Babinsa Bantu Petani Tanam Benih Padi di Aceh Utara

Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 28/Pirak Timu Kodim 0103/Aut Kopda Tito membantu petani mencabut dan menanam bibit padi di lahan sawah milik salah seorang petani Desa Alue Bungkoh, Kecamatan Pirak Timu, Kamis (27/01/2021).

Dalam kesempatan itu Babinsa Koramil 28/Prt Kopda Tito saat mendampingi petani mengungkapkan, bahwa pihaknya akan terus membantu petani di desa binaannya masing-masing.

Hal ini dilakukan sebagai wujud nyata TNI dalam mewujudkan swasembada pangan khususnya di wilayah Kodim 0103/Aut.

“Seperti saat ini, kami ikut terjun ke sawah dalam membantu para petani untuk mengumpulkan bibit padi yang siap untuk ditanami,”

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan pendampingan kepada kelompok tani merupakan kegiatan rutin yang sering dilaksanakan

“Ini sudah merupakan tugas kami sebagai aparatur kewilayahan membantu para petani,” ujar Kopda Tito.

Ditempat terpisah Komandan Kodim 0103/Aut Letkol Arm Oke Kistiyanto melalui Danramil 28/Prt Kapten Inf Sarman menyampaikan bahwa apa yang telah di laksanakan oleh Babinsa Koramil jajaran Kodim 0103/Aut adalah suatu bentuk kepedulian TNI mendukung Program Pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mensejahterakan masyarakat terutama para petani padi.

“Babinsa melansanakan pendampingan kepada para petani bukan hanya saat panen padi saja tetapi juga di saat penyemaian bibit padi,” terang Dandim.

Selain itu sambung Dandim, pengolahan lahan sawah, perawatan sampai panen padi. Seperti saat ini yang sedang mereka lakukan menanam padi di sawah, sebagai wujud rasa kepedulian terhadap para petani.

Ia menambahkan, untuk menambah produktivitas panen padi kali ini, pihaknya menghimbau kepada para petani agar mengupayakan percepatan masa persiapan tanam.

“Dengan mengerahkan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) yang ada dan perluasan lahan sawah, sehingga target produksi padi dapat dicapai,” demikian Letkol Arm Oke Kistiyanto.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2021/01/28/babinsa-bantu-petani-tanam-benih-padi-di-aceh-utara



Petani Keluhkan Sulit Tanam Padi di Lahan Food Estate

Pada tahun 2020 lalu, Pemerintah Pusat telah mencanangkan program food estate atau lumbung pangan merupakan upaya Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Tujuannya, mengantisipasi krisis pangan akibat dampak pandemi Covid-19, yang hingga kini masih berlangsung.

Sebagai salah satu wilayah yang dijadikan lokasi program food estate adalah Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis), khususnya untuk jenis tanaman padi. Namun, sebagian petani di lokasi tersebut mengaku kesulitan menanam padi, khususnya jenis padi IP 300.

Hal ini diungkapkan Kepala Desa Tahai Jaya, Jasimin mewakili petani di desanya ketika kegiatan kunjungan kerja Senator DPD RI Agustin Teras Narang melalui daring, Jumat (29/1/2021) siang.

Menurut Kades Tahai Jaya, Jasimin, lahan di desanya yang masuk kawasan food estate seluas 490 hektare, khusus untuk tanaman padi. Untuk musim tanam sekarang yang berbarengan dengan program food estate telah panen untuk padi IP 300, tetapi hasil panen tak sesuai yang diharapkan.

“Barangkali perlu evaluasi kembali. Contohnya, saya menaman padi jenis IP300 luas 5,5 ha hanya bisa panen 4 sak. Salah satu alasan kemungkinan kondisi tanah yang belum siap untuk padi IP 300, dan dukungan pemerintah juga harus maksimal,” ungkap Jasimin.

Dipaparkannya, kendala yang dialami tidak hanya soal tanah saja, melainkan banyak masalah yang lain, di antaranya penyakit hama, keterlambatan pupuk, infrastruktur jalan tani dan lainnya, sehingga benar-benar memerlukan kesiapan yang lebih matang agar hasil panen ke depan jauh lebih baik._

Jasimin berharap kendala-kendala ini ke depan dapat teratasi melalui program food estate yang sedang berjalan sekarang ini. Terlebih, hasil panen padi para petani bisa berkali lipat dari sebelumnya.

