Cara Mudah Membasmi Hama pada Tanaman Cabai

Cabai yang tumbuh di halaman belakang rumah bisa berpotensi diserang berbagai serangga, termasuk kutu daun, siput, thrips, nematoda, dan tungau laba-laba. Dilansir dari Home Guides, Jumat (29/1/2021), serangga, termasuk serangga hemipteran, memakan kulit luar cabai dan membuatnya rentan terhadap infeksi jamur yang dapat mematikan cabai dan bijinya. Maka dari itu, mengatasi dengan cepat akan dapat menyelamatkan tanaman cabai. Berikut cara untuk mengatasi hama pada tanaman cabai. Baca juga: Mengapa Tanaman Cabai Menguning dan Rontok? Ini Sebabnya Tanah yang Disterilkan Menanam cabai di tanah yang disterilkan untuk membuat tanaman lebih kuat dapat bertahan lebih efektif dari serangan serangga. Untuk membuat tanah yang disteril, sebarkan tanah di atas loyang logam dan tutupi dengan aluminium foil. Kemudian, panggang dalam oven yang sudah dipanaskan dengan suhu 180 hingga 200 derajat selama 30 menit, kemudian biarkan tanah menjadi dingin sebelum ditanam. Cara Manual Kenakan sarung tangan berkebun dan singkirkan serangga secara manual. Gunakan sebagai cara yang efektif untuk menghilangkan hampir semua jenis serangga yang mengganggu tanaman cabai, termasuk kutu daun, thrips, dan tungau laba-laba. Untuk siput, tunggu hingga malam saat mereka lebih aktif untuk mengambil siput dan membuangnya di tempat sampah luar ruangan.

Sabun Insektisida Semprot tanaman cabai dengan sabun insektisida yang terbuat dari asam lemak kalium, yang menyebabkan struktur sel serangga larut, membunuhnya seketika. Gunakan untuk kutu daun dan tungau laba-laba.

Semprotan Air Semprot tanaman cabai dengan selang taman atau penyemprot wastafel, jika Anda menanam tanaman di kotak jendela, karena semprotan air yang kuat secara efektif membasmi serangga dari tanaman. Pastikan untuk menyemprotkan air di bagian bawah daun

Gambut dan Pupuk Gambut, pupuk kandang atau kompos ke dalam tanah di sekitar tanaman cabai dapat membantu mengendalikan nematoda pada tanaman cabai Anda.

Sumber: https://www.kompas.com/homey/read/2021/01/29/071836976/cara-mudah-membasmi-hama-pada-tanaman-cabai?page=all

Tahun 2021, Bangkalan Mendapat Kuota 45.710 Ton Pupuk Bersubsidi

Tahun ini, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (Dispertahorbun) Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur mendapatkan kuota  44.710 ton pupuk bersubsidi.

Jumlah total keseluruhan 45.710 ton tersebut terdiri dari beberapa jenis yang terdiri dari pupuk urea 20.007 ton, SP36 sebanyak 1.827 ton, ZA 6.206 ton, Hentitas 17.670.

Kasi Perencanaan Pertanian Dispertahorbun Bangkalan, Karyadinata mengatakan bahwa dibandingkan dengan tahun sebelumnya terdapat peningkatan sekitar 5 persen dari pupuk urea.

“Yang urea itu ada peningkatan sebesar 9 ratus ton, yang pada tahun kemaren hanya 19 ribu sekarang 20 ribu,” katanya saat dikonfirmasi, Kamis (28/1/2021).

Menurutnya ketergantungan pada pupuk urea bisa diperkecil, sebab kini sudah ada urea pupuk yang majemuk MCK yang jatahnya cukup besar.

Sedangkan jika dilihat dari presentase keseluruhan, ketersediaan pupuk tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya.

“Hanya urea saja yang meningkat, kalau keseluruhan prinsipnya tidak jauh berbeda,” tandas Karyadi. (Fathur)

Sumber: https://pojoksuramadu.com/tahun-2021-bangkalan-mendapat-kuota-45-710-ton-pupuk-bersubsidi/

Harga Pupuk Bersubsidi Naik, PT Meuligoe Raya Kumpulkan Pemilik Kios Pengecer di Abdya

PT Meuligoe Raya, salah satu dari tiga distributor penyaluran pupuk bersubsidi di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), mengumpulkan pengusaha kios pengecer resmi yang dibentuk dalam wilayah tujuh kecamatan setempat.

Meuligoe Raya menyalurkan pupuk bersubsidi jenis Urea yang diproduksi PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) untuk wilayah tujuh kecamatan dari sembilan kecamatan setempat.

Yaitu untuk Kecamatan Lembah Sabil, Manggeng, Tangan-Tangan, Setia, Blangpidie, Susoh, dan Jeumpa. 

