Boimin, Petani Milenial Yang Sukses Menanam Semangka

Kesuksesan Boimin sebagai petani hortikultura tidak diraih dalam semalam. Butuh waktu belasan tahun untuk menjadikan dirinya seperti saat ini. Dengan berbekal pendidikan pas-pasan, jejak kehidupan lelaki kelahiran Banyuwangi 5 Juni 1966 ini dimulai dari buruh panggul di desanya. Pekerjaan tersebut dilakoninya hingga dua tahun sejak berumah tangga. Setelah temannya yang bekerja di perusahaan benih mengajari bertani, Boimin mulai tertarik untuk melakukan budidaya.

“Pertama kali belajar bertani, saya menanam cabai di lahan milik orang tua seluas seperempat hektar. Panen pertama tidak begitu menggembirakan, ya maklum saja, namanya juga baru belajar,” ujarnya. Tapi bapak dua anak ini tidak menyerah, dia terus mencoba dan mencoba lagi. Hinggga akhirnya Boimin mulai memahami bagaimana cara menanam cabai agar hasil panennya optimal.

Setelah beberapa kali panen dengan hasil menggembirakan, Boimin mendapat informasi dari temannya tentang banyaknya lahan potensial di Sulawesi Tengah. Lelaki yang suka tantangan ini pun mulai mencoba untuk mengadu nasib di tanah rantau. Ketika informasi yang diterima tentang tanah harapan itu dirasa cukup, Boimin, istri dan salah satu anaknya pergi ke Sulawesi Tengah. Tujuannya adalah Desa Jonoge, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi.

“Di Jonoge saya menyewa lahan seluas 7 ribu meter persegi. Lahan tersebut saya tanami berbagai komoditas hortikultura, seperti semangka, cabai, dan kacang panjang. Saya sisakan sepetak untuk mendirikan gubug buat rumah tinggal,” kenangnya. Dengan keuletannya, dari berumah gubug kecil di lahan sewa, Boimin mampu membeli rumah dengan halaman yang cukup luas, pada tahun 2012.

Disusul dua tahun kemudian, lelaki rendah hati ini bisa membeli tanah garapan dengan total luas 2 hektar. “Tadinya saya hanya mampu beli setengah hektar, setelah uang terkumpul, beli lagi satu hektar, dan belakangan saya nambah lagi setengah hektar,” paparnya. Lahan seluas itu ditanaminya belimbing dan tomat. “Untuk lahan sewa, luas saat ini mencapai hampir satu hektar. Semuanya saya tanami semangka, labu madu, dan kacang panjang sebagai tanaman pagar,” ujarnya.

Semangka yang ditanam di lahan sewa, adalah semangka tanpa biji. Rencananya komoditas tersebut akan dipanen sekitar sehari lagi. Menurut Boimin, berat satu buah semangka di lahannya berkisar antara 6 hingga 7 kilogram. “Bahkan ada beberapa yang bisa mencapai 10 kilogram per buah, rasanya juga manis. Di pasaran tentu saja harganya lebih tinggi,” katanya.

Agar semangka tumbuh menjadi subur dan menghasilkan buah yang lebat, besar dan rasanya manis, Boimin menekankan pentingnya pemupukan. Dia mengaku mengaplikasikan PHONSKA Plus, NPK produksi Petrokimia Gresik dengan tambahan Sulfur dan Zink. “Dengan PHONSKA Plus efeknya mulai terlihat sejak semangka berumur 20 hari. Ditandai dengan cepatnya pertumbuhan cabang-cabang yang menjalar. “Bunganya juga semakin banyak dan tidak mudah rontok, sehingga banyak yang berhasil menjadi buah hingga menjelang panen,” ucapnya.

Petani horti yang baru saja membeli mobil MPV keluaran terbaru ini juga heran dengan PHONSKA Plus. Pupuk NPK ini harganya lebih murah dibanding pupuk sejenis yang impor, tapi hasilnya relatif sama. “Dengan PHONSKA Plus, selain panennya bisa meningkat dari 20 ton menjadi 25 ton per hektar, biaya produksinya juga bisa berhemat, Hal ini jika dibandingkan jika menggunakan NPK impor. Sehingga untungnya juga lebih banyak,” tuturnya sambil tersenyum.

Alam Hidayat Naibaho, Petani Muda Dari Sumalunggun

Alam Hidayat Naibaho mengalami jatuh bangun saat memulai usahanya di bidang budidaya pertanian selama tiga tahun.

Sebelum jadi petani, Alam merantau ke Baganbatu untuk mencari pengalaman kerja. Selama 7 tahun, Alam menggeluti beberapa pekerjaan termasuk bertani.Kemudian, pada awal tahun 2012, Alam kembali ke kampung halamannya di desa Said Buttu Saribu, Kabupaten Sumalunggun.

Dia berniat memulai usaha bercocok tanam yang nanti hasil panen pertaniannya untuk membantu kehidupan keluarga.

Banyak rintangan dalam proses bercocok tanam di kebun milik keluarganya. Niat baik Alam untuk membantu keluarga juga mengalami banyak rintangan.

