Kecamatan Bulango Ulu Penghasil Jagung Terbesar di Gorontalo

Kecamatan Bulango Ulu adalahsebuah kecamatan di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, yang merupakan daerah penghasil jagung terbesar di Gorontalo.

Bupati Bone Bolango Hamim Pou menyampaikan hal ini di Desa Mongiilo Utara, Kecamatan Bulango Ulu, Selasa (26/1/2021).

Hamim Pou mengatakan, di Bone Bolango terdapat tiga kecamatan yang memilki luas wilayah terbesar, yaitu Pinogu, Suwawa Timur, dan Bulango Ulu. Kecamatan Pinogu dan Suwawa Timur memiliki hutan taman nasional yang luas sementara khusus Bulango Ulu memiliki areal jagung yang luas.

Hamin mendorong agar di Bulango Ulu bisa tiga kali musim tanam untuk areal jagung, sehingga bisa menghasilkan tiga kali pendapatan dan keuntungan. “Dari 3 kali pendapatan dan keuntungan bisa ditabung yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk membangun rumah dan menyekolahkan anak,” ujar Hamim.

Hingga saat ini para petani di Bulango Ulu sudah bisa menurunkan penggunaan pupuk bersubsidi dan beralih ke pupuk organik.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Bone Bolango, Roswaty Agus, mengatakan, Kecamatan Bulango Ulu memiliki luas areal jagung 2.153 hektare. Ini berarti mencakup 34 persen dari total keseluruhan areal Bone Bolango yang luasnya sekitar 9.000 hektare lebih.

“Untuk kualitas ekspor ini harus kita perhatikan dan Alhamudulillah Pemkab Bone Bolango melalui bapak Bupati telah memberikan bantuan Dryer UV,” tambah Roswaty.

Kendala yang banyak dikeluhkan oleh para petani jagung di Bone Bolango adalah kandungan air yang tinggi dan proses penjemuran yang tidak sempurna. “Itu kami sudah diskusikan dengan Dinas Pangan ternyata ditemukan racun yang dihasilkan dari jamur yang pascapanen kita tidak perbaiki,” jelas Roswaty. Dengan diberikannya bantuan UV Dryer oleh Pemkab Bone Bolango kepada para petani di Bulango Ulu, bisa meminimalkan permasalahan di lapangan.

Sumber: https://www.beritadaerah.co.id/2021/01/27/kecamatan-bulango-ulu-penghasil-jagung-terbesar-di-gorontalo/

Pupuk Bersubsidi di Kulon Progo Terserap Seluruhnya Selama 2020

Penyerapan pupuk bersubsidi di tingkat petani seluruhnya telah terpenuhi.

Hal itu terlihat dalam capaian penyaluran hingga akhir 2020.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo, realisasi pupuk bersubsidi jenis Urea sebesar 5096,42 ton, SP-36 sebesar 649,28 ton, ZA 1513,88 ton, NPK (Ponska) 7458,06 ton dan Organik 513,47 ton. 

Sedangkan alokasi pupuk bersubsidi pada 2021 untuk pupuk urea sebesar 8.751 ton, SP-36 sebesar 951 ton, ZA 2.211 ton, NPK 6.378 ton dan Organik 422 ton. 

“Melihat alokasi ini, maka ketersediaan pupuk bersubsidi pada tahun ini aman. Hal itu bisa dilihat dengan membandingkan realisasi pupuk pada 2020 semuanya meningkat kecuali NPK,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Kabupaten Kulon progo, Aris Nugroho saat dihubungi, Minggu (31/1/2021). 

Aris melanjutkan untuk alokasi pupuk NPK yang mengalami penurunan pada tahun ini, pihaknya akan mengajukan usulan tambahan terhadap ketersediaan pupuk tersebut. 

“Karena 2019 kemarin, realisasi pupuk NPK sekitar 7.000-an tapi alokasi pupuk itu pada tahun ini baru sekitar 6.000-an,” ucapnya. 

Terlebih pihaknya tahun ini juga pertama kali mengalokasikan pupuk bersubsidi jenis organik cair sebesar 1.056 ton. 

Selain tercapainya pupuk bersubsidi, kata Aris petani yang telah tercantum ke dalam e-RDKK mengalami penambahan. 

Pada 2021, terdapat sebanyak 51.385 NIK dibandingkan 2019 yang hanya tercatat sebanyak 43.041 NIK. 