PT Meuligoe Raya juga dipercaya sebagai distributor pupuk subsidi jenis NPK Phonska, ZA, SP-36 dan Petroganik (Organik)  yang diproduksi PT Petro Kimia Gresik untuk empat kecamatan dari sembilan kecamatan di Abdya.

Yaitu Kecamatan Lembah Sabil, Manggeng, Tangan-Tangan, dan Setia.

Total kios pengecer yang dibentuk PT Meuligoe Raya 37 kios, sebanyak 21 kios diantaranya menyalurkan pupuk subsidi jenis Urea, NPK Phonska, ZA, SP-36 dan Petroganik.

Sedangkan 16 kios pengecer lainnya khusus menyalurkan pupuk subsidi jenis Urea.

“Kita telah mengelar rapat dengan para pemilik kios pengecer resmi dalam tujuh kecamatan tersebut,” kata Direktur Pemasaran PT Meuligoe Raya,”

Rapat digelar di Aula Area Motel Blangpidie, Sabtu (30/1/2021) untuk mendengarkan penjelasan dari Direktur Utama (Dirut) PT Meuligoe Raya, Maidisal Diwa.

Penjelaskan yang disampaikan menyangkut pengawasan dan evaluasi penyaluran dan penjualan pupuk bersubsidi menyusul kenaikan atau perubahan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi yang berlaku sejak Januari 2021.

Selain, para pengusaha kios pengecer resmi dari tujuh kecamatan, rapat tersebut juga dihadiri sejumlah camat, keuchik gampong /kepala desa, tokoh masyarakat, Anggota DPRK, Julinardi serta Kasi Pupuk, Pestisida dan Alat Mesin Pertanian, Mahafaz Zulus Fitri SP mewakili Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya.

Dirut PT Meuligoe Raya, Maidisal Diwa dalam rapat tersebut mengajak semua pihak untuk mengawasi penjualan pupuk bersubsidi di kios-kios pengecer resmi sehingga sesuai ketentuan berlaku.

Artinya, kata Maidisal, penjualan pupuk bersubsidi di kios-kios pengecer resmi yang dibentuk PT Meuligoe Raya harus sesuai HET tahun 2021 dan sesuai dengan petani yang terdaftar dalam RDKK (Rencana Definitif Ketuhan Kelompok) daerah bersangkutan.

Maidisal mengingatkan bahwa para pengusaha kios pengecer resmi pupuk subsidi yang dibentuk sudah diikat dengan kontrak dan sudah diteken, yaitu SPJB (Surat Perjanjian Jual Beli Pupuk) serta Fakta Ingritas yang berisikan 11 poin yang harus dipatuhi.

“Pelanggaran atas kontrak dan fakta integritas, saya tidak segan-segan mengambil tindakan tegas, berupa pemberhentian selaku kios pengecer resmi,” tegas Maidisal Diwa dihadapan para pemilik kios pengecer resmi yang hadir dalam rapat tersebut.

Salah seorang keuchik gampong dalam rapat tersebut mengimformasikan tentang ada sejumlah petani yang namanya tidak terdaftar dalam RDKK, bagaimana solusinya. 

Atas pertanyaan ini, pejabat yang mewakili Kepala Distanpan Abdya meminta para keuchik untuk mencatat nama-nama mereka untuk perbaikan RDKK  atau nama-nama mereka akan diinput ke dalam e-RDKK.         

Diberitakan sebelumnya, Pemerintah telah menaikkan HET (Harga Eceran Tertinggi) pupuk bersubsidi yang dijual di kios-kios pengecer resmi, termasuk di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), mulai berlaku Januari 2021. 

Dari lima jenis pupuk bersubsidi, HET untuk empat jenis (Urea, SP-36, ZA dan Petroganik atau Organik, naik antara Rp 300 sampai Rp 450 per kilogram.

Sedangkan HET pupuk jenis NPK Phonska masih tetap seperti tahun lalu, yaitu Rp 2.300 per kilogram (kg) atau Rp 115.000 per sak isi 50 kg.

Hal ini Keputusan Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya  tanggal  6 Januari 2021, Nomor 8212/107/2021 ditandatangani Kepala Distanpan Abdya, drh Nasruddin.

Keputusan tersebut ditembuskan antara lain kepada Bupati Abdya, Komisi Pengawasan Pupuk Bersubsidi dan Pestisida Kabupaten Abdya, serta PT Pupuk Iskandar Muda dan PT Petrokimia Gresik selaku produsen pupuk bersubsidi.

Sebelumnya, Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh juga telah mengeluarkan Keputusan Nomor 820/01/IV.1 tanggal 4 Januari 2021 tentang penetapan alokasi dan HET pupuk bersubsidi.

