Ujang Margana, Petani Milenial Dari Bandung Yang Sukses Berbisnis Bawang Merah

Ujang Margana tak pernah ragu bekerja sebagai petani. Setelah lulus sebagai Sarjana Pendidikan pada 2015, ia langsung bergelut dengan tanah dan cangkul.

Ujang memahami bahwa pertanian di tanah kelahirannya, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, memiliki potensi yang luar biasa. Lahan pertanian bawang merah milik ayahnya coba ia garap dengan sebaik-baiknya.

“Sejak kecil memang sudah sering diajak untuk bertani. Saat kuliah pun, sebelum pergi ke kampus, pergi dulu ke kebun untuk mengurus tanaman di sana,” ujar Ujang.

Ada banyak halangan yang Ujang temui. Tetapi, ia tak menyerah. Ia rangkum satu per satu halangan yang ada. Setelah terkumpul, ia pelajari dan coba cari solusinya.

Tak lama setelah mendapat gelar sarjana, ia bersama sang kakak dan petani lainnya berupaya mendorong sektor pertanian di sekitar tempat tinggalnya. Salah satunya membentuk Kelompok Tani Tricipta.

Tricipta menjadi ruang bagi petani-petani di sekitar tempat tinggalnya untuk meningkatkan produksi, dan mengatasi kendala yang kerap hadir dalam kegiatan usaha tani.

Perlahan dan pasti, pertanian di sekitar tempat tinggal Ujang berkembang. Kesempatan Ujang dan Kelompok Tani Tricipta untuk mengembangkan pertanian terbuka lebar saat harga bawang merah (komoditas unggulan Kelompok Tani Tricipta) mengalami lonjakan di tingkat konsumen.

Saat itu, pemerintah pusat melalui Bulog dan Kementerian Pertanian membuka pintu bagi kelompok tani dan petani untuk memasok bawang merah demi memenuhi kebutuhan konsumen dan menstabilkan harga.

Kesempatan itu tidak Ujang sia-siakan. Ia coba menginisiasi Kelompok Tani Tricipta untuk berkontribusi dan membantu pemerintah menstabilkan harga bawang merah.

“Dengan sosialisasi yang penuh kekeluargaan dan memberi pemahaman yang terbuka kepada anggota dan sesama pengurus, akhirnya secara gotong royong bersama seluruh anggota Kelompok Tani Tricipta memasok 150 ton bawang merah kepada bulog,” katanya.

Sejak itu, Ujang terus mengembangkan pertanian komoditas bawang merah. Awalnya ia menggarap lahan seluas 1 hektare. Bawang merah yang dihasilkan dalam sekali panen mencapai 10 ton. Keuntungan yang ia dapat sekitar Rp53 juta.

Ujang dan Kelompok Tani Tricipta juga mengembangkan kegiatan penangkaran benih dan menjadi satu-satunya produsen benih bawang merah di Kabupaten Bandung.

Ujang rutin mengikuti bimbingan teknis (bimtek) yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Bandung dan Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Selain itu, Ujang pun mendapatkan bantuan teknologi pertanian. Salah satunya alat menyiram dari Pemda Provinsi Jabar. Dari situ, Ujang mampu membudidayakan bawang merah dengan optimal.

“Yang terpenting bagi petani adalah akses pasar. Pemerintah, baik pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten Bandung, dan Pemda Provinsi Jabar, sering membantu membuka akses pasar,” ucap Ujang.

Jika sudah mendapatkan pasar, kata Ujang, pertanian menjadi sektor yang menarik untuk berkarier. Saat ini, lahan pertanian bawang merah Ujang sudah mencapai 30 hektare.

“Saya punya moto hidup yakni menjadi petani cerdas, mandiri, cepat, dan lestari. Saya kira, pertanian menjadi sektor yang menjanjikan untuk generasi muda,” tambahnya.

“Saya pun mengajak generasi muda untuk menjadi petani. Selain menjamin masa depan dengan pendapatan yang besar, kita dapat berkontribusi pada ketahanan pangan dan melestarikan lingkungan,” sambungnya.

Riza Azyumarridha Azra, Petani Muda Dari Banjarnegara

Menjadi petani merupakan pilihan yang cemerlang bagi anak muda bernama Riza Azyumarridha Azra. Baginya, pertanian adalah profesi utama dalam karier dan kehidupan. Ya, Riza adalah pria asal Banjarnegara yang sukses menjalankan bisnis singkong menjadi tepung mocaf.

“Alhamdulillah bisnis saya semakin maju. Saya berterima kasih kepada para petani singkong yang ada di seluruh Indonesia,” ungkap pria lulusan teknik elektro ini saat menjadi pembicara TanionStage yang digelar di Museum Tanah, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa, 3 Maret 2020.

