Menanam Sayur di Lahan Sempit, Mengapa Tidak?

Masa pandemi COVID-19 ini berdampak pada banyak sektor salah satunya adalah sektor ekonomi, Akibat pandemi banyak pekerja yang dirumahkan . Kondisi ini tidak serta merta membuat kita menjadi tidak produktif. Beragam aktivitas bisa dilakukan, khususnya yang bisa menopang kebutuhan pangan rumah tangga. Salah satu yang bisa dilakukan adalah berkebun sayuran organik di pekarangan rumah.

Pada masyarakat kota mungkin berkebun sayuran di pekarangan mustahil karena umumnya mereka tidak memiliki pekarangan yang luas, namun ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk berkebun sayuran di lahan yang sempit, salah satunya adalah dengan menggunakan teknik hidroponik, kita bisa menanam berbagai sayuran dengan teknik ini pada botol bekas yang kita tempel di dinding, styroform atau paralon yang dilubangi. 

Selain tidak membutuhkan lahan yang luas menanam dengan teknik ini juga tidak membutuhkan perawatan yang lebih. Kita hanya butuh memberikan  nutrisi dan mengecek keadaan air pada tempat dimana kita menanam.

Saya menanam beberapa jenis sayuran yang memiliki jangka waktu panen pendek seperti pop cay, sawi, bayam merah, kangkung dan selada. Alhamdulillah selain untuk konsumsi sendiri terkadang juga ada teman yang membeli sayuran hidroponik kami. 

Lumayan loh karena sayuran hidroponik ini memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan sayuran yang ditanam di tanah pada umumnya,  Jika seikat kangkung di pasar dijual dengan harga sekitar Rp 1.000. Sayuran hidroponik bisa dijual dengan harga Rp 5.000. Bahkan untuk pop cay dan selada bisa lebih tinggi nilai jualnya.

Selain memiliki nilai jual yang lebih tinggi sayuran hidropoink juga memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi dan tidak memiliki residu bahan kimia sehingga aman dan menyehatkan. Mari kita perdayakan pekarangan kita dengan menanam berbagai sayuran untuk menopang kegiatan ekonomi rumah tangga. Selamat mencoba.

Sumber: https://www.kompasiana.com/dwirustanti/601188e3d541df1a182e4a35/menanam-sayur-di-lahan-sempit-mengapa-tidak#

Babinsa Pos Ramil Putri Betung Tingkatkan Ketahanan Pangan

Babinsa Pos Ramil Putri Betung Koramil-03/Blangkejeren Kodim 0113/Gayo Lues bersama dengan Penyuluh Pertanian  melaksanakan kegiatan Pendampingan terhadap Petani di Kecamatan Putri Betung  dengan melakukan pengecekan lahan yang akan ditanami Jagung, lahan perkebunan tersebut milik Sdr. Talib umur 49 tahun salah satu warga Desa Gumpang Pekan Kecamatan Putri Betung Kab. Gayo Lues, Kamis (21/01/2021).

Pendampingan ini di lakukan bekerja sama antara Babinsa dengan Penyuluh Pertanian Kecamatan Putri Betung, menjelaskan tentang bagaimana cara menjadi petani yang baik dan berhasil tidak hanya satu jenis tanaman saja, dalam kesempatan tersebut di jelaskan khusus kepada Petani Jagung yaitu mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, perawatan berjalan dan yang sangat menunjang keberhasilan petani adalah faktor cuaca.

Dandim 0113/Gayo Lues Letkol Inf Yudhi Hendro Prasetyo melalui Danpos Ramil Putri Betung Pelda Khalidin menjelaskan kegiatan ini sudah menjadi tugas TNI dan bekerja sama dengan Penyuluh Pertanian, salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan agar kebutuhan pokok masyarakat dapat tercukupi serta dapat mewujudkan swasembada pangan terutama di wilayah Desa binaan Babinsa masing-masing

Lebih lanjut disampaikan oleh Pelda Khalidin dengan dilakukan pendampingan ini oleh Babinsa dan PPL mengharapkan kepada para Petani lainnya seperti tanaman jahe, kakao, dan pisang terus berjalan dan lebih giat lagi karena dari segi harga jualnya cukup menjanjikan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat itu sendiri disela Covid-19 yang masih belum berakhir.[Marzuki]

Sumber: https://www.mediaandalas.com/daerah/babinsa-pos-ramil-putri-betung-tingkatkan-ketahanan-pangan/186172/

DKP Dompu Izinkan Budidaya Lobster

 Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Dompu, mengizinkan masyarakat pesisir untuk menangkap dan membudidayakan lobster. Namun demikian, ukuran minimal benih harus diatas 2 ons. Hal itu berkenaan dengan adanya kebijakan penghentian sementara ekspor dari pemerintah pusat.