Empat jenis pupuk bersubsidi yang mengalami kenaikan HET adalah Urea Rp 2.250 per kg atau Rp 112.500 per sak isi 50 kg, naik Rp 450 per kg, dibandingkan HET tahun 2020 Rp 1.800 per kg atau Rp 90 ribu per sak.

Pupuk SP-36 Rp 2.400 per kg atau persak Rp 120.000 per sak isi 50 kg, naik Rp 400 per kg dibandingkan HET tahun lalu Rp 2.000 per kg atau Rp 100.000 per sak.

Pupuk ZA Rp 1.700 per kg atau Rp 85.000 per sak isi 50 kg, naik Rp 300 per kg, dibandingkan HET tahun lalu Rp 1.400 per kg atau Rp 70.000 per sak.   

Dan, pupuk organik (petroganik) Rp 800 per kg atau Rp 32.000 per sak isi 40 kg, naik  Rp 300 per kg, dibandingkan HET tahun lalu Rp 500 per kg atau Rp 20.000 per sak.

Dalam SK tersebut juga dijelaskan bahwa kemasan pupuk bersubsidi diberi label tambahan berwarna merah, mudah dibaca dan tidak mudah hilang atau terhapus.

Kemasan pupuk bertuliskan ‘Pupuk Bersubsidi Pemerintah/Barang Dalam Pengawasan’. Pupuk Urea bersubsidi berwarna merah muda (pink) dan pupuk ZA bersubsidi berwarna jingga (orange).

Alokasi Per Kecamatan

Masih berdasarkan Keputusan Distanpan Abdya itu juga ditetapkan alokasi  lima jenis pupuk bersubsidi pemerintah  per kecamatan.

Kepala Distanpan Abdya melalui Kabid Prasarana dan Sarana, Teuku Indra ST dihubungi  Serambinews.com menjelaskan, alokasi lima jenis pupuk bersubsidi dan sebaran kecamatan (9 kecamatan) di Abdya sebagai berikut;

Kecamatan Babahrot, 1.258,75 ton Urea, 360,73  ton SP-36, 360,99 ton ZA, 727,77 ton NPK Phonska dan 237,42 ton Organik.

Kecamatan Kuala Batee, 457,61 ton  Urea, 345,74 ton NPK Phonska dan 69,71 ton Organik.

Kecamatan Jeumpa 569,61 ton Urea, 37,06 ton SP-36, 290,86 ton NPK Phonska dan 0,87 ton Organik.

Kecamatan Susoh 384,26 ton Urea, 117,54 ton NPK Phonska dan 45,54 ton Organik.

Kecamatan Blangpidie, 269,76 ton Urea, 83,06 ton NPK Phonska dan 32,52 ton Organik.

Kecamatan Setia, 384,64 ton Urea, 37,46 ton SP-36, 7,25 ton ZA, 247,55 ton NPK Phonska dan 59,52 ton Organik.

Kecamatan Tangan-Tangan, 524,25 ton Urea, 288,02 NPK Phonska dan 61,80 ton Organik.

Kecamatan  Manggeng, 452,49 ton Urea, 241,49 ton NPK Phonska dan 53,65 ton Organik.

Kecamatan Lembah Sabil, 298,63 ton Urea, 11,75 ton SP-36, 11,76 ton ZA, 157,97 ton NPK Phonska dan 39,44 ton Organik.

Disalurkan Tiga Distributor

Kelima jenis pupuk bersubsidi pemerintah untuk sektor pertanian guna membantu petani akan disalurkan tiga distributor meliputi sembilan wilayah kecamatan di Kabupaten Abdya.

Selain PT Meuligoe Raya, ada dua distributor lain, yaitu CV Andalas menyalurkan pupuk bersubsidi jenis Urea untuk dua kecamatan,  Babahrot dan Kuala Batee dengan jumlah kios pengecer resmi 21 kios.

PT Pertani (Persero) menyalurkan pupuk NPK Phonska, ZA, SP-36 dan Petroganik (Organik) untuk lima kecamatan,  Babahrot, Kuala Batee, Jeumpa, Susoh dan Blangpidie. Jumlah kios pengecer resmi 33 kios.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2021/01/31/harga-pupuk-bersubsidi-naik-pt-meuligoe-raya-kumpulkan-pemilik-kios-pengecer-di-abdya?page=4



Petani di Probolinggo Harus Tahu, Ini Harga Pupuk Subsidi yang Sebenarnya di Kios

Mahalnya harga pupuk bersubsidi di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, yang mencapai Rp 360 ribu sampai Rp 380 ribu per kwintal, akhirnya mendapat klarifikasi dari pemilik kios.

