Ginta Wiryasenjaya, Petani Muda Sukses Yang Menanam Kangkung

Sobat milenial, tak sedikit orang meragukan jadi petani bisa sukses dan menghasilkan banyak uang, siapa sangka kisah sukses petani kangkung jadi viral dan mengubah ‘nasib’banyak orang, Senin (16/4/2018).

Berawal dari Milesia.id mendapatkan link tautan media sosial Facebook tentang petani kangkung yang sukses menghasilkan Rp 97 juta per bulan dengan cara cerdik.

Pada postingan tersebut petani kangkung hanya bermodal lahan sempit untuk menanam kangkung.

Petani tersebut menggunakan teknik hidroponik yakni budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah. Biasanya petani menggunakan paralon.

Teknik hidroponik ini menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman, bahkan kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah.

Kisah viral tersebut berasal dari postingan pemilik akun Facebook dengan nama Ginta Wiryasenjaya, Milesia.id kemudian mencoba menghubunginya.

Via telepon Ginta yang seorang pengusaha di Lampung lalu beberkan kisahnya.

Pria yang juga bagian dari Tim Infrastruktur Pemprov Lampung ini mengaku kaget postingannya bisa jadi viral, padahal itu postingan sudah sejak tahun lalu.

Melalui telepon Ginta lalu menjelaskan kalau ia posting kembali cara cerdik praktisi hidroponik Charlie Tjendapati yang menjelaskan bagaimana menanam kangkung dengan cara ini dan didapatkan hitungan pendapatan hingga Rp 97 juta per bulan.

Setelah ia posting menanam kangkung dengan cara hidroponik, di Lampung kini menanam hidroponik menjadi tren baru.

“Kini menanam cara hidroponik sudah ada di perumahan-perumahan di Lampung, bahkan ada jasa untuk membuat saluran hidroponik hingga warga perumahan bisa menanam sayuran,” ujar Ginta.

Kini banyak warga yang memanfaatkan cara hidroponik untuk menanam sayuran di halaman rumah, minimal para warga bisa memanfaatkan sayuran yang ditanam sendiri.

Ternyata hanya berbekal tulisan viral bisa ubah wajah Lampung.

Abdul Malik Umar, Petani Milenial Dari Langgudu

Berbekal ketelatenan dan kesabaran, Budidaya Tanaman sayurannya Terbilang memberikan banyak keuntungan. Kenapa Tidak, Di tiap tahunnya, permintaan terhadap sayuran selalu meningkat cukup signifikan. Mengingat sayuran di pasar memang menjadi kebutuhan pokok yang kaya akan gizi.

Budidaya sayuran ini bisa menjadi inspirasi petani pemula. Terlebih lagi, ada banyak jenis sayuran yang mudah ditanam dan bisa di panen lebih cepat.

Ditemui dikediamannya (Selasa, 11/06/’19) Abdul Malik Umar atau bisa di panggil Ompu La Angga yang kini berusia 65 Tahun, memang bukan lagi usia yang produktif. Namun beliau, masih terlihat kuat dan konsisten dalam menjalankan usaha Budidaya tanaman sayurnya. Satu-satunya Petani sayur sukses banyak diuntungkan karena hasil panennya selalu ditunggu-tunggu masyarakat khususnya di Wilayah Kecamatan Langgudu.

Dalam menjalankan usaha budidaya sayurnya, Ompu La Angga awalnya belajar secara otodidak. Hal itu sudah dilakoninya kurang lebih 10 tahun.ermodalkan pembelian bibit Tanaman Sayuran seharga 100rb per bibit, lahan seluas 14 are sekitar rumahnya, disulap dan dikelola dengan aneka jenis sayuran, seperti Kol, cabai, tomat, Kangkung, Bayam, Kacang Panjang, Pepaya dan lainnya.

Menurutnya Jenis tanaman sayur jauh lebih gampang jika dibandingkan bertani Jagung dan Kacang Tanah. Terlebih lagi, petani dapat menggarap lahan yang sama sampai berkali-kali panen tanpa harus membuka lahan baru.

Dalam perhitungannya, apabila bertani Sayur keuntungannya jauh lebih tinggi sebab hanya umur 65 hari berbagai jenis tanaman sayur sudah dapat di panen dan dijual. Dalam sepekan, Ompu La Angga mampu menghasilkan uang mencapai Rp. 1,5 juta. Artinya dalam setahun mencapai 72 juta. Kangkung adalah Sayur andalannya.