Alam memberanikan diri budidaya cabai dengan menggunakan modal awal sekitar Rp3 juta hasil dari kerjanya selama merantau.Walau sudah serius bertani, namun karena masih minim edukasi, panen pertama Alam gagal total.

Di tahun kedua cabai yang ditanam mulai membuahkan hasil. Namun karena mendengar begitu banyak saran dari kerabat yang bukan ahli pertanian, hasil panen belum maksimal.

Bahkan usaha pertanian di tahun ketiga hasil panen juga mengalami kegagalan.

“Menurut saya, terlalu banyak mendengar saran dari yang bukan merupakan ahli juga bukan hal yangg tepat. Tapi saya terus berusaha untuk belajar,” kata Alam.Untuk mendapat ilmu di bidang pertanian, Alam bergabung ke kelompok tani pertamanya pada tahun 2014 yangg bernama parmajaya.

Di sana, Alam mulai mendapatkan ilmu dan belajar dari orang yang tepat.

Akhirnya di tahun 2017, Bitra Indonesia datang ke desanya dengan membawa program ‘Toba Project’.

Sebelum kedatangan Bitra, Alam sudah menanam kopi di lahannya. Kedatangan Bitra jadi momentum yang tepat bagi Alam untuk mendalami ilmu budidaya kopi.

“Setelah Bitra datangm saya mendapatkan ilmu baru tentang cara bertani kopi yang baik. Mulai dari pembibitan penanaman proses perawatan dan akhirnya hingga panen kopi,” terangnya.Namun hasil panen kopinya belum maksimal sebab pohon awal yang dia tanam itu sebelum mendapat pendampingan dari Bitra.

“Kedepan saya ingin mendapatkan hasil panen yang baik karena prospek dari program Bitra ini sangat terasa mulai dari penyuluhan teori sampai dengan praktik ke lapangan langsung. Munculnya Bitra juga membuat tanaman cabai dan kopi berkembang baik. Ilmu yang didapat juga sangat banyak dari Bitra Indonesia,” ujar Alam.

Dia bersama petani lainnya yang mengikuti program ‘Toba Project’ mengalamai peningkatan ekonomi.

Alam pun kini sudah mendapat penghasilkan untuk menghidupi keluarganya dan menyekolahkan adiknya.

Dia berharap pemerintah agar lebih memperhatikan desanya dan lebih meningkatkan bantuan untuk para petani.

“Saran saya untuk pemuda yang mulai bertani, jangan takut dan jangan berhenti belajar. Carilah orang yang tepat untuk belajar. Sebab bertani tanpa ilmu justru akan meneruskan sendiri dan berakibat tidak baik dari sisi alam lingkungan dan juga dari segi penghasilan,” pungkas Alam.

Triana andri, Petani Milenial Ini Sukses Berbisnis Buncis

Ditengah pendemi Covid-19 dan saat orang kesulitan mendapatkan penghasilan karena tidak bekerja atau hanya hanya di rumah saja, sekelompok petani di Desa Cibodas, Lembang Bandung Barat, Jawa barat Justru mengekspor hasil sayuran mereka ke Singapura.

Ekspor sayuran ke Singapora ini berupa sayuran Impor yang ditanam oleh petani Cibodas di Kawasan lembang. Sayuran berupa Buncis French bean atau baby buncis di tanam oleh kelompok tani Macakal.

Baby buncis ini dikembangkan oleh petani dengan mengembangkan pengelolaan holtikultura berbasis diferensiasi advantage, berbeda dengan pola menanam tananan konvensional seperti cabe, tomat atau sayuran lokal lainnya.Inovasi dan terobosan menanam sayuran inilah yang kemudian mampu meyakinkan buyer dan market, sehingga produk baby buncis ini bisa di ekspor ke singapura dan memasok ke sejumlah supermarket modern di Jakarta dan bandung, dengan harga jual 18.000 per kilogram.

Sebanyak 1,2 ton Baby Buncis yang dihasilkan selama sepekan, rutin diekspor ke Singapura. Buncis ekspor ini berasal dari lahan seluas 22 hektare yang dikelola kelompok tani Macakal, Lembang atau sekitar 140 petani.Berkat kegigihan mereka, saat ini, Kelompok Tani Macakal bisa meraup omzet hingga Rp 200 sampai Rp300 juta per bulannya.

Menurut Ketua Kelompok Tani Macakal, Triana andri, selain singapura dalam waktu dekat juga ada permintaan ekspor ke Jeddah Arab Saudi dan Brunei Darussalam, untuk itu kelompok taninya berencana memperluas lahan pertanian baby buncis guna memenuhi permintaan tersebut.

“Mayoritas petani di Macakal merupakan petani milenial. Kita ingin anak-anak muda di Lembang lebih ekspansi ke pekerjaan di sektor pertanian, sehingga bisa lebih sejahtera,” ucap Triana.

Semakin menyempitnya lahan di kawasan Desa Cibodas akibat pembangunan vila dan resort di kawasan ini tak menyurutkan para petani muda untuk patah semangat.