Terkait mahalnya pupuk subsidi yang juga terjual liar di luaran, kini petani harus tahu dengan harga yang sebenarnya sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi) yang ditetapkan pemerintah. Salah satu kios pupuk di Desa Glagah, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten setempat membeberkan harga yang sebenarnya.

Dalam keterangan tertulisnya, Agus, pemilik kios pupuk di Desa Glagah menyampaikan, ia menjual pupuk bersubsidi sesuai dengan aturan yang ada dan sesuai HET.

“Urea saya jual Rp 2.250/kg atau setara Rp 225.000/ kwintal. Kemudian Za  Rp 1.700/kg. Untuk Ponska Rp 2.300/kg. Sedangkan SP-36 Rp 2.400/kg. Selanjutnya untuk Organik Rp. 800/kg. Itupun saya tidak berani menjual di luar E-RDKK dan itupun petani sudah tahu berapa harga masing-masing jenis pupuk,” jelasnya Minggu (31/1/2021).

“Dan apabila jatah untuk petani di E-RDKK tidak cukup, maka baru petani beli yang non subsidi. Itupun tidak ada paksaan dari pihak kios,” sambungnya.

Agus mengatakan, untuk jatah masing-masing petani per musim tanam (MT) per-hektarnya mendapat  52 kg untuk jenis pupuk Urea. Za mendapat 26 kg, untuk pupuk jenis SP-36 mendapat 12 kg, dan NPK mendapat 32 kg.

Dari data yang disampaikan tersebut, sejumlah Kelompok Tani di Kecamatan Kotaanyar dan Kecamatan Paiton mengaku harga di setiap kios tidaklah sama. Jatah yang dari E-RDKK-pun tidak sama. Ada yang mendapat 75 kg per hektar, ada yang mendapat 35 kg, ada pula yang mendapat 62 kg.

“Kalau saya pribadi menyesalkan minimnya jatah yang masuk di E-RDKK itu. jika hanya mendapatkan 75 kg per hektar, yang jelas itu tidak cukup. Yang jelas harus membeli pupuk subsidi di luaran. Harga di kiospun tidak sama, banyak yang masih menjual dengan harga melebihi HET,” kata Ketua Kelompok Tani di Kecamatan Kotaanyar, yang enggan disebut namanya.

Senada juga diungkapkan Ketua Kelompok Tani lainnya di Kecamatan Paiton. yang sebetulnya pihak kios juga serba salah. Terkadang harga kulakannya masih melebihi HET.

“Kami berharap kepada pihak terkait seperti penegak hukum dan pemerintah daerah, agar lebih memperketat pengawasan harga pupuk bersubsidi. Apalagi banyak pupuk Urea bersubsidi masih terjual secara liar di luaran, itu perlu diperhatikan. Agar petani di Kabupaten Probolinggo, tidak merasa dirugikan dengan yang namanya pupuk bersubsidi,” terangnya. 

Sumber: https://www.timesindonesia.co.id/read/news/324678/petani-di-probolinggo-harus-tahu-ini-harga-pupuk-subsidi-yang-sebenarnya-di-kios

Komisi VI Pastikan Pupuk Kujang Jaga Pasok di Musim Tanam

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Aria Bima menyampaikan bahwa anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Pupuk Kujang telah menjalankan tugasnya untuk menjaga ketersediaan stok pupuk di musim tanam.

“Kami memastikan langsung di lapangan, Pupuk Kujang telah menjalankan tugasnya untuk menjaga ketersediaan stok pupuk bersubsidi dan mempercepat distribusinya di musim tanam ini agar petani yang terdaftar dalam E-RDKK bisa segera mendapatkan pupuk subsidi yang dibutuhkan,” ujar Aria dalam Kunjungan Kerja Spesifik ke Gudang lini III Pupuk Indonesia di wilayah Provinsi Banten dan Jawa Barat.

Dalam keterangan resmi yang dikutip Antara, Jumat (29/1/2021), ia menekankan agar PT Pupuk Indonesia memperhatikan infrastruktur, peralatan atau sarana dan prasarana pendukung Kartu Tani di masing-masing penyalur pupuk.

Ia berpandangan Kartu Tani bisa menjadi solusi kelangkaan pupuk yang seringkali dihadapi para petani.

Pada agenda pertama peninjauan stok pupuk bersubsidi di wilayah tanggung jawab Pupuk Kujang itu, rombongan Komisi VI DPR RI diketuai Aria Bima.

Wakil Direktur Utama Pupuk Indonesia Nugroho Christijanto menyampaikan Pupuk Indonesia tetap berkomitmen untuk bisa memenuhi kebutuhan sesuai dengan yang ditugaskan.

