Sosok Deden Purbaya, Petani Mienial Sukses Berbisnis Anggur Brazil

Siapa bilang lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon hanya menjadi guru atau ustadz saja? Ternyata, alumni kampus negeri satu-satunya di wilayah III Cirebon ini juga ada yang menjadi seorang petani sukses di Kabupaten Majalengka.

Dia adalah Deden Purbaya. Pria lulusan Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2013/2014 ini telah berhasil membudidayakan tanaman buah ajaib yang mempunyai 7 rasa sekaligus dalam satu pohonnya. Tanaman buah tersebut adalah Anggur Brazil (Jaboticaba)Ketujuh rasa itu, yakni rasa jambu biji, leci, manggis, markisa, menteng, srikaya dan anggur yang muncul ketika menjelang matang sampai benar-benar matang pohon.

Kisah suksesnya ini berawal pada tahun 2012. Saat itu, ayahnya yang berprofesi sebagai penjual bibit berbagai jenis tanaman di Majalengka memiliki cabang di daerah Pamengpeuk, Garut. Suatu hari, ada seorang konsumennya di Garut yang mencari bibit pohon buah tersebut.

“Awalnya bapak juga gak tau kalau ada pohon buah Anggur Brazil dan saat itu juga gak punya tanaman itu. Tapi saat itu bapak juga gak menolak permintaan konsumen ini,” kisah Deden kepada suaracirebon.com saat mengunjungi perkebunan Anggur Brazil miliknya di Jalan Wisata Curug Tonjong, Teja, Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Senin (1/6/2020).Untuk memenuhi permintaan konsumen tersebut, sang ayah pun berusaha mencari tanaman yang masih jarang orang miliki tersebut. Diakuinya, untuk mencarinya tidak mudah, tapi akhirnya pohon ini berhasil didapatkan. Tidak jauh sampai ke Brazil, ternyata dia menemukannya di sekitar Majalengka saja.

“Melihat tanaman ini cukup unik, akhirnya bapak membelinya beberapa pohon. Saat itu harganya Rp80 ribuan. Sebagian dijual lagi ke konsumen yang sudah memesan tersebut dan sekitar 5 pohon ditanam sendiri,” terang Deden.

Bahkan, setelah melihat pohon yang ditanam sang ayah, Deden pun merasa tertarik dengan tanaman ini. Pasalnya, pohon anggur ini berbeda dengan jenis anggur lainnya. Jika umumnya tanaman anggur merambat, tapi Anggur Brazil ini dapat berdiri kokoh dengan batang kayu yang keras.“Itu dia, makanya tanaman ini itu unik. Bahkan, buahnya pun tumbuhnya di batang-batang pohonnya. Itu salah satu alasan kenapa kami membudidayakan pohon ini,” ujarnya.Hari demi hari pun terus berganti, pohon Anggur Brazil yang dia rawat semakin tumbuh dan membesar. Bukan tanpa kendala, tapi segala bentuk ikhtiar dikerahkan hingga akhirnya perkebunan yang dikelola tersebar luas dan mendapat perhatian.

Handphone jadul Nokia 6630 miliknya menjadi sebuah benda yang turut andil dalam kesuksesannya. Pasalnya, melalui alat ini Deden dapat membuat video berdurasi 1 menit 41 detik yang kemudian dia upload ke akun youtube miliknya “Deden Purbaya” pada 21 Juli 2018 lalu. Hingga saat ini, video tersebut sudah lebih dari 735 ribu kali ditonton.Hingga sekarang, handphone itu masih dia simpan dengan baik. Benda itu telah menjadi saksi bisu perjalanan kisah sukses ini. Dan peristiwa itu pun akan selalu terselip dalam ingatannya menjadi kenangan indah yang takan pernah Deden lupakan.

“Awalnya dari keterbatasan bikin video pakai HP jadul Nokia 6630 dan diupload ke youtube. Kemudian bumingnya itu tahun 2019 mas. Ada wartawan meliput perkebunan anggur ini dan alhamdulillah perkebunan ini terus berkembang dan banyak dikunjungi wisatawan,” kata Deden.

Sejak saat itu, perkebunan Anggur Brazil miliknya mulai dikenal luas masyarakat. Banyak wisatawan yang datang berkunjung, tidak hanya dari dalam negeri, bahkan ada juga yang dari luar negeri.

Untuk itu, dibantu santri pondok pesantren Daar Al Tarbiyah Rajagaluh, dirinya melakukan penataan di sekitar kebun dan melengkapinya dengan saung. Bahkan, para wisatawan juga dapat memesan nasi liwet beserta lauknya yang dapat disantap di kebun dengan suasana sejuk dan indahnya pemandangan di pegunungan.

“Yang datang ke sini itu ada yang dari Indramayu, Bekasi, Jakarta, Aceh dan daerah lainnya. Selain itu pernah ada orang Jerman datang ke sini dan membeli bibit pohon Anggur Brazil. Sering juga wisatawan anak-anak dari sekolah datang untuk belajar tentang tanaman dan rombongan umum lainnya,” paparnya.Sebagai alumni mahasiswa PAI, dirinya mengaku mendapat pengalaman tentang menanam pohon saat Praktik Kerja Lapangan (PKL) ditambah lagi ketika magang di pesantren daerah Ciwidey Bandung utusan dari santri Daar Al Tarbiyah. Pengalaman dan ilmu yang didapat, kemudian dia terapkan dalam menjalankan usahanya saat ini di bidang pertanian.