Mereka justru kian berprestasi saat mampu berkreasi menjadikan lahan mereka yang minim menghasilkan produk yang maksimal,

Setidaknya kelompok Tani Macakal di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Bandung Barat telah menjadi pahlawan. Karena mereka telah ikut menyumbangkan devisa bagi negara.

“Ini tantangan buat kami, disaat semakin banyak lahan beralih fungsi menjadi bangunan kita ingin produktifitas hasil panen kita terus meningkat. Selain itu, kita juga mulai melakukan pengembangan di luar Lembang,” ujar Triana.

Selain menanam baby buncis, kelompok tani Macakal juga menanam tanaman import lainnya seperti tomat Cery, bayam kenzo yang juga dipasok ke pasar modern.

Donny Lembong, Petani Muda Yang Sukses Berbisnis Cabai Keriting

SEKTOR pertanian sangat menjanjikan keuntungan berlipat ganda bila sukses mengembangkannya. Itulah dialami oleh Donny Lembong, petani cabai keriting di Desa Tanbelang, Kecamatan Maesaan, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara. Bermodalkan bantuan sarana produksi dari Dinas Pertanian Kabupaten Minahasa Selatan, hingga pekan keempat April 2020, Donny Lembong mengantongi omset Rp52 juta dari enam kali panen, meski luas lahannya hanya0,7 hektar. Harga jual Rp8.000 per kg di tingkat petani mendorong banyak petani di desanya mengikuti jejak petani milenial tersebut.
Bantuan Saprodi dari Pemkab Minahasa Selatan berupa tiga rol plastik mulsa,pupuk organik 600 kg, pupuk kimia 100 kg dan pupuk hayati ekstragen 10 liter, sementara bibit cabai keriting disediakan oleh petani. Kabar gembira tersebut tak lepas dari ‘tangan dingin’ Mikhail Ramses Dawit, penyuluh pertanian di Kecamatan Maesaan, yang mendorong petani binaannya menanam cabai keriting. Alasannya harganya kerap berfluktuasi sehingga menjadi salah satu pemicu inflasi daerah dan nasional. Keberhasilan Donny Lembong, Ketua Poktan Anuma di Desa Tambelang direplikasi oleh Mikhail Ramses Dawit kepada empat Poktan binaannya di Kecamatan Maesaan. Sukses Mikhail RD diapresiasi Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP, Leli Nuryati pada kegiatan ‘Mentan Sapa Petani’ melalui Agriculture War Room – Komando Strategis Pembangunan Pertanian (AWR KostraTani) di kantor pusat Kementerian Pertanian RI, belum lama ini.
Leli Nuryati mewakili Kepala BPPSDMP Prof Dedi Nursyamsi mengharapkan Mikhail RD mendorong lebih banyak petani untuk mengembangkan budidaya tanaman spesifik lokasi, yang hasil produksinya menguntungkan petani. Penyuluh pertanian pusat di Kementerian Pertanian RI, Edizal, pendamping kegiatan penyuluhan pertanian Provinsi Sulawesi Utara mengatakan selain budidaya cabai keriting, Mikhail RD juga membina petani binaannya di Minahasa Selatan untuk menanam talas dan kacang merah, karenamerupakan pangan lokal yang disukai masyarakat.
“Talas termasuk gampang dibudidayakan. Banyak ditanam di bawah pohon cengkeh dan kelapa. Usia tanam delapan bulan. Hasilnya mencapai 50 kg dari satu rumpun. Harga jual cukup bagus sekitar Rp2.400 per kg untuk dikonsumsi atau menjadi produk olahan seperti keripik,” ujar Edizal. Sementara kacang merah dihargai Rp20.000 di tingkat petani setelah masa tanam dua bulan sudah dapat dipanen untuk konsumsi masyarakat setempat.

Syarif Syaifulloh, Petani Milenial Asal Depok

Setelah sembilan tahun sukses bercocok tanam di Negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Syarif Syaifulloh membagikan kisahnya melalui berbagai kegiatan, mulai dari membuka pelayanan belajar di kebun hingga membuat buku untuk anak-anak.Dari awal cerita Pak Tani asal Depok yang sukses mendulang nama di Kota Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat. Ada yang kurang terekspos disamping mengurus kebun sayur, Syarif memiliki pekerjaan tetap. Yakni seorang Koki di Rumah Sakit Anak, CHOP The Children Hospital of Philadelphia.Dalam sepekan, Syarif bekerja hanya dua hari. Selebihnya dia menghabiskan waktu mengurus kebun sayur organik di pekarangan rumahnya. Kebun seluas 100 meter persegi itu diberi nama Haiqal’s Garden. Nama itu diambil dari anak ketiga hasil pernikahan dirinya dengan Ummu Hani White.

Haiqal’s Garden dijadikan Syarif sebagai sarana edukasi bagi semua orang. Dari mulai anak-anak TK sampai mahasiswa perguruan tinggi dan orang tua. Baik orang Indonesia maupun penduduk setempat. Bahkan ketika kembali ke Indonesia, Syarif juga sering diminta menjadi narasumber di berbagai acara.“Saat kembali ke Indonesia setahun sekali, saya sempatkan sebulan disini menjadi narasumber di berbagai acara tentang perkebunan. Ikhlas tanpa bayaran, Selama saya mampu, saya akan bagikan ilmu dan pengalaman saya secara cuma-cuma,” ujar Syarif.

