Menakar Potensi dan Tantangan Petani Milenial di Jawa Barat

Pemprov Jawa Barat tengah membuka program Petani Milenial. Para milenial akan mendapatkan suntikan dana hingga lahan perkebunan secara cuma-cuma di pedesaan.

Menanggapi hal tersebut, rasanya penting untuk mengetahui potensi bisnis dan rintangan yang mungkin akan dihadapi generasi milenial saat terjun ke dunia pertanian. Di Jawa Barat, komposisi penduduk milenial mencapai 26,07 persen dari total jumlah penduduk di Jabar yang mencapai 48,27 juta jiwa. Sementara secara nasional, jumlah kelompok milenial berada di angka 25,87 persen, dengan begitu kelompok milenial di Jabar lebih tinggi dari jumlah klasifikasi secara nasional.

Pakar Ekonomi Universitas Pasundan Acuviarta Kartabi mengatakan, jika dilihat dari jumlah potensinya, bisnis pertanian bisa dikatakan cukup menggiurkan. Hanya saja, pertanian menjadi salah satu bidang ekonomi yang cukup kompeks permasalahannya.

“Selain mendorong masuknya petani milenial, juga harus diperhatikan rantai bisnis dan perdagangan komoditas pertanian. Itu masalah yang kompleks. Perlu disampaikan dulu seperti apa skenario jangka menengah, katakanlah asumsinya ada petani milenial bertambah, siapa yang akan membeli komoditas yang mereka hasilkan karena itu bagian dari program pemerintah daerah,” ujar Kartabi saat dihubungi detikcom, Jumat (28/1/2021).

Dia memperkirakan, adanya petani milenial dapat merubah mindset anak muda soal pekerjaan tani. “Misalnya mereka lebih bisa beradaptasi dengan teknologi, sehingga akan ada penemuan-penemuan baru, varietas baru, jaringan pemasaran yang lebih inovatif, gaya kemasan yang beragam, dan adaptasi pemasaran secara online yang lebih maju,” jelasnya.

Seperti yang sempat terjadi di Jawa Timur, di mana seorang petani milenial di Blitar berhasil membuat varietas baru alpukat yang bernama Aligator. Aligator ini menghasilkan buah sebesar kepala bayi dengan berat mencapai dua kilogram dengan jual bibit seharga Rp 50 ribu per batang dan keuntungan hingga Rp 2 juta dari buah yang dihasilkan per pohon.

“Seorang petani milenial melakukan uji coba siangan tanaman ini bertahun-tahun hingga berhasil membuahkan hasil dengan kualitas dan kuantitas maksimal,” ujarnya.

Pemprov Jawa Barat tengah membuka program Petani Milenial. Para milenial akan mendapatkan suntikan dana hingga lahan perkebunan secara cuma-cuma di pedesaan.

Menanggapi hal tersebut, rasanya penting untuk mengetahui potensi bisnis dan rintangan yang mungkin akan dihadapi generasi milenial saat terjun ke dunia pertanian. Di Jawa Barat, komposisi penduduk milenial mencapai 26,07 persen dari total jumlah penduduk di Jabar yang mencapai 48,27 juta jiwa. Sementara secara nasional, jumlah kelompok milenial berada di angka 25,87 persen, dengan begitu kelompok milenial di Jabar lebih tinggi dari jumlah klasifikasi secara nasional.

Pakar Ekonomi Universitas Pasundan Acuviarta Kartabi mengatakan, jika dilihat dari jumlah potensinya, bisnis pertanian bisa dikatakan cukup menggiurkan. Hanya saja, pertanian menjadi salah satu bidang ekonomi yang cukup kompeks permasalahannya.

“Selain mendorong masuknya petani milenial, juga harus diperhatikan rantai bisnis dan perdagangan komoditas pertanian. Itu masalah yang kompleks. Perlu disampaikan dulu seperti apa skenario jangka menengah, katakanlah asumsinya ada petani milenial bertambah, siapa yang akan membeli komoditas yang mereka hasilkan karena itu bagian dari program pemerintah daerah,” ujar Kartabi saat dihubungi detikcom, Jumat (28/1/2021).

Dia memperkirakan, adanya petani milenial dapat merubah mindset anak muda soal pekerjaan tani. “Misalnya mereka lebih bisa beradaptasi dengan teknologi, sehingga akan ada penemuan-penemuan baru, varietas baru, jaringan pemasaran yang lebih inovatif, gaya kemasan yang beragam, dan adaptasi pemasaran secara online yang lebih maju,” jelasnya.