“Di sana diajarin nyangkul dan mengolah tanah agar subur. Pokoknya pesantren itu luar biasa,” kisahnya.Saat ini, ada 12 ribu bibit pohon Anggur Brazil yang dia kelola dengan harga jual mulai dari Rp60 sampai Rp6 juta. Namun, hanya puluhan saja yang dia rawat sendiri untuk dibuahkan. Hal itu sengaja ia lakukan untuk memenuhi permintaan pasar yang cukup besar akan buah ini.

“Potensinya sangat luar biasa, untuk hasil buah yang dijual pun kami belum bisa memenuhi permintaan pasar. Dan harga jual buahnya juga lumayan tinggi, yaitu Rp250 ribu per kilogramnya,” ungkap Deden.

Bahkan, yang memesan buah Anggur Brazil ini juga tidak hanya di dalam negeri, dirinya pun mendapat pesanan dari luar negeri. Sehingga, ketika dia tidak dapat memenuhi permintaan pasar tersebut, dirinya akan menghubungi orang-orang yang telah membeli bibit darinya untuk membeli buahnya jika di perkebunan sedang tidak ada.

“Ada juga yang dari Malaysia dan Singapura yang memesan buahnya, tapi karena ada beberapa kendala sehingga kita belum bisa kirim ke sana. Sedangkan untuk yang membeli bibit pohon di sini memang kami simpan nomor telfonnya, selain untuk sharing tentang cara merawat pohon ini juga agar kalau ada pesanan buah kita mudah komunikasinya. Jadi bisa bermanfaat,” jelasnya.

Deden mengungkapkan, banyaknya buah dari satu pohon tidak dapat disamakan, karena selain umur, pemupukan pun menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap buah yang dihasilkan pohon tersebut.

“Jika buah itu tergantung pemupukan dan umur pohonnya. Di kebun ini, rata rata 4 tahun dari biji sudah berbuah bahkan ada yang belum 2 tahun sudah berbuah. Kalau pohon induk yang ada di sini itu umurnya 9 tahun dan bisa menghasilkan 12 sampai 13kg dalam sekali panen. Jika yang masih baru belajar berbuah yang sedikit. Dalam setahun, pohon ini bisa berbuah 4 sampai 6 kali,” paparnya.Namun, dia mengaku, setelah dipetik dari pohonnya, Anggur Berazil ini hanya mampu bertahan sekitar 4 sampai 5 hari saja. Sehingga hal itu menjadi salah satu faktor dirinya belum bisa melayani pembelian yang pengirimannya memakan waktu cukup lama.

Untuk itu, dia berencana akan melakukan terobosan dengan mengolah buah ini menjadi selai dan sirup agar awet. Sehingga, selain dapat memenuhi kebutuhan konsumen juga dapat menyerap tenaga sekitar yang tentunya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Pandemic Covid-19? Pertanian Tidak Boleh Berhenti Berinovasi


Pertanian
 tidak boleh berhenti dan inovasi teknologi hasil karya anak bangsa harus terus dihilirkan ke pelaku utama dan pelaku pertanian secara umum, tegas Steivie Karouw Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Utara.

BPTP Sulut, sebagai sumber inovasi teknologi pertanian (ITP) spesifik local di Sulawesi Utara, terus hadir dan memberikan pelayanan sesuai dengan tugas dan funsinya, untuk pertanian Sulawesi Utara. Dan saya tegaskan pada para pengkaji, untuk ITP spesifik local Sulut, kita harus jadi solusinya.

Ditengah new normal baru karena C19, kita bersyukur karena kegiatan pertanian di Sulawesi Utara terus bergerek, penuhi kebutuhan masyarakat. Sebagai contoh kita lihat, petani hortikultura di daerah Tompaso yang terus bergiat hasilkan pangan dalam keterbatasan C19.Demikian dengan di Remboken Bawang merah dan Cabe.

Lanjut Karouw, saat ini BPTP Sulawesi Utara bekerjasama dengan Bank Indonesia. BPTP mengkaji varietas unggul baru Bawang Merah. Hasil karya anak bangsa di Balitbangtan Kementerian Pertanian ini, diharapkan akan perkaya koleksi bawang local yang adaptive di Sulut. Varietas baru yang sedang di kaji yaitu: Bima Brebes, Batu Ijo, Tajuk.

Vareitas-varietas ini secara umum sesuai dengan deskripsinya memiliki keunggulan. Bahkan untuk Brebes dan Tajuk, sudah pernah kami hasilkan benihnya. Namun,keterbatasan BPTP dalam hilirisasi jadi kendala. Hadirnya BI dan meminta  pendampingan ITP kami sambut baik. Kegiatan ini akan percepat hilirisasi ITP dan diharapkan keunggulan-keunggulan Varietas baru ini, dapat berkontribusi bagi petani di Sulawesi Utara, tutur Steivie.