Melalui Haiqal’s Garden Syarif dan sang istri mempromosikan Indonesia kepada masyarakat Amerika. Saking menariknya kebun Syarif kerap dijadikan sarana penelitian dan pembelajaran bagi pelajar Amerika mencari tahu cara bercocok tanam dengan sayuran organik khas Indonesia.

Para volunteer atau pelajar yang telah selesai menimba ilmu. Pria kelahiran Jawa Timur ini justru membayar mereka dengan sayuran organik hasil panen dari kebun miliknya. Karena sesuai dengan niatnya di awal meniti karir ini, dia ingin membagikan seluruh hasil kebunnya ke WNI dan masyarakat setempat.

“Kebun saya ini mereka jadikan sebagai tempat praktek kerja lapangan (PKL). Ada yang bekerja selama tiga jam atau lima jam. Selesai kerja mereka minta tandatangan dan nilai dari saya, jadi seperti belajar,” ucapnya.Selain datang ke kebun langsung, Syarif juga memberikan edukasi seputar kebunnya melalui buku yang dia rilis dengan nama Haiqal’s Garden. Buku dengan dua bahasa, yakni Indonesia-Inggris itu sudah disebar untuk saranan edukasi yang diselipkan nilai-nilai pendidikan karakter di dalamnya.

Dengan hasil yang telah dia raih selama 19 tahun menetap di Amerika. Syarif sangat bersyukur sehingga ilmu yang dia miliki bisa kembali lagi ke Indonesia. Melalui seminar-seminar baik tingkat Kota-Internasional.

“Saya ingin pemerintah Indonesia lebih memperhatikan rakyat desa khususnya petani. Saya tidak mau mereka hanya bertani terus-terusan secara tradisional tapi harus punya perubahan mengikuti zaman yang canggih ini,” jelas Syarif.

Isnanto, Petani Muda Yang Sukses Menanam Cabai Rawit

Musim kemarau yang masih terus terjadi membawa berkah bagi para petani cabai di Kecamatan Patuk. Isnanto, salah seorang petani cabai rawit di Dusun Putat, Desa Putat, sukses memanen cabai rawit miliknya di tengah puncak musim kemarau tahun ini. Menurutnya, cabai rawit adalah tanaman yang cocok ditanam saat kemarau, sehingga dirinya bisa panen setiap pekan.

“Panen minggu ini merupakan panen ketiga kalinya. Musim kemarau tahun ini sangat pas untuk menanam cabai rawit,” ujar Isnanto.Isnanto mengatakan tanaman cabai rawit ditanam sejak awal musim kemarau sekitar Juni 2019. Tak ada cara khusus yang dilakukan untuk merawat tanaman tersebut. Menurut Isnanto, tanaman cabai hanya butuh penyiraman setiap hari.

Dijelaskan Isnanto, berbeda dengan wilayah lain yang dilanda kekeringan, selama kemarau wilayah Desa Putat masih memiliki air irigasi yang mencukupi untuk menanam tanaman hortikultura. Air sungai masih mengalir lancar dan bisa digunakan untuk menyirami tanaman. “meski kemarau, air untuk menyirami tanaman masih mencukupi,” ucapnya. Untuk sekali panen Isnanto mengaku bisa memetik cabai rawit hingga 25 kilogram dan dijual dengan harga di kisaran Rp35.000 per kilogram. “Saat puncak musim panen seminggu bisa panen hingga tiga kali,” ujarnya.

Kabid Ketahanan Pangan Dinas Petanian dan Pangan Gunungkidul, Fajar Ridwan, mengungkapkan musim kemarau tahun ini sangat panjang dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Ia menjelaskan musim hujan berhenti lebih cepat dan hujan datang lebih lambat.

Ia mengakui jika tanaman tanaman hortikultura sangat cocok ditanam para petani di tengah musim kemarau yang cukup panjang ini, salah satunya cabai rawit. “Kebanyakan petani di Gunungkidul memanfaatkan tanaman hortikultura seperti cabai, terung, bawang merah dan lainnya,” ujar Fajar.

Ia menuturkan tanaman hortikultura selain membutuhkan air yang tidak banyak, juga mudah dalam perawatan. Selain itu, hasil panen tanaman hortikultura juga bisa bersaing di pasaran. “Jika para petani memanfaatkan lahan mereka di musim kemarau dengan menanam hortikultura, maka bisa mendatangkan penghasilan dibanding tanaman lainnya,” kata Fajar.

Bagas Suratman, Mantan Preman Jadi Petani Milenial Sukses

Bagas Suratman, warga Tangerang, Banten, tak menyangka dirinya bisa menjadi petani sukses.

Sebelumnya, Bagas memiliki kehidupan yang pahit. Ia pernah bekerja sebagai porter di bandara, kondektur, hingga menjadi preman.

