H Bambang Sumadji HS, Petani Mienial Dari Kediri

Kisah Awal Petani Sukses Bambang Sumadji

Kisah sukses usaha pertanian Bambang sendiri dimulai pada tahun 1977. Ketika itu dengan uang sebesar Rp 1,5 juta yang diperolehnya dari pengajuan kredit Bank BNI, Bambang melakukan penanaman bawang merah di atas lahan sewaan seluas 1 hektar. Tak dinyana dari apa yang dilakukan pada awal usahanya ini Bambang mendapatkan hasil yang lumayan baik. Pada panen awalnya saat itu Bambang mampu mendapatkan 7 ton bawang merah yang kemudian dijualnya dengan harga Rp 150 per kilogram (harga tahun 1997). Dalam waktu satu tahun sendiri pria yang pernah kuliah di Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya ini kala itu mampu memanen bawang merahnya sebanyak tiga kali. Ini artinya dalam satu tahun Bambang mampu meraup hasil Rp 3,15 juta rupiah (tahun 1997).

Perkembangan Usaha Tani Bambang Sumadji
Dari setiap keuntungan yang didapat itu sedikit demi sedikit Bambang menggunakannya untuk pengembangan usaha bawang merah. Dari sinilah kepemilikan lahannya pun berkembang semakin luas menjadi 200 hektar yang tersebar di tersebar di Sukomoro Nganjuk dan juga Sidowarek serta Plemahan, Pare, Kediri. Tidak hanya itu pemasaran usaha pertaniannya juga telah meluas hingga Indonesia Timur. Dari perkembangn usaha ini Bambang juga kemudian meluaskan usahanya pada penanaman cabe pda lahan seluas 25 hektar di desa Pelem, Pare. Maka dari keseluruhan lahan pertanian yang dimilikinya ini Bambang bisa memanen 28 ribu ton bawang merah, dalam dua kali masa panen. Sedangkan pada komoditas cabe merah sendiri dengan total luas satu hektar maka akan menghasilkan 20 ton dalam panennya. Dari sini maka dalam setahunnya, bambang bsai memperoleh 500 ton per tahun dari kedua komoditi yang ditanamnya ini.
Kewalahan Penuhi Permintaan
Untuk komoditi bawang merah sendiri, Bambang mengaku masih kewalahan memenuhi permintaan pasar meski panen telah mencapai ribuan ton. Bahkan untuk kawasan Indonesia Timur yang sebelum dipasoknya kini tak sanggup lagi disupplai-nya. Mengapa bisa demkian? Sebab, menurut Bambang untuk kebutuhan sendiri saja, ia masih kekurangan bahan. Bahkan pada tahun 1991 sendiri Bambang tak lagi menjual bawang merah dalam kondisi mentah, namun lebih dari itu Bambang sudah mengolahnya. Olahan bawang merah yang digoreng produksi Bambang ini sendiri diberi nama atau merek Bagindo. Nah untuk produksi Bagindo ini Bambang mengaku membutuhkan pasokan 150 ton bawang merah mentah.

Pabrik Usaha Bambang Sumadji
Pabriknya sendiri saat ini telah dibantu oleh 150 karyawan dengan gaji rata-rata Rp 500 ribu/bulan hingga Rp 1 juta. Selian membuat bawang goreng kemasan, di pabriknya ini Bambang juga membuat sambal pecel dengan merek yang sama yaitu Bagindo.Untuk produksi sambel pecel sendiri, bambang dibantu oleh 50 karyawan dengan total produksi mencapai 30 ton sambal pecel per bulan. Untuk pemasaran hasil-hasil pertanian dan produksinya ini Bambang memiliki 20 unit armada angkutan jenis L-300.

Terjun ke Dunia Perbankan
Setelah sukses di bidang pertanian dan juga produksi bahan makanan, bambang kembali meluaskan bidang usahanya ke perbankan. Mantan pengurus Muhammadiyah Pare ini memang diketahui terlah merambah ke dunia perbankan sejak tahun 1990 dengan mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) ‘Agro Cipta Adiguna’. Dibidang perbankan ini sendiri Bambang mendapati kesuksesan. Bahkan BPR yang didirikan Bambang ini pernah terpilih sebagai BPR terbaik tingkat nasional, Desember tahun lalu.