Dalam menjalankan bisnisnya, Riza membagi proses mocaf menjadi tiga klaster. Pertama, dia mendorong petani lokal yang berusia tua untuk memproduksi singkong. Kedua, mendorong kaum ibu untuk memproses olahan singkong.”Ketiga, saya mendorong anak muda untuk melakukan packaging, sehingga memiliki daya tarik yang cukup tinggi. Khususnya pada kemasan ekspor. Ketiga klaster ini saya terapkan untuk menyamaratakan keuntungan antara petani, kaum ibu, dan anak muda,” kata Riza.

Menurut Riza, saat ini singkong mocaf memiliki peluang yang cukup besar pada pertumbuhan ekspor nasional. Kata dia, olahan mocaf nyaris sama dengan tepung terigu yang biasa digunakan untuk pembuatan mie instan dengan hasil yang jauh lebih bagus.

“Ternyata tepung mocaf ini menjadi pilihan utama bagi warga Amerika yang menerapkan gaya hidup sehat. Mereka memilih mocaf daripada tepung biasa karena terdapat kandungan alami yang sangat sehat,” ucapnya.

Riza menambahkan, dalam sebulan dia mampu memproduksi 10 ton tepung mocaf untuk penjualan lokal dan ekspor. Saat ini, dia juga sedang memroses sertifikat ekspor ke berbagai negara di Eropa dan benua Amerika.

“Kami jual Rp15 ribu per kemas dengan omzet yang lumayan besar. Untuk itu, saya mengajak kalian anak-anak milenial untuk mulai bertani,” ucapnya.

Pengalaman menjadi petani muda juga dibagikan CEO Ayo Natura Internasional Jati Barmawati. Jati yang mewakili petani perempuan ini menyampaikan pentingnya menyerap teori sebelum diperaktekan pada dunia bisnis di lapangan.

“Saya kira jadi petani itu dituntut untuk berpikir. Jadi kita harus pintar membaca peluang pasar. Makanya saya bilang jangan jadi petani aja. Tapi harus menanam dengan membaca peluang yang ada,” ucapnya.

Jati adalah pengusaha muda yang bergerak di bidang penjualan produksi tani untuk dipasarkan ke pasar internasional. Barang yang dijual antara lain beras, jagung, dan produk hortikultura.

Jati mengarahkan mahasiswa pertanian harus mendominasi usaha tani di seluruh Indonesia. Mahasiswa harus berani mengambil resiko dan bertanggungjawab atas usahanya menjadi enterpreneur muda.

“Saya bilang ke teman-teman yang masih muda, bahwa untuk menjadi maju di bidang pertanian itu harus dimulai dari hulu ke hilir. Artinya kita harus percaya diri sebagai petani milenial, karena petani sekarang beda dengan petani zaman dulu. Pertanian sekarang lebih menjanjikan daripada yang kita lihat dulu,” ucap Jati.

Wartono, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Tanaman Hias Aglaonema

Meningkatnya permintaan tanaman hias diakui Wartono, petani sekaligus pelaku usaha asal Ciapus Bogor yang kini kebanjiran order. “Tren dan permintaanya jauh lebih besar dari saat sebelum pandemi, Cuma permintaan kalau dulu biasanya pedagang sekarang ini semua golongan dan kalangan. Juga permintaannya menjadi lebih banyak dan membludak, bisa lima puluh kali lipat,” ucap Wartono, pemilik Gress Nursery di Ciapus, Bogor.

Tingginya permintaan tanaman hias mendorong masyarakat terjun ke bisnis tanaman hias. Sayangnya, banyak yang belum mengetahui selak beluk bisnis tersebut. Untuk itu, Wartono berbagi tips untuk mengembangkan bisnis tanaman hias, khususnya aglaonema.Bagi seorang penjual sekaligus produsen, Wartono menjual aneka aglaonema mulai kisaran Rp 35 ribu. Untuk yang berukuran remaja bukanlah hal yang mengherankan bisa mencapai Rp 1 juta. Bahkan Golden Hope dibanderol Rp 20 juta.

Wartono menyarankan, untuk usaha tanaman hias kita harus sabar dan tekun, karena mengembangkan aglaonema itu tidak mudah. Kadang bagi pemula tidak sabar menunggu penghasilan cepat. Apalagi tanaman aglaonema tidak mudah dalam budidayanya.

“Ini karena kebiasaan orang-orang kita. Tanaman ini bukan barang cetakan. Kita harus sabar nungguin beranak dan harus melakukan perawatan dengan benar. Aglaonema ini lebih sulit dari tanaman yang lain. Mungkin kalau pemain tanaman di luar bisa lebih cepat, karena sistem kultur jaringan, sedangkan di sini hanya dengan sistem stek saja,” tuturnya.