Bahkan, ia mengaku dulu sering mabuk-mabukan dan gemar berjudi.

Bagas juga bekerja di sejumlah bidang, tetapi akhirnya selalu dipecat.

“Saya juga sudah menjalani banyak pekerjaan. Namun, ending-nya enggak enak. Selalu dipecat,” kata Bagas di depan peserta roadshow BBC Get Inspired di Kampus Universitas Merdeka Malang, Jawa Timur, Kamis (14/2/2019).

Titik balik perubahan hidup Suratman terjadi melalui perenungan.

Pria tiga anak itu kerap memperhatikan anak-anaknya beranjak dewasa dan tentu saja membutuhkan biaya untuk pendidikan.

“Dari melihat anak itulah saya mulai sadar bahwa saya harus berubah, apalagi anak-anak sudah mulai dewasa dan membutuhkan biaya pendidikan,” ujar Bagas di sela-sela waktu istirahat sebelum presentasi di acara tersebut.

Pria yang kini berusia 38 tahun itu kemudian berpikir bagaimana bisa mendapatkan mata pencarian yang layak.

Dia ingin membahagiakan keluarga dan orangtuanya. Akhirnya, ia memutuskan untuk bertani.

Ide itu muncul setelah ia sering melihat seorang petani begitu ulet dan telaten menyiram sayur.

“Saya waktu pulang kerja sebagai porter di bandara (Bandara Soekarno-Hatta) naik angkot karena waktu itu jarang ada motor. Saya sering melihat dia begitu ulet menyiram sayur. Saya jadi tertarik,” katanya.

Bagas lalu belajar bertani sayur secara otodidak, yakni melihat bagaimana orang bertani sayur.

Ia mengaku memang berasal dari keluarga petani. Namun, dulu ia enggan meneruskan pekerjaan orang tuanya dengan alasan gengsi.

“Waktu itu saya tidak mau jadi petani karena gengsi. Menjadi petani itu enggak keren,” katanya.

Setelah belajar cukup lama, Bagas kemudian mencoba bertani.

Ia menyewa lahan tanah tidur seluas 3.000 meter persegi untuk ditanami sayuran dan buah-buahan.

Tanah tersebut tepat berada di pinggir Bandara Soekarno-Hatta.

“Modalnya dari hasil dagang sedikit-sedikit. Sebelumnya saya juga sempat dagang,” kata Bagas.

Hari berlalu. Usaha tani Bagas berjalan lancar. Bahkan, ia sudah mampu menyewa lahan seluas 26 hektar untuk ditanami sayuran dan buah-buahan seperti melon.

Ia memasok hasil usaha taninya ke pasar-pasar tradisional dan supermarket-supermarket di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Ketut Martin, Petani Muda Yang Sukses Menanam Durian

Karena orang tuanya sudah tidak sanggup lagi membiayai, selepas SMP Ketut Martin tidak melanjutkan sekolahnya, di Desa Padang Bulia, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Anak ke empat dari enam bersaudara itu pun kembali ke sawah untuk membantu kedua orang tuanya.

Meskipun mempunyai lahan hampir satu hektar di daerah yang relatif subur, hasil panen di lahan mereka tidak kunjung mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Bapak saya petani tradisional yang tidak begitu memahami bagaimana cara budidaya yang ideal. Hal ini lah yang menyebabkan hasil panen semakin menurun dan berimbas pada pendapatan keluarga. Saat itu saya hanya belajar dari Bapak, dengan ilmu pertanian yang serba terbatas,” kisah Ketut Martin.

Tidak tahan hidup dalam kemiskinan di desanya, anak muda kelahiran 30 April 1991 itu merantau ke Denpasar. Dicobanya berbagai pekerjaan di ibu kota Provinsi Bali tersebut. Ternyata hidup di kota besar tidak membuatnya nyaman, meskipun mendapatkan gaji bulanan. Karena Denpasar tidak mengubah nasibnya, Ketut memutuskan kembali ke desa.

“Saya kembali membantu orang tua menanam padi di sawah. Meskipun saat itu penghasilan masih tidak menentu, tapi saya lebih kerasan tinggal di desa. Di kampong halaman, kami bisa makan dari hasil bumi, dan tidak usah menyewa kamar kos,” ujarnya.

Dari luas lahan hampir satu hektar milik orang tuanya, setengahnya ditanami pohon durian. Ketut mengaku saat itu panen pohon duriannya tidak pernah memuaskan. Hasilnya dari musin ke musim terus menurun, baik kuantitas maupun kualitasnya.

“Sebelumnya sering terjadi busuk batang, dan buahnya rontok sebelum masak. Hingga akhirnya kami dibantu oleh Pak Gusti Susila (Staf Penjualan PT Petrokimia Gresik). Pak Gusti menyampaikan bahwa pohon-pohon durian kami harus dirawat dengan serius,” akunya.