Menanggapi persoalan itu, Teras mengaku telah mendapat informasi berkenaan dengan pelaksanaan program food estate di wilayah setempat. Teras berjanji akan berkoordinasi, baik dengan Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian.

“Saya sudah bisa menangkap beberapa hal yang penting. Nanti, saya akan berdialog dengan pemerintah kabupaten dan provinsi. Kemudian nanti saya juga akan sampaikan kepada Menteri Pertanian terkait masalah-masalah yang dialami petani selama ini,” ujarnya.

Teras juga menekankan pentingnya pendampingan dalam rangka keberhasilan program food estate. Dengan pendampingan, tentunya akan diketahui kesulitan-kesulitan dari hulu ke hilir yang dihadapi, baik infrastruktur jalan, jembatan, irigasi, bibit, pupuk, dan lainnya.

“Saya mengharapkan keberadaan food estate ini memang betul-betul membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Tidak hanya bagi masyarakat Kalteng, tetapi juga masyarakat luar daerah bisa menikmati,” pungkas Teras. adn

Sumber: https://www.tabengan.com/bacaberita/48727/petani-keluhkan-sulit-tanam-padi-di-lahan-food-estate/

Petani Belum Bisa Menanam Padi

Sejak adanya pengerjaan saluran irigasi sungai Batanghari, ke ratusan hektare lahan cetak sawah Dusun Kuamang, Sari Mulya, dan Bukit Sari Kecamatan Jujuhan Ilir,  membuat para petani terpaksa tidak bisa beraktifitas dengan lancar. Para petani belum bisa menanam padi, mereka hanya bisa menanam jagung dan kacang tanah.

Katiyo (50), salah satu petani menuturkan lahan cetak sawah mereka sekarang kacau balau. Sebab tidak ada suplai air ke lahan cetak sawah, akrena ada perbaikan irigasi.

“Kami terpaksa alih fungsi tanam jagung dan kacang tanah. Itupun hasilnya tidak memuaskan. Pemasaran kacang tanah, kami mengalami kendala. Namun, dari pada tidak diolah lahannya, lebih baik diolah tanam kacang tanah dan jagung,” katanya.

Katiyo mengatakan, seharusnya bulan Januari 2021 ini sudah ada suplai air. Namun, para petani mendapatkan informasi terbaru, bahwa air baru bisa masuk tiga bulan lagi.

“Kami yang petani ini susah jadinya. Mau cocok tanam padi kalau seperti ini, kacau balau jadinya,” ungkap Katiyo.

Untuk diketahui, saat ini rata-rata petani yang biasa bercocok tanam padi, sudah perguliran tanam ke komoditi jagung dan kacang tanah.

Petugas penyuluhan pertanian Kecamatan Jujuhan Ilir, Yusmaizar mengatakan sekarang petani yang biasa menggarap lahan cetak sawah, terpaksa perguliran tanam menjelang suplai air kembali normal. Diperkirakan, April 2021 nanti baru ada suplai air yang normal.

“Kalau tidak berubah lagi, April sudah normal kembali. Sekarang lagi ada pengerjaan saluran irigasi,” tutup Yusamizar. (mai/enn)

Sumber: https://www.jambi-independent.co.id/read/2021/01/28/58347/petani-belum-bisa-menanam-padi—/

Program Agro Solution Dongkrak Kapasitas Produksi Padi Hingga 80 Persen

Wakil Ketua DPR RI, Rachmat Gobel mengapresiasi program Agro Solution Pupuk Kaltim sebagai langkah jitu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Langkah ini terbukti mampu mencapai hasil secara signifikan. Hal ini melihat keberhasilan program yang mampu meningkatkan kapasitas produksi padi Gorontalo hingga 80 persen atau 10 ton per hektare, dari sebelumnya berkisar 5-6 ton per hektare.

