Abidin, Petani Muda Dari NTT

Waktu ponsel menunjukan pukul 09.00 WITA ketika saya tiba di rumahnya di Kampung Bugis-Desa Magepanda, Kabupaten Sikka, NTT.

Kami janjian bertemu pada Selasa, (16/5/2017). Pria pendiam yang selama ini hanya terdengar cerita tentangnya dari orang harus diwartakan juga kerja mulianya, begitu saya membatin saat dalam perjalanan dari Maumere.

Tiba di rumahnya, kami membahas banyak hal tentang pertanian. Hanya satu kata, takjub. Pria 38 tahun ini adalah petani sejati.

“Saya tak sampai tamat STM Pak, hanya sampai kelas 3 dan memilih berhenti karena ayah sakit. Sebagai anak laki-laki besar saya harus pulang membantu keluarga. Kakak perempuan saya dan adik-adik masih sekolah, jadi biar saya yang tidak sekolah. Saya mantap memutuskan tidak sekolah. Jadi petani. Sejak berhenti sekolah saya hanya ingat kata hati kecil saya bahwa saya tidak boleh menyesal”kalimat ini Abidin ucapkan dengan terbata.Tahun 1998 menjadi titik start baru bagi Abidin menjadi petani. Sejak memutuskan untuk tidak menyesal karena tidak sekolah Abidin lalu giat bertani.Mulai dari lihat petani-petani tua yang bekerja di sawah sampai dengar arahan para petugas PPL Pertanian, tanya sana-sini, Abidin yakin jadi petani bukan pekerjaan rendahan.

Sekarang dengan kemajuan teknologi dan perkembangan informasi, Abidin mengaku senang karena tentang ilmu pertanian ia baca dan akses lewat smartphonenya.“Barang ini tergantung kita mau manfaatkan untuk hal yang baik dan berguna pasti efeknya juga berguna untuk kita” begitu kata Abidin sambil menunjukan ponselnya.

Saat ini Abidin menjadi Ketua Kelompok Tani Mandiri. Anggota kelompok taninya ada 13 orang. Menurut Abidin, 13 orang yang tergabung dalam kelompok Tani Mandiri untuk musim tanam kali ini mengelola sekitar 23 hektar sawah.Abidin sendiri mengaku mengelola empat hektar sawah. Empat hektar sawah ini kini telah dipanen dan hasil beras yang bakal diperoleh kira-kira delapan ton lebih. Hasil ini sudah bisa untuk kebutuhan konsumsi keluarga, untuk jual dan kebutuhan pendidikan anak, kesehatan juga deposito.

Sejak tahun 2016 kelompok Tani Mandiri menjadi salah satu pusat penangkaran benih padi. Kelompoknya termasuk sukses dalam kerja penangkaran.

“Sampai tahun kemarin, kelompok kami menjadi suplai bibit ke enam kabupaten di NTT. Diantaranya kabupaten Ngada, Nagekeo, Alor, Lembata dan Rote Ndao. Juli 2016 kemarin itu kami juara 3 tingkat provnsi NTT sebagai kelompok Tani pelaku agribisnis komoditi padi” tuturnya.

Ada bersama kelompok tani aku Abidin, sangat membantu dan banyak manfaatnya. Sebagai petani Abidin dan para petani lainnya tidak lagi diatur oleh ijon atau tengkulak. Yang terpenting lagi menurut Abidin adalah keberadaan bersama kelompok tani membuatnya bangga karena selalu terjun ke tengah petani di kecamatan-kecamatan khususnya di kabupaten Sikka untuk berbagi tentang ilmu bertani yang tepat dan benar.Tidak hanya sampai di level kabupaten Abidin juga membuktikan dirinya berkualitas, dengan menjadi petani yang berbagi kisah suksesnya kepada para petani di 18 kabupaten di NTT.

“Petani tidak hanya cukup tahu tentang cangkul, tanam dan panen. Jadi petani itu harus bisa memanfaatkan semua produk pertanian dengan tepat dan benar. Harus tahu tentang bagaimana menyiapkan lahan sampai menentukan pasaran yang pas untuk dijual. Tidak asal gunakan pupuk, juga tidak asal semprot pestisida. Semuanya harus seimbang” tuturnya.Terbukti jerih payahnya dalam bertani kini membuahkan hasil. Saat ini di gudangnya ada 700-an karung padi yang siap digiling dan juga bibit.

“Belum semuanya masuk Pak. Yang lain masih dijemur di lapangan sana.Totalnya ya bisa mencapai 1000-an karung ” kata Abidin.

Kerja keras dan kerja cerdas dari Abidin bersama kelompok Tani Mandirinya pun mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Dari catatan buku tamunya ada Ani Andayani, staf ahli dari Kementerian Pertanian, ada Siti Munifa, Ketua STPPMenurut Andayani dan Siti Munifa apa yang dicapai oleh Abidin adalah bukti perjuangan dan kerja kerasnya. Harapan mereka apa yang telah Abidin capai bersama kelompok Tani Mandiri terus menginspirasi banyak orang bahwa menjadi petani itu bukan masuk kategori masyarakat kelas rendahan.