Al-hasil, dengan penghasilannya Bertani Sayur, Ompu La Angga kini mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang Magister. Dari ke-4 buah hatinya Ompu La Angga mengaku bangga dan bersyukur dengan karir anak-anaknya yang sukses meraih Gelar Sarjana dan Sudah Bekerja.

Muhammad Nur, Petani Muda Yang Sukses Menanam Buah Naga

Muhamad Nur merupakan petani buah naga yang sukses di Kabupaten Sukabumi. Di usianya yang menginjak 47 tahun, Nur tinggal menikmati hasil yang dirintisnya sejak 2009. Bagaimana perjalanan kesuksesan Muhamad Nur sebagai petani buah naga? simak kisahnya!DI temui di kebunnya di Kampung Cigadog RT 04/05, Desa Neglasari, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Nur tengah memanen buah naga hasil budi dayanya. Panen ini merupakan kesekian kalinya karena ia menanam buah naga sejak 2009.

“Iya, saya mengawali menanam buah naga ini sejak 2009,” ujar Nur membuka pembicaraan.Muhamad Nur merupakan seorang perantau. Dia datang ke Sukabymi pada 1993 silam. Awal datang ke Sukabumi ia sempat berjualan pakaian di pasar tradisional. Baginya, apapun akan dikerjakan selama pekerjaan itu menghasilkan rezeki halal.

Seiring perjalanan waktu, Nur pun mulai membuka diri dengan melihat peluang usaha lain yang bisa dikembangkan. Bermodal kemampuannya bertani saat di Sumatra, Nur pun mencoba mengumpulkan uang untuk membeli lahan.

Singkat cerita ia pun berhasil mengumpulkan uang yang digunakan membeli tanah seluas 7 ribu meter persegi. Saat itu Nur mulai menanam benih buah naga. Ternyata lahan yang ditanaminya cocok membudidayakan buah naga.

“Di Sumantra, buah naga cocok ditanam di lahan di sana. Makanya saya coba kembangkan di sini. Waktu itu bibitnya saya bawa dari Sumatra,” ucapnya.Kini Nur sudah memiliki 1.500 pohon buah naga. Lahannya banyak dijadikan percontohan. Bahkan tak sedikit yang datang dari luar daerah. “Sambil memberikan pelajar, saya juga berbisnis karena lahan dijadikan agrowisata,” ucapnya.Para pengunjung di kebunnya bisa mencicipi buah naga sepuasnya. Ia membanderol harga Rp15 ribu per kilogram. Dalam satu tahun buah naga hanya satu kali dipanen. Sekali panen Nur bisa menghasilkan 3 ton buah naga.

“Saya pasarkan juga ke pasar di luar daerah. Tapi sekarang hanya memasok di Sukabumi saja. Banyak permintaannya. Buah naga saya merah dan ungu tua,” ujarnya.

Abdul Qohar, Petani Milenial Yang Sukses Menanam Pepaya

Petani sukses yang mampu meraup omzet besar dari bertani adalah Abdul Qohar. Dari hasil bertani pepaya Calina, ia mampu dapat omzet hingga Rp 18 juta per bulan.

Dulunya banyak orang yang menyebut Abdul Qohar gila karena bertani pepaya. Karena wilayah yang dijadikannya sebagai areal pertanian terkenal sebagai lahan kering.

Toh dia gak peduli pendapat orang. Pria kelahiran 1958 ini bekerja keras menyulap lahannya menjadi produktif. Hasilnya, Abdul Qohar sukses sebagai petani pepaya.

Karena kesuksesannya inilah, petani dari Desa Candisari, Kecamatan Sambeng ini menjadi inspirasi petani-petani lainnya buat bertani pepaya. Sampai-sampai mereka membentuk kelompok tani yang bernama Kelompok Tani Godong Ijo Sejahtera.

Serka Zaenal Salam,Anggota TNI Jadi Petani Muda Yang Sukses Menanam Cabai

Belajar otodidak melalui internet seperti google dan youtube hingga mempraktekkan sendiri di kebun miliknya, Serka Zaenal Salam, seorang Anggota Tni Kodim 1402 Polmas, Polewali Mandar Sulawesi Barat, sukses jadi petani cabe dan palawija. Hasil produksi cabe dan tanaman palawija miliknya ia pasok ke pasar-pasar tradisonal untuk menopang stok sayur mayur di pasaran.

Bekal kemampuan dan pengetahuannya bercocok tanam yang luas itulah ia ditunjuk atasannya menjadi mentor bagi kelompok tani, dan calon babinsa yang diberi bekal pengetahuan bercocok tanam, agar bisa menjadi motivator petani dalam meningkatkan pendapatan mereka di wilayah binaannya.