Menurut dia, lahan pertanian Gorontalo sangat mendukung pelaksanaan Agro Solution, karena kapasitas yang sangat memadai dengan berbagai jenis komoditas. Pendampingan Agro Solution diharap mampu memecahkan persoalan klasik yang kerap dihadapi petani, seperti harga jual gabah murah saat panen melimpah, hingga ketersediaan pupuk subsidi yang dibatasi regulasi Pemerintah.

“Solusi itu ada di Agro Solution, karena membangun sektor pertanian dari hulu hingga hilir dengan mengoptimalkan pupuk non subsidi,” kata Rachmat Gobel, saat Panen Demplot Padi Program Agro Solution di Desa Hutabohu Kecamatan Limboto Barat Gorontalo dikutip Jumat (29/1).

Keunggulan Agro Solution juga menawarkan beragam kemudahan bagi petani, mulai dari permodalan, ketersediaan pupuk dan pendampingan pengelolaan lahan, termasuk memfasilitasi penjualan kepada offtaker, yang didukung asuransi pertanian untuk antisipasi gagal panen. Hal itu dinilai dinilai sebagai gagasan inovatif dalam membangun sektor pertanian Indonesia.

Dirinya pun menargetkan perluasan program Agro Solution dalam skala lebih besar di berbagai daerah, yang tak hanya mengakomodasi satu atau dua desa, namun bisa mencakup tingkat kecamatan dengan jumlah lahan yang jauh lebih luas.

“Kami harap ini bisa jadi tantangan Pupuk Kaltim bersama Pupuk Indonesia Grup, agar Agro Solution tidak lagi bicara satu dua hektare saja, tapi ratusan hektare lahan di berbagai daerah bisa diakomodir,” lanjut Rachmat Gobel.

Direktur Utama Pupuk Kaltim, Rahmad Pribadi menambahkan, dari 3 bulan demplot program Agro Solution di atas lahan 1,5 hektare, produktivitas padi yang dihasilkan mencapai 10 ton, dari sebelumnya maksimal 5-6 ton per hektare. Hal ini membuktikan efektivitas program Agro Solution, sebagai solusi pertanian terintegrasi dengan pemakaian pupuk non subsidi yang melibatkan kerjasama multipihak.

“Melihat keberhasilan program Agro Solution, Pupuk Kaltim bersamaPupuk Indonesia Grup optimis target ketahanan pangan dan kemandirian petani dapat tercapai secara maksimal,”? ujar Rahmad Pribadi.

Sumber: https://www.merdeka.com/uang/program-agro-solution-dongkrak-kapasitas-produksi-padi-hingga-80-persen.html

BRGM dorong budidaya padi di lahan gambut

Di tengah pandemi COVID-19, pemerintah mencanangkan program Pemulihan Ekonomi Nasional dimana penguatan ketahanan pangan menjadi salah satu fokusnya. Tahun 2020 lalu, Badan Restorasi Gambut (yang sekarang menjadi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, BRGM), turut terlibat melaksanakan program ketahanan pangan dengan pola padat karya pada lahan gambut di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. 

Demonstration Farm Budidaya Padi seluas 121 hektare dibangun di Desa Talio Hulu, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten. Pulang Pisau. Budidaya padi ini dilakukan di lahan gambut tipis dengan kedalaman kurang dari 3 meter. Dalam panen padi perdana hari Kamis 28 Januari 2021 di areal tersebut, Kepala BRGM Hartono menuturkan lahan yang digunakan merupakan lahan sawah yang terbengkalai. Kebakaran berulang sering terjadi di lokasi tersebut.

“Kami berikan insentif untuk merevitalisasi sawah-sawah ini agar masyarakat dapat mengolah kembali lahannya sehingga akan meningkatkan perekonomian dan partisipasi masyarakat dalam menjaga lahan gambut yang ada. Masyarakat akan menjaga lahan gambut (dari kebakaran) apabila mereka memperoleh manfaat atas lahan yang dikelola,” kata dia dalam keterangannya, Jumat (29/1).

Pendekatan yang digunakan BRGM dalam program ketahanan pangan ini adalah penguatan kelompok tani dan gabungan kelompok tani. Pengarusutamaan gender menduduki porsi yang penting dalam kegiatan ini mengingat sebagian besar anggota kelompok tani adalah kaum perempuan.