“Jadi tahun ini, jumlah petani yang masuk ke e-RDKK bertambah 8.344 petani,” terang Aris. (scp) 

SUMBER: https://jogja.tribunnews.com/2021/01/31/pupuk-bersubsidi-di-kulon-progo-terserap-seluruhnya-selama-2020

Harga Cabai Rawit Merah di Jakarta Mulai Naik, Ada Apa?

Harga cabai rawit merah di sejumlah pasar tradisional di DKI Jakarta mulai merangkak naik. Dilansir dari laman infolapangan.jakarta.go.id pada Rabu (26/1/2021) siang, harga tertinggi cabai rawit merah berada di Pasar Petojo Ilir, Jakarta Pusat yakni RP 95.000 per kilogram. Sedangkan harga terendah berada di Pasar Baru Metro Atom, Jakarta Pusat yakni Rp 40.000 per kilogram.

Sementara itu, harga cabai rawit merah di Pasar Induk Kramatjati diketahui mengalami kenaikan sekitar Rp 1.000 menjadi Rp 67.000 per kilogram. Kepala Pasar Induk Kramatjati, Agus Lamun mengatakan kenaikan harga cabai rawit merah itu dipengaruhi pasokan cabai yang mulai menipis. Hal ini disebabkan proses pemetikan cabai di daerah penghasil terkendala faktor cuaca.

Baca juga: Harga Cabai Rawit Merah di Cianjur Tembus Rp 100.000 Per Kg “Ini karena lebih kepada pengaruh cuaca yang menyebabkan terkendalanya proses pemetikan di petani, sehingga pasokan sangat sedikit dan berdampak pada harga perolehan yang juga tinggi di daerah,” kata Agus seperti dilansir Antara, Rabu. Saat ini, stok cabai rawit merah di Pasar Induk Kramatjati berkisar 22 ton. Untuk stok cabai rawit hijau adalah 3 ton, cabai merah keriting adalah 28 ton, dan cabai merah besar 7 ton. “Sejauh ini stok kita untuk di Jakarta sampai hari ini masih relatif aman. Berdoa saja semoga kondisi cuaca kembali normal dan petani juga bisa panen dengan banyak, sehingga pasokan dan harga kembali normal,” ujar Agus.

Sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2021/01/27/13523751/harga-cabai-rawit-merah-di-jakarta-mulai-naik-ada-apa

Harga Cabai Rawit Hijau Melejit, Capai Rp 80.000 per Kg

Harga cabai rawit hijau mengalami kenaikan signifikan. Saat ini harga cabai rawit hijau di pasaran melejit hingga Rp 80.000 per kilogram (kg). Biasanya harga cabai rawit hijau sekitar Rp 20.000-Rp 25.000 per kg.ADVERTISEMENTKenaikan harga cabai rawit hijau ini lantaran stok menipis di Pasar Kramat Jati, Jakarta. Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid mengatakan, stok di Pasar Kramat Jati merosot 50 persen, dari normalnya 60 ton per hari menjadi tinggal 20-40 ton per hari.“Sekarang (harga) sampai Rp 80 ribu per kilo. Ini mungkin sedikit ya, biasanya sampai 60 ton (per hari),” katanya kepada kumparan, Rabu (27/1).Berdasarkan data Info Pangan DKI Jakarta per hari ini, harga cabai rawit hijau tembus Rp 90.000 per kg di Pasar Kelapa Gading. Harga terendah Rp 55.000 per kg di Pasar Mayestik. Sementara harga rata-rata di seluruh DKI Jakarta Rp 75.278 per kg.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memperkirakan laju inflasi selama Januari 2021 masih akan tetap rendah. Berdasarkan survei pemantauan harga yang dilakukan bank sentral hingga pekan ketiga bulan ini, inflasi Januari 2021 diperkirakan sebesar 0,37 persen secara bulanan (mtm). Proyeksi tersebut lebih rendah dari realisasi inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 0,45 persen (mtm) maupun pada Januari 2020 sebesar 0,39 persen (mtm). “Dengan perkembangan harga pada bulan Januari 2021 diperkirakan inflasi sebesar 0,37 persen (mtm). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Januari 2021 secara tahun kalender sebesar 0,37 persen (ytd) dan secara tahunan sebesar 1,67 persen (yoy),” ujar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangannya, Sabtu (23/1). Dia melanjutkan, inflasi tersebut disumbang oleh kenaikan harga sejumlah komoditas bahan makanan. Utamanya pada cabai rawit yang andilnya sebesar 0,1 persen, tahu dan tempe masing-masing sebesar 0,03 persen, hingga cabai merah dan tarif angkutan antarkota masing-masing sebesar 0,02 persen.

