Eko Prayitno, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Sayuran

Berangkat dari ‘kesungguhan niat berkebun’ awal niat itulah yang dilakoni oleh Sosok Mbah Gino sebagai petani sayuran di Desa Pematang Duku Kecamatan Bengkalis. Bermodal 7.000 kantong pollybag, kini telah menuai hasil keuntungan yang menakjubkan.

Mbah Gino bernama asli Eko Prayitno berasal dari Lampung, dikenal warga sebagai sosok yang kaya akan pengalaman dalam mengolah tanaman sayur dengan pupuk organik. Sejak 4 tahun belakangan ini, diawali dengan menggarap tanah seluas 2 Ha milik Balai Penyuluhan Pertanian dan dibiayai dengan modal sendiri. Tanpa mengenal putus asa, Pria tua telah memiliki delapan orang anggota itu tetap serius menggeluti budidaya tanaman sayuran jenis sawi, bayam, jagung, ubi, timun, kacang panjang, cabe merah, bawang merah, padi dan kangkung hingga akhinya berkembang.

Saat media ini bertandang kekediamanya, Minggu (2/2/2015) terlihat seluruh halaman rumah dihiasi dengan pemandangan penghijauan. Pemanfaatan lahan perkarangan rumahnya tergarap dengan maksimal, penuh dengan pollybag tanaman sayur berupa sawi, bayam, seledri, kangkung dan bawang merah. Dan lainnya juga seperti kacang panjang, ubi kayu, jagung, timun padi terhampar segar di samping dan belakang rumahnya.

“Berawal dari kesungguhan niat berkebun adalah kunci suksesnya, berangkat dari 3 tahun yang lalu bermodalkan sendiri membeli 7.000 kantong pollybag kini membawa berkah bagi kami sekeluarga dan 8 orang yang ikut kerja selama ini,” terucap dari bibir mbah Gino menjawab pertanyaan sejumlah wartawan.

Selain itu, Pemaksimalan tata guna lahan dan tata letak tanaman, penyiraman, perawatan dan ketekunan dalam pemupukan dengan pupuk organik, akan dapat memudahkan, terukur dan lebih memaksimalkan dalam hasil produksi kebun sayuran.

Merasa senang dirinya dikunjungi, Mbah Gino dengan bertelanjang badan tanpa menggunakan baju memperlihatkan kebun sayuran miliknya. Pria yang telah terlihat seratan keriput dikulitnya itu pun memaparkan keuntungan berkebun sayuran dengan sistem polybag dapat menekan biaya produksi (pengolahan lahan, red), perawatan dan pemupukan sehingga akan memaksimalkan hasil produksi.

“Sebagai contoh yang saat ini siap panen, yaitu sawi, kalo kita siapkan polybag agak besar, kemudian diisi tanah dicampur dengan kotoran kambing dan ayam (komposisi tanah 75 % dan kotoran kambing 15 % dan kotoran ayam 10 %), kemudian biji sawi, ditanamkan tak usah terlalu dalam tanah tersebut, lakukan penyirama secara rutin, dan pada hari ke 10 kemudian lakukan pemupukan dengan pupuk organik, dan pada hari ke 25, sawi siap panen, disini poly bag dan tanah bisa dipakai kembali untuk menanam kembali, ini kan hemat,” terangnya bercerita.

Tidak hanya sampai disitu saja, Mbah Gino dengan bangga pun menunjukan kolam pupuk organik miliknya, seraya menjelaskan proses pembuatan pupuk cair organiknya, dimana pupuk tersebut terbuat dari kotoran kambing, kotoran ayam, gula merah dan EM 4 masukan dalam bak kolam kemudian masukin air.

“Alhamdulillah, untuk stok pupuk organik kami banyak. Kami membuatnya sendiri, sehingga dapat menjamin kesehatan dan kesuburan sayuran sehat sampai siap jual,” pugkas Mbah Gino.

Tanah Bengkalis Sangat Cocok Untuk Bercocok-Tanam

Kesuksesan dan keberhasilan Mbah Gino membuktikan bahwa tanah Bengkalis sangat cocok untuk tanaman sayuran dan hortikultura lainnya.

“Memang awalnya, banyak orang pesimis bahwa tanah bengkalis tidak cocok untuk tanaman sayuran dan itu salah. Saya berani ngomong bahwa tanah bengkalis adalah sangat subur, dan itu telah saya buktikan dengan menanam sayur ini,” jelas Mbah Gino.

sementara itu, Mbah Gino memaparkan rincian bagaimana prospek menanam sayuran sawi dalam polybag dan prospek budi daya sayuran sawi menggunakan sistem polybag. Dengan harga jual per kilo sawi Rp 8.000,-/Kg, untuk mendapatkan satu kilogram itu sekitar 8 pokok sawi, dengan masa tanam siap panen sawi adalah 25 hari.

“Menanam sawi dengan Polybag, caranya cukup mudah yakni dengan mencampur tanah dicampur kotoran kambing dan ayam yang dimasukan dalam polybag, kemudian semai 2 biji bibit sawi tersebut di kantung polybag yang sudah di beri media tanah tersebut,” jawabnya.

Untuk diketahui, jika dikalkulasikan hasil budidaya sayuran sawi yang dilakukan Mbah Gino adalah 10.000 batang/8 =1.250 kg sekali panen. Maka Hasil Produksi per tahun, 1.250 Kg x Rp 8.000 x 12 = Rp 120.000.000,-.

“Jadi pemasukan dari budidaya sawi pertahun adalah Rp 120.000.000. Berani mencoba?,” tantang simbah lagi.