Ketua Pokmas Gambut Berseri, Jemino, dalam penjelasannya mengatakan bahwa Pokmas ini merupakan gabungan dari 4 Kelompok Tani dengan masing-masing beranggotakan 25 orang. “Saat ini, kami mengelola 121 ha sawah. Kami hitung per hektare mampu hasilkan 2,58 ton gabah kering”, ujarnya. 

Menurut perhitungan Badan Pusat Statistik Kabupaten Pulang Pisau terhadap produktifitas panen sawah gambut di Talio Hulu ini termasuk kategori sangat baik, terutama pada musim penghujan seperti saat ini. Pada periode tanam selanjutnya, revitalisasi sawah akan dilakukan pada areal 250 hektare yang diikuti dengan penguatan kelembagaan kelompok.

Tidak hanya budidaya padi, program ketahanan pangan dan pemulihan ekonomi di Kabupaten Pulang Pisau juga menyasar kegiatan diversifikasi pangan lainnya dimana masyarakat menanam, mengolah berbagai tanaman pangan seperti jagung, porang, termasuk budidaya perikanan dan kegiatan agroforestri. Kegiatan dilakukan bersama oleh BRGM dan KLHK. Terdapat 20 desa yang didampingi oleh BRGM dan 29 desa difasilitasi oleh Kementerian LHK.

Sebelum acara ditutup, Kepala BRGM mengucapkan selamat kepada Pokmas Gambut Berseri yang telah berhasil melakukan panen perdana. “Kami harap masyarakat menjadi lebih termotivasi dan semangat untuk  meneruskan budidaya pertanian di lahan gambut dengan tetap memperhatikan kaidah pengaturan tata air yang benar,” harapnya. 

BRGM pada  kegiatan restorasi gambut di Kalimantan Tengah hingga tahun 2020 lalu telah  membangun 10.604 unit Sumur Bor, 2,930 unit Sekat Kanal dan 115 unit timbun kanal. Untuk demplot revegetasi, telah dilakukan penanaman seluas 450 ha. Telah diberikan juga 201 paket revitalisasi mata pencaharian masyarakat. BRGM dan para mitra juga memfasilitasi 181 Desa Peduli Gambut. 

Sumber: https://industri.kontan.co.id/news/brgm-dorong-budidaya-padi-di-lahan-gambut

Panen Padi di Abdya Tak Merata, Ini Penyebabnya

Namun, panen ini tak merata lantaran usia tanaman padi di hampir sembilan kecamatan dalam kabupaten itu tidak sama.

Hamdani, petani di Kecamatan Blangpidie, mengatakan petani yang sudah memulai panen padi bisa dikatakan belum terlalu banyak.

Untuk areal persawahan di wilayah Kecamatan Susoh, masih sebagian kecil petani yang sudah dan sedang panen.

Sedangkan sisanya masih menunggu panen yang diperkirakan sekitar satu hingga dua pekan mendatang.

“Belum semua petani sudah memanen padi, masih banyak hamparan padi yang masih menunggu masa panen, sebab kondisinya belum sepenuhnya menguning,” ujar Hamdani. 

Adanya petani yang terlambat memanen padi, katanya, dikarenakan sewaktu masa pengolahan tanah dan hingga proses penanaman padi lalu, sejumlah petani banyak yang terkendala akibat sawah mereka kering tidak dialiri air.

“Sehingga dengan terpaksa mereka harus menunda proses penanaman padi,” ujar Hamdani.  

Tidak hanya itu, lanjutnya, penyebab lain seperti terkena rendaman banjir luapan juga menjadi pemicu utama yang menjadikan keterlambatan panen padi.

“Masih ada tanaman padi milik petani seperti di Kecamatan Jeumpa, Manggeng dan Setia masih dalam fase pengembangbiakan,” tuturnya.

Ia menyebutkan, sejumlah petani yang telah memanen padinya, rata-rata hanya mendapat sekitar 7,5 ton/hektare (ha).

Namun ada juga petani yang memperoleh hasil panen dengan ubinan rata-rata mencapai 8 ton per hektare.

“Umumnya lebih banyak petani yang memperoleh hasil panen rata-rata 7,5 ton per hektare.

Memang ada yang 8 ton per hektare, tapi hanya sebagian kecil.