Wartono bercerita, dirinya autodidak ketika mengembangkan bisnis aglaonema. Menekuni tanaman aglaonema baginya berasal dari hobi dan nyaman menekuni tanaman ini. “Awalnya saya autodidak belajar dan tidak mengenal tanaman sama sekali. Dulu saya hanya tukang kebun dan kesibukan lainnya menguru kebun villa. Saat ini saya ingin usaha, tapi tidak tahu ingin usaha apa. Akhirnya saya menemukan hal yang membuat saya nyaman. Saya berawal dari hobi, bukan niat usaha malahan dari awalnya,” ujarnya.

Dirinya mengaku hobi merawat memiliki kenyamanan tersendiri dan tidak menyangka bisnisnya bisa menghasilkan. Sebelumnya dirinya pernah mencoba usaha lain, seperti ternak ikan dan segala macam, tetapi yang lebih menghasilkan malah usaha tanaman hias ini.

Jika sekarang Wartono memiliki areal 3.000 meter persegi, siapa sangka miliarder ini memulai usahanya dari lahan hanya dengan sebidang tanah 2×3 meter persegi. Wartono sendiri memfokuskan pada budidaya aglaonema. Namun beberapa jenis tanaman juga dibudidayakan seperti aneka philodendron, keladi dan beberapa jenis tanaman hias daun lainnya. Bahkan penjualan tanaman hias telah menembus pasar ekspor.

Jika ditanya besaran omset per bulan, maka tidak tanggung-tanggung, angka menembus Rp 1 miliar per bulan. “Selama pandemi, per bulan rata-rata Rp 750 juta hingga Rp 1 miliar,” ujar Wartono malu-malu.Dengan meningkatnya permintaan tanaman hias, Wartono mengakui, stok yang dimiliki tidak mampu memenuhi permintaan pasar, karena petani bunga sedikit. Bahkan bunga lokal sangat kurang jumlahnya.

“Permintaannya banyak, tetapi petaninya tidak ada. Itu menjadi masalah tersendiri karena kita kekurangan barang-barang lokal. Sejauh ini kami mengembangkan produk hasil sendiri, namun adakalanya mengambil juga dari rekan-rekan yang lain,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Pecinta Tanaman Hias Bogor, Gunawan optimistis bisnis tanaman hias selama masa pandemi akan terus berkibar dan ini kabar baik bagi para penjual tanaman hias. “Selama Covid akan terus ramai karena orang hobi menanam. Selama hobi menanam, bisnis tanaman hias akan terus ramai,” ujarnya bangga.

Gunawan mengatakan, para petani tanaman hias Ciapus sudah terbiasa bermain di pasar ekspor. Produksi yang dipunyai umumnya untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke Eropa, Amerika, Cina, Hongkong hingga Australia.

Sementara itu Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo terus menggaungkan program Gratieks atau Gerakan Tiga Kali Ekspor untuk semua komoditas pertanian, termasuk tanaman hias. Produksi tanaman hias hingga triwulan II pada 2020 berdasarkan data BPS mencapai 342.422.645 pcs. Sementara itu ekspor volumenya mencapai 4.176.294 kg atau setara dengan 12.176.244 dollar AS.

Besarnya angka ekspor benih tanaman hias menunjukkan kalau bisnis benih tanaman hias masih sangat terbuka. Sedangkan, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto menyatakan bahwa jajarannya telah melakukan berbagai upaya untuk mendukung program Gratieks tersebut, yakni melalui GEDOR Horti (Gerakan Dorong Produksi, Daya Saing dan Ramah Lingkungan Hortikultura).

