Aluysius Adiyo Agung, Petani Muda Dari Klaten,Jateng

Jabatan tak selalu menjadi ukuran sukses seseorang. Aluysius Adiyo Agung misalnya. Alumnus Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Solo ini malah beralih profesi dari manajer menjadi petani di kampung halamannya Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Walaupun awalnya mendapat tentangan keras dari keluarga, tetapi lambat laun dia meyakinkan keluarga. Agung berhasil membuktikan diri kalau menjadi petani juga bisa memberikan kepastikan hidup. “Saya tidak memiliki background pertanian, latar belakang keluarga saya pun bukan petani. Namun, setiap kali pulang ke Klaten saya selalu memendam tanya, kenapa petani yang terihat selalu sudah berusia lanjut bukan pemuda,” papar Agung seperti dimuat Kompas.com, Senin (22/8/2016). Keputusan Agung untuk terjun ke dunia pertanian bukan tanpa persiapan. Saat masih mengemban jabatan sebagai manajer, ia sudah mencoba belajar cara menanam padi. “Saat proses belajar itu, saya mengenal bagaimana mengolah tanah dalam pertanian,” katanya. Menurut dia, pengolahan tanah sebelum masa tanam adalah kunci keberhasilan. Lahan harus diberi pupuk yang tepat dan pas komposisinya. Selain itu, mereka mesti mempertimbangkan kandungan mikroba di dalam tanah serta memperhatikan kondisi alam. Keputusan Agung untuk beralih profesi tak langsung menuai hasil positif. Ia harus menderita kerugian puluhan juta rupiah karena gagal panen pada 2010. Tapi, bukannya kapok, kegagalan itu malah makin memotivasi Agung. Dia lalu menggunakan tabungannya sebesar Rp 80 juta dan menjual mobil seharga Rp 100 juta untuk sewa lahan dan membeli pupuk. “Saya tidak punya lahan sawah sendiri, jadi saya berusaha mencari lahan sawah yang disewakan oleh warga. Setelah dapat saya mencoba menanam padi,” ujar Agung. Kegigihan dan kerja keras Agung kemudian membuahkan hasil. Lahan yang disewanya menghasilkan panen sebesar 60 ton. Agar hasil panen mendapat harga jual tinggi, Agung tidak menjualnya ke tengkulak atau penadah. Ia lebih memilih memasarkan sendiri melalui strategi direct selling. “Saya jual ke rumah-rumah dan ke teman-teman saya, kadang bolak-balik Jakarta-Solo untuk menawarkan beras,” ucap Agung. Kini, dari hasil kerja kerasnya, Agung sudah bisa membelikan mobil untuk istri. Dia juga bisa menyekolahkan putri sulungnya di salah satu sekolah favorit di Solo, Jawa Tengah.
Keberhasilan Agung beralih profesi menjadi petani ternyata membuktikan, kalau menjadi orang sukses tak harus identik dengan jabatan tinggi di perusahaan. Dengan bekal pengetahuan dan pengalaman di suatu bidang pertanian misalnya, Anda pun bisa sesukses Agung. Maka dari itu, Anda sebaiknya menyiapkan rencana matang sebelum memutuskan beralih profesi. Pengalaman dan pengetahuan dalam bidang pertanian dapat jadi modal pertama. Seperti kisah Agung di atas, Anda bisa meniru cara dia yang mulai belajar menanam padi sewaktu masih bekerja. Usahakan pula Anda sudah punya dana cadangan atau tabungan. Anda akan membutuhkan dana tersebut saat terjadi hal-hal di luar kendali. Gagal panen karena cuara buruk atau terserang hama misalnya. Saat kerja keras Anda di tanah garapan sudah menghasilkan, jangan pula langsung menjual hasil panen ke tengkulak. Anda bisa meniru strategi penjualan direct selling yang diterapkan Agung untuk mendapatkan harga jual tinggi. Biasanya harga jual hasil panen akan dihargai tinggi bila dibeli oleh konsumen. Berbanding terbalik dengan tengkulak yang umumnya membeli dengan harga di bawah pasar, sebab akan dijual kembali untuk memperoleh untung. Untuk bisa menjalankan strategi direct selling Anda butuh kendaraaan pengangkut. Tak cuma itu, kendaraan tersebut juga bisa melalui jalan-jalan sempit di kota dan pedesaan.