Ia menambahkan seluruh jaringan distribusi penyaluran mulai dari produsen pupuk hingga kios seluruh wilayah kabupaten, secara rutin kami koordinasi untuk kesiapan stok.

“Secara jumlah itu cukup sampai dengan hari ini. Alokasi pupuk bersubsidi tahun 2021 yang harus disalurkan oleh PT Pupuk Indonesia sesuai Permentan No.49 Tahun 2020 adalah sebesar 9,04 juta ton,” katanya.

Direktur Utama PT Pupuk Kujang Maryadi menambahkan penyaluran pupuk bersubsidi untuk wilayahnya sudah mencapai 99.952 ton.

“Pupuk Kujang telah menyiapkan stok pupuk bersubsidi untuk wilayah Jawa Barat, Banten dan sebagian Jawa tengah sampai dengan 27 Januari 2021 sebesar 90.936 ton,” paparnya.

Stok pupuk itu terdiri dari stok urea bersubsidi sebesar 75.245 ton atau 129 persen dari ketentuan, pupuk NPK subsidi sebesar 9.439 ton (64 persen ), dan pupuk organik subsidi sebesar 6.252 ton (92 persen).

Sedangkan stok pupuk urea bersubsidi yang tersedia di gudang Kabupaten Serang sampai dengan 27 Januari 2021 mencapai 3.164 ton atau dua kali lipat lebih dari ketentuan stok pemerintah yaitu 2.014 ton (157 persen).

Sedangkan realisasi penyaluran wilayah Serang untuk Urea mencapai 3.129 ton atau 145 persen dari ketentuan dinas pertanian sebesar 2.707 ton. Selain pupuk urea, kesiapan stok Petroganiks 239 ton atau lebih dari empat kali lipat dari ketentuan stok.

Pada agenda kedua, rombongan melakukan kunjungan dengan meninjau langsung Gudang lini III milik Pupuk Kujang di wilayah Cirebon Jawa Barat. Dalam kesempatan itu dihadiri oleh Martin Manurung selaku pimpinan rombongan Komisi VI.

Berdasarkan data per 27 Januari 2021, stok pupuk urea bersubsidi wilayah Cirebon sebesar 3.102 ton atau 216 persen dari ketentuan stok pemerintah dan stok pupuk organik bersubsidi sebesar 537 ton atau empat kali lipat dari ketentuan.

“Kami pastikan semua stok pupuk bersubsidi di provinsi maupun kabupaten untuk tersalurkan stoknya dan mendorong distributor dan kios untuk lebih cepat melakukan penebusan pupuk di Gudang agar dapat segera disalurkan kepada petani yang membutuhkan,” kata Maryadi.

Ia menambahkan, untuk pendistribusian pupuk subsidi, Pupuk Kujang mengacu pada Permendag No.15/2013 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian.

Fasilitas distribusi Pupuk Kujang sendiri saat ini terdiri dari 46 gudang penyangga kapasitas total 186.576 juta ton, 130 lebih, distributor dan 4.168 ribu lebih kios resmi.

Guna mengantisipasi kebutuhan petani yang tidak tercantum dalam ERDKK dan tidak memperoleh alokasi pupuk bersubsidi, Pupuk Kujang mewajibkan distributor selalu menyiapkan stok pupuk non subsidi jenis Urea, NPK dan Organik di setiap kios.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com/read/20210129/257/1349893/komisi-vi-pastikan-pupuk-kujang-jaga-pasok-di-musim-tanam

Jatah Alokasi Pupuk Bersubsidi Banyuwangi Naik hingga 24.422 Ton

 Tahun ini alokasi pupuk bersubsidi untuk Kabupaten Banyuwangi dinaikkan hingga 24.422 ton. Pada 2020, Banyuwangi dapat jatah pupuk bersubsidi sebesar 70.299 ton, di tahun 2021 meningkat jadi 94.721 ton.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, Kementerian Pertanian (Kementan) menjamin stok pupuk subsidi mencukupi bagi petani. Kementan terus berupaya pasokan pupuk subsidi kepada petani tidak bermasalah.

“Keberadaan pupuk sangat penting. Oleh karena itu, kita terus memantau ketersediaan pupuk. Agar kebutuhan petani mencukupi, khususnya kepada mereka yang memang berhak mendapatkan pupuk subsidi,” kata Mentan SYL, Sabtu (30/1).

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy menegaskan, bahwa pupuk bersubsidi dialokasikan untuk petani yang berhak. Kriteria petani yang berhak mendapat pupuk bersubsdi meliputi, tergabung dalam Kelompok Tani, derdaftar dalam RDKK dan memiliki luas lahan kurang dari 2 ha.