Aluysius Adiyo Agung, Petani Muda Dari Klaten,Jateng

Jabatan tak selalu menjadi ukuran sukses seseorang. Aluysius Adiyo Agung misalnya. Alumnus Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Solo ini malah beralih profesi dari manajer menjadi petani di kampung halamannya Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Walaupun awalnya mendapat tentangan keras dari keluarga, tetapi lambat laun dia meyakinkan keluarga. Agung berhasil membuktikan diri kalau menjadi petani juga bisa memberikan kepastikan hidup. “Saya tidak memiliki background pertanian, latar belakang keluarga saya pun bukan petani. Namun, setiap kali pulang ke Klaten saya selalu memendam tanya, kenapa petani yang terihat selalu sudah berusia lanjut bukan pemuda,” papar Agung seperti dimuat Kompas.com, Senin (22/8/2016). Keputusan Agung untuk terjun ke dunia pertanian bukan tanpa persiapan. Saat masih mengemban jabatan sebagai manajer, ia sudah mencoba belajar cara menanam padi. “Saat proses belajar itu, saya mengenal bagaimana mengolah tanah dalam pertanian,” katanya. Menurut dia, pengolahan tanah sebelum masa tanam adalah kunci keberhasilan. Lahan harus diberi pupuk yang tepat dan pas komposisinya. Selain itu, mereka mesti mempertimbangkan kandungan mikroba di dalam tanah serta memperhatikan kondisi alam. Keputusan Agung untuk beralih profesi tak langsung menuai hasil positif. Ia harus menderita kerugian puluhan juta rupiah karena gagal panen pada 2010. Tapi, bukannya kapok, kegagalan itu malah makin memotivasi Agung. Dia lalu menggunakan tabungannya sebesar Rp 80 juta dan menjual mobil seharga Rp 100 juta untuk sewa lahan dan membeli pupuk. “Saya tidak punya lahan sawah sendiri, jadi saya berusaha mencari lahan sawah yang disewakan oleh warga. Setelah dapat saya mencoba menanam padi,” ujar Agung. Kegigihan dan kerja keras Agung kemudian membuahkan hasil. Lahan yang disewanya menghasilkan panen sebesar 60 ton. Agar hasil panen mendapat harga jual tinggi, Agung tidak menjualnya ke tengkulak atau penadah. Ia lebih memilih memasarkan sendiri melalui strategi direct selling. “Saya jual ke rumah-rumah dan ke teman-teman saya, kadang bolak-balik Jakarta-Solo untuk menawarkan beras,” ucap Agung. Kini, dari hasil kerja kerasnya, Agung sudah bisa membelikan mobil untuk istri. Dia juga bisa menyekolahkan putri sulungnya di salah satu sekolah favorit di Solo, Jawa Tengah.
Keberhasilan Agung beralih profesi menjadi petani ternyata membuktikan, kalau menjadi orang sukses tak harus identik dengan jabatan tinggi di perusahaan. Dengan bekal pengetahuan dan pengalaman di suatu bidang pertanian misalnya, Anda pun bisa sesukses Agung. Maka dari itu, Anda sebaiknya menyiapkan rencana matang sebelum memutuskan beralih profesi. Pengalaman dan pengetahuan dalam bidang pertanian dapat jadi modal pertama. Seperti kisah Agung di atas, Anda bisa meniru cara dia yang mulai belajar menanam padi sewaktu masih bekerja. Usahakan pula Anda sudah punya dana cadangan atau tabungan. Anda akan membutuhkan dana tersebut saat terjadi hal-hal di luar kendali. Gagal panen karena cuara buruk atau terserang hama misalnya. Saat kerja keras Anda di tanah garapan sudah menghasilkan, jangan pula langsung menjual hasil panen ke tengkulak. Anda bisa meniru strategi penjualan direct selling yang diterapkan Agung untuk mendapatkan harga jual tinggi. Biasanya harga jual hasil panen akan dihargai tinggi bila dibeli oleh konsumen. Berbanding terbalik dengan tengkulak yang umumnya membeli dengan harga di bawah pasar, sebab akan dijual kembali untuk memperoleh untung. Untuk bisa menjalankan strategi direct selling Anda butuh kendaraaan pengangkut. Tak cuma itu, kendaraan tersebut juga bisa melalui jalan-jalan sempit di kota dan pedesaan.

Mugiyanto,Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Kelengkeng

Mugiyanto menceritakan awal dirinya terjun ke dunia pertanian. Dia mengalami musibah saat bertugas sebagai prajurit TNI di Ambon, Maluku, pada 2000 silam.
Dia kehilangan salah satu kaki karena terkena ranjau darat. Kini, Mugiyanto menggunakan kaki palsu.
Pada 2004, ia ke Jakarta dan mengikuti pelatihan bertani yang diselenggarakan Pusat Rehabilitasi Kementerian Pertahanan (Pusrehab Kemhan). Pada 2007, Mugiyanto kembali ke Magelang, mulai mengaplikasikan ilmu tani yang dimiliki. “Awal mula terjun ke pertanian pada tahun 2004 kursus di Pusrehab Kemhan. Setelah itu, diterjunkan ke lapangan dengan pulang ke satuan. Saya mulai mengaplikasikan untuk menanam berbagai tanaman buah,” Katanya
Setelah mencoba bertani berbagai macam buah, Mugiyanto mencari varietas paling unggul di Indonesia hingga menjatuhkan pilihan pada kelengkeng kateki. Dia sukses membudidayakannya di Kampung Borobudur pada 2015.

Ulus Pirmawan, Petani Muda Dari Lembang

Untuk meraih kesuksesan tidaklah mudah. Dibutuhkan ketelitian, keuletan serta usaha yang kuat guna bisa mencapai target dari usaha atau kegiatan yang sedang kita jalani.

Setidaknya hal itulah yang bisa dipelajari dari seorang Ulus Pirmawan. Petani asal Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ini sukses memberdayakan produk hotikulturanya hingga mendapat penghargaan internasional.

