menghasilkan Rp 30 juta.”Awal budidaya itu saya lakukan akhir tahun 2018, saya tekuni hingga kini karena Alhamdulillah cukup menguntungkan,” ucapnya kepada TribunBantaeng.com, Minggu (10/2/2019).Dia menceritakan bahwa lokasi lahan garapannya juga masih sedikit. Karena kuatir soal pemasaran.Sehingga berharap kedepan pemerintah bisa membantunya, terkait dengan persoalan pemasaran.Apalagi pihaknya berencana untuk menambah luas lahan yang bakal digarap untuk ditanami cabai.”Untuk luasnya kami berencana menambah dan kami berharap pemerintah bisa membatu dalam hal pemasaran,” jelasnya.

Wakil Bupati Bantaeng, Sahabuddin pun tertarik atas inovasi pada bidang pertanian ituDia memantau langsung lokasi pertamanan cabai dan ikut panen bersama masyarakat serta sejumlah pejabat yang mendampinginya.

Aditya Pratama Hermon, Petani Muda Dari Bogor

Semangat para petani milenial di Kampung Pabuaran, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat patut diacungi jempol. Para anak muda yang tergabung ke dalam Kelompok Tani Leuit Jajaka justru menjadikan masa pandemi sebagai ajang untuk bereksperimen dalam mengembangkan hasil tani di wilayah Bogor.

Salah satu yang sukses dikembangkan adalah budikdamber. “Awalnya, kami berpikir bagaimana caranya menghasilkan uang untuk jajan selama pandemi,” ucap Aditya Pratama Hermon, Ketua Leuit Jajaka, Selasa (1/12).

Di saat mayoritas pemuda sibuk bersosial media, Aditya dan teman-temannya memilih berkutat di bawah teriknya matahari. Dibalik keterbatasan yang menghadang, mereka ingin memastikan agar kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi.

Kelompok Tani Leuit Jajaka, lanjut Aditya, terus berupaya untuk berinovasi di tengah sempitnya lahan pertanian di kawasan Kota Bogor dengan metode tanam yang efisien di lahan seluas 500 meter.

“Kami mengembangkan komoditas perikanan dan pertanian seperti bawal, gurame, kangkung, cabai, bayam, dan ketimun. Hasil panennya kami jual di bawah harga pasar untuk warga sini,” pungkas pemuda yang kini cuti kuliah akibat terdampak Covid-19 tersebut.

Bagi Aditya, jalan sukses kelompoknya menjadi Agripreneur ini sendiri bukan tanpa hambatan. Selain pengalaman, dukungan teknologi pertanian untuk membuka jaringan irigasi dan pematangan lahan juga sangat dibutuhkan.

Semua itu, lanjut Aditya, semata-mata untuk memastikan agar ketersediaan pangan di wilayahnya tetap baik di masa mendatang. “Ini tantangan buat kami agar produktifitas hasil panen terus meningkat,” singkatnya.

Mendukung program tersebut, Relawan Indonesia Bersatu berinisiatif menyokong kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan memberikan bibit lele sebanyak 10.000 ekor, 800 Kg pakan lele, dan 2.400 pot kangkung.

Ketua Relawan Indonesia Bersatu Sandiaga Uno mengatakan, gagasan urban farming dengan konsep ekosistem terpadu budi daya Ikan yang terintegrasi dengan sistem produksi sayuran merupakan inovasi yang memberikan dampak besar bagi keberlangsungan hidup.

“Kami memberikan dukungan agar mereka bisa bertahan dan berkembang sehingga semakin bermanfaat bagi masyarakat,” ucap Sandi di lokasi.

Selain manfaat ekonomi, Sandi berharap, kegiatan ini dapat menguatkan rasa kebersamaan dan menciptakan budaya gotong royong dalam lingkungan tempat tinggal melalui kelompok tani dan usaha UMKM. “Kita harus segera bangkit dan pulih, buka lapangan pekerjaan dan jangan takut gagal,” kata Sandi.

Relawan Indonesia Bersatu juga memberikan bantuan pelatihan pengelolaan budidaya pangan dari pakar pertanian, sehingga diharapkan masyarakat penerima bantuan memiliki keahlian untuk menjalankannya secara mandiri dan berkelanjutan.

Untuk mendukung keberlangsungan usaha tani yang dikembangkan Poktan Leuit Jajaka, RIB juga memberikan bantuan alat pertanian yaitu 2 unit penyemprot hama, 5 cangkul, 3 pacul garpu, 100 buah media semai, 10 sak pupuk kompos, 1 gulungan jaring tani, 10 buah kantong kompos, dan 100 kemasan bibit tanaman.

