Alam Hidayat Naibaho, Petani Muda Dari Sumalunggun

Alam Hidayat Naibaho mengalami jatuh bangun saat memulai usahanya di bidang budidaya pertanian selama tiga tahun.

Sebelum jadi petani, Alam merantau ke Baganbatu untuk mencari pengalaman kerja. Selama 7 tahun, Alam menggeluti beberapa pekerjaan termasuk bertani.Kemudian, pada awal tahun 2012, Alam kembali ke kampung halamannya di desa Said Buttu Saribu, Kabupaten Sumalunggun.

Dia berniat memulai usaha bercocok tanam yang nanti hasil panen pertaniannya untuk membantu kehidupan keluarga.

Banyak rintangan dalam proses bercocok tanam di kebun milik keluarganya. Niat baik Alam untuk membantu keluarga juga mengalami banyak rintangan.

Alam memberanikan diri budidaya cabai dengan menggunakan modal awal sekitar Rp3 juta hasil dari kerjanya selama merantau.Walau sudah serius bertani, namun karena masih minim edukasi, panen pertama Alam gagal total.

Di tahun kedua cabai yang ditanam mulai membuahkan hasil. Namun karena mendengar begitu banyak saran dari kerabat yang bukan ahli pertanian, hasil panen belum maksimal.

Bahkan usaha pertanian di tahun ketiga hasil panen juga mengalami kegagalan.

“Menurut saya, terlalu banyak mendengar saran dari yang bukan merupakan ahli juga bukan hal yangg tepat. Tapi saya terus berusaha untuk belajar,” kata Alam.Untuk mendapat ilmu di bidang pertanian, Alam bergabung ke kelompok tani pertamanya pada tahun 2014 yangg bernama parmajaya.

Di sana, Alam mulai mendapatkan ilmu dan belajar dari orang yang tepat.

Akhirnya di tahun 2017, Bitra Indonesia datang ke desanya dengan membawa program ‘Toba Project’.

Sebelum kedatangan Bitra, Alam sudah menanam kopi di lahannya. Kedatangan Bitra jadi momentum yang tepat bagi Alam untuk mendalami ilmu budidaya kopi.

“Setelah Bitra datangm saya mendapatkan ilmu baru tentang cara bertani kopi yang baik. Mulai dari pembibitan penanaman proses perawatan dan akhirnya hingga panen kopi,” terangnya.Namun hasil panen kopinya belum maksimal sebab pohon awal yang dia tanam itu sebelum mendapat pendampingan dari Bitra.

“Kedepan saya ingin mendapatkan hasil panen yang baik karena prospek dari program Bitra ini sangat terasa mulai dari penyuluhan teori sampai dengan praktik ke lapangan langsung. Munculnya Bitra juga membuat tanaman cabai dan kopi berkembang baik. Ilmu yang didapat juga sangat banyak dari Bitra Indonesia,” ujar Alam.

Dia bersama petani lainnya yang mengikuti program ‘Toba Project’ mengalamai peningkatan ekonomi.

Alam pun kini sudah mendapat penghasilkan untuk menghidupi keluarganya dan menyekolahkan adiknya.

Dia berharap pemerintah agar lebih memperhatikan desanya dan lebih meningkatkan bantuan untuk para petani.

“Saran saya untuk pemuda yang mulai bertani, jangan takut dan jangan berhenti belajar. Carilah orang yang tepat untuk belajar. Sebab bertani tanpa ilmu justru akan meneruskan sendiri dan berakibat tidak baik dari sisi alam lingkungan dan juga dari segi penghasilan,” pungkas Alam.