Kondisi itu dipengaruhi oleh serangan hama yang menyerang tanaman padi pada fase pengembangbiakan dan serangan hama burung disaat padi mulai berisi,” paparnya.

Seperti diketahui, ada sekitar ratusan ha areal persawahan di Abdya yang kerap terendam banjir luapan secara berulang kali, terhitung sejak akhir 2016, kondisinya masih sangat memprihatinkan. 

Areal persawahan dimaksud meliputi, areal persawahan Jeumpa Barat, Asoe Nanggroe, Ikue Lhueng, Kuta Makmur, Kecamatan Jeumpa.

Di Kecamatan Susoh meliputi areal persawahan Rubek Meupayong, Padang Panjang, Ladang, Padang Baru dan Ujung Padang. 

Untuk Kecamatan Setia terdapat dua hamparan yang kerap terendam banjir yaitu kawasan Tangan-Tangan Cut dan Mon Mameh, terakhir di areal persawahan di Paya Laot Kecamatan Manggeng.

Persoalan sawah yang kerap terendam banjir luapan itu hingga saat ini masih menjadi momok yang menakutkan bagi para petani, lantaran kehadiran banjir luapan selalu mengundang petaka bagi tanaman padi milik petani. 

Apalagi kondisi tanaman padi yang masih dalam fase pengembangbiakan, tentu rendaman air luapan akan merusak tanaman padi.

Kondisi tersebut jelas sangat bertolak belakang dengan kondisi tanaman padi milik petani di kawasan lain yang tidak terkena banjir luapan.

Oleh karena itu, upaya khusus Pemkab setempat untuk mengantisipasi banjir luapan ini sangat dinantikan  petani.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2021/01/29/panen-padi-di-abdya-tak-merata-ini-penyebabnya?page=3







Petani Gunungkidul Mulai Panen Padi

Petani di Dusun Walikangin, Ngestirejo, Kapanewon Tanjungsari puas dengan panen padi di musim tanam pertama. Pasalnya, dari hasil ubinan yang dilakukan satu hektar lahan bisa menghasilkan 6,08 ton gabah kering panen.

Ketua Kelompok Tani Sido Makmur, Dusun Walikangin, Sadikin mengatakan, penanaman dilakukan sejak Oktober tahun lalu. Adapun jenis padi yang ditanam ada varietas Inpari 42 dan padi gogo. “Untuk inpari lahan yang ditanam seluas 10 hektare dan padi gogo seluas 29 hektare,” kata Sadikin kepada wartawan, Kamis (28/1/2021)

 

Menurut dia, padi yang ditanam sudah membuahkan hasil karena mulai dipanen. Adapun hasil dari pengubinan diketahui untuk jenis Inpari 42 bisa menghasilkan gabah seberat 6,08 ton per hektarenya.

Sadikin pun mengaku puas karena padi dapat tumbuh dengan subur sehingga hasilnya dapat maksimal. “Kami juga berterimakasih karena adanya bantuan traktor memudahkan dalam pengolahan lahan,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengatakan, secara umum panen padi di musim pertama baru akan dilaksanakan mulai Februari mendatang. meski demkian, untuk wilayah selatan sudah ada petani yang mulai memanen padi. “Salah satunya di Dusun Walikangin, Ngestirejo,” katanya.

Selain bisa memanen padi lebih awal, Bambang mengakui penanaman di Dusun Walikangin juga special karena merupakan panen perdana padi jenis Inpari 42 yang ditanam di daerah kering. Ia menjelaskan, varietas ini merupakan jenis padi di persawahan, namun faktanya juga bisa ditanam di wilayah kering. “Hasilnya juga baik karena bisa menghasilkan 6,08 ton per hektarenya,” ungkapnya.

Ditambahkan Bambang, pihaknya terus berupaya memberikan pendampingan kepada petani untuk mengotimalkan hasil pertanian. “Kami terus berikan penyuluhan, selain itu kami juga menyiapkan bantuan benih untuk petani. Mudah-mudahan hasil panen di musim pertama ini dapat dimaksimalkan,” katanya.