Sebanyak 200 paket bantuan sosial juga diberikan kepada warga. Penerima bantuan adalah warga Desa Pabuaran, Kota Bogor yang sebagian besar berprofesi sebagai buruh harian lepas dan warga korban PHK.

Eko Prayitno, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Sayuran

Berangkat dari ‘kesungguhan niat berkebun’ awal niat itulah yang dilakoni oleh Sosok Mbah Gino sebagai petani sayuran di Desa Pematang Duku Kecamatan Bengkalis. Bermodal 7.000 kantong pollybag, kini telah menuai hasil keuntungan yang menakjubkan.

Mbah Gino bernama asli Eko Prayitno berasal dari Lampung, dikenal warga sebagai sosok yang kaya akan pengalaman dalam mengolah tanaman sayur dengan pupuk organik. Sejak 4 tahun belakangan ini, diawali dengan menggarap tanah seluas 2 Ha milik Balai Penyuluhan Pertanian dan dibiayai dengan modal sendiri. Tanpa mengenal putus asa, Pria tua telah memiliki delapan orang anggota itu tetap serius menggeluti budidaya tanaman sayuran jenis sawi, bayam, jagung, ubi, timun, kacang panjang, cabe merah, bawang merah, padi dan kangkung hingga akhinya berkembang.

Saat media ini bertandang kekediamanya, Minggu (2/2/2015) terlihat seluruh halaman rumah dihiasi dengan pemandangan penghijauan. Pemanfaatan lahan perkarangan rumahnya tergarap dengan maksimal, penuh dengan pollybag tanaman sayur berupa sawi, bayam, seledri, kangkung dan bawang merah. Dan lainnya juga seperti kacang panjang, ubi kayu, jagung, timun padi terhampar segar di samping dan belakang rumahnya.

“Berawal dari kesungguhan niat berkebun adalah kunci suksesnya, berangkat dari 3 tahun yang lalu bermodalkan sendiri membeli 7.000 kantong pollybag kini membawa berkah bagi kami sekeluarga dan 8 orang yang ikut kerja selama ini,” terucap dari bibir mbah Gino menjawab pertanyaan sejumlah wartawan.

Selain itu, Pemaksimalan tata guna lahan dan tata letak tanaman, penyiraman, perawatan dan ketekunan dalam pemupukan dengan pupuk organik, akan dapat memudahkan, terukur dan lebih memaksimalkan dalam hasil produksi kebun sayuran.

Merasa senang dirinya dikunjungi, Mbah Gino dengan bertelanjang badan tanpa menggunakan baju memperlihatkan kebun sayuran miliknya. Pria yang telah terlihat seratan keriput dikulitnya itu pun memaparkan keuntungan berkebun sayuran dengan sistem polybag dapat menekan biaya produksi (pengolahan lahan, red), perawatan dan pemupukan sehingga akan memaksimalkan hasil produksi.

“Sebagai contoh yang saat ini siap panen, yaitu sawi, kalo kita siapkan polybag agak besar, kemudian diisi tanah dicampur dengan kotoran kambing dan ayam (komposisi tanah 75 % dan kotoran kambing 15 % dan kotoran ayam 10 %), kemudian biji sawi, ditanamkan tak usah terlalu dalam tanah tersebut, lakukan penyirama secara rutin, dan pada hari ke 10 kemudian lakukan pemupukan dengan pupuk organik, dan pada hari ke 25, sawi siap panen, disini poly bag dan tanah bisa dipakai kembali untuk menanam kembali, ini kan hemat,” terangnya bercerita.

Tidak hanya sampai disitu saja, Mbah Gino dengan bangga pun menunjukan kolam pupuk organik miliknya, seraya menjelaskan proses pembuatan pupuk cair organiknya, dimana pupuk tersebut terbuat dari kotoran kambing, kotoran ayam, gula merah dan EM 4 masukan dalam bak kolam kemudian masukin air.

“Alhamdulillah, untuk stok pupuk organik kami banyak. Kami membuatnya sendiri, sehingga dapat menjamin kesehatan dan kesuburan sayuran sehat sampai siap jual,” pugkas Mbah Gino.