Itulah Abidin. Mimpi besarnya saat ini adalah masyarakat petani di desanya menjadi petani yang berdaulat dengan hidup dari bertani.

“Kesempurnaan hidup saya rasanya semakin lengkap kalau diri saya berguna dan menginspirir banyak petani di NTT untuk mencintai dunia pertanian,” tuturnya.

Sosok Paidi, Petani Milenial Yang Berbisnis Porang Jadi Miliader

Profesi petani hari ini masih dipandang sebelah mata, karena penghasilanya yang tidak menentu dan relatif kecil. Tapi tahukan Kawan GNFI dalam sebuah negara justru profesi petani adalah salah satu bidang yang fundamental. Tentu karena kaitanya dengan berbagai kebutuhan dasar manusia yang memang pada dasarnya di-supply dari bidang pertanian ini.

Coba Kawan GNFI bayangkan jika dalam sebuah negara penduduknya tidak ada yang mau menjadi petani, kira-kira apa yang akan terjadi?. Salah satu kemungkinanya adalah terjadinya defisit supply pangan, karena negara harus melakukan berbagai impor untuk memenuhi kebutuhan pangan. Dari sudut pandang ini sebenarnya petani adalah profesi yang sangat menjanjikan karena peranya yang fundamental dalam kehidupan.Salah satu contoh petani yang sukses memanfaatkan peluang tersebut adalah Paidi, pria berumur 37 tahun dari Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun. Sebelum menjadi petani Paidi adalah seorang pekerja serabutan, hampir berbagai jenis pekerjaan pernah ditekuninya, seperti penjual tahu, penjual ayam, dan penjual buah. Namun semua usaha yang dilakukan Paidi tersebut tidak berbuah manis dan malah membawa kebangkrutan bagi dirinya.

Sampai-sampai ia juga pernah menjadi pemulung untuk tetap menjaga kepulan asap dapur. Tetapi semua itu berubah ketika ia beralih profesi menjadi petani. Dimulai ketika ia bertemu salah satu teman lamanya dari satu panti asuhan di Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun.

Temanya tersebut memperkenalkan sebuah tanaman yang bernama porang, yang juga dibudidayakan oleh warga sekitar. Setelah pertemuan tersebut Paidi mulai mencari berbagai informasi tentang porang dari internet. Dari berbagai informasi tersebut, Paidi mendapat kesimpulan bahwa tanaman Porang memiliki permintaan dalam jumlah yang banyak di pasar.

Melihat peluang tersebut Paidi mencoba memutar otak untuk dapat memanfaatkan Porang secara maksimal karena potensinya yang besar. Seba porang sendiri adalah jenis tanaman membutuhkan waktu yang lama hampir sekitar tiga tahun untuk dapat dipanen. Namun dalam prosesnya Paidi juga menghadapi tantangan lain yaitu kondisi lahan yang berbukit-bukit.Namun dengan berbagai informasi yang paidi dapatkan dari internet sebelumnya, ia mencoba mengembangkan teknik baru yang ia namakan revolusi pola tanam baru. Teknik yang dikembangkan Paidi tersebut berhasil mempercepat masa panen dari tanaman porang miliknya. Yang sebelumnya hampir tiga tahun menjadi antara enam bulan sampai dua tahun.

Terobosan yang dilakukan Paidi tersebut juga dapat menambah jumlah panen. Jika sebelumnya dalam satu hektar hanya bisa memanen tujuh sampai sembilan ton porang. Maka dengan revolusi pola tanam intensif dapat memanen hingga 70 ton, dalam luas lahan yang sama. Paidi juga menjelaskan dalam satu hektar lahan, jika ditanami porang semua maka omzet yang dihasilkan bisa mencapai 800 juta dalam kurun waktu dua tahun. Dengan keuntungan bersih 700 juta yang telah dipotong biaya lainya.

Anjar Priyanto, Menjadi Petani Muda Yang Sukses Dari Buku Di Perpustakaan

Berbekal pengetahuan mengenai pertanian hortikultura yang terbatas, Anjar Priyanto nekat memulai bertani. Sudah diduga, hasilnya tidak seperti yang diharapkannya, namun semangatnya tak langsung putus. Bersama beberapa pemuda lain di tempat tinggalnya di Desa Kelor, Gunung Kidul, Yogyakarta, Anjar terus berusaha membangun usaha tani mereka. Tidak ada yang mengajari atau memberikan pendampingan bagi para pemuda itu.

Sampai akhirnya Anjar berkenalan dengan perpustakaan yang dibina oleh PerpuSeru. Di sana dirinya menemukan buku-buku tentang penanaman hortikultura. Satu buku yang menarik perhatiannya, berisi tentang budidaya terong dan cabai, ia bawa pulang untuk dipelajari.”Bersama teman-teman saya praktikkan, awalnya susah, apalagi kami dicemooh petani yang sudah tua,” ucapnya di acara Festival Lapak PerpuSeru di Mal Kota Kasablanka, Jakarta, Jumat, 28 September 2018.