“Kami mengingatkan alokasi pupuk bersubsidi harus diawasi agar tepat sasaran, dan kuota pupuk hanya bagi kelompok tani sesuai RDKK. Bagi yang tidak sesuai kriteria, silakan menggunakan pupuk non subsidi,” ujar Sarwo Edhy.

Sarwo Edhy menjelaskan, kebijakan e-RDKK guna memperketat penyaluran pupuk bersubsidi. Sehingga tidak diselewengkan dan mencegah duplikasi penerima pupuk. Selain itu, untuk mendapatkan pupuk bersubsidi ini, para petani nantinya diharuskan memiliki kartu tani yang terintegrasi dalam e-RDKK.

“Kartu Tani berisi kuota yang sesuai dengan kebutuhan petani. Untuk jumlah kuota ini tergantung dari luas lahan yang dimiliki setiap petani. Tujuannya agar tepat sasaran,” jelas Sarwo Edhy.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, Arief Setiawan menjelaskan, bertambahnya alokasi pupuk tersebut mengacu pada kebutuhan pupuk pada tahun 2019.

“Jatah alokasi pupuk kita untuk tahun 2021, Alhamdulilah kita mengajukan lebih dari tahun 2020, ini berdasarkan acuan alokasi pupuk pada tahun 2019,” ujar Arief Setiawan

Data dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi menunjukkan, alokasi pupuk jenis urea pada tahun 2020 berjumlah 49.335 ton, sementara pada tahun 2021 alokasi pupuk urea sebesar 59.511 ton, jumlah tersebut naik sekitar 10.176 ton.

“Kalau urea di tahun 2020 awal itu kita hanya dapat 38 ribu ton setelah itu ada penambahan dan kita ajukan kembali sehingga urea tahun 2020 menjadi 49.335 ton. Untuk tahun 2021 alhamdulillah jatah urea kita naik, kita mendapatkan 59.511 ton, ini untuk urea jadi ada selisih 10.176 ton penambahannya,” jelasnya.

Untuk jenis pupuk SP36 alokasi tahun 2020 berjumlah 6.041 ton, sedangkan tahun 2021 sebesar 14.662 ton, jumlah tersebut naik sekitar 8.621 ton.

Sementara, untuk alokasi pupuk ZA pada tahun 2021 juga mengalami kenaikan. Pada tahun 2020 pupuk ZA sebanyak 14.923 ton, sedangkan pada tahun 2021 berjumlah 20.548 ton. Dari jumlah tersebut naik sekitar 5.625 ton.

Sedangkan, untuk pupuk NPK mengalami penurunan alokasi di tahun 2021. Arief mengungkapkan, jatah pupuk NPK pada tahun 2020 masih tersisa. Sehingga hal itu berimbas terhadap jatah alokasi pupuk NPK di tahun 2021.

“Untuk Pupuk ZA tahun 2021 kita terima 20.548 ton, sementara tahun 2020 hanya dapat 14.923 ton. Terus untuk NPK tahun 2021 kita dapat 27.456 ton dan tahun 2020 kita dapat 29.319 ton ada penurunan, karena masih sisa di tahun 2020, sehingga jatah pupuk NPK 2021 dikurangi, tapi kalau yang lain naik semua,” ungkap Arief.

Arief menuturkan, penambahan jatah alokasi pupuk bersubsidi di Banyuwangi ini disesuaikan dengan elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).

“Kebutuhan pupuk petani tahun ini yang sudah diajukan berdasarkan e-RDKK, semoga cukup,” ujarnya.

Sementara untuk distribusi di tingkat petani, lanjut Arief, saat ini pihaknya masih merencanakan skema pembagian jatah pupuk di masing-masing kecamatan.

“Untuk masing-masing desa nanti kita berikan kepada distributor untuk mengatur itu, didasarkan pada e-RDKK. Jadi desa itu akan mengatur didasarkan pada usulannya petugas kami (PPL) yang ada di lapangan,” katanya.

Sumber: https://www.liputan6.com/bisnis/read/4471164/jatah-alokasi-pupuk-bersubsidi-banyuwangi-naik-hingga-24422-ton

HET Pupuk Bersubsidi Naik, Urea Jadi Rp 2.250/Kg dan SP-36 Rp 2.400/Kg, Begini Respon Publik

Pemerintah telah menaikkan harga pupuk bersubsidi. Kenaikan tersebut mengacu kepada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 49 Tahun 2020 tentang alokasi dan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sektor pertanian tahun 2021.

Dalam peraturan tersebut dituangkan bahwa harga pupuk urea subsidi dari harga sebelumnya sebesar Rp 1.800/kg menjadi Rp 2.250/kg.