Berawal sejak masa kanak-kanak, Ulus terus berusaha mendalami dunia pertanian. Sampai sekarang berhasil mempertahankan kualitas hingga produknya menjadi salah satu yang terunggul.

Iqbalul Arifin, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Jambu Biji

Membaca peluang yang sangat besar akan kebutuhan buah Jambu Biji di kota-kota besar seperti Semarang,Cilacap,Purwokerto dan kota lainnya yang potensial dan sangat besar menjadi langkah awal pemuda desa Pasiraman Lor Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas

Dirinya mengawali terjun ke dunia pertanian membudidayakan Jambu Biji kultivar Citayam dan Jambu Merah Getas di lahan seluas 1000 m 2 di desanya.sekitar dua tahun yang lalu.Pemuda yang sejak mudanya bergelut di bidang percetakan dan sablon sangat faham betul lika liku dunia usaha,Menjadi wirausaha yang telah dirintis di desanya disamping mengajar ilmu agama Islam di sekitar rumahnya. Menjadi ustadz ,merupakan panggilan hidup sesudah menekuni ilmu-ilmu agama di sebuah Pondok Pesantren Magelang.

Tak cukup sampai disitu, lelaki muda berkekacamata itu ternyata seorang qori dengan suaranya yang imerdu nan indah saat membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an pada kegiatan acara-acara peringatan Hari Besar Agama Islam baik di desanya sendiri maupun wilayah kecamatan Pekuncen dan lain-lainnya.

Mengabdi kepada masyarakat dan umat senantiasa tertanam begitu dalam dihatinya, dengan menjadi ustadz ,merangkap wirausaha dan penyuluh agama di desanya.

Perjuangan dan pengabdiannya menjadi Penyuluh Agama Islam di desanya berbuah manis saat Pemerintahan Presiden SBY membuat kebijakan nasional dengan mengangkat tenaga honorer Penyuluh Agama Islam diseluruh Indonesia. menjadi PNS.

Ustadz Iqbalul Arifin akhirnya besama-sama teman -teman Penyuluh Honorer di Kabupaten Banyumas diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil.(PNS).

Keberhasilan menanam Jambu Biji kultivar Citayam di Pasiraman Lor dengan menghasilkan keuntungan yang cukup lumayan dan melakukan ekspansi atau perluasan lahan budi daya di grumbul Kaliblundeng Desa Semedo dengan menanam sebanyak 1600 pohon dengan luas areal lahan kebun 1,5 ha,

Upaya melakukan perluasan lahan karena permintaan pasar akan Jambu Biji kultivar Citayam tak terpenuhi sebagaimana penuturan beliau pada penulis, kebutuhan jambu biji di kota Semarang 8.ton, Cilacap ,Purwokerto 3 ton

Berdasarkan analisis ustadz,untuk memenuhi permintaan keseluruhan pangsa pasar harus menanam 12.600 pohon, sementara saat ini baru menanam 4.600 pohon yang ia kelola sendiri maupun besama sahabat-sahabatnya yang bergabung budidaya jambu biji.Dengan demikian masih kekurangan 8000 pohon yang harus ditanam,

Ustad Iqbalul Arifin membuka tangan selebar-lebarnya pada sahabat-sahabat muda khususnya di Kecamatan Pekuncen ,dan umumnya di Kabupaten Banyumas yang berminat di bidang pertanian budidaya Jambu Biji untuk bergabung bersama-sama

Oleh karena kebutuhan pasar masih cukup tinggi juga sangat menguntungkan hasilnya dengan penegelolaan yang profesional.

Dari pengalamnya selama dua tahun budidaya Jambu Biji Citayam diperoleh bahwa jambu bij Citayam perpohon menghasilkan 3-4 kg dengan masa petik 30 kali selama dua bulan atau 15 kali petik perbulan dengan harga jual Rp.5000/kg…wow banyak banget jumlah rupiahnya.

Adi Pramudya, Petani Muda Dari Pati

Kalau ditanya tentang cita-cita, sebagian besar generasi milenial tentu bergumam ingin mendirikan perusahaan start up, youtuber, influencer hingga profesi lainnya yang syarat dengan teknologi. Tetapi tidak demikian dengan Adi Pramudya. Pemuda berusia 26 tahun ini justru merantau dari Pati, Jawa Tengah ke Jakarta untuk menjadi seorang petani.

Musibah yang melanda toko kelontong milik sang ibu delapan tahun yang lalu membuatnya tak ingin membebani keuangan keluarga.