Bunyamin,Petani Milenial Yang Sukses Menanam Coklat

Setelah pemerintah resmi menghapus keberadaan becak pada 2003 lalu. Bunyamin yang tercatat salah satu pengurus becak saat itu, pada 2004 mendapatkan kesempatan menjadi warga transmigrasi di Sukan Tengah dan diberikan pemukiman serta tanah garapan untuk lahan perkebunan. Meskipun dirinya mengaku buta soal ilmu pertanian atau perkebunan, namun dirinya tetap mengambil kesempatan itu.

“Ketika ditawari untuk menjadi warga transmigrasi, saya langsung mau aja. Karena di pemukiman transmigrasi kita diberikan tempat tinggal dan lahan untuk berkebun. Apalagi selama satu tahun kita diberikan bantuan makanan,” kisahnya kepada wartawan harian ini. Ketika masuk menjadi warga transmigrasi di Sukan Tengah tahun 2004 lalu, Bunyamin pun memulai kehidupannya sebagai seorang petani. Pria yang sekarang juga sebagai Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) UPT Sukan Tengah SP 3 itu menanam berbagai tanaman, seperti cokelat, pisang, sahang, vanili, keledai dan kelapa.

Karena kerja keras serta mau belajar dan didukung kesuburan tanah di pemukiman trans Sukan Tengah, hasil kebun Bunyamin pun terus mengalami peningkatan. Bahkan dari hasil kebunnya, kata pria kelahiran 9 April 1971 itu, dirinya bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dan tidak bergantung lagi dengan bantuan pemerintah.

“Yang telah menunjukan hasil adalah tanaman sahang dan cokelat. Alhamdulillah hasil panen sahang dan cokelat mencapai 500 kilogram (kg) setahun. Satu bulan bisa panen sampai dua kali,” bangga Bunyamin. Hasil panen tersebut kata dia, ada yang dibawa sendiri ke Tanjung Redeb dan ada pula yang dibeli langsung oleh warga yang datang ke tempatnya. “Kalau pemasaran masih lancar saja,” sambungnya. Meskipun kini dirinya merupakan salah seorang petani yang sukses di pemukiman transmigrasi Sukan Tengah. Namun sebagai ketua Gapoktan, dirinya terus berupaya agar masyarakat (warga trans Sukan Tengah,Red) bisa sejahtera. Untuk itu, dirinya pun terus membentuk kelompok tani dan meningkatkan swadaya masyarakat setempat.

“Karena keinginan saya Sukan Tengah ini bisa maju. Tinggal masyarakat di sini (Sukan Tengah,Red) mau berusaha atau tidak,” tandasnya. Dikatakannya, tahun ini bantuan dari Dinas Perkebunan Berau sebanyak 10 ribu bibit cokelat dan 20 ribu bibit karet. Bantuan bibit itulah yang ingin dikembangkannya bersama-sama dengan kelompok tani yang telah dibentuk,” ucapnya.

Agus Ali Nurdin, Petani Muda Dari Cianjur

Berpendidikan tinggi tidak mengharuskan orang bekerja pakai dasi. Sebut saja Agus Ali Nurdin. Agus adalah alumnus S1 Agronomi IPB yang pernah merasakan program magang Kementerian Pertanian ke Jepang. Bekal magang ini dimanfaatkan untuk menggerakkan ratusan petani di Cipanas, Cianjur. Hasilnya nyata, dirinya memperoleh pendapatan kurang lebih Rp 500 juta per bulan.

Lulusan 2012 ini mampu mensuplai sayur ke berbagai outlet, mal dan restoran Jepang di Jakarta. Saat ini dia dan beberapa rekan mantan Ikamaja (Ikatan Magang Jepang) memutuskan jalan hidupnya dengan bertani. Agus mengikuti program JICA sejak 2018 dan lahannya sudah bersertifikat organik sejak 2016 dari LSO Inofice. Agus menyebutkan ada kurang lebih 500 petani yang tergabung.

“Dalam komunitas yang kami bangun, kami tanamkan jiwa bertani profesional, cara mengolah dan managemennya. Kami balikkan opini masyarakat yang mengatakan bahwa bertani adalah pekerjaan yang tidak menjanjikan,” ujar Agus.Agus mengolah lahan milik Okiagaru Farm seluas 17 hektare yang berada di Cianjur, Cisarua dan Depok. Saat ini komunitas Okiagaru yang dibangun dengan teman-temannya sedang proses pendirian koperasi. Dirinya meyakini melalui koperasi mampu mengimbangi persaingan usaha dan mengakomodir kepentingan semua anggota. Tak sampai di situ, dirinya juga tengah menginisiasi hadirnya Okiagaru Mart.