Hal pertama yang dilakukan oleh Gusti Susila saat itu, kata Ketut, menyarankan untuk memberikan Petroganik, pupuk organik produksi PT Petrokimia Gresik (PG). Gusti juga menganjurkan untuk mengaplikasikan Petro Gladiator serbuk, dekomposter produksi PG. “Petro Gladiator kami taburkan di atas tumpukan daun-daun kering yang berserakan di bawah pohon,” terang Ketut.

Setelah mengaplikasikan dua produk PG tersebut, mereka disarankan lagi oleh Gusti Susila untuk memupuk NPK Kebomas 12:12:20 (sekarang namanya Petro Nitrat). “Pak Gusti juga melakukan pendampingan dalam pencegahan dan penaggulangan terhadap hama dan penyakit,” paparnya.

“Setelah berjalan selama 6 bulan, hasilnya di luar dugaan. Pada saat panen, selain jumlah buah semakin banyak, ukuran buah durian juga menjadi lebih besar, dagingnya semakin tebal, dan rasanya manis sekali. Rasanya baru kali ini pohon durian di lahan kami bisa mendapatkan panen yang seperti itu,” terang Ketut.

Dengan kualitas dan kuantitas panen yang meningkat, tentu saja berpengaruh pada nilai jualnya. Saat panen pertama setelah mengaplikasikan Petroganik, Petro Gladiator, dan NPK Kebomas 12:11:20, bapaknya mendapatkan untung lumayan besar. “Saat musim panen, satu pohon durian rata-rata bisa mencapai 20 buah siap petik, dengan bobot sekitar 7 kilogram per biji,” akunya.

Keberhasilan panen durian di lahan milik orang tuanya, menjadikan Ketut Martin optimis. Ternyata hidup di desa sebagai petani bisa menghasilkan uang lumayan besar.

Suami dari Nyoman Resminadi itu pun akhirnya total menekuni budidaya durian. Selain ke dua orang tuanya beranjak tua dan tenaganya tidak seperkasa dulu lagi, dia merasa bahwa pertanian adalah dunianya.

“Dengan bekal ilmu yang saya dapatkan dari berbagai pihak, utamanya Pak Gusti Susila dalam hal perawatan tanaman, saya pun mulai serius bertani,” ungkapnya.

Dengan kerja keras dilambari dengan ilmu pertanian yang didapat, hasil penen duriannya semakin bagus. Tidak hanya itu, dia menyewa kebun durian milik tetangganya yang kondisinya mengenaskan. Oleh Ketut Martini pohon-pohon durian itu dipelihara dengan telaten, sehingga hasil panennya meningkat.

“Ketika hasil panen bagus, permintaan terus meningkat. Saya tidak hanya melayani pasar di Buleleng saja, tapi juga pembeli dari kabupaten-kabupaten lain di Bali. Bahkan saya juga mengirim hingga Surabaya dan Jakarta,” tegasnya. Durian dari lahan yang dikelolanya berhasil menembus pasar swalayan besar di Denpasar, Surabaya, dan Jakarta.

Keuntungan dari hasil usahataninya, disisihkan untuk tambahan modal, dan membeli kendaraan bak terbuka. Selain itu, Ketut Martini juga bisa membangun rumah sendiri. Ke depan dia berencana akan mengembangkan usaha taninya, dengan menambah luas lahan durian yang disewa, dan memperluas jaringan pemasaran di Indonesia.

Sosok Deden Purbaya, Petani Mienial Sukses Berbisnis Anggur Brazil

Siapa bilang lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon hanya menjadi guru atau ustadz saja? Ternyata, alumni kampus negeri satu-satunya di wilayah III Cirebon ini juga ada yang menjadi seorang petani sukses di Kabupaten Majalengka.

Dia adalah Deden Purbaya. Pria lulusan Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2013/2014 ini telah berhasil membudidayakan tanaman buah ajaib yang mempunyai 7 rasa sekaligus dalam satu pohonnya. Tanaman buah tersebut adalah Anggur Brazil (Jaboticaba)Ketujuh rasa itu, yakni rasa jambu biji, leci, manggis, markisa, menteng, srikaya dan anggur yang muncul ketika menjelang matang sampai benar-benar matang pohon.

Kisah suksesnya ini berawal pada tahun 2012. Saat itu, ayahnya yang berprofesi sebagai penjual bibit berbagai jenis tanaman di Majalengka memiliki cabang di daerah Pamengpeuk, Garut. Suatu hari, ada seorang konsumennya di Garut yang mencari bibit pohon buah tersebut.

“Awalnya bapak juga gak tau kalau ada pohon buah Anggur Brazil dan saat itu juga gak punya tanaman itu. Tapi saat itu bapak juga gak menolak permintaan konsumen ini,” kisah Deden kepada suaracirebon.com saat mengunjungi perkebunan Anggur Brazil miliknya di Jalan Wisata Curug Tonjong, Teja, Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Senin (1/6/2020).Untuk memenuhi permintaan konsumen tersebut, sang ayah pun berusaha mencari tanaman yang masih jarang orang miliki tersebut. Diakuinya, untuk mencarinya tidak mudah, tapi akhirnya pohon ini berhasil didapatkan. Tidak jauh sampai ke Brazil, ternyata dia menemukannya di sekitar Majalengka saja.