Di tempat yang sama, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Maumbi Jaya, Hanny Pantouw yang didampingi oleh anggotanya apresiasi BPTP dan BI yang menjadikan Poktannya sebagai entri point pengkajian varietas baru ini. “Kami merasakan manfaat dari inovasi teknologi bawang merah, setelah mendapatkan pendampingan dari BPTP. Harap kami agar inovasi-inovasi baru dari BPTP dapat hadir di kelompok kami”.

Peneliti Balitbangtan Olvi Tandi,SP.MSi., tegaskan bahwa dari varietas baru ini, seperti Bima Brebes memang sudah pernah dikaji di daerah Tomohon dan memberikan hasil baik. Untuk itu dengan adanya permintaan BI untuk damping teknologi Bawang Merah ini,kami sambut baik. Agar ITP Balitbangtan semakin banyak yang terhilirkan ke pelaku utama.

Pada kegiatan ini,kami melakukan di Tompaso Bawang Merah monoculture dan di Leleko Kecamatan Remboken, kami kaji Bawang Merah bersanding dengan tanaman Cabe Rawit. Nanti dari hasil ini, diharapkan dapat menjadi Solusi tumpeng sari cabe dan bawang merah.

Sumber: https://www.kompasiana.com/arnoldturang2326/601c6e47d541df1d396b45e2/inovasi-teknologi-pertanian-terus-dihilirkan-ditengah-pandemic-c19

Made Sandi,Petani Muda Sukses Dari Bali

Banyak terjadi pemutusan hubungan kerja akibat dampak pandemi Covid-19 atau virus Corona, membuat masyarakat Bali ada yang kembali menekuni pekerjaan sebagai petani. Seperti salah satu mantan pekerja di sektor pariwisata bernama I Made Sandi alias Kadek Melon. Dirumahkan sejak bulan Maret 2020 lalu akhirnya ia dipaksa untuk menekuni penuh aktivitas sebagai petani, dimana sebelumnya ditengah pekerjaan pokoknya hanya dijadikan pekerjaan sambilan saja.“Sebelumnya saya seorang scurity villa di Petitenget, Kerobokan, Badung bekerja sejak 2005, imbas Covid dirumahkan bulan Maret. Dulu menjadi petani nomaden (sampingan, red), sekarang bisa fokus memproduksi. Tidak saja bertani tapi menjual kualitas dan kita tinggalkan sistem tradisional,” ujar Kadek Melon yang kini sudah menjadi salah satu petani sukses di Bali, ditemui di Pasar Tani di halaman Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Jumat (5/6/2020).Diceritakan Kadek Melon, sebelumnya saat masih bekerja sebagai scurity ia bersama keluarganya hanya menanam satu jenis sayuran saja seperti sayur hijau itu pun tidak lebih dari satu are. Namun sejak mulai fokus menjadi petani sejak tiga tahun lalu ia berhasil menggarap lahan seluas 75 are yang berlokasi di Banjar Munduk Andong, Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Sebagai petani ramah lingkunahn ia memproduksi produk pertanian organik agar bisa diterima pasar.“Banyak guide atau sopir pariwisata belajar bertani, cuma tiang melakukan itu sekalipun dulu punya pekerjaan pokok. Sekarang kita tidak ambil pusing dan tidak perlu belajar dari awal menjadi petani. Sekarang benar-benar mengikuti pasar lokal, harga memang dibawah sekarang. Kita tidak merasa jebol, tidak meras merugi keras karena kita bergeraknya di pertanian tradisional yang ramah lingkungan,” jelasnya.Di saat yang sama, petani muda sukses lainnya yakni, I Gusti Ngurah Putu Sunia Negara mengatakan, ia juga sebelumnya telah bekerja menjadi staf di Kantor Desa Plaga. Namun sejak lima tahun lalu lebih memilih hidup sebagai petani desa. Ia menceritakan berani meninggalkan pekerjaan dengan penghasilan gajih bulanan itu karena melihat potensi besar di sektor pertanian. Diakuinya pandemi Covid-19 membuat penjualannya menurun dan hanya menghandalkan pasar lokal. “Harga tidak masuk harga pokok produksi untuk beberapa jenis sayur,” terang petani asal Banjar Auman itu.Mendengar keluhan dari petani Penyuluh Pertanian Madya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Probinsi Bali, Ir. I Putu Karyana, MMA pada saat yang sama menyampaikan, pihaknya terus melakukan pembinaan kepada petani. Terlebih ditengah pandemi Covid-19 tentunya produksi kebutuhan untuk restaurant dan hotel tidak perlu diproduksi banyak. Sebaliknya kebutuhan pokok masyarakat tetap diproduksi sesuai permintaa, agar hasil produksi tidak dibeli murah oleh pasar.

“Mempunyai nilai ekonomis tinggi atau yang laku di pasaran itulah yang kita bina. Agar apa yang dia (petani, red) usahakan tidak mubazir dan dipasaran tidak dinilai rendah. Dengan adanya pandemi peluang pasar ke hotel berkurang sehingga kiat dinas melaksanakan Pasar Tani,” terangnya mengajak petani tetap berjualan mengedepankan protokol kesehatan yang ketat.