Sabtu pekan lalu, anggota Kodim 1402 Polewali Mandar ini sudah sibuk jadi mentor kelompok tani yang tengah menghadapi berbagai serangan hama dan penyakit tanamannya di keluarahan Darma, kecamatan polewali, kabupaten polewali mandar, sulawesi barat.

Keompok tani yang mengadu karena stres dan bingung bagaimana mengatasi serangan hama dan penyakit pada tanaman cabe, tomat dan tanaman palawija lainnya, ia datangi dan mebimbing petani mengatai masalahnya sendiri. Dengan pengetahuan dan pengalamanya yang mendalam soal tata cara bercoock tanam, Zaaenal mudah ia mengenali berbagai jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman, termasuk memberikan solusi atau tata cara penaggulangannya.Karena alasan itulah, Zaenal yang belajar budidaya tanaman Cabe, padi dan palawija secara otodidak melalui internet seperti google dan youtube, ia kemudian ditunjuk atasannya menjadi mentor atau memberikan bimbingan gratis kepada para kelompok tani dan calon babinsa di Polrewali mandar. Zaenal membimbing dan mendorong warga bercocok tanam, guna mengembangkan kemampuan dan pendapatan ekonomi keluarganya.

“Mulanya saya mengamati di pasar, ternyata banyak produk komoditi termasuk pertanian justru datang dari luar daerah. Sejak itulah saya pulang ke rumah belajar sendiri dengan bantuan internet. Saya rutin buka-buka google dan youtube, dari sana saya belajar keras dan mempraktekkan sendiiri di kebun saya hingga saya saya akhirnya banyak tahu. Mungkin itulah saya ditunjuk jadi mentor kelompok tani termasuk teman-teman calon Babinsa,”jelas Serka zaenal, mentor dan motivator petani di polewali mandar.Selain mengedukasi petani tata cara budaya tanaman padi dan palawija, mulai dari proses garap, teknik pemupukan dan penanggulangan hama dan penyakit, hingga panen, zaenal juga kerap mengajak petani binanaya menjadi virus penegtahuan bagi petani lain di sekitarnya.

Zaenal tak hanya membimbing kelompok tani di polewali mandar, ia juga memiliki dua lokasi perkebunan cabe dan tomat yang ia kelola sendiri. Ilmu pertanian yang ia pelajari dan praktekkan langsung di lahannya itu juga yang ia terapkan kepada kelompok tani dan teman-teman babinsa yang menjadi binaannya.

Lokasi zaebal sekitar setengah hektar, yang separuhnya ditanani cabe dan lainnya ditanami teurung dan tanaman produktif lainnya mampu menghasilkan hingga lebih 40 kilogram cabe persekali panen. Denagn harga jula rp 38.000 perkilogramnya, ia bisa mengasilkan 1,5 juta perseklai panen dalam tiga hari.

Zaenal tak hanya menikmati hasil pertanian dan perkebunnnya yang melimpah seorang diri. Kebun cabe dan terung kelompok binaannya yang memanfaatkan lahan tidak produktif di kelurahan manding dan darma misalanya kini menjadi sumber pendapatan yang menguntungkan.ahan cabe dan terung seluas 25 are di kelurahan manding ini misalnya, mampu menghasilkan pendapatan harga cabe hingga jutaan rupiah persekali petik. Saat panen perdanan lahan cabe dan terung yang tak lebih dari 10 are milik sukiman di kelurahan manding sabtu kemarin (26/10/2019) mislanya, mampu mengasilkan 29 kilogram cabe. Dengan harga jula rp 38.000 perkilogramnya, ia bisa menghasilkan pendapatan hingga satu juta lebih.

Jadwal pemetikan atau panen cabe umumnya dilakukan rutin 3 hari sekali. Pada puncak panen ke 6, 7 dan 8 hasilnya bahkan diperkirakan bisa lebih besar hingga 40 kilogram atau setara dengan rp 1,5 juta rupiah. Jika harga cabe melonjak hingga rp 60 ribu perkilogram, seperti tahun-tahun sebelumnya, pendapatan petani bisa lebih besar lagi.

Sejumlah kelompok tani di polewlai mandar yang menjadi binaan zaenal kini termotivasi menggarap dan mengembangkan lahan produktif mereka menjadi sumber pendapatan utama bagi keluarga mereka.