“Melihat tanaman ini cukup unik, akhirnya bapak membelinya beberapa pohon. Saat itu harganya Rp80 ribuan. Sebagian dijual lagi ke konsumen yang sudah memesan tersebut dan sekitar 5 pohon ditanam sendiri,” terang Deden.

Bahkan, setelah melihat pohon yang ditanam sang ayah, Deden pun merasa tertarik dengan tanaman ini. Pasalnya, pohon anggur ini berbeda dengan jenis anggur lainnya. Jika umumnya tanaman anggur merambat, tapi Anggur Brazil ini dapat berdiri kokoh dengan batang kayu yang keras.“Itu dia, makanya tanaman ini itu unik. Bahkan, buahnya pun tumbuhnya di batang-batang pohonnya. Itu salah satu alasan kenapa kami membudidayakan pohon ini,” ujarnya.Hari demi hari pun terus berganti, pohon Anggur Brazil yang dia rawat semakin tumbuh dan membesar. Bukan tanpa kendala, tapi segala bentuk ikhtiar dikerahkan hingga akhirnya perkebunan yang dikelola tersebar luas dan mendapat perhatian.

Handphone jadul Nokia 6630 miliknya menjadi sebuah benda yang turut andil dalam kesuksesannya. Pasalnya, melalui alat ini Deden dapat membuat video berdurasi 1 menit 41 detik yang kemudian dia upload ke akun youtube miliknya “Deden Purbaya” pada 21 Juli 2018 lalu. Hingga saat ini, video tersebut sudah lebih dari 735 ribu kali ditonton.Hingga sekarang, handphone itu masih dia simpan dengan baik. Benda itu telah menjadi saksi bisu perjalanan kisah sukses ini. Dan peristiwa itu pun akan selalu terselip dalam ingatannya menjadi kenangan indah yang takan pernah Deden lupakan.

“Awalnya dari keterbatasan bikin video pakai HP jadul Nokia 6630 dan diupload ke youtube. Kemudian bumingnya itu tahun 2019 mas. Ada wartawan meliput perkebunan anggur ini dan alhamdulillah perkebunan ini terus berkembang dan banyak dikunjungi wisatawan,” kata Deden.

Sejak saat itu, perkebunan Anggur Brazil miliknya mulai dikenal luas masyarakat. Banyak wisatawan yang datang berkunjung, tidak hanya dari dalam negeri, bahkan ada juga yang dari luar negeri.

Untuk itu, dibantu santri pondok pesantren Daar Al Tarbiyah Rajagaluh, dirinya melakukan penataan di sekitar kebun dan melengkapinya dengan saung. Bahkan, para wisatawan juga dapat memesan nasi liwet beserta lauknya yang dapat disantap di kebun dengan suasana sejuk dan indahnya pemandangan di pegunungan.

“Yang datang ke sini itu ada yang dari Indramayu, Bekasi, Jakarta, Aceh dan daerah lainnya. Selain itu pernah ada orang Jerman datang ke sini dan membeli bibit pohon Anggur Brazil. Sering juga wisatawan anak-anak dari sekolah datang untuk belajar tentang tanaman dan rombongan umum lainnya,” paparnya.Sebagai alumni mahasiswa PAI, dirinya mengaku mendapat pengalaman tentang menanam pohon saat Praktik Kerja Lapangan (PKL) ditambah lagi ketika magang di pesantren daerah Ciwidey Bandung utusan dari santri Daar Al Tarbiyah. Pengalaman dan ilmu yang didapat, kemudian dia terapkan dalam menjalankan usahanya saat ini di bidang pertanian.

“Di sana diajarin nyangkul dan mengolah tanah agar subur. Pokoknya pesantren itu luar biasa,” kisahnya.Saat ini, ada 12 ribu bibit pohon Anggur Brazil yang dia kelola dengan harga jual mulai dari Rp60 sampai Rp6 juta. Namun, hanya puluhan saja yang dia rawat sendiri untuk dibuahkan. Hal itu sengaja ia lakukan untuk memenuhi permintaan pasar yang cukup besar akan buah ini.

“Potensinya sangat luar biasa, untuk hasil buah yang dijual pun kami belum bisa memenuhi permintaan pasar. Dan harga jual buahnya juga lumayan tinggi, yaitu Rp250 ribu per kilogramnya,” ungkap Deden.

Bahkan, yang memesan buah Anggur Brazil ini juga tidak hanya di dalam negeri, dirinya pun mendapat pesanan dari luar negeri. Sehingga, ketika dia tidak dapat memenuhi permintaan pasar tersebut, dirinya akan menghubungi orang-orang yang telah membeli bibit darinya untuk membeli buahnya jika di perkebunan sedang tidak ada.

“Ada juga yang dari Malaysia dan Singapura yang memesan buahnya, tapi karena ada beberapa kendala sehingga kita belum bisa kirim ke sana. Sedangkan untuk yang membeli bibit pohon di sini memang kami simpan nomor telfonnya, selain untuk sharing tentang cara merawat pohon ini juga agar kalau ada pesanan buah kita mudah komunikasinya. Jadi bisa bermanfaat,” jelasnya.