Dididik Belajar Jual-beli dan Istiqomah Sejak Kecil
Kesuksesan yang didapat oleh Bambang Sumadji ini memang tidak bisa dilepaskan dari didikan orangtuanya saat dirinya masih kecil. Sejak kecil sendiri Bambang dididik orang tuanya untuk selalu istiqomah dengan apa-apa yang dikerjakannya. Keluarga Bambang yang berlatar belakang petani dan pedagang ini akhirnya juga mendidik Bambang dalam dua bidang ini. Menurutnya, tak jarang dirinya selalu dilibatkan oleh orang tuanya dalam kegiatan jual beli hasil pertanian. Keterlibatan Bambang dalam hal ini misalnya saat terjadi transaksi atau diskusi-diskusi usaha. Dari keterlibatan Bambang dalam kegiatan jual beli sejak kecil inilah maka kemudian naluri bisnisnya tumbuh dan terus bertumbuh. Bahkan menurutnya beberapa hal seperti kiat menangkap peluang usaha juga banyak diperolehnya dari pembelajaran sejak kecil tersebut.

Amanah Jauh Lebih Penting Dari Modal
Dari sekian banyak pembelajaran yang diberikan orang tuanya, Bambang mengaku bahwa ilmu yang paling penting yang pembelajaran yang ada adalah soal amanah (kepercayaan). Menurutnya amanah memang adalah hal yang sangat penting dari proses bisnis itu sendiri. Bahkan saking pentingnya amanah ini ia bisa mengalahkan apapun termasuk modal. Atau boleh dibilang amanah adalah modal yang paling penting dari dunia usaha (entrepreneur). Maka menurutnya, bila bisnis dijalankan hanya dengan mengutamakan modal besar tanpa amanah maka usaha ini akan bisa jeblok (bangkrut).

Pentingnya Istiqomah
Dalam sebuah usaha, apapun itu bentuknya termasuk bidang pertanian, maka istiqomah adalah yang juga penting untuk dilakukan setiap pebisnis menurut Bambang. Masalah jatuh bangun, untung dan rugi adalah hal yang biasa saja dalam bisnis. Jadi ketika usaha sedang turun, seorang pengusaha tidak boleh lantas menyerah. Tapi lebih dari itu mereka harus tetap istiqomah (tetap terus bergerak dan tekun) dalam usahanya. Jika pengusaha sudah menyerah saat jatuh maka mereka akan sulit untuk mencapai suskes, tutur Bambang. Bambang sendiri sudah sangat sering mengalami jatuh bangun usaha. Bahkan ditahun 1994 usahanya pernah nyaris bangkrut. Kejatuhan usahanya saat itu sendiri terjadi karena ia mengalami gagalan panen. Saat itu ia harus menanggung kerugian hingga mencapai Rp 1 miliar lebih.

Sadar Akan Kekuasaan Tuhan
Kejatuhan yang sangat berat tahun 1994 saat itu membuat Bambang kemudian tersadar akan kekuasaan Tuhan. ya, saat itu ia merasa ditampar oleh Tuhan agar berubah dan memikirkan orang lain juga. Nah dari sini kemudian Bambang pun banyak berkontribusi dalam kegiatan sosial dan keumatan. Setiap tahunnya dari laba bersih sebesar 500 – 700 juta rupiah, Bambang mengeluarkan 15% untuk zakat usahanya. 15% dari zakatnya sendiri disalurkan ke para bekerja pabrik, lembaga-lembaga sosial, serta buruh tani di lingkungan perusahaan.

Ikut Serta Dalam Pemberdayaan Ekonomi Petani
Jiwa sosial Bambang sendiri terus meluas pada hal lain. Sebagai seorang koordinator Kopermas (Koperasi Peran Serta Masyarakat) di wilayah Kediri dan Madiun, Bambang memang kemudian diberikan tanggung jawab untuk memberdayakan perekonomian para petani. Nah untuk hal inil kemudian Bambang mendapat kesempatan bersama lembaga swadaya masyarakat PPM (Pusat Peran Serta Masyarakat) Jawa Timur untuk mewujudkan pemberdayaan ekonomi para petani tersebut. Lembaga swadya masyarakat PPM ini sendiri memang memiliki gungsi untuk membantu para petani dalam beberpa hal seperti menyalurkan KUT (Kredit Usaha Tani), pengadaan pangan, penyediaan saprodi (sarana produksi padi), serta menampung hasil panen.

Masa Depan Sektor Pertanian yang Cerah
Menurt Bambang, masa depan pertanian Indonesia kedepan akan sangat cerah. Hal ini terbukti dari potensi agribisnis yang terus mengalami peningkatan yang fluktuatif. Optimisme Bambang sendiri juga didukung oleh kondisi masa reformasi yang membuatnya mudah mendapatkan informasi penting dan bermanfaat mengenai dunia pertanian. Keterbukaan informasi yang menunjang pertanian ini memang sangat sulit didapatkan para petani termasuk Bambang dulu ketika masa orde baru.