Seperti yang sempat terjadi di Jawa Timur, di mana seorang petani milenial di Blitar berhasil membuat varietas baru alpukat yang bernama Aligator. Aligator ini menghasilkan buah sebesar kepala bayi dengan berat mencapai dua kilogram dengan jual bibit seharga Rp 50 ribu per batang dan keuntungan hingga Rp 2 juta dari buah yang dihasilkan per pohon.

“Seorang petani milenial melakukan uji coba siangan tanaman ini bertahun-tahun hingga berhasil membuahkan hasil dengan kualitas dan kuantitas maksimal,” ujarnya.

Sumber: https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5351050/dicari-5-ribu-petani-milenial-di-jabar-dimodali-duit-dan-lahan

Mugiyanto,Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Kelengkeng

Mugiyanto menceritakan awal dirinya terjun ke dunia pertanian. Dia mengalami musibah saat bertugas sebagai prajurit TNI di Ambon, Maluku, pada 2000 silam.
Dia kehilangan salah satu kaki karena terkena ranjau darat. Kini, Mugiyanto menggunakan kaki palsu.
Pada 2004, ia ke Jakarta dan mengikuti pelatihan bertani yang diselenggarakan Pusat Rehabilitasi Kementerian Pertahanan (Pusrehab Kemhan). Pada 2007, Mugiyanto kembali ke Magelang, mulai mengaplikasikan ilmu tani yang dimiliki. “Awal mula terjun ke pertanian pada tahun 2004 kursus di Pusrehab Kemhan. Setelah itu, diterjunkan ke lapangan dengan pulang ke satuan. Saya mulai mengaplikasikan untuk menanam berbagai tanaman buah,” Katanya
Setelah mencoba bertani berbagai macam buah, Mugiyanto mencari varietas paling unggul di Indonesia hingga menjatuhkan pilihan pada kelengkeng kateki. Dia sukses membudidayakannya di Kampung Borobudur pada 2015.

Penangkaran Benih Padi Dalam Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan

Latar Belakang Permasalahan

            Upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan perlu adanya dukungan sumber daya manusia (SDM), sarana (benih) dan prasarana, dan dukungan masyarakat. Salah satu komponen dalam budidaya tanaman pangan adalah ketersediaan benih bermutu. Ketersediaan benih bermutu tidak  terlepas  dari  peran  serta masyarakat dalam penangkaran benih. Kondisi keberagaman sosial ekonomi masyarakat dalam mengkomunikasi pencapaian ketersediaan benih tanaman pangan melalui pendekatan kelompok. Kementerian  Pertanian  (2015b) mengutip pernyataan Food and Agriculture Organization (FAO) bahwa negara berkembang melibatkan farm saved   seed   oleh   petani   sendiri   dan commercial seed keterlibatan penangkar benih dan industri benih. Keterlibatan petani dan kelompok tani sangat perlu dilakukan dalam rangka mendukung terwujudnya kawasan mandiri benih. Kementerian  Pertanian  telah menerbitkan  Kepmentan  No.3  Tahun 2015 tentang penetapan   kawasan padi, jagung, kedelai dan ubi kayu nasional dalam mendukung ketersediaan benih nasional, bentuk programnya kawasan mandiri benih terdiri dari seribu desa mandiri  benih  (Kementan  2015a).

Sektor pertanian memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi perekonomian Indonesia.Selama lebih dari satu dasawarsa, kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada pada urutan kedua setelah sektor industri pengolahan.Namun demikian kontribusinya semakin kecil seiring dengan transformasi dari sektor pertanian menuju sektor industri manufaktur dan jasa. Pada tahun 2003 kontribusi sektor ini sebesar 15,2 persen, kemudian menurun menjadi 14,4 persen pada tahun 2013 (BPS, 2013).

