Rayndra Syahdan Mahmudin, Petani Muda Dari Magelang

Seorang pemuda di lereng Gunung Merbabu ini patut diapresiasi. Diusianya kini 24 tahun sudah sukses menjadi seorang petani muda dengan segudang prestasi.

Dia adalah Rayndra Syahdan Mahmudin yang merintis menjadi petani muda sejak duduk di bangku SMK N Ngablak Magelang, Jawa Tengah. Sekarang, dia sering membagi ilmu dan mengajak anak muda mau bertani.
Jalan hidup Rayndra Syahdan Mahmudin, 24 berubah ketika menempuh pendidikan menengah jurusan pertanian. Setelah lulus, dia merintis menjadi petani muda. Kini, usahanya semakin sukses sehingga bisa berbagi ilmu pertanian ke desa-desa di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Dengan nilai pas-pasan, setelah lulus SMP, Rayndra diterima di SMK N Ngablak, Magelang, Jawa Tengah, di jurusan pertanian. Awal bersekolah di SMK bidang pertanian, Rayndra masih enggan.
Rayndra pun semakin giat belajar dan meraih sederet prestasi. Dia semakin percaya diri karena dipilih untuk mewakili sekolah di ajang Lomba Kompetensi Siswa bagi siswa SMK dan masuk enam besar se-Jawa tengah.
Setelah itu, timbul dalam benak Rayndra untuk menjadi wirausaha alias pengusaha di bidang pertanian. Ia pun memulai dengan berjualan beragam sayur-mayur produksi gurunya di SMK.

”Saya sering jualan di acara car free day gitu, menenteng kotak berisi sayur. Teman-teman lain pada mejeng, saya pede saja jualan,” kata pemuda kelahiran 29 November 1995 tersebut.
Tiap hari pukul 02.00-05.00 Rayndra bangun untuk mencabuti bulu ayam. Lalu dia mengantar ayam yang sudah bersih ke pasar pukul 06.00, dan sejam kemudian bersiap kuliah tanpa mengantuk.
Ternyata, ada pejabat Kementerian Pertanian saat bermalam di kampus melihat kegiatan Rayndra. Kegigihan Rayndra menginspirasi munculnya program ”Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP)”.

Tahun 2016, Rayndra mendapat modal Rp 15 juta dari PWMP. Bersama dua teman lainnya, dia membuat bisnis di bawah bendera Cipta Visi Group.

Wirausaha diawali dengan membuka usaha peternakan ayam jawa super, persilangan ayam petelur dan ayam bangkok. Sisa keuntungan dikembangkan jadi peternakan kambing. Dia mengembangkan binis dengan tambahan modal dari pinjaman bank Rp 50 juta.
Bisnis Rayndra terus meningkat sehingga pada tahun 2018 dapat PWMP lagi sebesar Rp 30 juta. Mereka mampu menarik investor dengan konsep beternak kambing, domba, dan sapi yang minim modal dan pertanian terintegrasi dengan sentuhan inovasi dan teknologi.

Sofian Adi Cahyono, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Sayuran

Pandemi Covid-19 telah berdampak yang luar biasa bagi sektor dunia usaha. Di Jawa Tengah, tak sedikit dunia usaha yang ikut terpuruk hingga para pelakunya harus menghadapi situasi perekonomian yang semakin sulit.