“Untuk memenuhi orderan, kami lihat siapa saja yang memiliki hasil panen dan terus bisa berkesinambungan. Jadi ada yang menanam, ada yang panen. Maka produksi tidak akan berhenti setiap harinya,” tambah Agus.

Agus mengaku masih membutuhkan lahan untuk peningkatan produksi. Dirinya merasa pasar untuk hasil pertanian masih sangat terbuka dan berpeluang besar. Dirinya telah membuktikan hal itu. Hasil produksi bersama para petani telah menembus supermarket AEON dan restoran Jepang.

“Kalau bekerja dengan profesional, kita pasti memperoleh keuntungan yang bagus. Lihat saja para petani di Jepang yang memiliki passion tinggi dalam bertani. Hal ini lah yang perlu kita tanamkan kepada para pemuda saat ini. Kita putarbalikkan opini masyarakat yang salah selama ini melihat petani. Kami terus terpacu untuk mengembangkan lagi,” papar Agus.Nama ‘okiagaru’ diambil dari nama kelompok ketika dua tahun magang di Jepang. Okiagaru dalam bahasa Jepang berarti bangkit dan membangkitkan. Sepulangnya dari Jepang dirinya mulai mengolah dua hektare lahan dan menanam sayuran Jepang dan pekerjaan ini sukses. Okiagaru memiliki visi sebagai lembaga agribisnis petani muda yang Mandiri, inovatif, profesional, bertaraf Internasional, berbasis ekonomi syariah dan ramah lingkungan

“Melihat peluang inilah, maka kami mengajak petani petani muda untuk bergabung dalam komunitas Okiagaru ini. Kami melatih dan menanamkan passion bertani. Status di KTP juga tertulis sebagai petani agar lebih profesional dan mengubah imej. Komunitas ini sudah berada di berbagai tempat di Jawa barat ini. Di Majalengka dalam pengawasan saudara Popey yang juga mantan seorang pelaut, namun menemukan passion nya dalam bertani,” tambahnya.

Mendengar program Lumbung Pangan 2045 yang digulirkan pemerintah dan sekaligus mendorong lahirnya petani milenial, makin menyemangati para petani. Agus pun sangat mendukung penjualan langsung tanpa perantara. Dirinya berharap pola penjualan tradisional dapat tergantikan melalui modernisasi pasar. Hal ini jelas menguntungkan para petani. Kemajuan teknologi diyakini mempermudah pencarian pasar. Ini peluang yang perlu dikembangkan para petani.

“Coba bayangkan bila hasil panen petani langsung bisa masuk ke konsumen tanpa melalui cara tradisional dulu, petani akan untung walaupun hasil panennya tidak sukses 100 persen. Kita harus mengikuti perkembangan jaman. Seperti istilah sekarang kemajuan tehnologi 4.0. Market saat ini di ujung jari, jadi kita tidak susah untuk mencari pasar dari hasil pertanian kita. Untuk kebutuhan pasar dalam negeri saja kami harus penuhi dari teman teman komunitas dari wilayah lain, sebab tidak semua orderan itu ada pada kami di Cipanas ini,” ujar Agus optimistis.

Dirinya mengakui selain ke AEON juga sedang menyiapkan sayuran organik untuk ekspor oyong ke Jepang dan buncis kenya ke Singapura. Selain itu bersama kelompoknya sedang menginisiasi ekspor rempah organik. Agus bertekad untuk memperluas pasar produk pertanian yang dia kelola.

Melihat banyaknya lahir sosok muda seperti Agus, Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto makin optimistis. Ekonomi bangsa diperkuat hubungan sektor pertanian dengan kehadiran para anak muda yang mampu melihat pasar.

“Hortikultura Indonesia membutuhkan sosok ulet seperti Saudara Agus. Dengan keuletan dan ketangguhan, tidak mustahil bertani hortikultura memberi dampak ekonomi yang luar biasa. Di era Pertanian 4.0 kita tidak akan lepas dari penggunaan teknologi digital. Manfaatkan teknologi ini untuk mendorong provitas dan pemasaran produk horti. Ujungnya adalah peningkatan kesejahteraan,” katanya.

Ekoyono, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Kelapa Sawit

Puluhan tahun yang lalu, kehidupan Ekoyono dan keluarganya sangat penuh dengan dilema. Di satu sisi, kedua orang tua Eko ingin memperbaiki perekonomian keluarganya, karena mereka datang dari keluarga yang kurang mampu.

Namun di sisi lain mereka bingung karena tidak memiliki keahlian apapun untuk menunjang hal tersebut.