Sudah Sebulan, Harga Cabai di Pasar Bojonegoro Alami Kenaikan

Sejak awal tahun 2021 atau sejak saat memasuki musim penghujan tahun ini, harga sejumlah komoditas khususnya harga cabai rawit di pasar tradisional di Kabupaten Bojonegoro, alami kenaikan cukup tajam. Kondisi berbeda terjadi untuk harga bawang merah yang sempat mengalami penurunan, namun kini berangsur naik.

ADVERTISEMENTKenaikan harga cabai tersebut diduga akibat datangnya musim penghujan, sehingga produksi petani cabai mengalami penurunan karena banyak cabai yang rusak akibat terkena air hujan. Selain itu, banyak petani yang mulai beralih menaman padi, yang mengakibattkan produksi cabai atau pasokannya menurun.

Sementara, penurunan harga bawang merah akibat adanya panen raya pada akhir tahun lalu sehingga produksinya melimpah yang berdampak turunnya harga di pasar.

Di Pasar trdisional Kota Bojonegoro, harga cabai rawit sebulan lalu berkisar antara Rp 40 ribu per kilgram, sementara seminggu lalu harganya naik menjadi Rp 70 ribu per kilogram, dan hingga Kamis (04/02/2021) hari ini, harganya bertahan Rp 70 ribu per kilogram.

Untuk cabai rawit hijau, sebulan lalu harganya berkisar antara Rp 35 ribu per kilgram, sementara sejak seminggu lalu naik menjadi Rp 45 ribu per kilogram, dan bertahan hingga hari ini.

ADVERTISEMENTDemikian juga untuk cabai merah keriting, sebulan lalu berkisar antara Rp 35 ribu per kilgram, sementara seminggu lalu harganya naik menjadi Rp 50 ribu per kilogram dan terus bertahan hingga hari ini.

Harga Cabai merah besar (lompong), sebulan lalu berkisar antara Rp 35 ribu per kilgram, seminggu lalu naik menjadi Rp 55 ribu per kilogram, dan hari ini, harganya mencapai Rp 60 ribu per kiligram.

Untuk harga bawang merah, sebulan lalu harganya sempat anjlok hingga Rp 15 ribu per kilgram, namun seminggu lalu mulai naik menjadi Rp 20 ribu per kilogram, dan hari ini, harganya mencapai Rp 22 ribu per kiligram.Sementara untuk bawang putih, sejak sebulan lalu harganya relatif stabil pada kisaran Rp 20 ribu per kilgram, di mana hari ini harganya mencapai Rp 22 ribu per kiligram.ADVERTISEMENT

Salah satu pedagang di pasar tradisional Kota Bojonegoro, Hj Sumirah (55) asal Kelurahan Ledok Kulon Kecamatan Bojonegoro Kota, kepada awak media ini mengatakan bahwa kenaikan harga cabai tersebut tejadi sejak seminggu lalu dan hingga kini kenaikannya masih bertahan.

“Sudah seminggu harga tetap. Penyebabnya barangnya tidak ada, soalnya musim hujan ini barangnya banyak yang rusak, sehingga produksinya menurun,” kata Sumirah.Menurutnya, dengan adanya kenaikan harga tersebut berdampak pada penjualan dari masing-masing pedagang di pasar Kota Bojonegoro.

“Pembeli ya turun karena harganya mahal. Misal biasanya beli 3 kilo sekarang cuma beli 2 kilo atau bahkan 1 kilo, karena harganya mahal,” kata Sumirah.Seorang warga bernama Endang Gunawan (40), pengusaha warung makan warga Perumda Bojonegoro Kota mengaku dirinya harus pandai-pandai mengatur uang belanjaan akibat kenaikan harga cabai tersebut, karena cabai merupakan bumbu utama di warung miliknya.

ADVERTISEMENT”Biasanya kalau bawa uang 100 ribu rupiah sudah dapat macam-macam bumbu, sekarang harus dibagi-bagi. Cabai biasanya saya beli setengah kiloan, sekarang cuma beli seperempat kilo,” kata Endang.

Sumber: https://kumparan.com/beritabojonegoro/sudah-sebulan-harga-cabai-di-pasar-bojonegoro-alami-kenaikan-1v6tENDeExZ

Ujang Margana, Petani Milenial Dari Bandung Yang Sukses Berbisnis Bawang Merah

Ujang Margana tak pernah ragu bekerja sebagai petani. Setelah lulus sebagai Sarjana Pendidikan pada 2015, ia langsung bergelut dengan tanah dan cangkul.

Ujang memahami bahwa pertanian di tanah kelahirannya, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, memiliki potensi yang luar biasa. Lahan pertanian bawang merah milik ayahnya coba ia garap dengan sebaik-baiknya.

“Sejak kecil memang sudah sering diajak untuk bertani. Saat kuliah pun, sebelum pergi ke kampus, pergi dulu ke kebun untuk mengurus tanaman di sana,” ujar Ujang.

Ada banyak halangan yang Ujang temui. Tetapi, ia tak menyerah. Ia rangkum satu per satu halangan yang ada. Setelah terkumpul, ia pelajari dan coba cari solusinya.

Tak lama setelah mendapat gelar sarjana, ia bersama sang kakak dan petani lainnya berupaya mendorong sektor pertanian di sekitar tempat tinggalnya. Salah satunya membentuk Kelompok Tani Tricipta.