Walaupun begitu, masih ada bidang usaha di masyarakat yang mampu bertahan di tengah gelombang pandemi tersebut. Salah satunya adalah usaha bidang pertanian. Seperti yang dikerjakan sejumlah pemuda di wilayah Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Mereka –para petani milenial—yang tergabung dalam Kelompok Tani Citra Muda Getasan mampu membuktikan bahwa usaha pertanian yang digeluti bisa bertahan dan bahkan terus meningkat, kendati harus menghadapi situasi pandemi. Ketua Kelompok Tani Citra Muda, Sofian Adi Cahyono, menuturkan, selama ini kelompok tani yang beranggotakan 30 anak-anak muda—usia 19 hingga 38 tahun—ini membudidayakan tak kurang 70 jenis sayuran organik.Guna menjual berbagai hasil pertanian (sayuran) organik tersebut, kelompok tani ini telah memanfaatkan pemasaran daring. Sehingga, mampu menembus cakupan pasar atau konsumen yang lebih luas. Ia melihat usaha pertanian, khususnya sayuran organik, masih sangat potensial. Bahkan dalam jangka yang sangat panjang, apalagi jika didukung dengan model atau cara pemasaran daring.

“Inilah yang kami lakukan bersama teman teman di kelompok tani Citra Muda Getasan selama ini, menjual berbagai produk hasil pertanian kami dengan memanfaatkan teknologi digital,” ungkapnya, akhir pekan kemarin. Sofian juga mengatakan, ikhtiar ini sudah dapat dinikmati hasilnya. Jika dibandingkan pada awal-awal dirintisnya usaha pertanian ini 12 tahun silam, produksi berbagai jenis sayuran kelompok tani ini telah meningkat sangat signifikan.

Kini Kelompok Tani Citra Muda Getasan telah mampu memberdayakan tak kurang 400 petani sayuran dan buah-buahan. Pemberdayaan ini untuk mendukung keberlangsungan pasokan produk kepada konsumen. Mereka, tergabung dalam 18 kelompok tani lain, di wilayah Kecamatan Getasan.

“Saat ini omset kami perbulan mencapai Rp 300 juta. Jadi, penghasilan petani itu tidak kalah dengan profesi lainnya. Apalagi, pertanian menghasilkan bahan makanan dan selama hidup manusia sangat membutuhkan,” katanya. Ia juga menuturkan, selama masa pandemi Covid-19, peningkatan permintaan berbagai jenis sayuran justru meningkat drastis. Jika biasanya per-bulan hanya mampu menjual 4 hingga 5 ton sayur organik, selama masa pandemi hingga kini terus meningkat hingga 15 ton per bulan.

Rakhmad Hardiyanto, Petani Muda Sukses Yang Berbisnis Jambu Kristal

Rakhmad Hardiyanto 35 menanggalkan ilmunya di bidang permesinan Sejak 2012. Ia banting setir ke dunia petanian menjalani agribisnis dengan jenis komoditas jambu kristal. Ia melakukan tata cara pertanian modern dengan harapan bisa mencetak petani-petani milenial Kesibukan lelaki yang akrab.

Oscar Mau, Petani Milenial Dari NTT

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan NTT, mengadakan kunjungan ke kelompok tani Petani Milenial di daerah Sikumana, Kupang, NTT. Oscar Mau, salah satu petani milenial yang berhasil merakit mesin tetas untuk penetasan telur ayam di bawah binaan Ir. Evert Yulianes Hosang, M.Si, Ph.D (Peneliti BPTP NTT).

Kepala BPTP NTT, Dr. Procula Rudlof Matitaputty, S.Pt, M.Si menyampaikan dukungan dan semangat kepada petani milenial untuk menciptakan produk kreatif inovatif yang berdaya guna untuk kebutuhan petani serta khalayak umum sehingga dapat berhasil meningkatkan pendapatan petani, salah satunya produk mesin tetas ini.

Ide pembuatan mesin tetas berawal dari Oscar Mau yang memiliki keahlian dalam membuat sound system, lalu keahliannya membuat mesin tetas ini ditingkatkan secara otodidak belajar dari youtube. Mesin tetas yang diproduksi Oscar Mau mempunyai kapasitas 110 butir telur. Sampai sekarang mesin tetas sudah mengalami 3 kali modifikasi. Modifikasi pertama terletak pada roda manual untuk proses putar telur, modifikasi kedua terletak pada lampu mesin tetas untuk pemanas, kemudian modifikasi ketiga ini mesin tetas dibuat secara otomatis untuk proses putar telur dengan cara digeser dan untuk daya listriknya lebih hemat. Kini sudah 9 mesin tetas buatan Oscar Mau yang digunakan oleh petani, instansi pemerintah, maupun swasta di daerah Kupang dan Kefa.