Sumber: https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2021/01/30/513/1062246/petani-gunungkidul-mulai-panen-padi

Harga Cabai Merah di Gayo Lues Kembali Turun

Harga cabai merah dan cabai rawit  di kabupaten Gayo Lues (Galus) untuk saat ini dilaporkan sudah berangsur turun kembali, meskipun sebelumnya harus tersebut  sempat melonjak dan naik mencapai Rp 40.000/kg untuk cabai merah itu.

harga cabai merah saat ini di kabupaten itu berangsur turun dari harga Rp 35.000/kg menjadi Rp 15.000/kg, begitu juga dengan harga cabai rawit sebelumnya Rp 45.000/kg turun menjadi Rp 35.000/kg.

“Harga cabai merah saat ini sudah berada pada harga Rp 15.000/kg ditingkat agen penampungan atau pengumpul, begitu juga dengan harga cabai madun (putih) juga mengalami turun dari Rp 45.000/kg menjadi Rp 40.000/kg,”kata Keling salah satu agen dan pedagang penampung di kabupaten itu

Menurutnya, semua jenis cabai tersebut harganya kini sudah berangsur turun kembalik di kabupaten tersebut. Namun tidak membuat semangat dan gairah petani lemas, kendati harga cabai dilaporkan mulai turun dalam dua hari terakhir ini. Bahkan hingga saat ini banyak petani cabai tersebut sedang melakukan panen raya di kabupaten itu.

“Untuk mendapatkan stok cabai dari petani saat ini masih relatif sangat mudah, meskipun harganya sudah berangsur turun,”sebutnya.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2021/01/24/harga-cabai-merah-di-gayo-lues-kembali-turun





 

Daya Beli Turun Jadi Salah Satu Penyebab Harga Cabai Merah Mahal

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri mengatakan, harga cabai rawit merah di Jakarta makin tinggi, dan saat ini mencapai Rp 85.000-Rp 90.000 per kilogram.

“Makin tinggi. Khususnya cabe rawit merah sempat Rp 80.000, sekarang Rp 85.000 sampai dengan Rp 90.000,” kata Abdullah kepada Liputan6.com, Jumat (29/1).

Dia memprediksi, harga cabai rawit merah akan kembali normal pada Februari 2021, lantaran akan terjadi panen raya di akhir Januari ini. “Saya punya keyakinan Februari baru pada posisi normal, karena panen raya juga akan terjadi akhir bulan ini kan kalau tidak salah,” imbuhnya.

Sebelumnya Abdullah mengatakan, cabai rawit merah merupakan cabai yang naiknya diluar dugaan, bahkan pernah tembus di angka Rp 100 ribu per kilogram, namun kini ada yang menjual di angka Rp 85.000-Rp90.000.

“Ada juga yang menjual dengan cara dioplos, dicampur dengan cabai rawit hijau. Itu adalah cara-cara yang dilakukan pedagang dalam rangka untuk menyuguhkan agar harganya tetap terkendali,” jelasnya.

Menurutnya, alasan harga cabai rawit merah tinggi dikarenakan pasokannya minim. Di mana para petani tidak memproduksi atau tidak menanam cabai rawit merah. Ini kasusnya terjadi pada saat periode panen raya kemarin, lantaran tidak terserap dengan baik dan harganya drop.

“Sehingga petani tidak produksi lagi. Efek apa? ya banyak faktor salah satunya yaitu musim hujan terus, takut gagal panen, daya beli masyarakat menurun,” ujarnya.

Selain faktor cuaca dan petani, harga cabai rawit merah mahal juga disebabkan karena daya beli masyarakat menurun dan permintaan rendah. Oleh karena itu, untuk mengakali agar harga cabai rawit merah tidak terlalu mahal maka sebagian pedagang ada yang menjual secara dioplos atau dicampur dengan cabai rawit hijau.

“Walaupun produksinya kecil tapi permintaan rendah dan harganya tinggi tu sebenarnya yang harus diantisipasi,” pungkasnya.

Sumber: https://www.merdeka.com/uang/daya-beli-turun-jadi-salah-satu-penyebab-harga-cabai-merah-mahal.html

Turun! Berapa Harga Cabai Merah di Pasar Raya Padang Hari Ini?