Tricipta menjadi ruang bagi petani-petani di sekitar tempat tinggalnya untuk meningkatkan produksi, dan mengatasi kendala yang kerap hadir dalam kegiatan usaha tani.

Perlahan dan pasti, pertanian di sekitar tempat tinggal Ujang berkembang. Kesempatan Ujang dan Kelompok Tani Tricipta untuk mengembangkan pertanian terbuka lebar saat harga bawang merah (komoditas unggulan Kelompok Tani Tricipta) mengalami lonjakan di tingkat konsumen.

Saat itu, pemerintah pusat melalui Bulog dan Kementerian Pertanian membuka pintu bagi kelompok tani dan petani untuk memasok bawang merah demi memenuhi kebutuhan konsumen dan menstabilkan harga.

Kesempatan itu tidak Ujang sia-siakan. Ia coba menginisiasi Kelompok Tani Tricipta untuk berkontribusi dan membantu pemerintah menstabilkan harga bawang merah.

“Dengan sosialisasi yang penuh kekeluargaan dan memberi pemahaman yang terbuka kepada anggota dan sesama pengurus, akhirnya secara gotong royong bersama seluruh anggota Kelompok Tani Tricipta memasok 150 ton bawang merah kepada bulog,” katanya.

Sejak itu, Ujang terus mengembangkan pertanian komoditas bawang merah. Awalnya ia menggarap lahan seluas 1 hektare. Bawang merah yang dihasilkan dalam sekali panen mencapai 10 ton. Keuntungan yang ia dapat sekitar Rp53 juta.

Ujang dan Kelompok Tani Tricipta juga mengembangkan kegiatan penangkaran benih dan menjadi satu-satunya produsen benih bawang merah di Kabupaten Bandung.

Ujang rutin mengikuti bimbingan teknis (bimtek) yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Bandung dan Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Selain itu, Ujang pun mendapatkan bantuan teknologi pertanian. Salah satunya alat menyiram dari Pemda Provinsi Jabar. Dari situ, Ujang mampu membudidayakan bawang merah dengan optimal.

“Yang terpenting bagi petani adalah akses pasar. Pemerintah, baik pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten Bandung, dan Pemda Provinsi Jabar, sering membantu membuka akses pasar,” ucap Ujang.

Jika sudah mendapatkan pasar, kata Ujang, pertanian menjadi sektor yang menarik untuk berkarier. Saat ini, lahan pertanian bawang merah Ujang sudah mencapai 30 hektare.

“Saya punya moto hidup yakni menjadi petani cerdas, mandiri, cepat, dan lestari. Saya kira, pertanian menjadi sektor yang menjanjikan untuk generasi muda,” tambahnya.

“Saya pun mengajak generasi muda untuk menjadi petani. Selain menjamin masa depan dengan pendapatan yang besar, kita dapat berkontribusi pada ketahanan pangan dan melestarikan lingkungan,” sambungnya.

Harga Cabai Rawit di Pasar Raya Padang Masih Mahal

Sejumlah harga kebutuhan pokok di Pasar Raya Padang, Provinsi Sumbar saat ini sedang melonjak naik. Selain harga komoditas bawang merah yang sedang naik, harga cabai rawit hijau kini masih melambung tinggi di pasaran.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumbar melalui Kasi Perdagangan Sumbar, Jonhar, Kamis (4/2/2021), tercatat harga cabai rawit hijau masih dijual Rp80.000 per kilogram (kg).

Begitu juga harga cabai merah keriting saat ini di Pasar Raya Padang kembali naik menjadi Rp44.000 per kg, sebelumnya dikisaran Rp36.000 per kg.

Sementara sejumlah komoditas masih cenderung stabil. Seperti, beras Cap Arai Pinang Pariaman Rp10.000 per kg, beras Cisokan Solok Rp15.000 per kg, beras Cap IR-42 Muara Labuh Rp12.500 per kg, beras Cap IR- 42 Padang Rp13.500 per kg.

Beras Cap Jawa Rp14.000 per kg, beras Cap Kuraik Kusuik Bukittinggi Rp14.000 per kg, beras Cap Panda Jambi Rp12.000 per kg, dan beras Sokan Panjang Padang Rp12.000 per kg.

Gula pasir kristal putih plastik Rp13.000 per kg, minyak goreng curah plastik tanpa merek Rp12.000 per kg, minyak goreng kemasan plastik bimoli Rp15.000 per 1 liter, minyak goreng kemasan sederhana Rp12.000 per 1 liter.

Daging sapi lokal (paha belakang) Rp130.000 per kg, daging sapi lokal (daging has luar Sirloin ) Rp130.000 per kg, daging sapi lokal (daging sanding lamur Brisket) Rp130.000 per kg, daging sapi lokal (daging has dalam Tanderloin) Rp120.000 per kg, daging tetelan Rp40.000 per kg, dan aging sapi lokal (daging has dalam Tenderloin ) Rp130.000 per kg.

Daging ayam ras/broiler utuh Rp42.000 per kg, daging ayam kampung utuh Rp47.000 per kg. Sementara telur ayam negeri Rp27.200 per kg, telur ayam kampung Rp42.000 per kg.