Sumber: https://kumparan.com/kumparanbisnis/harga-cabai-rawit-hijau-melejit-capai-rp-80-000-per-kg-1v3hX364Tyc

Harga Pangan Terjun Bebas, Cabai Merah Turun 39 Persen

Harga turun lebih dari 20 persen di sejumlah komoditas. Penurunan terbesar terjadi pada komoditas cabai merah besar sebesar 39,29 persen atau Rp18.900 menjadi Rp29.200 per Kg.

Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), Senin (25/1), harga cabai merah besar terendah ada di Banyuwangi, yaitu Rp26.750 dan tertinggi di Surabaya Rp32.750.

Selain cabai merah besar, penurunan lebih dari 20 persen terjadi pada harga cabai merah keriting sebesar 26,5 persen atau Rp13.700 ke Rp38 ribu per Kg

Harga terendah tercatat di Probolinggo sebesar Rp25 ribu per Kg dan tertinggi di Surabaya yakni Rp47.500 per Kg. Selain komoditas cabai, harga telur ayam ras segar pun turun lebih dari 20 persen yakni 22,39 persen atau Rp6.100 menjadi Rp21.150 per Kg.

Harga bawang putih pun turun hingga 20,92 persen atau sebesar Rp5.900 ke Rp22.300 per Kg. Sedangkan bawang merah ukuran sedang turun 19,63 persen atau Rp6.350 ke Rp26 ribu per Kg.

Harga beras kualitas super II pun turun 15,35 persen atau Rp1.950 menjadi Rp10.750 per Kg. Sedangkan beras kualitas medium II turun 12,88 persen atau Rp1.500 menjadi Rp10.150 per Kg.

Komoditas lain yang turun tipis yakni harga daging ayam ras segar sebesar 4,75 persen atau Rp1.650 menjadi Rp33.100 per Kg. Harga gula pasir turun tipis 4,14 persen menjadi Rp15.050 per Kg dan minyak goreng kemasan bermerk I turun 7,59 persen ke Rp14 ribu per Kg.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210125114836-92-597966/harga-pangan-terjun-bebas-cabai-merah-turun-39-persen

Mahal! Harga Cabai Rawit di Jakarta Barat Melonjak

Harga cabai rawit di pasar tradisional di Jakarta Barat mengalami lonjakan dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan atau KPKP Iwan Indriyanto menyebutkan lonjakan terjadi pada harga cabai rawit merah dan hijau.

“Untuk cabai rawit rata-rata masih tinggi, ada yang mencapai Rp86 ribu per kilogram,” kata Iwan di Jakarta, Kamis (21/1/2021).

Adapun harga cabai rawit sebelumnya berkisar di harga Rp60 ribu. Kenaikan harga cabai rawit tersebut terjadi di sejumlah pasar seperti Pasar Kalideres, Pasar Tomang Barat, Pasar Ganefo, Pasar Pos Pengumben, Lokbin Meruya, Pasar Pecah Kulit dan Pasar Jembatan Besi.

Untuk mengatasi lonjakan harga cabai yang semakin tinggi, Sudin KPKP Jakarta Barat mengelar Gerakan Pangan Murah untuk menjual langsung beberapa komoditas pangan di bawah harga pasaran. Gerakan Pangan Murah tersebut bekerjasama dengan Perumda Pasar Jaya dan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pasar Tomang Barat, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Di sana, disediakan delapan komoditas seperi beras, gula pasir, minyak goreng, cabai merah keriting, cabai rawit keriting,cabai rawit merah, bawang merah, bawang putih dan telur ayam.

Cabai rawit merah dijual sekitar Rp60 ribu per kilogram. Selain itu, cabai merah keriting dijual seharga Rp40.000 per kilogram.