Harapannya dengan dihasilkannya produk mesin tetas oleh petani milenial ini berdampak positif ke petani milenial lainnya. Petani mempunyai jiwa kreatif dan inovatif, berusaha membuka lapangan pekerjaan secara mandiri, meningkatkan pendapatan petani, serta mengangkat petani Indonesia lebih maju.

Yogi Pamungkas Nugroho, Petani Muda Dari Jawa Timur Ini Sukses Menanam Sayuran

Yogi Pamungkas Nugroho, pemuda 22 tahun asal Jawa Timur yang berhasil meraih omzet sekitar puluhan juta rupiah dari hasil berjualan sayuran hasil hidroponik. Yogi membuktikan bahwa sukses bisa diraih di usia muda dan diperoleh dari hasil pertanian.

Dalam mengerjakan bisnisnya Yogi tidak menggunakan tanah sebagai bahan bercocok tanam, melainkan menggunakan hidroponik sehingga menghemat tempat dan biaya, sehingga dapat memperoleh hasil yang berlebih.

Yogi juga memberikan inovasi dalam menjalankan bisnisnya yaitu dengan menjual produk jus sayuran organik hasil olahan sayuran segar yang diproduksinya. Yogi juga masih ingin terus berinovasi dengan mengembangkan naget sayuran plus wisata edukasi sauran hidroponik dan organik.Menjadi petani di era milenial juga tidak harus mempunyai lahan yang luas dan berlokasi di daerah perdesaan. Daerah perkotaan serta memiliki lokasi kecil pun bisa memberikan hasil pertanian yang bagus, asalkan mempunyai ilmu dan teknologi yang baik, serta memiliki keinginan untuk terus belajar dan mau berinovasi dalam mengembangkan hasil pertanian dan produk olahannya.Generasi muda yang tinggal di kota pun bisa mengambil peran untuk menjadi petani milineal. Memberikan inovasi kekinian untuk produknya sehingga diminati oleh semua kalangan terutama kalangan muda.

Kelak, hasil pertanian hasil olahan produk pertanian bisa memberikan nilai lebih dan memberikan pendapatan yang besar bagi pengelolanya.

Harus diingat juga bahwa hasil pertanian adalah kebutuhan primer bagi semua manusia untuk bertahan hidup, seperti beras, buah, sayuran, dan bahan makanan lainnya.

Apabila dikelola dengan baik dan terus berinovasi maka hasil pertanian bisa menghasilkan pendapatan yang baik. Jadi tidak menutup kemungkinan bila mengatakan menjadi petani di era milineal sekarang ini bisa memberikan pendapatan yang juga menjanjikan dari pekerjaan lainnya.

Maya Skolastika Boleng, Petani Milenial Dari Mojokerto

Sebagai negara agraris, Indonesia dianugerahi kekayaan alam melimpah dan posisi geografis strategis yang membuat segala jenis tanaman dapat tumbuh subur. Sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya pun berada di bidang pertanian dan cocok tanam.

Sayangnya, lama kelamaan profesi sebagai seorang petani kelihatannya mulai ditinggalkan, terutama oleh generasi muda. Profesi petani dianggap tidak dapat menjamin masa depan, sehingga membuat banyak orang berpindah ke profesi yang lebih menguntungkan di kota besar.