Kepala DKP Dompu, Ir. Wahidin, M. Si., kepada Suara NTB, Senin, 25 Januari 2021 menyampaikan, penangkapan dan pengiriman bibit lobster atau benur keluar daerah masih dilarang. Tetapi untuk kegiatan budidaya diberikan ruang, namun dengan ukuran benih 2 ons lebih. “Untuk mencapai ukuran super harus budidaya dulu. Jadi boleh menangkap bibit tapi yang ukuran besar,” terangnya.

Terbukanya ruang budidaya di tengah penghentian ekspor ini, tidak menutup kemungkinan dimanfaatkan warga untuk menangkap benur semua ukuran, bahkan tetap mengirimnya keluar daerah dengan berbagai cara.

Menyikapi ancaman itu, DKP rupanya tidak bisa berbuat banyak, sebab kewenangan pengawasan sepenuhnya berada di bawah kendali Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB. Sementara untuk lalu lintas keluar daerah, diawasi ketat Balai Karantina dan Aparat Penegak Hukum (APH). “Kalau kabupaten hanya bisa merekomendasi asal dari bibit lobster itu. Tapi sekarang masih di larang, sehingga kami tidak berani mengeluarkannya,” tegas dia.

Pasca pelarangan penangkapan dan pengiriman benih lobster diputuskan pemerintah pusat, perekonomian masyarakat pesisir sempat terganggu, khususnya mereka yang selama ini menggantukan hidup pada hasil tangkapan biota laut tersebut.

Namun mengingat ini pilihan terbaik pemerintah, mau tidak mau harus dipatuhi agar tidak berdampak hukum. Dan pemenuhan ekonomi keluarga, alternatif lain yakni kembali menangkap ikan atau menggarap lahan pertanian untuk menanam jagung. “Intinya bagaimana bisa tetap hidup, kalau kemarin nangkap bibit lobster sekarang harus beralih tangkap ikan, atau bertani bagi yang memang bukan nelayan,” pungkasnya. (jun)

Sumber: https://www.suarantb.com/dkp-dompu-izinkan-budidaya-lobster/

Peningkatan Produksi Jagung, Sumbar Pasang Target Konservatif

 Produksi jagung di Provinsi sumatra barat pada tahun 2020 sebanyak 935.716 ton atau kurang 59.465 ton dari target produksi yang mencapai 995.201 ton.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar Syafrizal mengatakan melihat realisasi dari target produksi yang hanya 94,02 persen, maka untuk tahun 2021 target produksi jagung di Sumbar tidak jauh berbeda dengan tahun 2020.

“Memang untuk jagung kita tidak mencapai target. Karena ada lahan sawah yang digunakan sebelumnya untuk bertanam jagung, ternyata di tahun 2020 sawah itu sudah bisa dialiri air, sehingga petani kembali menanam padi,” katanya kepada Bisnis di Padang, Minggu (24/1/2021).

Diakuinya bahwa cukup banyak perkebunan jagung di Sumbar yang lahannya itu dulunya adalah sawah tadah hujan. Dari pada membiarkan sawah ditumbuhi ilalang, maka petani pun memilih untuk bertanam jagung.

Tapi di tahun 2020 ini, ternyata ada sawah tadah hujan untuk tidak lagi ditanami jagung, melainkan kembali bertanam padi. Sebab ada beberapa daerah yang berhasil membuat irigasi, sehingga sawah yang tadi tadah hujan, kini sudah punya irigasi yang bagus.

“Di satu sisi kita senang, sawah yang dulu kering, kini sudah dialiri air, dan tidak lagi mengharapkan hujan. Artinya produksi padi di Sumbar bisa digenjot. Tapi di sisi lain, dampaknya itu produksi jagung jadi lebih sedikit,” ujarnya.

Padahal kebutuhan jagung di Sumbar cukup besar yakni sebesar 1,2 juta ton per tahunnya. Kini dengan adanya produksi jagung yang tidak sampai 1,2 juta ton, membuat Sumbar minus 200.000 ton lebih per tahunnya.

Diakuinya bahwa selama ini produksi jagung di Sumbar tak sampai 1 juta ton per tahunnya. Kendati kebutuhan jagung di Sumbar tidak mencukupi dari produksi yang ada, namun dari Pemprov Sumbar akan lebih serius untuk menggerakan pengelolaan lahan tidur pada tahun 2021 ini.