Tanah Bengkalis Sangat Cocok Untuk Bercocok-Tanam

Kesuksesan dan keberhasilan Mbah Gino membuktikan bahwa tanah Bengkalis sangat cocok untuk tanaman sayuran dan hortikultura lainnya.

“Memang awalnya, banyak orang pesimis bahwa tanah bengkalis tidak cocok untuk tanaman sayuran dan itu salah. Saya berani ngomong bahwa tanah bengkalis adalah sangat subur, dan itu telah saya buktikan dengan menanam sayur ini,” jelas Mbah Gino.

sementara itu, Mbah Gino memaparkan rincian bagaimana prospek menanam sayuran sawi dalam polybag dan prospek budi daya sayuran sawi menggunakan sistem polybag. Dengan harga jual per kilo sawi Rp 8.000,-/Kg, untuk mendapatkan satu kilogram itu sekitar 8 pokok sawi, dengan masa tanam siap panen sawi adalah 25 hari.

“Menanam sawi dengan Polybag, caranya cukup mudah yakni dengan mencampur tanah dicampur kotoran kambing dan ayam yang dimasukan dalam polybag, kemudian semai 2 biji bibit sawi tersebut di kantung polybag yang sudah di beri media tanah tersebut,” jawabnya.

Untuk diketahui, jika dikalkulasikan hasil budidaya sayuran sawi yang dilakukan Mbah Gino adalah 10.000 batang/8 =1.250 kg sekali panen. Maka Hasil Produksi per tahun, 1.250 Kg x Rp 8.000 x 12 = Rp 120.000.000,-.

“Jadi pemasukan dari budidaya sawi pertahun adalah Rp 120.000.000. Berani mencoba?,” tantang simbah lagi.

Ginta Wiryasenjaya, Petani Muda Sukses Yang Menanam Kangkung

Sobat milenial, tak sedikit orang meragukan jadi petani bisa sukses dan menghasilkan banyak uang, siapa sangka kisah sukses petani kangkung jadi viral dan mengubah ‘nasib’banyak orang, Senin (16/4/2018).

Berawal dari Milesia.id mendapatkan link tautan media sosial Facebook tentang petani kangkung yang sukses menghasilkan Rp 97 juta per bulan dengan cara cerdik.

Pada postingan tersebut petani kangkung hanya bermodal lahan sempit untuk menanam kangkung.

Petani tersebut menggunakan teknik hidroponik yakni budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah. Biasanya petani menggunakan paralon.

Teknik hidroponik ini menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman, bahkan kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah.

Kisah viral tersebut berasal dari postingan pemilik akun Facebook dengan nama Ginta Wiryasenjaya, Milesia.id kemudian mencoba menghubunginya.

Via telepon Ginta yang seorang pengusaha di Lampung lalu beberkan kisahnya.

Pria yang juga bagian dari Tim Infrastruktur Pemprov Lampung ini mengaku kaget postingannya bisa jadi viral, padahal itu postingan sudah sejak tahun lalu.

Melalui telepon Ginta lalu menjelaskan kalau ia posting kembali cara cerdik praktisi hidroponik Charlie Tjendapati yang menjelaskan bagaimana menanam kangkung dengan cara ini dan didapatkan hitungan pendapatan hingga Rp 97 juta per bulan.

Setelah ia posting menanam kangkung dengan cara hidroponik, di Lampung kini menanam hidroponik menjadi tren baru.

“Kini menanam cara hidroponik sudah ada di perumahan-perumahan di Lampung, bahkan ada jasa untuk membuat saluran hidroponik hingga warga perumahan bisa menanam sayuran,” ujar Ginta.

Kini banyak warga yang memanfaatkan cara hidroponik untuk menanam sayuran di halaman rumah, minimal para warga bisa memanfaatkan sayuran yang ditanam sendiri.

Ternyata hanya berbekal tulisan viral bisa ubah wajah Lampung.

Abdul Malik Umar, Petani Milenial Dari Langgudu

Berbekal ketelatenan dan kesabaran, Budidaya Tanaman sayurannya Terbilang memberikan banyak keuntungan. Kenapa Tidak, Di tiap tahunnya, permintaan terhadap sayuran selalu meningkat cukup signifikan. Mengingat sayuran di pasar memang menjadi kebutuhan pokok yang kaya akan gizi.

Budidaya sayuran ini bisa menjadi inspirasi petani pemula. Terlebih lagi, ada banyak jenis sayuran yang mudah ditanam dan bisa di panen lebih cepat.