Adi sendiri mengaku mendapat beasiswa melanjutkan perguruan tinggi di Universitas Telkom di Bandung, Jawa Barat. Akan tetapi ia berpikir panjang bahwa tentunya uang saku yang dibutuhkannya hidup di kota Kembang tak sedikit.Dirinya pun memilih merantau ke Jakarta. Kebetulan kakaknya telah lama menetap di ibukota. Sehingga untuk masalah tempat tinggal sudah teratasi, tinggal membuat usaha untuk menghidupi diri dan bayar uang kuliah. Dia Lalu bekerja serabutan untuk mengumpulkan pundi-pundi tabungan demi melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah.

Pemuda asal Pati ini memang pandai melihat peluang. Meskipun bisnis komoditi pertanian kurang dilirik, fakta tersebut justru dilihatnya sebagai sebuah peluang besar. Apa lagi Indonesia pada dasarnya adalah negara agraris yang tanahnya subur dengan sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani.

Sambil kuliah, dirinya memberanikan diri menanam singkong di lahan yang disewanya di Jonggol. Meski untung, ia tak mau berdiam diri di zona nyaman. Adi mencari tahu tanaman lain yang lebih menguntungkan untuk dibudidayakan. Hingga akhirnya Adi beralih menanam rempah-rempah dan sukses luar biasa.

Adi Pramudya membuktikan bahwa sektor pertanian terutama agribisnis yang tidak banyak dilirik oleh anak muda ini telah membuatnya sejahtera. Tidak hanya mensejahterakan dirinya saja, melainkan juga orang-orang di sekitarnya.

“Selama manusia masih makan, di situlah petani masih dibutuhkan,” begitu Adi menuliskan kata-kata motivasi dalam caption foto di akun twitternya.Adi Pramudya lahir dari keluarga pedagang. Keluarga yang memberikan jiwa berbisnis yang kuat dalam dirinya. Secara tidak langsung, Adi banyak belajar detil-detil bisnis dari sang ayah, seperti bagaimana berdagang yang baik, melayani pelanggan atau sekedar menghitung keuangan. Kehidupan yang memberinya mimpi besar, sukses sebagai seorang entrepreneur.“Sejak sekolah dasar saya sudah membantu orang tua. Dari nimbang beras, nimbang kemiri. Jadi, praktek dasar berdagang itu ada di saya, makanya saya bersyukur,” ujarnya.

Keinginan Adi untuk menjadi pengusaha yang berpenghasilan, sudah ada sejak di bangku SMP. Saat itu, toko kelontong orang tuanya habis terbakar, sehingga mereka harus memulai usaha dari awal. Dari kejadian tersebut, Adi bertekad akan membahagiakan orang tua dengan memiliki penghasilan sendiri.

Walau begitu, keputusannya menjadi seorang pengusaha saat itu bukan tanpa penolakan dari keluarga. Seperti kebanyakan orang tua Jawa, bapak ibunya lebih menginginkan Adi menyelesaikan kuliah dan menjadi pegawai negeri. Mereka kurang setuju anaknya bercita-cita menjadi pengusaha. Hal tersebut dianggap wajar oleh Adi. Namun, Adi tetap pada pendiriannya dan akan membuktikan bahwa menjadi pengusaha memiliki masa depan cerah.

Sembari menjalankan kegiatan perkuliahan di Universitas Gunadarma, Depok, Adi mencoba peruntungan berbisnis di bidang kuliner dengan menjual pisang cokelat menggunakan gerobak di daerah Jagakarsa, Jakarta.

Usahanya tersebut membuahkan hasil yang menggembirakan pada awal berdirinya. Berkembang hingga 4 gerai. Namun masalah kemudian mulai muncul bertubi tubi hingga membuatnya menyerah. Kegagalan ini sempat membuatnya trauma menjalankan bisnis. Namun satu hal yang menguatkan dirinya adalah keyakinan bahwa kegagalan yang sesungguhnya adalah ketika kita memutuskan berhenti berjuang. Dari situ Adi merasa tidak ada alasan untuk berhenti.

Adi sempat vakum berbisnis, sampai akhirnya dia bertemu dengan seseorang yang bisnis di bidang pertanian ketika bertandang ke daerah Jonggol, Bogor, Jawa Barat. Dari situ Adi bertekad untuk menekuni usaha agribisnis. Ide tersebut seperti mengalir begitu saja saat Adi melihat potensi besar dari sebuah lahan yang luas dan belum digarap. Bisnis pertanian, bidang usaha yang tergolong kurang diminati.

Saat itu, tahun 2011, pria lulusan Teknik Industri ini menyewa lahan dengan luas tidak sampai satu hektare seharga Rp 2,5 juta yang uangnya dia dapat hasil meminjam dari sang kakak. Sejak awal, Adi menyadari, memang tak tahu menahu tentang pertanian. Namun dengan tekad, ketekunan dan niat, ia belajar langsung budidaya singkong kepada petaninya selama tujuh bulan.