Tapi, paradigma itu tak berlaku bagi Maya Skolastika Boleng. Wanita yang lahir di Flores ini lebih memilih menekuni pekerjaan sebagai seorang petani muda. Sejak 2017, ia memberdayakan petani Dusun Claket, Mojokerto, di bawah brand Twelve’s Organic yang fokus pada komoditas sayur dan buah organik.Awalnya, bukan hal yang mudah bagi Maya untuk menekuni pekerjaannya sebagai seorang petani muda. Apalagi dengan latar belakangnya sebagai mahasiswa lulusan Sastra Inggris yang tidak mempelajari ilmu pertanian secara formal. Bahkan saat awal meniti karier sebagai petani, Maya pernah merasakan mengalami pengalaman pahit menjadi korban permainan harga sayur yang menurutnya tidak adil di pasaran.

Pada 2008, Maya yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa semester enam Universitas Negeri Surabaya, bersama empat temannya memutuskan untuk terjun di industri pertanian organik. Mereka mengumpulkan uang hasil berjualan pulsa dan honor sebagai guru bimbingan belajar untuk menyewa lahan kosong di Dusun Claket.

Mengajak petani sekitar Dusun Claket, kelompok tani organik yang dirintis Maya pun akhirnya berhasil melakukan panen perdana dan menembus Pasar Induk Surabaya. Namun masih minimnya pengalaman dan bisnis di industri pertanian membuat bisnis Maya tidak berjalan lancar.

Hasil panen perdana kelompok tani organik ini ternyata dibeli dengan harga yang sangat murah di tengkulak. Padahal saat itu produk organiknya yang terdiri dari sayur, buah, dan bumbu dapur ini sudah mulai dikenal orang.

Terbentur modal yang minim saat permintaan pasar sedang meningkat, akhirnya Maya dan teman-temannya memutuskan untuk menghentikan sementara kegiatannya.. Dengan membawa kekecewaan karena salah menerapkan strategi bisnis dan mengalami kegagalan hingga tiga kali, Maya pun memutuskan untuk merantau ke Denpasar dan bekerja di sebuah perusahaan biro perjalanan dan pariwisata.

Setelah enam bulan bekerja, Maya memutuskan untuk kembali ke Mojokerto dan melanjutkan pertanian organik yang sudah dilakukan bersama teman-teman mudanya. Meski berkali kali mengalami kegagalan, ia kembali dengan tekad kuat untuk meningkatkan kesejahteraan petani kecil yang kerap jadi korban murahnya harga sayur di pasaran. Tahun 2017, Maya pun bangkit kembali dan mendirikan Twelve’s Organic. Ia berhasil memasok hasil pertanian mereka ke hotel-hotel dan pasar rumah tangga.

Tak sekadar menyediakan berbagai kebutuhan sayur hingga buah organik, Twelve’s Organic juga terus memberi pemahaman kepada para petani mengenai edukasi pertanian organik dengan kursus eksklusif, agar petani lebih mandiri dan bisa mempunyai pasar sendiri. Kelompok tani yang bergabung di Twelve’s Organic memiliki kebebasan untuk memilih tanaman yang akan ditanam tanpa terbebani permintaan tengkulak.

Selain itu, Maya juga membuka kerap mengadakan acara diskusi dengan mengundang pakar dari berbagai latar belakang, serta tak sungkan menerima konsumen yang ingin melihat langsung sayur yang akan dibelinya di perkebunan Twelve’s Organic. Cara ini dipakai sebagai sarana edukasi sekaligus memperkenalkan Twelve’s Organic ke khalayak yang lebih luas.

Sebagai generasi milenial, Maya juga tak ketinggalan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mengembangkan Twelve’s Organic. Aplikasi pesan WhatsApp dipilih sebagai alat komunikasi dengan pelanggan pelanggan yang ingin memesan sayur maupun buah. Dengan memanfaatkan teknologi yang lebih murah, petani akan lebih untung dan lebih sejahtera karena tidak perlu lagi menjual hasil panen ke tengkulak.