Ditemui dikediamannya (Selasa, 11/06/’19) Abdul Malik Umar atau bisa di panggil Ompu La Angga yang kini berusia 65 Tahun, memang bukan lagi usia yang produktif. Namun beliau, masih terlihat kuat dan konsisten dalam menjalankan usaha Budidaya tanaman sayurnya. Satu-satunya Petani sayur sukses banyak diuntungkan karena hasil panennya selalu ditunggu-tunggu masyarakat khususnya di Wilayah Kecamatan Langgudu.

Dalam menjalankan usaha budidaya sayurnya, Ompu La Angga awalnya belajar secara otodidak. Hal itu sudah dilakoninya kurang lebih 10 tahun.ermodalkan pembelian bibit Tanaman Sayuran seharga 100rb per bibit, lahan seluas 14 are sekitar rumahnya, disulap dan dikelola dengan aneka jenis sayuran, seperti Kol, cabai, tomat, Kangkung, Bayam, Kacang Panjang, Pepaya dan lainnya.

Menurutnya Jenis tanaman sayur jauh lebih gampang jika dibandingkan bertani Jagung dan Kacang Tanah. Terlebih lagi, petani dapat menggarap lahan yang sama sampai berkali-kali panen tanpa harus membuka lahan baru.

Dalam perhitungannya, apabila bertani Sayur keuntungannya jauh lebih tinggi sebab hanya umur 65 hari berbagai jenis tanaman sayur sudah dapat di panen dan dijual. Dalam sepekan, Ompu La Angga mampu menghasilkan uang mencapai Rp. 1,5 juta. Artinya dalam setahun mencapai 72 juta. Kangkung adalah Sayur andalannya.

Al-hasil, dengan penghasilannya Bertani Sayur, Ompu La Angga kini mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang Magister. Dari ke-4 buah hatinya Ompu La Angga mengaku bangga dan bersyukur dengan karir anak-anaknya yang sukses meraih Gelar Sarjana dan Sudah Bekerja.

Muhammad Nur, Petani Muda Yang Sukses Menanam Buah Naga

Muhamad Nur merupakan petani buah naga yang sukses di Kabupaten Sukabumi. Di usianya yang menginjak 47 tahun, Nur tinggal menikmati hasil yang dirintisnya sejak 2009. Bagaimana perjalanan kesuksesan Muhamad Nur sebagai petani buah naga? simak kisahnya!DI temui di kebunnya di Kampung Cigadog RT 04/05, Desa Neglasari, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Nur tengah memanen buah naga hasil budi dayanya. Panen ini merupakan kesekian kalinya karena ia menanam buah naga sejak 2009.

“Iya, saya mengawali menanam buah naga ini sejak 2009,” ujar Nur membuka pembicaraan.Muhamad Nur merupakan seorang perantau. Dia datang ke Sukabymi pada 1993 silam. Awal datang ke Sukabumi ia sempat berjualan pakaian di pasar tradisional. Baginya, apapun akan dikerjakan selama pekerjaan itu menghasilkan rezeki halal.

Seiring perjalanan waktu, Nur pun mulai membuka diri dengan melihat peluang usaha lain yang bisa dikembangkan. Bermodal kemampuannya bertani saat di Sumatra, Nur pun mencoba mengumpulkan uang untuk membeli lahan.

Singkat cerita ia pun berhasil mengumpulkan uang yang digunakan membeli tanah seluas 7 ribu meter persegi. Saat itu Nur mulai menanam benih buah naga. Ternyata lahan yang ditanaminya cocok membudidayakan buah naga.

“Di Sumantra, buah naga cocok ditanam di lahan di sana. Makanya saya coba kembangkan di sini. Waktu itu bibitnya saya bawa dari Sumatra,” ucapnya.Kini Nur sudah memiliki 1.500 pohon buah naga. Lahannya banyak dijadikan percontohan. Bahkan tak sedikit yang datang dari luar daerah. “Sambil memberikan pelajar, saya juga berbisnis karena lahan dijadikan agrowisata,” ucapnya.Para pengunjung di kebunnya bisa mencicipi buah naga sepuasnya. Ia membanderol harga Rp15 ribu per kilogram. Dalam satu tahun buah naga hanya satu kali dipanen. Sekali panen Nur bisa menghasilkan 3 ton buah naga.

“Saya pasarkan juga ke pasar di luar daerah. Tapi sekarang hanya memasok di Sukabumi saja. Banyak permintaannya. Buah naga saya merah dan ungu tua,” ujarnya.