Lahan tidur di Sumbar kini mencapai 200.000 hektare dan berpotensi dikelola khususnya untuk tanaman jagung

Sumber: https://sumatra.bisnis.com/read/20210124/533/1347046/peningkatan-produksi-jagung-sumbar-pasang-target-konservatif

Kecamatan Bulango Ulu Penghasil Jagung Terbesar di Gorontalo

Kecamatan Bulango Ulu adalahsebuah kecamatan di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, yang merupakan daerah penghasil jagung terbesar di Gorontalo.

Bupati Bone Bolango Hamim Pou menyampaikan hal ini di Desa Mongiilo Utara, Kecamatan Bulango Ulu, Selasa (26/1/2021).

Hamim Pou mengatakan, di Bone Bolango terdapat tiga kecamatan yang memilki luas wilayah terbesar, yaitu Pinogu, Suwawa Timur, dan Bulango Ulu. Kecamatan Pinogu dan Suwawa Timur memiliki hutan taman nasional yang luas sementara khusus Bulango Ulu memiliki areal jagung yang luas.

Hamin mendorong agar di Bulango Ulu bisa tiga kali musim tanam untuk areal jagung, sehingga bisa menghasilkan tiga kali pendapatan dan keuntungan. “Dari 3 kali pendapatan dan keuntungan bisa ditabung yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk membangun rumah dan menyekolahkan anak,” ujar Hamim.

Hingga saat ini para petani di Bulango Ulu sudah bisa menurunkan penggunaan pupuk bersubsidi dan beralih ke pupuk organik.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Bone Bolango, Roswaty Agus, mengatakan, Kecamatan Bulango Ulu memiliki luas areal jagung 2.153 hektare. Ini berarti mencakup 34 persen dari total keseluruhan areal Bone Bolango yang luasnya sekitar 9.000 hektare lebih.

“Untuk kualitas ekspor ini harus kita perhatikan dan Alhamudulillah Pemkab Bone Bolango melalui bapak Bupati telah memberikan bantuan Dryer UV,” tambah Roswaty.

Kendala yang banyak dikeluhkan oleh para petani jagung di Bone Bolango adalah kandungan air yang tinggi dan proses penjemuran yang tidak sempurna. “Itu kami sudah diskusikan dengan Dinas Pangan ternyata ditemukan racun yang dihasilkan dari jamur yang pascapanen kita tidak perbaiki,” jelas Roswaty. Dengan diberikannya bantuan UV Dryer oleh Pemkab Bone Bolango kepada para petani di Bulango Ulu, bisa meminimalkan permasalahan di lapangan.

Sumber: https://www.beritadaerah.co.id/2021/01/27/kecamatan-bulango-ulu-penghasil-jagung-terbesar-di-gorontalo/

Pupuk Bersubsidi di Kulon Progo Terserap Seluruhnya Selama 2020

Penyerapan pupuk bersubsidi di tingkat petani seluruhnya telah terpenuhi.

Hal itu terlihat dalam capaian penyaluran hingga akhir 2020.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo, realisasi pupuk bersubsidi jenis Urea sebesar 5096,42 ton, SP-36 sebesar 649,28 ton, ZA 1513,88 ton, NPK (Ponska) 7458,06 ton dan Organik 513,47 ton. 

Sedangkan alokasi pupuk bersubsidi pada 2021 untuk pupuk urea sebesar 8.751 ton, SP-36 sebesar 951 ton, ZA 2.211 ton, NPK 6.378 ton dan Organik 422 ton. 

“Melihat alokasi ini, maka ketersediaan pupuk bersubsidi pada tahun ini aman. Hal itu bisa dilihat dengan membandingkan realisasi pupuk pada 2020 semuanya meningkat kecuali NPK,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Kabupaten Kulon progo, Aris Nugroho saat dihubungi, Minggu (31/1/2021). 

Aris melanjutkan untuk alokasi pupuk NPK yang mengalami penurunan pada tahun ini, pihaknya akan mengajukan usulan tambahan terhadap ketersediaan pupuk tersebut. 

“Karena 2019 kemarin, realisasi pupuk NPK sekitar 7.000-an tapi alokasi pupuk itu pada tahun ini baru sekitar 6.000-an,” ucapnya. 

Terlebih pihaknya tahun ini juga pertama kali mengalokasikan pupuk bersubsidi jenis organik cair sebesar 1.056 ton. 

