Maya Skolastika Boleng, Petani Milenial Dari Mojokerto

Sebagai negara agraris, Indonesia dianugerahi kekayaan alam melimpah dan posisi geografis strategis yang membuat segala jenis tanaman dapat tumbuh subur. Sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya pun berada di bidang pertanian dan cocok tanam.

Sayangnya, lama kelamaan profesi sebagai seorang petani kelihatannya mulai ditinggalkan, terutama oleh generasi muda. Profesi petani dianggap tidak dapat menjamin masa depan, sehingga membuat banyak orang berpindah ke profesi yang lebih menguntungkan di kota besar.

Tapi, paradigma itu tak berlaku bagi Maya Skolastika Boleng. Wanita yang lahir di Flores ini lebih memilih menekuni pekerjaan sebagai seorang petani muda. Sejak 2017, ia memberdayakan petani Dusun Claket, Mojokerto, di bawah brand Twelve’s Organic yang fokus pada komoditas sayur dan buah organik.Awalnya, bukan hal yang mudah bagi Maya untuk menekuni pekerjaannya sebagai seorang petani muda. Apalagi dengan latar belakangnya sebagai mahasiswa lulusan Sastra Inggris yang tidak mempelajari ilmu pertanian secara formal. Bahkan saat awal meniti karier sebagai petani, Maya pernah merasakan mengalami pengalaman pahit menjadi korban permainan harga sayur yang menurutnya tidak adil di pasaran.

Pada 2008, Maya yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa semester enam Universitas Negeri Surabaya, bersama empat temannya memutuskan untuk terjun di industri pertanian organik. Mereka mengumpulkan uang hasil berjualan pulsa dan honor sebagai guru bimbingan belajar untuk menyewa lahan kosong di Dusun Claket.

Mengajak petani sekitar Dusun Claket, kelompok tani organik yang dirintis Maya pun akhirnya berhasil melakukan panen perdana dan menembus Pasar Induk Surabaya. Namun masih minimnya pengalaman dan bisnis di industri pertanian membuat bisnis Maya tidak berjalan lancar.

Hasil panen perdana kelompok tani organik ini ternyata dibeli dengan harga yang sangat murah di tengkulak. Padahal saat itu produk organiknya yang terdiri dari sayur, buah, dan bumbu dapur ini sudah mulai dikenal orang.

Terbentur modal yang minim saat permintaan pasar sedang meningkat, akhirnya Maya dan teman-temannya memutuskan untuk menghentikan sementara kegiatannya.. Dengan membawa kekecewaan karena salah menerapkan strategi bisnis dan mengalami kegagalan hingga tiga kali, Maya pun memutuskan untuk merantau ke Denpasar dan bekerja di sebuah perusahaan biro perjalanan dan pariwisata.

Setelah enam bulan bekerja, Maya memutuskan untuk kembali ke Mojokerto dan melanjutkan pertanian organik yang sudah dilakukan bersama teman-teman mudanya. Meski berkali kali mengalami kegagalan, ia kembali dengan tekad kuat untuk meningkatkan kesejahteraan petani kecil yang kerap jadi korban murahnya harga sayur di pasaran. Tahun 2017, Maya pun bangkit kembali dan mendirikan Twelve’s Organic. Ia berhasil memasok hasil pertanian mereka ke hotel-hotel dan pasar rumah tangga.

Tak sekadar menyediakan berbagai kebutuhan sayur hingga buah organik, Twelve’s Organic juga terus memberi pemahaman kepada para petani mengenai edukasi pertanian organik dengan kursus eksklusif, agar petani lebih mandiri dan bisa mempunyai pasar sendiri. Kelompok tani yang bergabung di Twelve’s Organic memiliki kebebasan untuk memilih tanaman yang akan ditanam tanpa terbebani permintaan tengkulak.

Selain itu, Maya juga membuka kerap mengadakan acara diskusi dengan mengundang pakar dari berbagai latar belakang, serta tak sungkan menerima konsumen yang ingin melihat langsung sayur yang akan dibelinya di perkebunan Twelve’s Organic. Cara ini dipakai sebagai sarana edukasi sekaligus memperkenalkan Twelve’s Organic ke khalayak yang lebih luas.

Sebagai generasi milenial, Maya juga tak ketinggalan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mengembangkan Twelve’s Organic. Aplikasi pesan WhatsApp dipilih sebagai alat komunikasi dengan pelanggan pelanggan yang ingin memesan sayur maupun buah. Dengan memanfaatkan teknologi yang lebih murah, petani akan lebih untung dan lebih sejahtera karena tidak perlu lagi menjual hasil panen ke tengkulak.

Kini Twelve’s Organic sudah memiliki 25 petani sayur dan buah yang terbagi dalam dua kelompok tani, yaitu Kelompok Petani Madani yang fokus kepada sayuran, serta Kelompok Petani Swadaya yang lebih fokus menanam raspberry dan blueberry serta pembuatan pupuk organik. Sebanyak 80 konsumen rumah tangga, 2 supermarket, dan 2 restoran juga sudah menjadi menjadi pelanggan tetap Twelve’s Organic.

Kerja keras Maya mengembangkan Twelve’s Organic inilah yang membawanya meraih penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU) Indonesia Awards tahun 2019 di bidang lingkungan. Apresiasi ini diberikan sebagai bentuk dukungan karena telah ikut berkontribusi aktif memajukan kesejahteraan petani kecil serta meningkatkan perekonomian di Dusun Claket.