“Gerakan Pangan Murah melalui penjualan langsung guna menekan tingginya harga tersebut,” ujar Iwan. (Antara)

Sumber: https://www.suara.com/bisnis/2021/01/21/142545/mahal-harga-cabai-rawit-di-jakarta-barat-melonjak

Petani di Kabupaten Gunung Kidul Mulai Panen Jagung

 Petani di Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mulai memasuki masa panen jagung di lahan seluas 47.198 hektare yang diperkirakan selesai panen hingga akhir Februari.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul, Bambang Wisnu Broto, mengatakan, panen raya jagung ini terbilang lebih awal dibandingkan tahun sebelumnya. Hal itu karena masa tanam juga lebih awal dan didukung curah hujan yang cukup.

“Hasil panen jagung tahun ini cukup bagus. Produktivitas hasil panen jagung rata-rata mencapai 4,6 ton-4,9 ton per hektare,” kata Bambang di Gunung Kidul, Senin (25/1).

Dia mengatakan, pada musim tanam pertama ini lahan yang ditanam luasnya mencapai 112.001 hektare. Lahan itu terbagi padi seluas 48.104 hektare, jagung 47.198 hektare, kacang tanah 16.557 hektare, dan kedelai 142 hektare.

Luas tanaman jagung di Gunung Kidul cukup tinggi. Begitu juga dengan komoditas palawija lainnya, seperti kacang tanah dan kedelai. Hal ini dikarenakan Gunung Kidul merupakan kabupaten yang menyumbang produksi tertinggi DIY, khususnya jagung dan beras.

“Ketiga jenis palawija diperkirakan panen seluruhnya di akhir Januari hingga Februari. Sedangkan panen raya padi diperkirakan akan dimulai pada Februari hingga Maret 2021,” katanya.

Bambang berharap, hasil panen seluruh komoditas pangan tersebut berjalan sesuai perkiraan, terutama padi yang baru akan dipanen pada Februari mendatang. Menurut Bambang, peningkatan hasil panen di awal 2021 ini bisa membantu ekonomi petani sekaligus menjaga ketahanan pangan di Kabupaten Gunung Kidul.

“Meski masih dalam suasana pandemi, petani diharapkan tetap produktif dalam menghasilkan bahan pangan,” katanya.

Petugas penyuluh pertanian Kecamatan Playen, Bekti mengatakan, berdasarkan hasil ubinan untuk melihat hasil kacang tanah di Playen sebanyak 2,92 kilogram polong basah, jika dikonversi mendapatkan hasil 4,7 ton polong basah per hektare atau 1,49 ton wose kering per hektare.

“Saat ini, harga kacang tanah wose di tingkat petani mencapai Rp 22 ribu per kilogram maka petani mendapatkan hasil kisaran Rp 30 juta per hektare,” kata Bekti.

Sumber: https://www.republika.co.id/berita/qnguwi484/petani-di-kabupaten-gunung-kidul-mulai-panen-jagung

Harga Cabai Rawit di Pasar Raya Padang Makin Pedas, Tembus Rp72.000 Per Kg

 kebutuhan pokok di Pasar Raya Padang, Provinsi Sumbar tercatat melonjak. Lonjakan terbesar terjadi pada harga cabai rawit jihau, kini dijual Rp72.000 per kilogram (kg), sebelumnya pada Jumat (22/1/2021) masih di level Rp68.000 per kg.

Rata-rata harga cabai rawit hijau di sejumlah pasar tradisional tercatat kisaran Rp72.000 per kg sampai Rp80.000 per kg, Senin (25/1/2021).

Berdasarkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumbar melalui Kasi Perdagangan Sumbar, Jonhar, hari ini harga tertinggi cabai rawit hijau di Pasar Raya Padang sebesar Rp72.000 per kg.

Meski harga cabai rawit naik, namun harga cabai merah malah mengalami penurunan yang kini dijual Rp40.000 per kg, sebelumnya Rp45.000 per kg.

Sementara sejumlah komoditas masih cenderung stabil. Seperti, beras Cap Arai Pinang Pariaman Rp10.000 per kg, beras Cisokan Solok Rp15.000 per kg, beras Cap IR-42 Muara Labuh Rp12.500 per kg, beras Cap IR- 42 Padang Rp13.500 per kg.https://06b4aa7339bb3e456040743dead5b616.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-37/html/container.html

Beras Cap Jawa Rp14.000 per kg, beras Cap Kuraik Kusuik Bukittinggi Rp14.000 per kg, beras Cap Panda Jambi Rp12.000 per kg, dan beras Sokan Panjang Padang Rp12.000 per kg.