Sebuah harapan besar datang kepada Eko ketika keluarganya ditawari untuk mengikuti program Perkebunan Inti Rakyat Transmigrasi (PIR Trans) yang tengah dicanangkan pemerintah ketika itu. Melalui program PIR Trans ini, pemerintah mendorong pola kerjasama antara petani kelapa sawit dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Pada tahun 1990 Eko dan keluarganya, kemudian pindah dari tempat tinggal awalnya di Ciamis, Jawa Barat, ke Pelalawan, Riau, untuk bergabung sebagai petani plasma dari perusahaan perkebunan PT. Inti Indosawit Subur (Asian Agri). Melalui program kemitraan ini, selain mendapatkan binaan mengenai tata cara bertani kelapa sawit yang baik dan benar, mereka juga mendapatkan jatah hidup setiap bulannya dari pemerintah dan Asian Agri.“Orang tua saya dapat informasi dari temannya bahwa program PIR Trans ini memiliki prospek kedepannya sangat menjanjikan,” kata Eko.

“Jadi transmigrasi ini adalah salah satu upaya orang tua saya untuk memperbaiki perekonomian keluarga saya. Kami pindah dari Ciamis, Pulau Jawa, ke Riau, Pulau Sumatera” lanjutnya.

Pada mulanya, Eko dan keluarganya agak khawatir, karena banyak sekali orang yang beranggapan bahwa para transmigran adalah orang-orang yang dibuang oleh pemerintah.

“Dulu kami dianggap sebagai orang buangan. Bahkan ada yang bilang bahwa kami akan tinggal di hutan. Padahal kan tujuan program tersebut adalah untuk pemerataan,” ujar pria kelahiran 1977 ini.

Awalnya Eko dan keluarganya menerima lahan seluas 2 hektar yang bisa dijadikan sebagai perkebunan kelapa sawit.

Seiring berjalannya waktu, perkebunan kelapa sawit milik keluarga Eko semakin besar dan maju. Lambat laun kesejahteraan Eko dan keluarganya pun kian meningkat dan berbeda jauh seperti ketika tinggal di Ciamis dulu.

“Saya sangat bersyukur kedua orang tua saya dulu memilih untuk ikut program PIR Trans. Kami sekarang jauh lebih sejahtera, bahkan kini kami telah mempekerjakan 18 orang untuk mengelola perkebunan kelapa sawit kami yang seluas 40 hektar,” kata Eko.“Pendapatan saya per bulan sebenarnya sangat relatif, mungkin di kisaran 60-80 juta per bulannya. Namun yang terpenting adalah, dengan menjadi petani sawit, saya bisa membuka lapangan pekerjaan dan membantu orang-orang sekitar yang membutuhkan,” ujar anak pertama dari 3 bersaudara ini.

Selepas ayahnya tiada, Eko lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia pun memutuskan untuk mengikuti jejak orang tuanya untuk menjadi petani kelapa sawit generasi kedua di keluarganya. Ia menyadari apa yang ia dapatkan sekarang semata-mata datang dari perkebunan kelapa sawit. Bahkan adiknya yang paling kecil kini bisa berkuliah dari hasil bertani kelapa sawit. Sedangkan adik perempuannya yang kedua, lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga.

“Orang tua tidak pernah menyuruh saya untuk menjadi petani kelapa sawit. Ini murni keinginan saya sendiri. Orang tua saya memang mengajarkan mengenai bagaimana tata cara bertani yang baik. Tapi selain itu saya juga belajar secara dari luar juga, tidak hanya dari orang tua saja,” Eko menjelaskan.

“Orang tua saya hanya bermodal cangkul saja bisa menjadi petani sukses dan menyejahterakan keluarganya.

Kemudian saya berpikir bahwa saya harusnya bisa menjadi petani yang lebih sukses lagi, terlebih lagi di jaman modern seperti ini. Itulah mengapa saya tetap ingin menjadi petani kelapa sawit” kata Eko.

Eko mengungkapkan dirinya tidak pernah malu berprofesi sebagai seorang petani kelapa sawit. Meskipun labelnya adalah seorang petani, namun menurutnya penghasilan yang ia dapatkan jauh lebih besar dibandingkan bekerja kantoran.

“Intinya jangan gengsi. Karena menjadi petani kelapa sawit pun sangat menguntungkan,” tutup Eko.