Rendahnya pertumbuhan sektor pertanian disumbang oleh penurunan kinerja dari subsektor tanaman pangan.Dengan melihat kondisi ini maka upaya lebih serius sangat diperlukan untuk mewujudkan swasembada pangan. Komoditas tanaman pangan yang nilainya paling strategis adalah padi.Padi menghasilkan beras sebagai makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia.Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, kebutuhan beras dalam periode 2005-2025 diproyeksikan masih akan terus meningkat. Pada tahun 2005 kebutuhan beras setara 52,8 juta ton gabah kering giling (GKG), maka pada tahun 2025 kebutuhan tersebut diproyeksikan sebesar 65,9 juta ton GKG (Mandagie, 2013). Komoditas tersebut merupakan salah satu sasaran utama pemerintah dalam target swasembada. Upaya untuk mempertahankan swasembada beras secara berkelanjutan harus menjadi prioritas dan perlu dukungan nyata dari semua pihak. Salah satu cara adalah upaya peningkatan produktivitas padi 1,5 persen per tahun dengan indeks panen 1,52 diperkirakan dapat mempertahankan swasembada beras hingga tahun 2025 (Mandagie, 2013). Salah satu faktor pendukung dari peningkatan produksi adalah dengan penggunaan benih padi unggul bersertifikat yang digunakan oleh petani berupa benih sebar. Melalui penggunaan benih bermutu, produktivitas tanaman akan meningkat sehingga produksi pangan nasional juga akan meningkat. Dengan demikian ketahanan pangan akan tercapai. Lebih jauh penggunaan benih bermutu juga akan meningkatkan kualitas hasil pertanian. Selain itu penggunaan benih bermutu akan menyebabkan biaya produksi menjadi lebih murah karena tidak perlu menyulam, dan tidak perlu banyak mengeluarkan biaya pestisida karena benih bermutu memiliki vigor yang tinggi dan lebih tahan terhadap deraan cuaca. Peran kelompok tani penangkar benih sangat penting dalam upaya mencapai swasembada pangan.Peran kelompok tani penangkar benih terutama sebagai unit produksi yang menyediakan kebutuhan benih unggul, dan berperan sebagai kelas belajar, wadah kerjasama, dan unit pemasaran.

Penangkaran benih padi pada Gapoktan Empat Sehati Mandiri ini diharapkan mampu meningkatkan pertanian yang ada di Sumatera Barat ini khususnya. Karena lewat penangkarran benih padi ini petani bisa sejahtera jika dilaksanakan dengan baik dan benar pada prosesnya awal sampai akir.

PEMBAHASAN

Penangkaran benih padi yang ada di Gapoktan Empat Sehati Mandiri banyak di minati oleh petani, dikarenakan benih padi yang dihasilkan Gapoktan Empat Sehati Mandiri sangat baik dan memuaskan bagi para petani. Dengan adanya penangkaran benih ini diharapkan dapat meningkat suatu produk pertanian, pertanian  khususnya padi yang ada di Batusangkar dan benih padi ini juga dipasarkan di Dinas Pertanian yang ada di Sumatera Barat, tidak hanya di Sumatera Barat saja Gapoktan Empat Sehati Mandiri juga memasarkannya di luar sumbar seperti ke Provinsi Riu.

Pertanian di Sumatera Barat memang harus di kembangkan terkhususnya pada bidang padi dikarenakan padi merupakan sumber makanan pengisi energi pertama bagi manusia, jika produktivitas padi berkurang maka sangat di takutkan kita warga negara Indonesia mengekspor padi dari Luar Negeri, padahal negara kita sangat cocok dilakukannya pertanian baik itu dibidang padi maupun pertanian lainnya, apalagi kita bisa melihat bahwa di Sumatera Barat ini sangat cocok tanahnya ditanami tanaman apa saja, ini sangat sayang sekali jika tidak kita manfaatkan dengan sebaik — baiknya. Pada Gapoktan Empat Sehati Mandiri ini sangat memperhatikan kualitas yang baik, katrena kepuasan konsemen adalah nomor satu, pada proses pembuatan benih padi ini melewati beberapa proses dahulu sehingga bisa menghasikan benih padi yang mempunyai kualitas yang tinggi, diantaranya proses tersebut adalah sebagai berikut :

Melakukan penjemuran yang akan dijadikan bakal benih padi, tujuan dilakukannya penjemuran ini adalah untuk menguranngi jumlah kadar air maksimal 13% dan minimal 11%.

Sesudah dilakukannya penjemuran selanjutanya dilakukan pengipasan padi, tujuan dilakukan pengipasan ini adalah untuk memilih mana padi yang bisa dijadikan benih padi dan padi yang hampa, dimana padi yang hampa (tidak berisi) ini tidak bisa digunakan sebagai benih padi.

Sesudah dilakukan pengipasan padi selanjutnya benih padi dimasukkan kedalam karung 50Kg dan disimpan kedalam gudang penyimpanan

Setelah benih padi di simpan digudang penyimpanan, maka selanjutnya dilakukan penyampelan benih padi oleh dinas pertanian Batusangkar Kabupaten Agam, penyampelan ini dibawa ke labolatorium selama empat belas hari untuk mengetahui layak atau tidaknya benih padi ini untuk digunakan

Setelah hasil sampel dari labolatorium keluar dan layak untuk digunakan sebagai benih padi, maka selanjutnya dilakukan pengemasan benih padi padi ini dalam ukuran berat 5Kg dan 10Kg tergantung pada permintaan konsumen

Setelah dilakukannya pengemasan maka selanjutnya dilakukan pemasaran, kegiatan pemasaran ini dilakukan sesuai kemana permintaan akan diantarkan

Begitulah proses pembuatan benih padi ini yang ada di Gapoktan Empat sehati Mandiri, sehingga Gapoktan Empat Sehati Mandiri ini mampu menghasilkan  benih padi yang dinilai mempunyai kualitas tumbuh tinggi, karena sudah melewati hasil tes dari labolatorium dan sudah memiliki label benih besertifikat, dan label siap edar, tanpa adanya label edar yang sudah siap dilakukan hasil tes labolatorium maka jika diketahui oleh dinas pertanian maka bisa dikatakan benih padi yang akan kita edarkan sebagai benih ilegal.