Harga cabai merah di Pasar Raya Padang, Provinsi Sumbar turun sebesar Rp10.000 dari semula Rp50.000 per kilogram (kg) menjadi Rp40.000 per kg, pada Selasa (26/1/2021).

Menurut Iwan, salah seorang pedagang kebutuhan pokok di Padang, nilai beli masyarakat mulai meningkat sejak turunnya harga cabai merah. Biasanya disaat harganya melonjak pembeli tidak sebanyak sekarang.

“Harga cabai merah sekarang sudah turun menjadi Rp40 ribu per kg. Tentunya dengan penurunan harga ini ibu-ibu rumah tangga senang. Biasanya mereka bertanya terus kenapa harga cabai sering naik,” kata Iwan.

Meski harga cabai merah turun, kata Iwan, harga cabai rawit hijau masih tinggi dan bahkan terus mengalami kenaikan. Sekarang dijual Rp72.000 per kg. Sebelumnya hanya dikisaran Rp60.000 per kg.

“Kalau cabai rawit harganya memang tinggi, sekarang dijual Rp72.000 per kg. Ini disebabkan karena pasokannya juga kurang,” ujar Iwan.

Berdasarkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumbar melalui Kasi Perdagangan Sumbar, Jonhar, hari ini harga tertinggi cabai rawit hijau di Pasar Raya Padang sebesar Rp72.000 per kg. Meski harga cabai rawit naik, namun harga cabai merah malah mengalami penurunan yang kini dijual Rp40.000 per kg, sebelumnya Rp50.000 per kg.

Sementara sejumlah komoditas masih cenderung stabil. Seperti, beras Cap Arai Pinang Pariaman Rp10.000 per kg, beras Cisokan Solok Rp15.000 per kg, beras Cap IR-42 Muara Labuh Rp12.500 per kg, beras Cap IR- 42 Padang Rp13.500 per kg.

Beras Cap Jawa Rp14.000 per kg, beras Cap Kuraik Kusuik Bukittinggi Rp14.000 per kg, beras Cap Panda Jambi Rp12.000 per kg, dan beras Sokan Panjang Padang Rp12.000 per kg.

Gula pasir kristal putih plastik Rp13.000 per kg, minyak goreng curah plastik tanpa merek Rp12.000 per kg, minyak goreng kemasan plastik bimoli Rp15.000 per 1 liter, minyak goreng kemasan sederhana Rp12.000 per 1 liter.

Daging sapi lokal (paha belakang) Rp130.000 per kg, daging sapi lokal (daging has luar Sirloin ) Rp130.000 per kg, daging sapi lokal (daging sanding lamur Brisket) Rp130.000 per kg, daging sapi lokal (daging has dalam Tanderloin) Rp120.000 per kg, daging tetelan Rp40.000 per kg, dan aging sapi lokal (daging has dalam Tenderloin ) Rp130.000 per kg.

Daging ayam ras/broiler utuh Rp42.000 per kg, daging ayam kampung utuh Rp47.000 per kg. Sementara telur ayam negeri Rp27.200 per kg, telur ayam kampung Rp42.000 per kg.

Susu bubuk lokal indomilk coklat 400 gram Rp31.000 per kg, susu bubuk lokal neste dancaw full cream 380 gram Rp43.000 susu kental manis frisian flag Rp10.000 per kg, susu kental manis indomilk Rp10.000.

Sedangkan, jagung lokal pipilan Rp6.000 per kg, tepung terigu Bogasari eceran protein sedang Rp10.000 per kg, tepung terigu Bogasari eceran protein sedang Rp8.5000 per kg, kacang kedele Rp10.000 per kg.

Bawang putih Rp24.000 per kg, bawang merah Rp26.000 per kg, ikan laut teri Rp70.000 per kg, garam bata yodium Rp1.500 per buah, garam halus yodisum Rp12.000 per kg.

Mie instan indofood indomie kuah kari ayam Rp2.500 per bungkus, kacang tanah Rp28.000 per kg, kacang hijau Rp23.000 per kg, dan ketela pohon Rp6.000 per kg.

Sumber: https://www.harianhaluan.com/news/detail/119616/turun-berapa-harga-cabai-merah-di-pasar-raya-padang-hari-ini