Kini Twelve’s Organic sudah memiliki 25 petani sayur dan buah yang terbagi dalam dua kelompok tani, yaitu Kelompok Petani Madani yang fokus kepada sayuran, serta Kelompok Petani Swadaya yang lebih fokus menanam raspberry dan blueberry serta pembuatan pupuk organik. Sebanyak 80 konsumen rumah tangga, 2 supermarket, dan 2 restoran juga sudah menjadi menjadi pelanggan tetap Twelve’s Organic.

Kerja keras Maya mengembangkan Twelve’s Organic inilah yang membawanya meraih penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU) Indonesia Awards tahun 2019 di bidang lingkungan. Apresiasi ini diberikan sebagai bentuk dukungan karena telah ikut berkontribusi aktif memajukan kesejahteraan petani kecil serta meningkatkan perekonomian di Dusun Claket.

Restiyani, Petani Muda Dari Sulawesi

Restiyani, Generasi Tani Milenial Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari menjadi bagian dari Kelompok Tani Padang Iring, Rantetayo, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Resti, begitu ia dipanggil, di tengah wabah covid-19 turut berperan sebagai petani milenial.

Menuruti Surat Edaran Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, tentang pemulangan mahasiswa Polbangan ke rumah sebagai bentuk pencegahan penyebaran covid-19, Dara cantik ini pun pulang ke Tana Toraja. Tetap mengikuti kuliah daring, disela-sela waktu luangnya ia bergabung bersama Kelompok Tani Padang Iring untuk menanam padi.

Tidak luas, hanya setengah hektar lahan yang dikerjakan. “Di tengah Covid-19 Petani tidak bisa lockdown dalam rumah. Petani harus kuat ke lahan untuk menyediakan pangan bagi masyarakat,” ujar Resti pada Selasa (28/4).

Kelompok Tani yang berada di Sulawesi Selatan tepatnya di Tanah Toraja daerah Rantetayo tetap bersemangat. Sistem tanam jerman yang tidak menggunakan benang telah turun temurun digunakan masyarakat disana.

Pertimbangannya pun sederhana, “Banyak keong jadi tidak bisa pakai benang, nanti malah benang yang di makan keong,” kata Mahasiswa tingkat II Polbangtan Manokwari. Penanaman dikerjakan dengan menanam bibit padi secara berdampingan dengan jarak lima hingga tujuh centimeter (cm) pada setiap titik penanaman sesuai dengan jarak tanam 30×30 cm.

Paras yang cantik, kulit yang bersih, tidak melunturkan semangat dara cantik ini untuk turun ke sawah. Bertelanjang kaki, sambil menyusun benih-benih padi membuat Resti semakin memantapkan diri untuk menjadi petani milenial.

Dengan tegas ia pun mengungkapkan untuk memenuhi kebutuhan pangan kita harus tetap menjadi garda terdepan dalam penyediaan bahan pangan meski adanya wabah virus corona.

Profil Rio Erlangga, Petani Milenial Pendiri CV Cipta Agripratama

Siapa bilang menjadi petani itu impian usang? Buktinya, Rio Erlangga (35 tahun) rela pindah kuadran dari profesional di Astra International menjadi petani milenial dengan mendirikan CV Cipta Agripratama (Cipta Agri).

Padahal, posisinya di Astra cukup menjanjikan. “Delapan tahun di Toyota Sales Operation-nya, saya pegang mulai dari Asset Management. Kemudian, saya mutasi ke Daihatsu, saya pegang HR-Compensation Benefit selama empat tahun. Setelah itu, Industrial Relations, tapi saya memilih resign,” kata Erlangga yang tidak menyesali keputusannya itu.

Bagi Erlangga, menjadi petani adalah pilihan impian. Sebelum keluar dari Astra, beliau sudah mulai mencoba berbisnis buah-buahan. Awalnya, dari melihat tren produk-produk pertanian lokal yang ramai di supermarket papan atas.

“Setiap saya ke Ranch Market, misalnya, saya perhatiin banyak buah dan sayur lokal, saya lihat harga-harganya yang lumayan juga,” ujarnya. Dia saat itu sengaja mencatat harganya dan membanding-bandingkan dengan harga di Pasar Kramat Jati.