Susu bubuk lokal indomilk coklat 400 gram Rp31.000 per kg, susu bubuk lokal neste dancaw full cream 380 gram Rp43.000 susu kental manis frisian flag Rp10.000 per kg, susu kental manis indomilk Rp10.000.

Sedangkan, jagung lokal pipilan Rp6.000 per kg, tepung terigu Bogasari eceran protein sedang Rp10.000 per kg, tepung terigu Bogasari eceran protein sedang Rp8.5000 per kg, kacang kedele Rp10.000 per kg.

Bawang putih Rp24.000 per kg, bawang merah Rp26.000 per kg, ikan laut teri Rp70.000 per kg, garam bata yodium Rp1.500 per buah, garam halus yodisum Rp12.000 per kg.

Mie instan indofood indomie kuah kari ayam Rp2.500 per bungkus, kacang tanah Rp28.000 per kg, kacang hijau Rp23.000 per kg, dan ketela pohon Rp6.000 per kg.

Sumber: https://www.harianhaluan.com/news/detail/120391/harga-cabai-rawit-di-pasar-raya-padang-masih-mahal

Riza Azyumarridha Azra, Petani Muda Dari Banjarnegara

Menjadi petani merupakan pilihan yang cemerlang bagi anak muda bernama Riza Azyumarridha Azra. Baginya, pertanian adalah profesi utama dalam karier dan kehidupan. Ya, Riza adalah pria asal Banjarnegara yang sukses menjalankan bisnis singkong menjadi tepung mocaf.

“Alhamdulillah bisnis saya semakin maju. Saya berterima kasih kepada para petani singkong yang ada di seluruh Indonesia,” ungkap pria lulusan teknik elektro ini saat menjadi pembicara TanionStage yang digelar di Museum Tanah, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa, 3 Maret 2020.

Dalam menjalankan bisnisnya, Riza membagi proses mocaf menjadi tiga klaster. Pertama, dia mendorong petani lokal yang berusia tua untuk memproduksi singkong. Kedua, mendorong kaum ibu untuk memproses olahan singkong.”Ketiga, saya mendorong anak muda untuk melakukan packaging, sehingga memiliki daya tarik yang cukup tinggi. Khususnya pada kemasan ekspor. Ketiga klaster ini saya terapkan untuk menyamaratakan keuntungan antara petani, kaum ibu, dan anak muda,” kata Riza.

Menurut Riza, saat ini singkong mocaf memiliki peluang yang cukup besar pada pertumbuhan ekspor nasional. Kata dia, olahan mocaf nyaris sama dengan tepung terigu yang biasa digunakan untuk pembuatan mie instan dengan hasil yang jauh lebih bagus.

“Ternyata tepung mocaf ini menjadi pilihan utama bagi warga Amerika yang menerapkan gaya hidup sehat. Mereka memilih mocaf daripada tepung biasa karena terdapat kandungan alami yang sangat sehat,” ucapnya.

Riza menambahkan, dalam sebulan dia mampu memproduksi 10 ton tepung mocaf untuk penjualan lokal dan ekspor. Saat ini, dia juga sedang memroses sertifikat ekspor ke berbagai negara di Eropa dan benua Amerika.

“Kami jual Rp15 ribu per kemas dengan omzet yang lumayan besar. Untuk itu, saya mengajak kalian anak-anak milenial untuk mulai bertani,” ucapnya.

Pengalaman menjadi petani muda juga dibagikan CEO Ayo Natura Internasional Jati Barmawati. Jati yang mewakili petani perempuan ini menyampaikan pentingnya menyerap teori sebelum diperaktekan pada dunia bisnis di lapangan.

“Saya kira jadi petani itu dituntut untuk berpikir. Jadi kita harus pintar membaca peluang pasar. Makanya saya bilang jangan jadi petani aja. Tapi harus menanam dengan membaca peluang yang ada,” ucapnya.

Jati adalah pengusaha muda yang bergerak di bidang penjualan produksi tani untuk dipasarkan ke pasar internasional. Barang yang dijual antara lain beras, jagung, dan produk hortikultura.

Jati mengarahkan mahasiswa pertanian harus mendominasi usaha tani di seluruh Indonesia. Mahasiswa harus berani mengambil resiko dan bertanggungjawab atas usahanya menjadi enterpreneur muda.

“Saya bilang ke teman-teman yang masih muda, bahwa untuk menjadi maju di bidang pertanian itu harus dimulai dari hulu ke hilir. Artinya kita harus percaya diri sebagai petani milenial, karena petani sekarang beda dengan petani zaman dulu. Pertanian sekarang lebih menjanjikan daripada yang kita lihat dulu,” ucap Jati.

Pemprov Babel Kembangkan Budi Daya Jahe Merah

Sungailiat: Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mulai mengembangkan budi daya jahe merah melalui pemberdayaan masyarakat di wilayah itu. Caranya yakni dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan rumah.


“Saat ini kami mulai mengembangkan budi daya jahe merah dengan memberdayakan masyarakat menanam di pekarangan rumahnya,” kata Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman, dikutip dari Antara, Rabu, 3 Februari 2021.