“Kalau mau belajar tani ya belajarlah kepada gurunya pertanian, yaitu ya petaninya. Jangan belajar dari buku karena buku dibikin kan supaya laku. Kalau buku menceritakan soal rugi, siapa yang mau beli,” ujar Adi.

Komoditas pertama yang dia tanam adalah singkong. Cukup berhasil, namun ternyata harga jual hasil panen singkong tidak stabil di pasar. Hal ini membuat laba bersih yang dia peroleh menjadi terlampau kecil.

Adi kemudian melihat peluang yang lebih menggiurkan dengan berbisnis rempah, saat berbincang dengan tetangga lahannya yang petani rempah. “Waktu itu dia menanam lengkuas. Cuma di lahan 1.000 meter, tapi bisa menghasilkan uang Rp 5 juta sekali panen. Dengan modal hanya sejuta, artinya untung Rp 4 juta. Luar biasa, keuntungan 400%. Akhirnya saya belajar dari dia,” cerita Adi mengenang.

Tahun 2012, Adi mencoba peruntungannya dengan mulai menanam lengkuas di lahan seluas 2 hektare. Ternyata dengan modal 40 juta untuk satu hektare lahan lengkuas, Adi bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 90 juta tiap kali panen.

Seiring berjalannya waktu, Adi mampu memperluas lahan tanamnya menjadi lima hektare pada 2013. Empat hektare digunakan untuk menanam lengkuas dan sisanya untuk menanam kunyit dan kencur. Usahanya tersebut pun akhirnya juga menghasilkan keuntungan.

Siti Soraya Cassandra, Petani Milenial Dari Tangerang Selatan

Siti Soraya Cassandra, sarjana psikologi lulusan University of Queensland, Australia, dan Universitas Indonesia, begitu antusias ketika berbagi pengetahuan tentang berkebun kepada sekelompok anak muda pada pelatihan berkebun di Kebun Kumara. Wajahnya berbinar-binar dan tampak sekali bahagia.

Tanpa merasa risih, kedua tangannya mengaduk-aduk kompos yang terdiri dari campuran dedaunan, serbuk kayu, plus kotoran unggas ketika menjelaskan cara membuat kompos. Suaminya, Dhira Narayana, juga sarjana psikologi alumnus Universitas Indonesia, sibuk mengangkut sampah organik yang akan dijadikan kompos. Seperti Cassandra yang biasa dipanggil Sandra, Dhira cekatan bekerja.

Memberi pelatihan menjadi tugas Sandra, sementara Dhira yang aktivis lingkungan mendapat tugas mengurus kebun dan riset. Pengelolaan Kebun Kumara, tempat mereka berkarya yang berada di Pulau Situ Gintung 3, Tangerang Selatan, dilakukan bersama adik Sandra dan suaminya. Adik Sandra, Siti Alia Ramadhani adalah dokter gigi alumnus UI. Suami Alia, Rendria Arsyan Labde, sarjana teknik mesin, juga alumnus UI. ”Kami sama-sama cinta pertanian,” ucap Sandra.

Kebun Kumara jadi tempat pelatihan. Awalnya belum banyak orang tahu tempat tersebut. Akibatnya, pendapatan yang mereka peroleh pun kecil. Jauh dibandingkan dengan gaji yang Sandra terima ketika bekerja di sebuah perusahaan. Adiknya lebih ”beruntung” punya pekerjaan sebagai dokter gigi. Namun, Sandra dan Dhira tidak mengeluh. Mereka telah bertekad menjadi petani sehingga, apa pun yang terjadi, mereka siap menghadapi.

Selain tak punya gaji, Sandra pun harus mengerjakan semua pekerjaan kasar sendiri. ”Setiap hari harus mengepel kantor. Belum lagi mengurus kebun, mengolah lahan untuk kebun sayur dan membersihkan kandang. Makanya, badanku jadi kurus,” tuturnya.

Karena tubuhnya kian kurus, ibunya sampai bertanya, ”Punya uang buat makan enggak?” Ibunya memang sempat keberatan ketika Sandra memutuskan beralih profesi dari orang kantoran yang kinclong menjadi petani.

”Bukannya saya menentang orangtua, tetapi saya lihat di keluargaku semua orang kantoran, enggak ada yang bisnis. Apalagi jadi petani. Orangtua mungkin khawatir saja dengan masa depanku,” kata Sandra menjelaskan.

Sadar orangtua ingin hidupnya stabil, Sandra menikah dulu. ”Kalau sudah menikah, aku jadi tanggung jawab suami, kan, he-he,” ujarnya menyambung pembicaraan. Dhira juga berniat menjadi petani dan orangtuanya tidak keberatan.