“Saya juga mencoba ngobrol dengan kerabat di Garut, menanyakan harga buah-buahan dan sayuran dari petani langsung. Ternyata, jauh banget, jauh lebih murah dibandingkan dengan harga di supermarket maupun di Pasar Kramat Jati,” ungkapnya menceritakan saat awal memulai usaha.

Sejak itu, Erlangga bertekad fokus terjun 100% ke bisnis pertanian. Dia memilih mundur dan menggunakan uang pensiun Astra serta Jamsostek untuk mulai masuk ke kebun yang ternyata dinamikanya luar biasa.

Belajar dengan mengandalkan Google saja tidak cukup. Ia pun mencari mentor dan bertemu dengan praktisi agribisnis dan pebisnis pertanian Wayan Supatno. “Beliau yang membukakan jalan. Beliau sharing do’s and dont’s-nya, sehingga saya bisa lebih cepat berakselerasi di bisnis pertanian,” Erlangga menceritakan.

Ia mengawali dengan menanam cabai, jahe, lalu mulai masuk ke produk buah-buahan. “Nah, begitu masuk ke buah, saya lihat ini lebih cepat roda bisnisnya,” ujarnya senang.

Cipta Agri yang didirikan tahun 2016, awalnya hanya sebagai trader buah-buahan; lalu perlahan ikut ke kebun, dan sekarang sudah punya 300 hektare lahan yang tersebar di Cianjur, Cipanas, Purwakarta, Pandeglang, Bengkulu, dan Kalimantan. Komoditas yang didapatkan ada lemon california, pisang kirana, jeruk dekopon, pisang barangan, jeruk gerga, jeruk siam, jeruk chokun, dan manggis. Hasil panennya dipasarkan ke para mitra secara langsung, yakni Ranch Market, Transmart, Total Buah segar, Tanihub, Sayurbox, Superindo, Farmers & Market, Rezeki, Lottemart, Lulu, Maxim, dan Sewu Segar.

Menurut Erlangga, kalau ingin serius berbisnis pertanian, tidak bisa hanya main di hulu, melainkan juga harus turun sampai ke hilirnya. Mengapa? “Supaya supply-demand-nya bisa terukur dan terkontrol. Kalau nggak begitu, bisa berantakan. Jadi, kalau kita sudah bisa mapping market, kebutuhannya, ke mana dan di mana bisa masuk, nah baru kita bisa manage di hulunya,” ungkapnya.

Dari membaca peta pasar, ternyata dapat dikenali bahwa memasok kebutuhan industri itu lebih bagus dibandingkan menjual fresh ke pasar. “Ini baru market lokal aja ya, udah segitu besar peluang-peluangnya, belum yang ekspor,” kata Erlangga memberi gambaran.

Ia mengaku beruntung pada akhirnya dapat terhubung dan memulai kontrak dengan beberapa mitra B2B. Sebelumnya, hanya dengan Grup Gunung Sewu. Akhirnya, dengan beberapa mitra lainnya, misalnya manufaktur makanan dan minuman seperti Mayora dan Sosro. Selain B2B, secara B2C juga dijalankan. “Kami masuk lewat supermarket, traditional market, dan e-commerce juga,” ceritanya gembira.

Erlangga berbagi pengalaman sebagai petani milenial. Jika kita mau mengembangkan sebuah komoditas, katanya, kita sudah harus tahu dulu untuk pemenuhan pasar yang mana, dan seberapa besar. Sehingga, semuanya terukur, tidak dipermainkan oleh rantai distribusi yang panjang, tengkulak alias middle trader.

“Nah, itulah yang selama ini jadi momok pertanian kita, jadi tidak bisa maju. Petani kapok, profesi petani identik dengan kemiskinan. Karena mereka terbatas, tidak punya map dan data sehingga nggak bisa baca, harus mulai dari mana lalu ke mana. Akhirnya, terjebak nasibnya di tangan tengkulak. Padahal, potensi agribisnis luar biasa,” papar Erlangga.