Dia mengatakan pengembangan budi daya jahe merah yang dijadwalkan mulai panen pada November 2021, karena permintaan pasar baik lokal maupun nasional cukup tinggi.

“November kami perkirakan sudah panen, meskipun dengan jumlah target produksi belum dapat kami tetapkan karena masih tahap awal,” jelas gubernur.

Untuk memaksimalkan budi daya jahe agar mendapatkan produksi panen yang memuaskan, kata Gubernur, pihaknya akan menugaskan penyuluhan lapangan khusus tanaman jahe.

“Kami akan memberikan apresiasi dengan hadiah sepeda motor bagi penyuluh yang berhasil memberikan pembinaan dan pendampingan masyarakat penanam jahe dengan hasil yang maksimal,” ujarnya.

Budi daya tanaman jahe cukup sederhana, karena tidak harus memerlukan lahan dengan hamparan luas, tetapi dapat dikembangkan menggunakan media tanam pot bagi warga yang memiliki lahan pekarangan rumah sempit.

“Saya cukup optimistis pemenuhan kebutuhan jahe merah yang sekarang banyak diminati masyarakat dapat tercukupi jika masyarakat bersama-sama menanam komoditi jenis ini,” ujarnya.

Tingginya permintaan jahe merah di pasar, kata Gubernur, memberikan peluang besar untuk mengembangkannya sehingga mampu membantu peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat.

Sumber: https://www.medcom.id/ekonomi/bisnis/ObzZzp7b-pemprov-babel-kembangkan-budi-daya-jahe-merah

Wartono, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Tanaman Hias Aglaonema

Meningkatnya permintaan tanaman hias diakui Wartono, petani sekaligus pelaku usaha asal Ciapus Bogor yang kini kebanjiran order. “Tren dan permintaanya jauh lebih besar dari saat sebelum pandemi, Cuma permintaan kalau dulu biasanya pedagang sekarang ini semua golongan dan kalangan. Juga permintaannya menjadi lebih banyak dan membludak, bisa lima puluh kali lipat,” ucap Wartono, pemilik Gress Nursery di Ciapus, Bogor.

Tingginya permintaan tanaman hias mendorong masyarakat terjun ke bisnis tanaman hias. Sayangnya, banyak yang belum mengetahui selak beluk bisnis tersebut. Untuk itu, Wartono berbagi tips untuk mengembangkan bisnis tanaman hias, khususnya aglaonema.Bagi seorang penjual sekaligus produsen, Wartono menjual aneka aglaonema mulai kisaran Rp 35 ribu. Untuk yang berukuran remaja bukanlah hal yang mengherankan bisa mencapai Rp 1 juta. Bahkan Golden Hope dibanderol Rp 20 juta.

Wartono menyarankan, untuk usaha tanaman hias kita harus sabar dan tekun, karena mengembangkan aglaonema itu tidak mudah. Kadang bagi pemula tidak sabar menunggu penghasilan cepat. Apalagi tanaman aglaonema tidak mudah dalam budidayanya.

“Ini karena kebiasaan orang-orang kita. Tanaman ini bukan barang cetakan. Kita harus sabar nungguin beranak dan harus melakukan perawatan dengan benar. Aglaonema ini lebih sulit dari tanaman yang lain. Mungkin kalau pemain tanaman di luar bisa lebih cepat, karena sistem kultur jaringan, sedangkan di sini hanya dengan sistem stek saja,” tuturnya.

Wartono bercerita, dirinya autodidak ketika mengembangkan bisnis aglaonema. Menekuni tanaman aglaonema baginya berasal dari hobi dan nyaman menekuni tanaman ini. “Awalnya saya autodidak belajar dan tidak mengenal tanaman sama sekali. Dulu saya hanya tukang kebun dan kesibukan lainnya menguru kebun villa. Saat ini saya ingin usaha, tapi tidak tahu ingin usaha apa. Akhirnya saya menemukan hal yang membuat saya nyaman. Saya berawal dari hobi, bukan niat usaha malahan dari awalnya,” ujarnya.

Dirinya mengaku hobi merawat memiliki kenyamanan tersendiri dan tidak menyangka bisnisnya bisa menghasilkan. Sebelumnya dirinya pernah mencoba usaha lain, seperti ternak ikan dan segala macam, tetapi yang lebih menghasilkan malah usaha tanaman hias ini.

Jika sekarang Wartono memiliki areal 3.000 meter persegi, siapa sangka miliarder ini memulai usahanya dari lahan hanya dengan sebidang tanah 2×3 meter persegi. Wartono sendiri memfokuskan pada budidaya aglaonema. Namun beberapa jenis tanaman juga dibudidayakan seperti aneka philodendron, keladi dan beberapa jenis tanaman hias daun lainnya. Bahkan penjualan tanaman hias telah menembus pasar ekspor.

Jika ditanya besaran omset per bulan, maka tidak tanggung-tanggung, angka menembus Rp 1 miliar per bulan. “Selama pandemi, per bulan rata-rata Rp 750 juta hingga Rp 1 miliar,” ujar Wartono malu-malu.Dengan meningkatnya permintaan tanaman hias, Wartono mengakui, stok yang dimiliki tidak mampu memenuhi permintaan pasar, karena petani bunga sedikit. Bahkan bunga lokal sangat kurang jumlahnya.