Deden mengungkapkan, banyaknya buah dari satu pohon tidak dapat disamakan, karena selain umur, pemupukan pun menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap buah yang dihasilkan pohon tersebut.

“Jika buah itu tergantung pemupukan dan umur pohonnya. Di kebun ini, rata rata 4 tahun dari biji sudah berbuah bahkan ada yang belum 2 tahun sudah berbuah. Kalau pohon induk yang ada di sini itu umurnya 9 tahun dan bisa menghasilkan 12 sampai 13kg dalam sekali panen. Jika yang masih baru belajar berbuah yang sedikit. Dalam setahun, pohon ini bisa berbuah 4 sampai 6 kali,” paparnya.Namun, dia mengaku, setelah dipetik dari pohonnya, Anggur Berazil ini hanya mampu bertahan sekitar 4 sampai 5 hari saja. Sehingga hal itu menjadi salah satu faktor dirinya belum bisa melayani pembelian yang pengirimannya memakan waktu cukup lama.

Untuk itu, dia berencana akan melakukan terobosan dengan mengolah buah ini menjadi selai dan sirup agar awet. Sehingga, selain dapat memenuhi kebutuhan konsumen juga dapat menyerap tenaga sekitar yang tentunya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Made Sandi,Petani Muda Sukses Dari Bali

Banyak terjadi pemutusan hubungan kerja akibat dampak pandemi Covid-19 atau virus Corona, membuat masyarakat Bali ada yang kembali menekuni pekerjaan sebagai petani. Seperti salah satu mantan pekerja di sektor pariwisata bernama I Made Sandi alias Kadek Melon. Dirumahkan sejak bulan Maret 2020 lalu akhirnya ia dipaksa untuk menekuni penuh aktivitas sebagai petani, dimana sebelumnya ditengah pekerjaan pokoknya hanya dijadikan pekerjaan sambilan saja.“Sebelumnya saya seorang scurity villa di Petitenget, Kerobokan, Badung bekerja sejak 2005, imbas Covid dirumahkan bulan Maret. Dulu menjadi petani nomaden (sampingan, red), sekarang bisa fokus memproduksi. Tidak saja bertani tapi menjual kualitas dan kita tinggalkan sistem tradisional,” ujar Kadek Melon yang kini sudah menjadi salah satu petani sukses di Bali, ditemui di Pasar Tani di halaman Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Jumat (5/6/2020).Diceritakan Kadek Melon, sebelumnya saat masih bekerja sebagai scurity ia bersama keluarganya hanya menanam satu jenis sayuran saja seperti sayur hijau itu pun tidak lebih dari satu are. Namun sejak mulai fokus menjadi petani sejak tiga tahun lalu ia berhasil menggarap lahan seluas 75 are yang berlokasi di Banjar Munduk Andong, Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Sebagai petani ramah lingkunahn ia memproduksi produk pertanian organik agar bisa diterima pasar.“Banyak guide atau sopir pariwisata belajar bertani, cuma tiang melakukan itu sekalipun dulu punya pekerjaan pokok. Sekarang kita tidak ambil pusing dan tidak perlu belajar dari awal menjadi petani. Sekarang benar-benar mengikuti pasar lokal, harga memang dibawah sekarang. Kita tidak merasa jebol, tidak meras merugi keras karena kita bergeraknya di pertanian tradisional yang ramah lingkungan,” jelasnya.Di saat yang sama, petani muda sukses lainnya yakni, I Gusti Ngurah Putu Sunia Negara mengatakan, ia juga sebelumnya telah bekerja menjadi staf di Kantor Desa Plaga. Namun sejak lima tahun lalu lebih memilih hidup sebagai petani desa. Ia menceritakan berani meninggalkan pekerjaan dengan penghasilan gajih bulanan itu karena melihat potensi besar di sektor pertanian. Diakuinya pandemi Covid-19 membuat penjualannya menurun dan hanya menghandalkan pasar lokal. “Harga tidak masuk harga pokok produksi untuk beberapa jenis sayur,” terang petani asal Banjar Auman itu.Mendengar keluhan dari petani Penyuluh Pertanian Madya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Probinsi Bali, Ir. I Putu Karyana, MMA pada saat yang sama menyampaikan, pihaknya terus melakukan pembinaan kepada petani. Terlebih ditengah pandemi Covid-19 tentunya produksi kebutuhan untuk restaurant dan hotel tidak perlu diproduksi banyak. Sebaliknya kebutuhan pokok masyarakat tetap diproduksi sesuai permintaa, agar hasil produksi tidak dibeli murah oleh pasar.

“Mempunyai nilai ekonomis tinggi atau yang laku di pasaran itulah yang kita bina. Agar apa yang dia (petani, red) usahakan tidak mubazir dan dipasaran tidak dinilai rendah. Dengan adanya pandemi peluang pasar ke hotel berkurang sehingga kiat dinas melaksanakan Pasar Tani,” terangnya mengajak petani tetap berjualan mengedepankan protokol kesehatan yang ketat.