Ia meyakinkan, kuncinya adalah memiliki peta yang komprehensif. “Kalau mau masuk ke pertanian, harus bangun utuh sebagai agroindustri, jangan setengah-setengah. Harus dari hulu sampai hilir,” katanya menegaskan.

Sekarang, dari 300-an ha perkebunan, Erlangga berjanji masih akan meningkatkan diri. Walaupun banyak rintangan di depan mata, ia tetap percaya diri dan menyadari titik lemah yang menghadang. Contohnya, soal impor, menurutnya, tidak bisa demo ke pemerintah suruh stop impor, karena kan memang sekarang sudah eranya pasar bebas. “Nah, maka yang harus kita lakukan adalah bagaimana caranya kita tetap bisa jadi pemenang di rumah sendiri,” ujar Erlangga tegas.

Ia menyayangkan banyak petani kita yang masih menjalankan usaha tani dengan pola lama itu. Menurutnya, ini pekerjaan-rumah kita bersama, bagaimana mengubah pola pikir petani dan generasi muda, bahwa yang ketinggalan itu bukan profesi taninya, melainkan strateginya.

Salah satu strategi yang ia jalankan untuk mendobrak tradisi lama di dunia trading agribisnis yaitu memperbaiki harga pasar yang sering dispekulasi. Misalnya, lemon. Jika lemon impor sedang kosong, dan pasokan lemon lokal banyak, pasar akan memilih yang lokal.

Lip Irpan, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Sayuran

Di tengah kondisi pandemi covid-19, petani dituntut inovatif dalam memasarkan produknya. Seperti halnya yang dikerjakan oleh Iip Irpan, salah satu Duta Petani Milenial dari Tasikmalaya.

Iip Irpan berkolaborasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya dan Serikat Ekonomi Pesantren Kabupaten Tasikmalaya menanggapi hasil panen petani serta mengemasnya menjadi sayuran modifikasi untuk dijual secara online dengan brand Hoyong Deui dan Salawasna Shop.

Sayuran kemasan disuplai ke 500 warung UKM, sembilan mini market, dan 25 perumahan di Kabupaten Tasikmalaya.

Iip Irpan mengawali usaha tani pada 2009 dengan budidaya padi organik sistem SRI. Tahun 2011, meningkat usaha tani ke hortikultura dengan komoditas cabai, buncis Kenya, jahe, mentimun, sayuran daun, dan melon.

Berlanjut pada 2016 sampai sekarang, Iip meningkatkan pertanian terpadu yang memadukan sektor hortikultura, peternakan, dan perikanan.

“Manfaat pertanian terpadu ialah limbah dari hortikultura akan diberikan kepada ternak dan ikan, kemudian limbah ternak dikembalikan kepada ikan dan hortikultura,” kata Iip Irpan.

Omzet usaha tani yang dikerjakan Iip Irpan dan tim mencapai hingga Rp50 juta dalam sebulan. Iip Irpan memiliki 63 mitra usaha yang juga petani milenial di Kabupaten Tasikmalaya dan berkolaborasi aktif dengan beberapa P4S yaitu P4S Okiagaru Cianjur, P4S Agro Priangan Okiagaru, P4S Lembang Agri, P4S Bina Karya Tasikmalaya, dan Okiagaru Indonesia Agricorp.

Iip Irpan menjadi salah satu figur petani milenial sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo pada saat pengukuhan Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan. Mentan mengatakan, anak muda yang mau terjun di bidang pertanian berpeluang memiliki kehidupan dan ekonomi lebih baik.

Sama halnya disampaikan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi. Duta Petani Milenial diharapkan bisa menarik generasi milenial yang lain untuk ikut berwirausaha pertanian.