Selain tercapainya pupuk bersubsidi, kata Aris petani yang telah tercantum ke dalam e-RDKK mengalami penambahan. 

Pada 2021, terdapat sebanyak 51.385 NIK dibandingkan 2019 yang hanya tercatat sebanyak 43.041 NIK. 

“Jadi tahun ini, jumlah petani yang masuk ke e-RDKK bertambah 8.344 petani,” terang Aris. (scp) 

SUMBER: https://jogja.tribunnews.com/2021/01/31/pupuk-bersubsidi-di-kulon-progo-terserap-seluruhnya-selama-2020

Harga Cabai Rawit Merah di Jakarta Mulai Naik, Ada Apa?

Harga cabai rawit merah di sejumlah pasar tradisional di DKI Jakarta mulai merangkak naik. Dilansir dari laman infolapangan.jakarta.go.id pada Rabu (26/1/2021) siang, harga tertinggi cabai rawit merah berada di Pasar Petojo Ilir, Jakarta Pusat yakni RP 95.000 per kilogram. Sedangkan harga terendah berada di Pasar Baru Metro Atom, Jakarta Pusat yakni Rp 40.000 per kilogram.

Sementara itu, harga cabai rawit merah di Pasar Induk Kramatjati diketahui mengalami kenaikan sekitar Rp 1.000 menjadi Rp 67.000 per kilogram. Kepala Pasar Induk Kramatjati, Agus Lamun mengatakan kenaikan harga cabai rawit merah itu dipengaruhi pasokan cabai yang mulai menipis. Hal ini disebabkan proses pemetikan cabai di daerah penghasil terkendala faktor cuaca.

Baca juga: Harga Cabai Rawit Merah di Cianjur Tembus Rp 100.000 Per Kg “Ini karena lebih kepada pengaruh cuaca yang menyebabkan terkendalanya proses pemetikan di petani, sehingga pasokan sangat sedikit dan berdampak pada harga perolehan yang juga tinggi di daerah,” kata Agus seperti dilansir Antara, Rabu. Saat ini, stok cabai rawit merah di Pasar Induk Kramatjati berkisar 22 ton. Untuk stok cabai rawit hijau adalah 3 ton, cabai merah keriting adalah 28 ton, dan cabai merah besar 7 ton. “Sejauh ini stok kita untuk di Jakarta sampai hari ini masih relatif aman. Berdoa saja semoga kondisi cuaca kembali normal dan petani juga bisa panen dengan banyak, sehingga pasokan dan harga kembali normal,” ujar Agus.

Sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2021/01/27/13523751/harga-cabai-rawit-merah-di-jakarta-mulai-naik-ada-apa

Harga Cabai Rawit Hijau Melejit, Capai Rp 80.000 per Kg

Harga cabai rawit hijau mengalami kenaikan signifikan. Saat ini harga cabai rawit hijau di pasaran melejit hingga Rp 80.000 per kilogram (kg). Biasanya harga cabai rawit hijau sekitar Rp 20.000-Rp 25.000 per kg.ADVERTISEMENTKenaikan harga cabai rawit hijau ini lantaran stok menipis di Pasar Kramat Jati, Jakarta. Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid mengatakan, stok di Pasar Kramat Jati merosot 50 persen, dari normalnya 60 ton per hari menjadi tinggal 20-40 ton per hari.“Sekarang (harga) sampai Rp 80 ribu per kilo. Ini mungkin sedikit ya, biasanya sampai 60 ton (per hari),” katanya kepada kumparan, Rabu (27/1).Berdasarkan data Info Pangan DKI Jakarta per hari ini, harga cabai rawit hijau tembus Rp 90.000 per kg di Pasar Kelapa Gading. Harga terendah Rp 55.000 per kg di Pasar Mayestik. Sementara harga rata-rata di seluruh DKI Jakarta Rp 75.278 per kg.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memperkirakan laju inflasi selama Januari 2021 masih akan tetap rendah. Berdasarkan survei pemantauan harga yang dilakukan bank sentral hingga pekan ketiga bulan ini, inflasi Januari 2021 diperkirakan sebesar 0,37 persen secara bulanan (mtm). Proyeksi tersebut lebih rendah dari realisasi inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 0,45 persen (mtm) maupun pada Januari 2020 sebesar 0,39 persen (mtm). “Dengan perkembangan harga pada bulan Januari 2021 diperkirakan inflasi sebesar 0,37 persen (mtm). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Januari 2021 secara tahun kalender sebesar 0,37 persen (ytd) dan secara tahunan sebesar 1,67 persen (yoy),” ujar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangannya, Sabtu (23/1). Dia melanjutkan, inflasi tersebut disumbang oleh kenaikan harga sejumlah komoditas bahan makanan. Utamanya pada cabai rawit yang andilnya sebesar 0,1 persen, tahu dan tempe masing-masing sebesar 0,03 persen, hingga cabai merah dan tarif angkutan antarkota masing-masing sebesar 0,02 persen.