Nursam, petani asal kelurahan darma, polewali mandar ini mislanya mengaku kini mulai melek tata cara bercoock tanam yang menguntungkan tanpa harus trauma dengan gagal tanam yang kerap menghantui petani karea ketidak tahuan ,ereka mengatasi masalahnya sendiri

Nursam mengaku bangga karena mendapat bimbingan langsung di lokasi lahan perkebunan atau pertaniannya. Ia diajari ulai dari tata cara mengolah lahan, menanam, pemupukan higga tata cara menaggulangi haa dna penyakit yang kerap mebuat petani stres.

“Dulu kita selaai takut gagal panen karena memamng beragam serangan hama termasuk teknik pemupukan yang baik dna benar tidak banyak diketahui petani, mereja hanya bertani secara tradisional yang diwariskan orang tuanya. Setelah dibimbing terus menerus oleh pak ZenaL Alhamdulillah kini kulai bisa mengatasi masalahnya sendiri,”jelas Nursam, petani setempat

Petani yang mengalami kesulitan atau gangguan hama dan penyakit di lahannya tak segan-segan menghubungi zaenal untuk mendatangi lokasi kebun atau persawahan mereka untuk mengetahui jenis hama dan penyakit yang menyerang tanamannya.

Para petani yang selama ini bertani secara konvensional, kini bersuykur karena sudah mulai mahir bercock tanam lebih maju, termasuk mengetahui tata cara pemupukan yang berimbang hingga bisa mengenali gejala hama dan penyakit yang menyerang tanaman cabe, terung, pare, mentimun dan tanaman ekonomis lainnya.

Nursam mengaku legah dan senang, karena petani yang biasanya stres karena gagal panen akibat serangan berbagai jenis hama dan penyakit yang tak bisa ditangulangi sediri, seperti, kutu daun, trips, ulat buah (bekkang alias ulat tentara karena warnanya baret), kini perlahan sudah mulai bisa diatasi sendiri.Petani lainnya, irawati dan suaminya mengaku bersukur sejak mendapat bmbingan intensif tentang tata cara budidaya tanaman cabe dan tomat, kini ia sudah mulai paham tata cara menanggulangi hama dan penyakit pada kedua tanamannya tersebut.

Selama ini saat tanaman cabe dan tomatnya terserang hama sering gagal panen karena serangan hama dna penyakit pada tanamannya tak ia ketahui bagaimana cara mengatasi atau menagggulanginya.

“Mulanya saya hanya menanam saja, kalau terserang penyakit jadi bingung bagaimana mengatasinya. Tapi karena mendapat bimbingan terus menerus sejak garap hingga panen, saya pelan-pelan mulai bisa merawat sendiri, sambil minta bantuan pak Zenal kalau ada masalah baru, terutama kalau terserang hama baru,”jelas Irawati, petani tomat dan cabe di kelurahan Darma

Setelah lebih dari dua tahun menjadi mentor tani, zaenal mengaku bangga karena sebagian besar petani binaanya kini sudah mulai mandiri. Sebagain petani kelompoknya yang semula banyak gagal panen lantaran tak mengenali tata cara bercocok tanam yang baik dan benar, termasuk mengatasi gangguan hama dan penyakit pada tanamannya, kini sudah mulai cerdas dan belajar mengatasi masalahnya sendiri. Zaenal umumnya hanya atangi petani yang menemukan gejala hama dna peyakit baru yang tak bisa ditangani petani sendiri.

Zaenal berharap pengetahaun tata cara bertani atau bercocok tanam yang baik dan benar yang ia viruskan ke petani, kelak tak ada lagi lahan produktif yang bisa menopang perekonomian atau pendapatan keluarga di pedesaan yang disia-siakan karena ketidaktahuan petani.

Zaenal mengaku menikmati perannya sebagai mentor tani. Saat mengedukasi petani di lahannya, zaenal mengaku ilmu pertanian dan perkebunannya yang ia pelajari secara luas di internet malah makin bertambah.

Pria asal camba maros sulawesi selatan yang bertugas di kodim 1402 polmas ini mangku bangga, saat kelompok tani yang kesulitan mengatasi masalahnya, seperti adanya serangan hama dan penyakit pada tanaman mereka, mengadukan maslahanya atau meminta dirinya mendatangi lokasi kebun atau areal perswahan mereka yang terserang hama dan penyakit.

Alasannya kelompok tani dan anggota babinsa binaannya juga kerap menghadapi masalah yang berbeda mulai dari beragam hama dan penyakit yang neyerang tanaman petani, teknik pemupukan berimbang hingga mengenali kondisi ph tanah yang baik, agar tumbuh kembang tanaman di atasnya bisa lebih tumbuh subur dan produktif.