Ananda Dwi Septian, Petani Muda Dari Purwakarta

Roda kehidupan terus berputar, seseorang yang sempat di bawah akan mengalami masa di atas. Apapun kondisinya fase kehidupan arus tetap dijalani. Terpenting, terus mendulang prestasi. Hal ini dilakukan seorang pemuda asal kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Ananda Dwi Septian akrab disapa Boti. Pria berusia 24 tahun itu sukses menjadi seorang petani. Boti awalnya bekerja di perusahaan tidak kurang dari satu tahun setengah, kemudian memutuskan mengundurkan diri dan membuka usaha isi ulang pulsa seluler untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak berselang lama, Boti memilih terjun sebagai seorang petani memanfaatkan lahan milik orang tuanya.Tak disangka, rezekinya justru mengalir deras dari profesi barunya tersebut. Boti mengaku, dalam jangka waktu tiga tahun terakhir, dirinya bisa menghasilkan keuntungan minimal Rp7 juta per bulan dari hasil bertani. “Dulu pernah bekerja di pabrik. Saat itu, penghasilan saya di bawah Rp4 juta. Memang, saya bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga tapi tidak bisa menabung,” ujar dia, Sabtu (28/12/2019). Dia bercerita, awalnya dirinya tidak berniat terjun ke dunia pertanian, namun setelah bergaul dengan Himpunan Pemuda Tani Purwakarta (Hidata), dia merasa terdorong menggeluti usaha pertanian dengan modal Rp3.500.000 hasil dirinya menabung. Mengawali terjun ke pertanian sempat dilarang kedua orang tua dengan alasan dianggap kurang menguntungkan dari sisi ekonomi. Namun, dirinya nekat memanfaatkan lahan seluas 5.000 meter persegi milik orang tuanya untuk dijadikan ladang penghasilan barunya. “Dulu tidak direstui. Sekarang justru keluarga saya yang lain jadi ikut bertani seperti saya, bahkan mereka belajar dari saya,” kata dia. Boti memilih bertani berbagai jenis sayuran seperti mentimun, cabai, hingga kacang panjang. Hasil produksinya sudah bisa masuk ke pasar-pasar modern di dalam dan luar daerahnya. Sisanya, dibeli oleh tengkulak. “Produk saya belum bisa masuk standar ke supermarket. Soalnya baru kelas B, yang diterima kelas A,” ucap Boti. Boti mengajak kepada para pemuda untuk tidak ragu bertani karena hasilnya cukup menjanjikan tidak kalah dengan bekerja di luar.

Sosok Zulaini, Petani Milenial Yang Sukses Menanam Padi

Musim panen padi kali ini di rasakan berbeda bagi petani Desa Mandalasari Kecamatan Mataram Baru Kabupaten Lampung Timur, pasalnya di akhir tahun ini petani sawah di Desa mandalasari bisa memaksimalkan hasilnya.

Musim gadu, atau sebutan kata lain dari bertanam di saat kemarau bagi para petani Desa Mandalasari memang waktu yang bisa di harapkan bagi pertanian padi mereka, dan akhir tahun ini mereka sudah memulai memanen hasil sawahnya dengan hasil yang terbilang sempurna dari musim sebelumnya.

Zulaini salah satu petani yang dapat di temui menuturkan kepada tim peliput, Kamis (13/12/2018), bahwa total area sawah yang di milikinya, dalam 1 hektarnya sudah mendapatkan 120 karung gabah basah, atau di perkirakan 8,5 ton lebih.

“Luas 3 hektar sawah saya, 1 hektar yang sudah saya panen dapet 120 karung mas, sisanya belum saya panen nunggu agak tua sedikit” kata Zulaini yang beralamat di dusun 2 Desa Mandalasari yang juga mantan P3A itu.

“Alhamdulilah musim gadu ini, kalau area sawah di Desa mandalasari rata rata bisa maksimal hasilnya, tetapi juga semua itu tergantung perawatan para petani itu sendiri” tambahnya menjelaskan.

Edi Rusmawan Kepala Desa Mandalasari juga menanggapi hal tersebut, serta menjelaskan bahwa musim gadu memang menjadi tumpuan para petani Desanya, karena dalam setahunya para petani masih mampu menanam hanya 2 musim saja, di karenakan menjelang hujan mereka tidak berani memulai, dikarenakan faktor alam yaitu ancaman banjir yang masih melanda di area persawahan, yang mengakibatkan persentase gagal panen sangat besar.

“Hampir 70% warga Desa kami petani, musim tahun ini bisa di katakan lumayan, sampai saat ini petani Desa kami memang masih hanya mengandalkan pada musim gadu saja untuk bisa berharap hasil banyak”. kata Wawan sapaan akrabnya.

“Tapi kami beruntung berkat koordinasi yang baik antara instansi pertanian, segala hal teknis permasalahan di pertanian kami bisa teratasi dengan baik, segala bantuan bibit, kemudahan mendapatkan pupuk dan pengawasan dari dinas juga sudah kami rasakan manfaatnya”. jelasnya.

“Tahap demi tahap kami akan terus bergerak dan berupaya untuk membantu para petani untuk bisa meningkatkan produksi pertanian di Desa kami yang total luas areal persawahanya mencapai 330 hektar ini”, tambahnya.

Tumaji, Petani Muda Asal Pacitan Yang Sukses Berbisnis Kedelai Hitam

Sebuah jabatan yang tak selalu menjadi sebuah ukuran kesuksesan seseorang. Hal itu juga dialami Tumaji warga RT/RW 01/II, Dusun Krajan, Desa Kembang, Pacitan. Pria yang menjabat sebagai Kepala Desa Kembang sejak 2002 hingga 2012 ini kini menjadi petani kedelai yang sukses.