Gula pasir kristal putih plastik Rp13.000 per kg, minyak goreng curah plastik tanpa merek Rp12.000 per kg, minyak goreng kemasan plastik bimoli Rp15.000 per 1 liter, minyak goreng kemasan sederhana Rp12.000 per 1 liter.

Daging sapi lokal (paha belakang) Rp130.000 per kg, daging sapi lokal (daging has luar Sirloin) Rp130.000 per kg, daging sapi lokal (daging sanding lamur Brisket) Rp130.000 per kg, daging sapi lokal (daging has dalam Tanderloin) Rp120.000 per kg, daging tetelan Rp40.000 per kg, dan aging sapi lokal (daging has dalam Tenderloin) Rp130.000 per kg.

Daging ayam ras/broiler utuh Rp42.000 per kg, daging ayam kampung utuh Rp47.000 per kg. Sementara telur ayam negeri Rp27.200 per kg, telur ayam kampung Rp42.000 per kg.

Susu bubuk lokal indomilk coklat 400 gram Rp31.000 per kg, susu bubuk lokal neste dancaw full cream 380 gram Rp43.000 susu kental manis frisian flag Rp10.000 per kg, susu kental manis indomik Rp10.000.https://06b4aa7339bb3e456040743dead5b616.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-37/html/container.html

Sedangkan, jagung lokal pipilan Rp6.000 per kg, tepung terigu Bogasari eceran protein sedang Rp10.000 per kg, tepung terigu Bogasari eceran protein sedang Rp8.5000 per kg, kacang kedele Rp10.000 per kg.

Bawang putih Rp24.000 per kg, bawang merah Rp26.000 per kg, ikan laut teri Rp70.000 per kg, garam bata yodium Rp1.500 per buah, garam halus yodisum Rp12.000 per kg.

Mie instan indofood indomie kuah kari ayam Rp2.500 per bungkus, kacang tanah Rp28.000 per kg, kacang hijau Rp23.000 per kg, dan ketela pohon Rp6.000 per kg. (*)

Sumber: https://www.harianhaluan.com/news/detail/119526/harga-cabai-rawit-di-pasar-raya-padang-makin-pedas-tembus-rp72000-per-kg

Kenaikan Harga Cabai Rawit di Cirebon Diprediksi Sampai Februari

CIREBON – Harga cabai rawit merah di Kabupaten Cirebon hingga akhir Januari 2021 ini masih terus melonjak. Dinas Perdagangan dan Perindustrian memprediksi hal tersebut bakal terjadi hingga Februari mendatang.

Kepala Bidang Perdagangan Disperdagin Kabupaten Cirebon Dini Dinarsih mengatakan harga cabai rawit merah di Kabupaten Cirebon saat ini mencapai harga Rp84.500 per kilogram di tingkat pasar tradisional.

“Kenaikan tersebut terjadi sejak November 2020, sampai saat ini terus mengalami kenaikan,” kata Dini di Kabupaten Cirebon, Senin (25/1/2021).

Dini mengatakan, faktor kenaikan harga salah satu kebutuhan pokok masyarakat terjadi karena banyak gagal panen di tingkat petani akibat curah hujan tinggi, sehingga kuantitas distribusi ke pasar tradisional menurun.

Curah hujan tinggi yang terjadi selama beberapa bulan terakhir ini pun, menurut Dini membuat banyak petani di daerah untuk sementara waktu melakukan alih tanam dan akan kembali bercocok tanam pada awal kemarau.

“Kejadian ini terjadi setiap tahunnya. Beberapa tahun lalu, pernah mencapai lebih dari Rp100.000 per kilogramnya,” kata Dini.

Sementara, untuk cabai merah besar pada akhir Januari 2021 ini terus mengalami penurunan harga, dari semula pada awal Januari dijual dengan harga Rp35.000, saat ini menjadi Rp33.000.

Kemudian, cabai keriting pada awal Januari 2021 dijual dengan harga Rp45.000 per kilogram, sedangkan pada akhir bulan ini turun menjadi Rp40.000.

Berdasarkan data dari Pusat Harga Informasi Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga cabai rawit merah di Kabupaten Cirebon naik sejak November 2020.