Berguru kepada petani

Tidak hanya Sandra yang mesti meyakinkan orangtua bahwa pilihan menjadi petani itu baik. Andhika Mahardika, sarjana teknik mesin alumnus Universitas Diponegoro, Semarang, juga mengalaminya.

Ayah-ibu Andhika yang menjadi guru sebenarnya memberi kebebasan untuk memilih profesi. Namun, Andhika tahu mereka menyimpan keinginan anaknya juga menjadi guru.

Ketika Andhika selesai kuliah, ia memilih bekerja di sebuah perusahan multinasional dengan gaji dua digit. Namun, belakangan ia merasa tidak nyaman. ”Saya gelisah, kemudian keluar dari tempat kerja. Di tengah pencarian, saya ikut Indonesia Mengajar, ditugaskan di Aceh. Desa memberi saya kenikmatan dan membuat saya akhirnya memilih jadi petani,” tutur Andhika.

Sebelum memutuskan menjadi petani, ia berpikir cukup lama. ”Kegelisahan itu ternyata tak hanya aku yang mengalami. Banyak kawan mengalaminya juga,” kata Andhika.

Pada 2015, ia bersama Asri Saraswati, sarjana teknik kimia lulusan Universitas Teknologi Malaysia; Awaludin F Aryanto, lulusan Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta; dan Ari Hendra Lukmana, lulusan Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, sepakat berkeliling Jawa dan Bali untuk mengunjungi sentra-sentra pertanian.Kelompok kecil ini pada 2016 mendirikan Agradaya di Yogyakarta. Perusahaan itu bertujuan membangun desa lewat kerja sama dengan petani guna menerapkan pembangunan berkelanjutan. Andhika kemudian menikah dengan Asri. Bersama Awaludin dan Ari, mereka berguru langsung kepada para petani. Awaludin dan Ari belakangan mundur untuk pulang kampung.

Sama seperti para pendiri Kebun Kumara, Andhika dan Asri juga mengalami banyak tantangan. Di awal bekerja sebagai petani, Agradaya merugi karena upaya membantu petani menanam beras merah gagal. ”Tak mudah bekerja dengan petani, tetapi itu jadi pembelajaran,” ujar Asri yang berkomitmen tetap tinggal di desa yang telah memberi rasa nyaman.

Walau Andhika, Dhira, dan Sandra berkiprah di bidang pertanian, bidang pekerjaannya berbeda. Agradaya bekerja dengan petani, sedangkan Kebun Kumara memberi pendidikan tentang pertanian di kota.

Melihat kondisi masyarakat perkotaan, Dhira dan Rhendria, adik ipar Sandra, menyimpulkan, berkebun di kota harus berkait dengan bisnis. ”Mereka tidak tertarik melakukan jika tak menghasilkan uang,” kata Dhira.

Selain menumbuhkan kesadaran pentingnya menanam, mereka akan membuat kebun sayur organik. Mereka ingin menunjukkan bahwa, kalau mau, anak muda bisa menjadi petani di kota besar.

Shahrizal Denci, Petani Muda Asal Malaysia

Shahrizal Denci, seorang petani asal Malaysia menceritakan kisah pilu percintaannya yang justru membuat dirinya sekarang sukses.

Melewati cuitannya di Twitter, ia menceritakan kalau dirinya sempat diremehkan oleh ibu mantan kekasihnya.

Tidak hanya tak di restui, bahkan dirinya pun dihina karena berprofesi sebagai petani.

“Dulu, ibunya mantan pacar tolak aku karena aku cuma seorang petani,” ucap Shahrizal

Pria berusia 38 tahun tersebut sebelumnya telah berpacaran selama dua tahun.

Hanya saja, hubungannya kandas terhalang restu dari ibu kekasihnya karena ia hanya seorang petani.

Walau sedih, Shahrizal menjadikan hal ini sebagai motivasinya untuk maju.Bersama sang adik, ia terus menekuni profesi sebagai pertani hingga akhirnya kini memiliki perkebunan sendiri.

Tidak tanggung-tanggung, lahan perkebunan yang ia miliki seluas 20 hektar.“Saya menjadikan kegagalan kisah cinta sebagai motivasi. Bersama adik, saya menjalankan usaha ini. Kami dibesarkan oleh ayah yang bekerja keras sebagai petani sehingga kami tahu seluk-beluk untuk menanam tumbuhan,” jelas Shahrizal.Terlebih semakin kamu memahami sektor pertanian, semakin kamu akan menyadari bahwa ini bukan hanya soal budidaya saja.

Pertanian adalah industri yang dapat berkembang lebih luas dan sangat menjanjikan.

Ada banyak peluang inovasi untuk menghasilkan teknologi pertanian modern serta berkelanjutan yang dapat meningkatkan produktivitas serta nilai tambah sektor agraris.