Saat berbincang dengan Pacitanku.com, Minggu (19/1/2020) di Pacitan, Tumaji menceritakan dirinya sejak tahun 2007 mulai menekuni pertanian, khususnya kedelai jenis malika. Dia menceritakan, awal sebagai petani malika hanya ikut – ikutan saja.Tapi lama kelamaan, dia terus menekuni bisnisnya tersebut, salah satunya tekun belajar bertani kedelai malika dengan teman – teman petani di daerah Kecamatan Pringkuku sampai tahun 2012. Dalam perjuangannyapun tidak semudah apa yang di bayangkan, banyak tantangan, banyak liku – liku dan banyak lagi kesulitan – kesulitan yang di jumpainya.

Walaupun awalnya mendapat tentangan keras dari beberapa orang, tetapi lambat laun ia mampu meyakinkan para petani. Tumaji berhasil membuktikan diri kalau menjadi petani juga bisa memberikan kepastikan hidup sukses.

“Saya meyakini dari hal yang terpenting dalam semangat hidup kita ini adalah, bagaimana hidup kita bisa bermanfaat bagi para petani yang ada di wilayah kita, karena kita adalah masyarakat petani, berawal dari sebuah keprihatinan,”kata Tumaji.

Keprihatinan yang dimaksud, kata Tumaji, adalah saat para petani pada musim panen sering mengalami harga anjlok, hancur.

“Saya pernah dalam masa tidak pernah mendapatkan harga yang sepadan, tidak pernah mendapatkan uang tunai, kadang kala hasil panen diutang dengan tempo berbulan – bulan, bahkan sampai terjadi tak terbayar,”ujarnya.

Close Ads X
Keseriusan Tumaji setalah tidak menjabat sebagai Kepala Desa, meihat keprihatinan para petani, ia terpanggil untuk berbuat walaupun sedikit bisa membantu petani malika. Bersedia sebagai jembatan selama dirinya kuat membantu para petani malika.

Berkat kegigihannya, kini kedelai malika yang dirintisnya mulai membuahkan hasil. Bahkan, saat ini dirinya membangun kemitraan para petani di sekitar, juga sudah merambah ke daerah Jawa Tengah, seperti daerah Pracimantoro, Baturetno sampai Wonogiri.

Selain itu, hasil pertanian kedelai malika Tumaji menyetok kebutuhan perusahaan yang menggunakan kedelai sebagai bahan bakunya.

“Dengan teman – teman Asosiasi kemitraan kedelai hitam ini, berusaha menyediakan kepada unilever Bangau agar tidak mendatangkan kedelai hitam dari luar negeri. Kebetulan saya dipercaya menjadi Sekjend asosiasi kemitraan kedelai hitam, jadi saya berharap semua kebutuhan bangau unilever kita cukupi,”ungkapnya.

“Saya dan teman – teman akan berjuang dalam rangka bagaimana petani kedelai malika bisa menjadi mitra kami. Dalam membangun kemitraan kepada para petani kedelai hitam, perlunya kita menjadi oendamping mereka, kita berikan benih, lalu kita pantau sampai panen, dan juga mengenalkan bagaimana mengolah tanah dalam pertanian yang sesuai dengan prosedur,”ceritanya lagi.

Lalo, Petani Milenial Asal Ambon Yang Sukses Menanam Sawi

Dibawa bedeng sawi yang tertutup plastik, Lalo bersama istrinya, Neni merawat tanaman sawi di lahan kosong kawasan Desa Paso Kecamatan Baguala Kota Ambon, Sabtu siang 26 Agustus lalu.

Lelaki berusia 38 tahun, rajin mengamati satu persatu sawi yang berusia sepekan di bedeng dengan lebar sekitar 2 meter dan panjang 15 meter itu. jika ada sawi yang mati atau layu, terserang hama, Lalo dan istrinya langsung menggantinya dengan sawi baru.Sesekali Lalo juga menyiram air serta menyemprot pupuk agar tanama sawi sehat. Itulah aktivitas Lalo di atas lahan milik RRI Ambon yang disewanya untuk lahan pertanian sejak 2013. Lalo menggarap lahan tersebut menjadi subur. Di atas lahan seluas 25 x 30 meter itu, pria beranak dua ini menanami sawi, kangkung darat dan bayam merah.

Lelaki asal Makasssar, Sulawesi Selatan (Sulsel) ini merintis usaha pertanian di Ambon. Baginya, Ambon memiliki potensi pertanian yang menjanjikan. Masih banyak lahan kosong dan tidak jauh dari pusat kota. Awal membuka usahanya, Lalo mengakui hampir putus asa, karena keterbatasan dana untuk membeli benih atau bibit sawi, pupuk membasmikan hama dan membuat bedeng.Namun harapanya mulai bangkit setelah permohonan kredit usaha kecil (KUR) diterima BRI Ambon pada 2013. Saat itu, Lalo mendapat kucuran kredit sebesar Rp 15 juta. Dana tersebut digunakan membeli kebutuhan pertanian, seperti benih sayur, pupuk, membuat bedeng serta plastik ultraviolet. Plastik itu digunakan menutup bedeng melindungi hasil kebunnya dari hujan ataupun sinar matahari secara berlebihan. Apalagi Kota Ambon memiliki intensitas hujan yang tinggi.