Pada November 2020, harga cabai tersebut sebesar Rp35.100 per kilogram, Desember 2020 Rp57.350, Januari 2021 Rp80.000. Harga terendah terjadi pada September lalu, yakni Rp23.000. (K45)

Sumber: https://bandung.bisnis.com/read/20210125/550/1347299/kenaikan-harga-cabai-rawit-di-cirebon-diprediksi-sampai-februari

Pedagang dan Pembeli Keluhkan Harga Sayuran Naik Tajam di Medan

Pedagang dan Pembeli Keluhkan Harga Sayuran Naik Tajam di Medan

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN – Berbagai jenis sayuran di pasar tradisional Kota Medan mengalami kenaikan harga signifikan.

Dari amatan Tribun Medan, Senin (25/1/2021) beberapa jenis sayur bahkan mengalami kenaikan harga hingga dua kali lipat dari biasanya.

“Saat ini sayur-sayuran mengalami kenaikan harga. Kacang panjang naik menjadi Rp 12 ribu dari harga Rp 5000. Selain itu terong yang biasanya Rp 5000 sekarang Rp 14 ribu,” kata pedagang sayuran di Pasar Petisah Pujiati.

Untuk mendapatkan stok sayuran diakuinya juga terbatas dan susah didapatkan. Menurutnya hal ini disebabkan oleh musim hujan yang tak menentu sehingga menyebabkan petani susah menanam sayuran.

“Sawi Rp 7000 dari harga Rp 4000. Kangkung juga naik dari Rp 2000 dari biasanya Rp 1000 per ikat. Buncis juga naik, jadi Rp 15 ribu dari Rp 6000 dan bayam Rp 5000 dari Rp 3000,” katanya.

Pedagang-dan-Pembeli-Keluhkan-Harga-Sayuran-Naik-Tajam-di-Medan

Ia mengatakan kenaikan harga ini sangat berpengaruh dengan penjualan. Ia juga bingung menentukan harga jual karena takut tidak laku.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh pedagang sayur di tempat serupa Rukinah. Ia mengatakan banyak pelanggannya yang mengurungkan niat membeli sayuran karena harganya yang tinggi.

“Pembeli kita 25 persen ada kurang. Mereka tanya harga sayur, ga cocok ya pergi mereka. Biasanya aku ambil 40 ikat khusus untuk bayam, sekarang 10 ikatlah. Itupun syukur kalau habis,” katanya.

Ia mengatakan bayam sekarang dijual Rp 5000 yang biasanya Rp 2500. Kangkung dijual tiga ikat Rp 5000.

“Modalnya saja dari yang biasa Rp 500 seikat sekarang Rp 1200. Kacang panjang kami jual Rp 12 ribu biasanya Rp 5000. Buncis Rp 15 ribu sampai Rp 16 ribu. Sudah dua minggu belakangan ini naik semua,” katanya.

Seluruh sayuran ini ia ambil dari Pasar Induk. Ia mengatakan kenaikan harga ini karena musim hujan sehingga petani susah menanam sayur di ladang.

Seorang warga Medan Tembung Dewi yang bekerja di seputar pasar tersebut juga mengeluh kenaikan harga ini. Ia berharap harga bisa segera stabil.

“Ikan naik, bahkan sayur pun naik. Susahlah belanja kalau mahal semua. Bingung juga mau belanjanya gimana. Sudah Corona begini, pekerjaan susah, mau belanja juga mahal. Makanya bingung lah mau kasih anak makan apa,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut, Baharuddin membenarkan kenaikan harga sayuran ini karena cuaca yang terus menerus turun hujan.

“Buncis, sawi pahit, bayang, kangkung dan lainnya jelas naik. Hal ini karena musim hujan membuat tanaman sayur menjadi kurang baik. Sehingga membuat panen gagal. Akan tetapi untuk sayur bayam ini setiap 21 hari sekali sudah panen. Kita harapkan cuaca akan bersahabat,” katanya.

Lebih lanjut, Baharuddin mengatakan pihaknya sudah kembali turun ke lapangan untuk memantau petani di Sumut.

“Setelah tahun baru ini sudah mulai ramai petani yang ke ladang dan sudah mulai menanam lagi. Kita harapkan di bulan Februari 2021 nanti sudah kembali panen lagi. Sehingga kebutuhan di masyarakat mulai terpenuhi lagi,” pungkasnya.

SUMBER: https://medan.tribunnews.com/2021/01/26/pedagang-dan-pembeli-keluhkan-harga-sayuran-naik-tajam-di-medan