“Permintaannya banyak, tetapi petaninya tidak ada. Itu menjadi masalah tersendiri karena kita kekurangan barang-barang lokal. Sejauh ini kami mengembangkan produk hasil sendiri, namun adakalanya mengambil juga dari rekan-rekan yang lain,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Pecinta Tanaman Hias Bogor, Gunawan optimistis bisnis tanaman hias selama masa pandemi akan terus berkibar dan ini kabar baik bagi para penjual tanaman hias. “Selama Covid akan terus ramai karena orang hobi menanam. Selama hobi menanam, bisnis tanaman hias akan terus ramai,” ujarnya bangga.

Gunawan mengatakan, para petani tanaman hias Ciapus sudah terbiasa bermain di pasar ekspor. Produksi yang dipunyai umumnya untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke Eropa, Amerika, Cina, Hongkong hingga Australia.

Sementara itu Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo terus menggaungkan program Gratieks atau Gerakan Tiga Kali Ekspor untuk semua komoditas pertanian, termasuk tanaman hias. Produksi tanaman hias hingga triwulan II pada 2020 berdasarkan data BPS mencapai 342.422.645 pcs. Sementara itu ekspor volumenya mencapai 4.176.294 kg atau setara dengan 12.176.244 dollar AS.

Besarnya angka ekspor benih tanaman hias menunjukkan kalau bisnis benih tanaman hias masih sangat terbuka. Sedangkan, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto menyatakan bahwa jajarannya telah melakukan berbagai upaya untuk mendukung program Gratieks tersebut, yakni melalui GEDOR Horti (Gerakan Dorong Produksi, Daya Saing dan Ramah Lingkungan Hortikultura).

Penjual Alpukat Mentega Kota Malang Curhat Pandemi Susah, Pilu Ditertibkan Satpol PP: Mau Gimana

Takin (25), satu di antara pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di Jalan HOS Cokroaminoto, Klojen, Kota Malang tak bisa apa-apa lagi ketika didatangi petugas Satpol PP Kota Malang saat melakukan patroli pada Rabu (3/2/2021).

Pria yang berjualan alpukat mentega itu diminta pergi meninggalkan tempat di mana dia menjajakan dagangannya sehari-hari.

Sembari mengemas alpukat yang dipajang di atas jok motornya, pria yang tinggal di Wonokoyo hanya menundukkan kepala saat ditemui petugas.

Petugas hanya meminta kepada Takin, dan tujuh PKL lainnya yang berjualan di Jalan HOS Cokroaminoto agar tidak berjualan di pinggir jalan.

“Tadi cuma diperingatkan kalau tidak boleh berjualan. Tapi ya mau bagaimana lagi. Sudah setahun lebih saya berjualan di sini,” ucapnya.

Pria yang tinggi di Wonokoyo Kecamatan Kedungkandang ini kebingungan, apabila nanti harus mencari tempat baru untuk berjualan.

Pasalnya, penghasilan yang dia dapatkan mengalami penurunan saat pandemi virus Corona ( Covid-19 ) melanda Kota Malang hampir setahun ini.

Jika biasanya, penghasilannya mencapai Rp 250 Ribu per hari sebelum pandemi, saat pandemi ini untuk mendapatkan Rp 200 Ribu dirasanya cukup susah.

Takin hanya minta agar nantinya diberikan kelonggaran agar dia bisa berjualan di lokasi tersebut.

“Sudah dua kali ini saya diperingatkan. Tapi mau gimana lagi, bingung sekarang kalau mau pindah. Pandemi ini susah,” ucapnya.

Penertiban yang dilakukan oleh Satpol PP tersebut ialah untuk menindaklanjuti perintah dari Wali Kota Malang.

“Jadi penertiban tadi seusai kami pulang dari operasi yustisi yang kami gelar bersama TNI Polri di Dieng. Sembari kami jalan pulang, kami lakukan penertiban kepada PKL yang berjualan di pinggir jalan,” ucap Antonio Viera, Kasi Operasi dan Penegakan Satpol PP Kota Malang.

Operasi penertiban kata pria yang akrab disapa Anton tersebut hanya berupa teguran lisan dan teguran tertulis saja.

Apabila ada PKL yang tetap ditemui masih berjualan, pihaknya akan menindak langsung dengan denda tipiring sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Untuk mekanismenya kami berikan teguran lisan, teguran tertulis pertama sampai ketiga. Kalau tidak digubris ya kami bongkar dan kami kenai tipiring,” ucapnya.

Berkaitan dengan penertiban PKL ini, Anton tidak akan memberikan toleransi kepada sejumlah PKL. 

Mengingat apa yang dia dikerjakan ini, sesuai dengan Perda Nomor 20 Tahun 2012 tentang ketertiban umum dan lingkungan.

“Kalau bicara toleransi kami tidak bisa menjawab. Karena kami hanya melaksanakan tugas sesuai dengan aturan dan arahan pimpinan,” tandasnya.

Sumber: https://jatim.tribunnews.com/2021/02/03/penjual-alpukat-mentega-kota-malang-curhat-pandemi-susah-pilu-ditertibkan-satpol-pp-mau-gimana?page=2