Zaenal berharap pengabdiannya mempiruskan semangat bertani atau bercocok tanam yang baik dna benar secara luas di kelompok binananya, kelak bisa mengedukasi lebih banyak petani, terutama mereka bisa cekatan atau trampil mengatasi masalahnya sendiri.

Tanfidzul Khoiri,Petani Milenial Dari Wonosobo

Namanya Tanfidzul Khoiri, duta petani muda 2014 yang sukses di bidang pertanian. Kisahnya bermula dengan beternak domba. Yuk, simak kisah lengkapnya!

Riset menunjukkan tak banyak orang tua yang ingin anaknya terjun ke dunia pertanian. Namun orang tua M. Tanfidzul Khoiri boleh dibilang menjadi sedikit dari orang tua yang menentang arus utama itu.“Ayah saya melakukan aktivitas bertani dan ingin salah satu anaknya jadi petani atau peternak, maka dicobalah pada saya, setelah kakak saya tidak berminat,” ujarnya di acara Obrolin Pangan #14 yang bertajuk: ‘We Are Youngster and A Farmer’ yang digelar secara daring, Selasa 30 Juni 2020.

Kisah terjunnya Khoiri di usaha pertanian, khususnya peternakan domba wonosobo (dombos) secara terpadu, bermula di tahun 2011 lalu. Saat itu memasuki kelas 3 SMK bidang kimia organik, Khoiri harus menjalani program magang selama 3 bulan sebagai syarat kelulusan.“Awalnya orientasi saya ke industri pabrik petrokimia, tetapi tidak lolos,” ujarnya.Nah, lantaran ayah Tanfidzul Khoiri ingin salah satu anaknya menjadi petani, maka Khoiri pun diarahkan untuk melaksanakan magang di sebuah perusahaan milik kawan ayahnya yang bergerak di bidang produksi pupuk organik.

Maka jadilah pemuda kelahiran 16 Mei 1993 itu, mulai terjun ke dunia pertanian. “Selama 3 bulan, saya belajar membuat pupuk organik, olahan pakan ternak, dan sebagainya,” ujarnya.Tahun 2012, setelah lulus SMK, berkat skill selama 3 bulan magang itu, Khoiri merasa nyaman terjun di dunia pertanian.

“Terbiasa membuat pupuk, kemudian di rumah memang ada bangunan yang mendukung untuk dijadikan kandang tempat usaha. Kebetulan juga bapak saya punya proyek pasar kurban yang menampung hewan ternak, mulai dari situ, saya bergerak di bidang pertanian,” papar Khoiri.Sembari berusaha, dia juga mengambil kuliah kelas karyawan, mengambil jurusan akuntansi. Di tahun 2012 itulah, Khoiri mendirikan Kandank Oewang, yang merupakan peternakan domba wonosobo (dombos) terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Saya peternak by design, bukan tiba tiba jadi petani, by design dari lingkungan keluarga yang basic-nya bukan petani tetapi menyukai pertanian,” tegas Khoiri.Ada tiga kegiatan usaha yang dilakukan Khoiri di Kandank Oewang. Di hulu, dia melakukan penanaman hijauan untuk bahan pakan ternak, pembuatan silase (pakan berkadar air tinggi hasil fermentasi yang diberikan kepada hewan ternak ruminansia), dan pengembangbiakan domba wonosobo.

“Prinsipnya, kenapa menanam dan beternak, karena pertanian dan peternakan tidak dapat dipisahkan. Prinsip yang kami bawa adalah pertanian sebagai awal peternakan dan peternakan sebagai akhir dari pertanian,” jelas Khoiri.Di hilir, Kandank Oewang melaksanakan bisnis penjualan daging kambing, domba untuk aqiqah, dan catering serta kuliner berbahan dasar daging kambing atau domba.

Kemudian, di sektor pengolahan, Kandank Oewang juga menjalankan usaha pengolahan limbah menjadi pupuk organik hayati dengan bahan baku kotoran hewan yang dicampur limbah pertanian.Berikutnya adalah sektor pendukung yaitu penjualan alat pertanian. “Sifatnya online sehingga bisa dijual ke seluruh Indonesia, mulai dari produk peternakan, obat-obatan, jamu, buku materi peternakan, juga alat mekanisasi peternakan,” jelas Khoiri.