Sedangkan harga SP-36 dari Rp 2.000/kg menjadi Rp 2.400/kg dan pupuk ZA naik menjadi Rp 1.700/kg. Adapun pupuk organik dari harga Rp 500/kg naik menjadi Rp 800/kg. Sementara pupuk NPK tidak mengalami kenaikan, harganya tetap Rp 2.300/kg.

“Tahun 2021, Kementan juga menambah alokasi pupuk bersubsidi dari 9,04 juta ton menjadi 8,9 juta ton,” kata pemerhati pertanian Pidie, Andi Firdhaus Lancok kepada Serambinews.com, Sabtu (30/1/2020).

Ia melanjutkan, menyikapi Permentan Nomor 49 Tahun 2020, Direktur Jenderal Sarana dan Prasarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhi meminta, agar masyarakat mengawal supaya tidak ada penyalahgunaan dalam pendistribusian pupuk bersubsidi kepada petani.

Untuk itu, Andi Firdhaus Lancok mengajak, masyarakat petani di Pidie harus betul-betul terlibat dalam mengontrol pendistribusian pupuk bersubsisi tersebut.

Tak hanya itu, sebut dia, Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Pidie juga mesti segera melakukan pengawasan, sekaligus meminta distributor dan kios pengecer untuk tidak menjual harga pupuk bersubsidi di atas HET.

Lalu, menurutnya, Distanpan Pidie juga harus memastikan kembali data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang selama ini dinilai tidak sesuai dengan fakta di lapangan, sehingga penebusan pupuk subsidi disinyalir tidak tepat sasaran.

“Kami minta pihak kepolisian agar segera melakukan investigasi dan tindakan yang serius atas dugaan penjualan pupuk bersubsidi di atas harga HET, kadang hingga Rp 150.000 per sak,” jelas mantan aktivis itu.

Ia menambahkan, lembaga dewan juga harus sesegera mungkin atau dalam waktu dekat untuk turun ke lapangan dengan melakukan cek dugaan permainan harga di tingkat distributor, sehingga petani tidak harus membeli pupuk di atas HET.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2021/01/30/het-pupuk-bersubsidi-naik-urea-jadi-rp-2250kg-dan-sp-36-rp-2400kg-begini-respon-publik



Petani di Pesawaran Minta Kepada Pemerintah Segera Atasi Langkanya Pupuk Urea

Pesawaran – Para petani desa Karangrejo Kecamatan Negerikaton Pesawaran keluhkan langkanya pupuk urea, hal ini di sampaikan Muji kepada sejumlah awak media hari Sabtu, (30/01/2020).

Muji anggota poktan (Kelompok tani) setempat mengatakan, Saya sudah tanam padi dari bulan Desember 2020 seharusnya persiapan pupuk sudah ada. kemudian tanya dengan Gapoktan, jawabanya belum dikirim dari Distributornya sedangkan pihak distributor menerangkan belum dikirim dari pabrik pupuk. Maka saya terpaksa beli ditempat lain dengan harga Rp 130 ribu /sak.”kata Muji.

Ditempat terpisah Supadi anggota poktan desa Karangrejo juga kecewa adanya keterlambatan pupuk urea karena terkadang kami petani tidak punya uang untuk beli pupuk, sedangkan tanaman padi harus dipupuk supaya hasilnya memuaskan. Yah, dengan terpaksa hutang pupuk di tempat lain, kendatipun harganya Rp 130.ribu /sak.”Tandas Supadi.

” Marwoto selaku Gapoktan desa Karangrejo menjelaskan kepada awak media hari Sabtu pagi 30/01/2021 melalui ponselnya.”Benar pak memang pada waktu petani menanam padi, pupuk terlambat datang dari pabriknya, Pihak distributor juga nenunggu pengiriman pupuk dari pabrik, Tapi bagi anggota poktan lain yang sudah mentransfer dana pupuk dua bulan sebelum tanam padi, rata-rata pupuknya sudah dikirim.”Pungkas Marwoto

Sumber: https://mitrapol.com/2021/01/30/petani-di-pesawaran-minta-kepada-pemerintah-segera-atasi-langkanya-pupuk-urea/