“Selain itu mampu Ikut membantu sekaligus menjadi corong positif pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian, dengan mempercepat advokasi kepada masyarakat terutama berkaitan melalui program-program Kementerian Pertanian sehingga program tersebut dapat dilaksanakan dengan cepat di lapangan. Otomatis juga mempercepat dampak positif pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Dedi.

Gestianus Sino SP, Petani Muda Dari NTT

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo optimistis dengan semangat para milenial dalam upaya penumbuhan usaha agribisnis di Indonesia. SYL, sapaan akrabnya, yakin sektor pertanian adalah bidang usaha yang sangat prospektif.

“Sekarang saatnya yang muda yang menguasai teknologi yang jadi penggerak sektor pertanian, didukung teknologi modern maka dunia dalam genggaman kalian. Saya makin percaya anak muda yang terjun di bidang pertanian punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik,” ucap SYL.

Lebih lanjut, SYL mengatakan, sekarang banyak petani milenial yang sukses menjadi pengusaha di berbagai sektor pertanian dan mengembangkan usahanya dari hulu hingga hilir. Ini bukti bahwa pertanian merupakan sektor usaha yang sangat menjanjikan untuk masa depan.Gestianus Sino SP, salah satu petani milenial asal NTT ini satu dari 67 orang petani milenial yang dikukuhkan oleh Menteri Pertanian pada Senin lalu. Pria kelahiran 22 April 1983 ini mengerjakan kegiatan pertanian terpadu dengan menggabungkan ikan lele, ayam kampung, ternak kambing, aquaponic, semuanya dalam satu lahan.

Gesti panggilan akrab nya, bercerita awal memulai terjun kedunia pertanian, dia hanya berpikir bagaimana dapat bercocok tanam di tengah lahan yang tidak memungkinkan dimana lahan di kabupaten Kupang merupakan lahan kering dan di penuhi banyak batu karang.”Proses diawali dengan mencungkil karang, untuk mendapat tanah yang cocok di tanami, kemudian melakukan treatment dasar dengan pupuk organik dari bahan lokal, pemilihan bibit sayur dan buah, dan penggunaan pupuk organik. bokasi/kandang dan pestisida organik. Setelah itu, saya mulai melakukan kegiatan pertanian terpadu dengan menggabungkan ikan lele, ayam kampung, ternak kambing, aquaponic, semuanya dalam satu lahan. Hasilnya dijual dan kebun tersebut dijadikan sebagai sekolah pertanian,” terangnya.

Menurutnya, pertanian organik terpadu ternyata cocok dipakai di NTT, sebab menghasilkan ketersediaan pangan, sehat serta mendukung kemandirian petani. Dengan penerapan pertanian organik terpadu Gesti telah menghasilkan omzet mencapai Rp.232 juta/tahun.

Selain itu, Gesti juga menanam sayuran dan buah organik seperti pokcoy/kaylan, brokoli, bayam, kangkung, dan buah seperti papaya California, serta mangga dan dengan peternakan seperti ternak kambing, ayam kampung dan ikan lele.”Soal produk yang dipasarkan memang masih di Kota Kupang dan sekitarnya, seperti dipasarkan ke pusat swalayan, hotel, dan perumahan-perumahan, namun ia optimis ke depan produk yang dihasilkan bisa keluar ke kota dan kabupaten lainnya di NTT,” ungkap Gesti.

berhubungan dengan hal ini, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menambahkan, peningkatan petani pengusaha milenial sebagai upaya Kementan untuk mempercepat regenerasi petani. Petani pengusaha milenial ini juga didorong untuk ekspor.

“Turunnya jumlah petani berusia muda akan menimbulkan krisis petani. Oleh karenanya, regenerasi petani mutlak dilakukan karena mereka paling berperan sangat strategis dalam pembangunan pertanian Indonesia ke depan, di era modern. Mereka dipastikan melek teknologi dan cerdas,” kata Dedi Nursyamsi.