Kandank Oewng juga membuka usaha kunjungan atau farm trip bagi anak-anak muda yang mau belajar dan melakukan praktik magang. Usaha pelatihan peternakan ini diampu oleh Koperasi P4S.Koperasi itu sendiri didirikan Khoiri untuk menjalankan usaha jual beli yang sifatnya skala besar seperti pembelian obat-obatan, dan mengedarkannya ke anggota serta ke wilayah lain yang bisa dijangkau.

Dari sekian sektor yang dijalankan, boleh dibilang, usaha di sektor hilir, yaitu penjualan inilah yang menjadi inti usaha Kandank Oewang.

Khoiri mengatakan, mentornya dalam berbinis peternakan mengajarkan, memulai usaha peternakan juga pertanian memang sebaiknya dimulai dari penjualan bukan produksi.

“Kalau produksi membutuhkan banyak modal, kita jadi banyak utang, menumpuk beban. Kalau dari jualan, misalnya menjual kambing, bisa memulai dengan modal sedikit bahkan tidak perlu modal, nah dapat fee itu yang nanti diputar untuk menjadi modal usaha. Sampai saat ini di selling yang kita genjot, keuntungannya untuk berproduksi,” jelas Khoiri.

Dwi Murtuti Rahayu, Petani Muda Asal DIY Sukses Berbisnis Coklat

Kesuksesan Dwi Murtuti Rahayu, pengusaha coklat asal Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki makna tersendiri.

Ia berperan bak pahlawan bagi orang lain. Dwi meraih kesuksesan berkat usahanya, Won.Dis Cokelat yang tidak ia nikmati sendiri.

Keuntungan dan manfaat yang dibawa Won.Dis Cokelat dirasakan para petani kakao dan masyarakat di Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo.Cerita sukses Dwi bermula sekitar 8 tahun lalu. Pada 2012, Dwi mengaku mulai memiliki ide untuk mengolah tanaman pegagan. Berbagai produk berbahan dasar pegagan mulai diproduksinya.

Setahun berlalu, upaya Dwi mengolah pegagan menarik perhatian masyarakat. Hingga akhirnya, para tetangga Dwi ingin turut serta dalam kegiatan usaha tersebut. Akhirnya, mulai 2013 Dwi dan tetangganya mendirikan Kelompok Wanita Tani (KWT) Pawon Gendis.Setelah KWT Pawon Gendis berdiri, Dwi kembali memiliki ide untuk mengolah pegagan secara unik: dicampur dengan cokelat.

Ide ini lantas segera direalisasikan, hingga akhirnya KWT Pawon Gendis memproduksi berbagai kudapan berbahan pegagan dan cokelat seperti permen, bubuk, serta cemilan.

“Won.Dis Cokelat ini unit usaha saya pribadi, tapi menjadi satu kekayaan unit usaha di KWT Pawon Gendis. Bisnis saya itu utamanya sebagai produsen olahan kakao. Pengembangan dari usaha itu karena banyaknya pengunjung yang datang, baik itu untuk membeli oleh-oleh atau edukasi mengenai tanaman pangan lokal,” kata Dwi ketika dihubungi baru-baru ini.

Heri Tahan Muji, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Kopi

Kerja keras petani milenial dalam mengembangkan komoditas perkebunan khususnya kopi, berbuah manis. Hal ini dibuktikan salah satu petani milenial asal Desa Sekarmojo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan yang sukses memetik hasilnya.


Adalah Heri Tahan Muji, 36, petani milenial yang giat dan tekun melaksanakan program Ditjen Perkebunan Kementan melalui Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya.
Menurut Kepala BBPPTP Surabaya Kresno Suharto, pada 2018 Direktorat Jenderal Perkebunan melalui Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya memilih Kelompok Tani Candi Mulyo untuk bergabung dalam program Sertifikasi Desa Pertanian Organik berbasis komoditas perkebunan. Berbagai kegiatan pembinaan mulai dari budidaya, pengendalian hama dan penyakit secara organik, peralatan pasca panen, dan pemasaran telah diberikan kepada Kelompok Tani Candi Mulyo.

Heri adalah anggota Kelompok Tani Candi Mulyo. Kelompok Tani Candi Mulyo merupakan Binaan Ditjen Perkebunan pada program Sertifikasi Desa Pertanian Organik berbasis komoditas perkebunan. “Saya menanam kopi mulai tahun 2002 sampai sekarang,” ucap Heri (5/10/2020).
Heri menjelaskan, bahwa dirinya mulai menanam kopi bersama anggota kelompok tani lainnya mulai dari luasan 1 ha dan saat ini telah mencapai 15 ha. “Pada awalnya Kelompok Tani Candi Mulyo ini menjual kopi dalam bentuk buah cery kepada tengkulak dengan harga yang relatif murah. Yaitu untuk robusta dihargai Rp5.000/kg dan arabika dihargai Rp8.000/kg. Kami menjual kopi dalam bentuk buah cerry karena tidak memiliki pengetahuan serta peralatan pasca panen.”