Babinsa Koramil 28/Pirak Timu Mencabut dan Menanam Benih Padi Bersama Petani

Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 28/Pirak Timu Kodim 0103/Aut Kopda Tito membantu petani mencabut dan menanam bibit padi di lahan sawah milik salah seorang petani Desa Alue Bungkoh, kecamatan Pirak Timu, Kamis (27/01/2021).
Dalam kesempatan itu Babinsa Koramil 28/Prt Kopda Tito saat mendampingi petani menggungkapkan, bahwa pihaknya akan terus membantu petani di desa binaannya masing-masing. Hal ini dilakukan sebagai wujud nyata TNI dalam mewujudkan Swasembada pangan Khususnya di Wilayah Kodim 0103/Aut.
“Seperti saat ini, kami ikut terjun kesawah dalam membantu para petani untuk mengumpulkan bibit padi yang siap untuk ditanami,” pungkasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan pendampingan kepada kelompok tani merupakan kegiatan rutin yang kami laksanakan, ini sudah merupakan tugas kami sebagai aparatur kewilayahan membantu para petani dalam hal pertanian.
“Seperti kegiatan tanam padi dan mencabut bibit padi yang siap untuk di tanam seperti yang sedang saya kerjakan ini adalah merupakan wujud kemanunggalan TNI-,rakyat”, ujar Kopda Tito.
Ditempat terpisah Komandan Kodim 0103/Aut Letkol Arm Oke Kistiyanto. S.A.P melalui Danramil 28/Prt Kapten inf Sarman menyampaikan bahwa apa yang telah di laksanakan oleh Babinsa Koramil jajaran Kodim 0103/Aut adalah suatu bentuk kepedulian TNI mendukung program Pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mensejahterakan masyarakat terutama para petani padi.
“Babinsa melansanakan pendampingan kepada para petani bukan hanya saat panen padi saja tetapi juga di saat penyemaian bibit padi, pengolahan lahan sawah, perawatan sampai panen padi. Seperti saat ini mereka lakukan ialah menanam padi di sawah, sebagai wujud rasa kepedulian terhadap para petani.
Ia menambahkan, untuk menambah produktivitas panen padi kali ini, kita telah menghimbau kepada para petani agar mengupayakan percepatan masa persiapan tanam.
“Dengan mengerahkan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) yang ada dan perluasan lahan sawah, sehingga target produksi padi dapat dicapai.” ungkap Kapten Sarman. 

Sumber: https://www.indometro.id/2021/01/babinsa-koramil-28pirak-timu-mencabut.html

Petani Aceh Tamiang Dilatih Tanam Padi Organik, Ini Kelebihannya dari Anorganik

Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan (Distanbunak) Aceh Tamiang melatih sebagian petani menanam padi secara organik.
Pelatihan ini dilakukan di lahan seluas 8 hektare milik kelompok Tani Jaya di Tanahterban, Karangbaru, Aceh Tamiang, Senin (25/1/2021).

Petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) Karangbaru Distanbunak Aceh Tamiang dan PPL swadaya, Armand Lubis yang baru saja menyelesaikan kontrak pertanian di Qatar dilibatkan dalam pelatihan ini.

“Kita melibatkan penyuluh senior kita, bang Armand Lubis terlibat dalam pelatihan ini. Keahlian beliau di bidang tanah pertaniaan kami rasa cukup dibutuhkan,” kata Kadistanbunak Aceh Tamiang, Yunus.

Yunus menjelaskan pelatihan ini cukup penting untuk meningkatkan kesejahteraan petani dalam mengolah tanaman padi. Sebab kata dia, banyak kelebihan yang diraih dari sistem organik dibandin anorganik.

“Jelas organik ini memiliki banyak keunggulan, makanya ke depan kita berharap petani kita semuanya menerapkan organik,” lanjut Yunus.

Dijelaskannya kelebihan pertama yang diperoleh petani mengolah tanaman organik ialah ongkos produksi.

Bahkan dalam pelatihan ini, petani turut dilatih membuat pupuk organik yang otomatis akan semakin menurunkan biaya tanam.

Di sisi lain, harga jual padi organik juga jauh lebih tinggi. Bila padi hasil tanam anorganik memiliki haga jual berkisar Rp 5 ribu, padi organik sudah mencapai dua kali lipatnya.

“Ternyata masih sedikit yang tahu kalau beras organik ini memiliki kelas tinggi. harganya pun bisa sampai Rp 10 ribu,” kata Yunus.

Harga jual tinggi ini kata dia didukung rasa yang lebih pulen dan tidak mudah basi.

“Kualitasnya lebih baik, selain pulen, lebih tahan lama dibanding anorganik,” sambungnya.

Bagian lain yang tak kalah penting kata dia, pola tanam organik ini tidak mematikan kesuburan tanah.

Hal ini sangat memungkinkan petani meraih produksi lebih besar dan bisa melakukan tanam lebih banyak.

Yunus mencontohkan lahan demonstrasi plot (demplot) di Tangsilama, Seruway berhasil memproduksi padi organik 5,7 ton per hektare.

Padahal di lahan serupa dengan pola anorganik. Produksi yang dihasilkan hanya 5,2 ton.

“Ini hasil uji coba, artinya produktivitas ini masih bisa ditingkatkan lagi,” ujarnya.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2021/01/25/petani-aceh-tamiang-dilatih-tanam-padi-organik-ini-kelebihannya-dari-anorganik?page=2