“Saat modal belum ada, usaha kami belum maju. Alhamdulillah setelah ambil KUR usaha mulai lancar,” ujar Lalo, saat ditemui wartawan peserta Journalist Class yang digelar Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Maluku pada Sabtu 26 Agustus. Dalam kunjungan ke lokasi pertanian Lalo itu, hadir juga Kepala OJK Maluku Bambang Hermanto dan pimpinan BRI Cabang Ambon Tito Witarnawan.

Lalo mengungkapkan, hasil panen sayur mayur diutamakan membayar angsuran kredit. Panen berikutnya, digunakan untuk membeli pupuk, benih dan kebutuhan. Lalo menggunakan masa tanam sayur mayur hingga panen selama 20 hari, sehingga perputaran modal cepat.Setelah kredit pertama lunas, Lalo pun mengajukan permohonan KUR dengan nilai Rp 20 juta, dan langsung diterima BRI Ambon. Untuk menjaga kepercayaan pihak BRI, Lalo mengungkapkan tiap bulan mengembalikan cicilan kredit sebesar Rp 1,4 juta hingga Rp 1,5 juta. Dalam waktu sepuluh bulan lunas dari jangka waktu setahun yang ditentukan BRI.

Seiring berkembang usaha menanam sayur, dan lancar membayar kredit tiap bulannya, Lalo pun mengajukan kredit lebih besar yakni, Rp 25 juta. “Dengan penambangan nilai kredit ini, tentu penghasilan kita makin bertambah. Karena bisa beli banyak kebutuhan untuk meningkatkan hasil usaha pertanian kita termasuk perluas sewa lahan,” ucapnya.

Lalo mengungkapkan, saat ini hasil usahanya itu sebulan bisa mendapat untung hingga Rp 8.000.000, namun jika cuaca panas, keuntungan mereka turun berkisar Rp 4.000.000. Hasil usahanya ini juga mengantarkan seorang anaknya ke bangku kuliah di pergurian tinggi ternama di Makassar, Sulsel, dan seorang lagi masih sekolah di Ambon.

Pimpinan Bank BRI Cabang Ambon, Tito Mitarnawan mengungkapkan, awalnya pihak bank khawatir memberikan kredit kepada petani. Penyebannya usaha di sektor pertanian termasuk perikanan itu tidak beromset harian.Namun lain halnya dengan Lalo, bank memberikan kepercayaan kepada kreditur binaanya itu lantaran memiliki pola penanaman berkala. Waktu panen pertama, Lalo gunakan untuk pembayaran KUR. Panen berikutnya untuk membeli kebutuhan pupuk sehingga memudahkannya dalam pembayaran kredit.

“Jujur saya awalnya kami dari perbankan agak takut memberikan kredit di bidang pertanian dan perikanan, karena konsistensi pembayarannya beda dengan perdagangan yang memiliki omset harian. Tapi Pak Lalo memodifikasi sistem hasil panennya dengan mengutamakan pembayaran KUR, sehingga kami percaya beliau hingga saat ini,” jelas Tito.

Ia mengungkapkan, saat ini pemerintah memberikan kemudahan kredit melalui sektor pertanian. Dan BRI menjadi satu-satunya bank yang menjalankan kredit program tersebut. “Secara keseluruhan sampai saat ini total penyaluran KUR dari BRI pada berbagai bidang di Maluku mencapai 300 miliar rupiah,” sambung Tito.

Kepala OJK Maluku Bambang Hermanto menyatakan, selaku pihak yang mengawasi industri jasa keuangan dan industri perbankan, OJK terus mendorong perbankan untuk menyalurkan KUR. Menurut Bambang, OJK mencatat, penyaluran kredit sektor produktif maupun sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berkembang positif di Maluku. Terutama di sektor UMKM mengalami peningkatan sebesar 8,58 persen atau sebesar Rp. 229,61 miliar dari Rp.2,66 triliun menjadi Rp. 2,91 triliun.

Penyaluran kredit itu didominasi sektor ekonomi usaha kecil yang mencapai Rp 1,20 Triliun atau sebesar 41,20 persen dari total kredit UMKM. “Dukungan pembiayaan oleh perbankan kepada sektor produktif merupakan motor penggerak utama dalam pembangunan ekonomi masyarakat, karena dari sektor inilah efek berantai kesejahteraan dimulai, ”ujar Bambang.

Kini usaha Lalo terus berkembang. Hasil panenya dikonsumsi warga Ambon dan sekitarnya. Lalo adalah salah satu pemasok sayuran dengan jumlah besar di Pasar Mardika Ambon. “Selama orang masih makan sayur, usaha pertanian itu sangat menguntungkan,” jelas Lalo.