Pelan tapi pasti, Heri yang ditugasi oleh Kelompok Tani Candi Mulyo di bagian pasca panen dan pemasaran kini membuktikan dapat menghasilkan kopi dengan berbagai jenis olahan. Mulai dari Natural, Semiwash, fullwash, Wine dan Honey, baik robusta maupun arabika.
Semua hasil panen kopi anggota kelompok tani dibeli oleh Heri untuk diproses hingga menjadi kopi yang enak dan nikmat. Dalam satu bulan heri mampu menjual kopi hingga 2.500 kg/bulan dengan omset rata-rata Rp100 jutaan. Selain itu turut membuka lapangan pekerjaan bagi ibu-ibu dan pemuda masyarakat sekitar untuk membantu dalam proses pasca panen. Mulai dari sortasi buah, fermentasi, soratasi biji, sangrai, packing, promosi, dan pemasaran.


Heri memberi nama kopinya dengan merk ‘Kopi Lesung Arjuno’. Kopi ini memiliki kualitas premium yang ditanam di lereng Gunung Arjuno dengan ketinggian 1.300 mdpl. Ini menghasilkan rasa kopi yang khas dan berkarakter. Kopi lesung dibudidayakan oleh Kelompok Tani Candi Mulyo dan saat ini telah mendapatkan sertifikat Organik berstandar Eropa. Bayu Aji Nugroho selaku POPT BBPPTP Surabaya dan pendamping desa organik mengatakan bahwa untuk mencapai ini dibutuhkan komitmen dan sinergi yang solid dari seluruh anggota kelompok tani. Perlu anak muda seperti Heri ini karena sangat menginspiratif, dapat memotivasi dan tekun mengembangkan kopi. Sehingga dapat menghasilkan kopi yang berkualitas dan menambah pendapatan petani. Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, pada peringatan Hari Tani Nasional di Jakarta, September lalu (24/9), yang menyatakan bahwa peran petani milenial amat dinanti negara untuk bisa menciptakan inovasi pertanian dari hulu ke hilir. Sehingga menciptakan nilai tambah komoditas pertanian. Para petani milenial harus terus didukung agar bisa memacu tumbuhnya petani-petani muda yang baru.

Poppy Karisma Lestya Rahayu,Petani Muda Dari Jawa Timur

Kisah seorang wanita bernama Poppy Karisma Lestya Rahayu bisa menjadi contoh bagi anak muda di luar sana.

Poppy wanita yang berasal dari keluarga petani ini kini menjadi pemilik kos-kosan mewah ala hotel di Kabupaten Indramayu.

Di usianya yang masih muda kini dia sukses menjadi miliarder.

Poppy Karisma Lestya Rahayu mengaku sudah memiliki cita-cita sebagai wanita karier sejak masih duduk di bangku sekolah.

Berasal dari keluarga petani di daerah Nganjuk, Jawa Timur mengharuskannya lebih mandiri karena juga harus menjadi tulang punggung keluarga.

“Memang saya dari kecil juga sudah seneng berjualan dan berbisnis,” ucap dia saat ditemui di D’Modern Kost Indramayu yang berlokasi di Jalan Mayor Dasuki, Desa Penganjang, Kecamatan Sindang, Kamis (5/11/2020).

Di Kabupaten Indramayu sendiri, Poppy Karisma Lestya Rahayu sudah tinggal selama 5 tahun.

Ia kini sudah menikah dan memiliki 2 orang anak.

Poppy Karisma Lestya Rahayu mengaku ingin di usianya yang masih muda bisa bermanfaat, khususnya untuk masa depan anak-anaknya kelak.

Ia pun melihat peluang bisnis dengan mendirikan kos-kosan.

Lokasi yang berada di kawasan perkantoran dan lembaga pendidikan menurutnya sangat cocok untuk dikembangkan sebagai sektor bisnis.

Poppy Karisma Lestya Rahayu juga ingin, bisnisnya tersebut memiliki nilai lebih dibanding bisnis serupa lainnya.

Hal tersebutlah yang mendasari D’Modern Kost Indramayu didesain mirip seperti apartemen.

Fasilitasnya pun tak kalah dibandingkan hotel.