Sumber: https://kumparan.com/kumparanbisnis/harga-cabai-rawit-hijau-melejit-capai-rp-80-000-per-kg-1v3hX364Tyc

Harga Pangan Terjun Bebas, Cabai Merah Turun 39 Persen

Harga turun lebih dari 20 persen di sejumlah komoditas. Penurunan terbesar terjadi pada komoditas cabai merah besar sebesar 39,29 persen atau Rp18.900 menjadi Rp29.200 per Kg.

Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), Senin (25/1), harga cabai merah besar terendah ada di Banyuwangi, yaitu Rp26.750 dan tertinggi di Surabaya Rp32.750.

Selain cabai merah besar, penurunan lebih dari 20 persen terjadi pada harga cabai merah keriting sebesar 26,5 persen atau Rp13.700 ke Rp38 ribu per Kg

Harga terendah tercatat di Probolinggo sebesar Rp25 ribu per Kg dan tertinggi di Surabaya yakni Rp47.500 per Kg. Selain komoditas cabai, harga telur ayam ras segar pun turun lebih dari 20 persen yakni 22,39 persen atau Rp6.100 menjadi Rp21.150 per Kg.

Harga bawang putih pun turun hingga 20,92 persen atau sebesar Rp5.900 ke Rp22.300 per Kg. Sedangkan bawang merah ukuran sedang turun 19,63 persen atau Rp6.350 ke Rp26 ribu per Kg.

Harga beras kualitas super II pun turun 15,35 persen atau Rp1.950 menjadi Rp10.750 per Kg. Sedangkan beras kualitas medium II turun 12,88 persen atau Rp1.500 menjadi Rp10.150 per Kg.

Komoditas lain yang turun tipis yakni harga daging ayam ras segar sebesar 4,75 persen atau Rp1.650 menjadi Rp33.100 per Kg. Harga gula pasir turun tipis 4,14 persen menjadi Rp15.050 per Kg dan minyak goreng kemasan bermerk I turun 7,59 persen ke Rp14 ribu per Kg.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210125114836-92-597966/harga-pangan-terjun-bebas-cabai-merah-turun-39-persen

Mahal! Harga Cabai Rawit di Jakarta Barat Melonjak

Harga cabai rawit di pasar tradisional di Jakarta Barat mengalami lonjakan dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan atau KPKP Iwan Indriyanto menyebutkan lonjakan terjadi pada harga cabai rawit merah dan hijau.

“Untuk cabai rawit rata-rata masih tinggi, ada yang mencapai Rp86 ribu per kilogram,” kata Iwan di Jakarta, Kamis (21/1/2021).

Adapun harga cabai rawit sebelumnya berkisar di harga Rp60 ribu. Kenaikan harga cabai rawit tersebut terjadi di sejumlah pasar seperti Pasar Kalideres, Pasar Tomang Barat, Pasar Ganefo, Pasar Pos Pengumben, Lokbin Meruya, Pasar Pecah Kulit dan Pasar Jembatan Besi.

Untuk mengatasi lonjakan harga cabai yang semakin tinggi, Sudin KPKP Jakarta Barat mengelar Gerakan Pangan Murah untuk menjual langsung beberapa komoditas pangan di bawah harga pasaran. Gerakan Pangan Murah tersebut bekerjasama dengan Perumda Pasar Jaya dan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pasar Tomang Barat, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Di sana, disediakan delapan komoditas seperi beras, gula pasir, minyak goreng, cabai merah keriting, cabai rawit keriting,cabai rawit merah, bawang merah, bawang putih dan telur ayam.

Cabai rawit merah dijual sekitar Rp60 ribu per kilogram. Selain itu, cabai merah keriting dijual seharga Rp40.000 per kilogram.

“Gerakan Pangan Murah melalui penjualan langsung guna menekan tingginya harga tersebut,” ujar Iwan. (Antara)

Sumber: https://www.suara.com/bisnis/2021/01/21/142545/mahal-harga-cabai-rawit-di-jakarta-barat-melonjak