Lalo, Petani Milenial Asal Ambon Yang Sukses Menanam Sawi

Dibawa bedeng sawi yang tertutup plastik, Lalo bersama istrinya, Neni merawat tanaman sawi di lahan kosong kawasan Desa Paso Kecamatan Baguala Kota Ambon, Sabtu siang 26 Agustus lalu.

Lelaki berusia 38 tahun, rajin mengamati satu persatu sawi yang berusia sepekan di bedeng dengan lebar sekitar 2 meter dan panjang 15 meter itu. jika ada sawi yang mati atau layu, terserang hama, Lalo dan istrinya langsung menggantinya dengan sawi baru.Sesekali Lalo juga menyiram air serta menyemprot pupuk agar tanama sawi sehat. Itulah aktivitas Lalo di atas lahan milik RRI Ambon yang disewanya untuk lahan pertanian sejak 2013. Lalo menggarap lahan tersebut menjadi subur. Di atas lahan seluas 25 x 30 meter itu, pria beranak dua ini menanami sawi, kangkung darat dan bayam merah.

Lelaki asal Makasssar, Sulawesi Selatan (Sulsel) ini merintis usaha pertanian di Ambon. Baginya, Ambon memiliki potensi pertanian yang menjanjikan. Masih banyak lahan kosong dan tidak jauh dari pusat kota. Awal membuka usahanya, Lalo mengakui hampir putus asa, karena keterbatasan dana untuk membeli benih atau bibit sawi, pupuk membasmikan hama dan membuat bedeng.Namun harapanya mulai bangkit setelah permohonan kredit usaha kecil (KUR) diterima BRI Ambon pada 2013. Saat itu, Lalo mendapat kucuran kredit sebesar Rp 15 juta. Dana tersebut digunakan membeli kebutuhan pertanian, seperti benih sayur, pupuk, membuat bedeng serta plastik ultraviolet. Plastik itu digunakan menutup bedeng melindungi hasil kebunnya dari hujan ataupun sinar matahari secara berlebihan. Apalagi Kota Ambon memiliki intensitas hujan yang tinggi.

“Saat modal belum ada, usaha kami belum maju. Alhamdulillah setelah ambil KUR usaha mulai lancar,” ujar Lalo, saat ditemui wartawan peserta Journalist Class yang digelar Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Maluku pada Sabtu 26 Agustus. Dalam kunjungan ke lokasi pertanian Lalo itu, hadir juga Kepala OJK Maluku Bambang Hermanto dan pimpinan BRI Cabang Ambon Tito Witarnawan.

Lalo mengungkapkan, hasil panen sayur mayur diutamakan membayar angsuran kredit. Panen berikutnya, digunakan untuk membeli pupuk, benih dan kebutuhan. Lalo menggunakan masa tanam sayur mayur hingga panen selama 20 hari, sehingga perputaran modal cepat.Setelah kredit pertama lunas, Lalo pun mengajukan permohonan KUR dengan nilai Rp 20 juta, dan langsung diterima BRI Ambon. Untuk menjaga kepercayaan pihak BRI, Lalo mengungkapkan tiap bulan mengembalikan cicilan kredit sebesar Rp 1,4 juta hingga Rp 1,5 juta. Dalam waktu sepuluh bulan lunas dari jangka waktu setahun yang ditentukan BRI.

Seiring berkembang usaha menanam sayur, dan lancar membayar kredit tiap bulannya, Lalo pun mengajukan kredit lebih besar yakni, Rp 25 juta. “Dengan penambangan nilai kredit ini, tentu penghasilan kita makin bertambah. Karena bisa beli banyak kebutuhan untuk meningkatkan hasil usaha pertanian kita termasuk perluas sewa lahan,” ucapnya.

Lalo mengungkapkan, saat ini hasil usahanya itu sebulan bisa mendapat untung hingga Rp 8.000.000, namun jika cuaca panas, keuntungan mereka turun berkisar Rp 4.000.000. Hasil usahanya ini juga mengantarkan seorang anaknya ke bangku kuliah di pergurian tinggi ternama di Makassar, Sulsel, dan seorang lagi masih sekolah di Ambon.

Pimpinan Bank BRI Cabang Ambon, Tito Mitarnawan mengungkapkan, awalnya pihak bank khawatir memberikan kredit kepada petani. Penyebannya usaha di sektor pertanian termasuk perikanan itu tidak beromset harian.Namun lain halnya dengan Lalo, bank memberikan kepercayaan kepada kreditur binaanya itu lantaran memiliki pola penanaman berkala. Waktu panen pertama, Lalo gunakan untuk pembayaran KUR. Panen berikutnya untuk membeli kebutuhan pupuk sehingga memudahkannya dalam pembayaran kredit.

“Jujur saya awalnya kami dari perbankan agak takut memberikan kredit di bidang pertanian dan perikanan, karena konsistensi pembayarannya beda dengan perdagangan yang memiliki omset harian. Tapi Pak Lalo memodifikasi sistem hasil panennya dengan mengutamakan pembayaran KUR, sehingga kami percaya beliau hingga saat ini,” jelas Tito.

Ia mengungkapkan, saat ini pemerintah memberikan kemudahan kredit melalui sektor pertanian. Dan BRI menjadi satu-satunya bank yang menjalankan kredit program tersebut. “Secara keseluruhan sampai saat ini total penyaluran KUR dari BRI pada berbagai bidang di Maluku mencapai 300 miliar rupiah,” sambung Tito.

Kepala OJK Maluku Bambang Hermanto menyatakan, selaku pihak yang mengawasi industri jasa keuangan dan industri perbankan, OJK terus mendorong perbankan untuk menyalurkan KUR. Menurut Bambang, OJK mencatat, penyaluran kredit sektor produktif maupun sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berkembang positif di Maluku. Terutama di sektor UMKM mengalami peningkatan sebesar 8,58 persen atau sebesar Rp. 229,61 miliar dari Rp.2,66 triliun menjadi Rp. 2,91 triliun.

Penyaluran kredit itu didominasi sektor ekonomi usaha kecil yang mencapai Rp 1,20 Triliun atau sebesar 41,20 persen dari total kredit UMKM. “Dukungan pembiayaan oleh perbankan kepada sektor produktif merupakan motor penggerak utama dalam pembangunan ekonomi masyarakat, karena dari sektor inilah efek berantai kesejahteraan dimulai, ”ujar Bambang.

Kini usaha Lalo terus berkembang. Hasil panenya dikonsumsi warga Ambon dan sekitarnya. Lalo adalah salah satu pemasok sayuran dengan jumlah besar di Pasar Mardika Ambon. “Selama orang masih makan sayur, usaha pertanian itu sangat menguntungkan,” jelas Lalo.