Poppy Karisma Lestya Rahayu mengatakan, D’Modern Kost Indramayu memiliki banyak fasilitas, mulai dari kamar mandi di dalam, tempat tidur, lemari, dapur mini, AC, TV, tempat parkir luas, dan masih banyak lagi.

Total ada 49 kamar dan 4 kios yang dimilikinya.

Kabar baiknya, walau seperti hotel, harga yang ditawarkan Poppy Karisma Lestya Rahayu untuk kos-kosan miliknya itu sangat murah.

Ada 4 type kamar yang ia sewakan, mulai dari harga Rp 550 ribu per bulan untuk kelas ekonomi hingga Rp 1,8 juta per bulan untuk kelas super VVIP.

Hal ini pula yang membuat kos-kosan yang ia buka pada 3 minggu lalu itu terisi penuh, bahkan sebelum di-launching sudah banyak yang memesan kamar.

“Responsnya orang-orang yang ke sini begitu, fasilitasnya bagus juga murah, sampai harus nolak karena sold out,” ucap dia.

Bahtiar, Petani Milenial Asal Pinrang

Salah satu faktor penentu kemajuan pertanian di masa mendatang melalui pengembangan usaha agrobisnis yang dilakukan generasi milenial. Estafet petani selanjutnya adalah kepada mereka yang mempunyai inovasi dan gagasan kreatif dan bermanfaat bagi kelangsungan pertanian.

Hal inilah yang membuat Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menaruh harapan pertanian pada generasi milenial.

Kini banyak petani milenial yang telah menjadi pengusaha dalam sektor pertanian, salah satunya Bahtiar. Pemuda asal Pinrang ini memulai bisnis di bidang pertanian setelah mengikuti Program Magang Jepang yang difasilitasi oleh Kementerian Pertanian pada tahun 2012.

Setelah kembalinya dari Jepang, Bahtiar memulai usaha di bidang pertanian dengan komoditas padi, jagung dan beternak sapi sekaligus mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Alam Indah.

Awal kesuksesan Bahtiar dimulai ketika kelompok tani (poktan) tempat dia bernaung mendapat bantuan alat panen padi (Combine Harvester). “Alhamdulillah, alat ini dikelola secara profesional bersama anggota kelompok tani lainnya. Karena prospeknya yang bagus, maka saya memberanikan diri untuk membeli 1 unit Combine Harvester yang besar. Dari hasil keuntungan combine, digunakan kembali untuk menambah armada 1 unit combine harvester, sehingga saat ini memiliki tiga armada, 1 unit milik kelompok dan 2 unit milik pribadi,” terang Bahtiar.

Dari tiga unit Combine yang beroperasi saat ini, Bahtiar telah mempekerjakan 21 karyawan. “Satu unit combine harvester rata-rata menghasilkan 45 juta per bulan dengan keuntungan bersih 30 Juta/unit,”kata Bahtiar.

Lebih lanjut diutarakan Bahtiar, rata-rata combine harvester miliknya beroperasi normal selama 7 bulan dalam 1 tahun. Termasuk 2 unit Combine Harvester yang dimilikinya secara pribadi selalu beroperasi full time dari satu daerah ke daerah lainnya yang sedang panen. “Satu hal yang patut kita syukuri adalah panen hampir sepanjang tahun di Sulsel, sehingga alat bisa beroperasi secara maksimal, apalagi di masa Covid 19 ini, pertanian sangat terbantu dengan adanya alat mesin pertanian” terang Bahtiar.

Tak cuma itu, Bahtiar juga melebarkan sayap bisnisnya dengan membangun peternakan ayam petelur. “Alhamdulillah sudah mulai berproduksi. Pada awalnya membeli bibit muda sebanyak 2.000 ekor dengan harga 57.000 per ekor. Kandang ini dikelola oleh 2 orang karyawan,” sambung Bahtiar.

Ia berharap semoga semakin banyak generasi muda yang terjun ke bidang pertanian. “Pertanian itu sangat menjanjikan, dan ke depan, siapa yang menguasai pertanian, maka dialah yang akan menguasai dunia,” ujarnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) Dedi Nursyamsi mengatakan keberadaan para petani milenial sangat diperlukan untuk menjadi pelopor sekaligus membuat jejaring usaha pertanian.

“Mereka diharapkan mampu menarik minat generasi milenial menekuni usaha di bidang pertanian. Apalagi, sudah banyak petani milenial yang kini telah menjadi pengusaha sektor pertanian dan mengembangkan usahanya dari hulu hingga hilir ”ucapnya.