Benih padi yang ada di Gapoktan Empat Sehati Mandiri ini juga sudah pasti berkualitas tinggi dikarenakan pada benih yang ada di Gapoktan Empat Sehati Mandiri ini sedah memiliki sertifikat dari pemerintahan dan benih yang di pasarkan juga sudah memiliki label. Pada saat proses pengantongan dan pelabelan benih padi yang ada di Gapoktan Empat Sehati Mandiri juga melakukan tes labolatorium oleh dinas Pertanian Kabupaten Tanah Datar, untuk mengetahui apakah benih padi ini layak atau tidaknya untuk dijadikan benih untuk para petani, kerena jika dibawah 50% kegagalan pada saat tes labolatorium maka benih benih padi yang ada di Gapoktan Empat Sehati Mandiri di nyatakan gagal edar di pasaran, maka dari sinilah dapat kita lihat bahwa Gapoktan Empat Sehati Mandiri ini sangat memperhatikan kualitas yang tingi, karena ditakutkan jika tidak megutamakan kualitas yang tinggi maka para konsumen, petani, dan orang — orang yang telah bekerja sama dengan Gapoktan Empat Sehati Mandiri tidak akan percaya lagi, dikarenakan bisa menimbumbulkan kerugian besar bagi mereka.

Gapoktan Empat Sehati Madiri ini juga sudah memiliki alat transportasi sendiri, sehingga jika ada orang mau bekerja sama dengan Gapoktan Empat Sehati Mandiri, jika dari pihak orang yang bekerja sama tidak memiliki alat untuk menjemout benih padi atau sedang sibuk atau lagi ada suatu kendala maka pihak dari Gapoktan Empat Sehati Mandiri bersedia mengantarkan ke lokasi yang akan dituju dengan aman dan selamat dan jika dalam proses pengantaran ada kemasan yang rusak pihak dari Gapoktan Empat Sehati Madiri bersedia mengganti barang yang rusak sesuai dengan jumlah yang rusak, dari sinilah banyak orang yang suka bekerja sama dengan Gapoktan Empat Sehati Mandiri ini dikarenakan mereka bisa menjalin kerjasama dengan baik dan dapat di percaya.

Dampak Positif Dari Gapoktan Empat Sehati Mandiri

  1. Semua kebutuhan benih padi yang ada di Kabupaten Tanah Datar bisa terpenuhi semua.
  2. Para petani yang ada di wilayah Sumbar bisa maju dengan ketersediaan benih padi yang unggul dan berkualitas tinggi dengan adanya bantuan pemerintah daerah yang ada didaerah tersebut jika telah melakukan kerja sama dengan Gapoktan Empat Sehati Mandiri.
  3. Dengan adanya benih yang sudah memiliki label dan sertifikat yang ada di Gapoktan Empat Sehati Mandiri diharapkan bisa mengembangkan bidang pertanian di bidang padi sawah, khususnya di Kabupaten Tanah Datar dan sekitarnya.
  4. Dengan adanya kerjasama yang telah dilakukan Gapoktan Empat Sehati Mandiri, maka diharapkan dapat membantu pekembangan ekonomi di Kabupaten Tanah Datar, pada bidang pembayaran pajak daerah.

Kesimpulan 

            Penangkaran benih padi yang ada di Gapoktan Empat Sehati Mandiri banyak di minati oleh petani, dikarenakan benih padi yang dihasilkan Gapoktan Empat Sehati Mandiri sangat baik dan memuaskan bagi para petani. Dengan adanya penangkaran benih ini diharapkan dapat meningkat pertanian khususnya padi yang ada di Batusangkar dan benih padi ini juga dipasarkan di Dinas Pertanian yang ada di Sumatera Barat, tidak hanya di Sumatera Barat saja Gapoktan Empat Sehati Mandiri juga memasarkannya di luar sumbar seperti ke Provinsi Riu.

            Penangkaran benih padi pada Gapoktan Empat Sehati Mandiri ini diharapkan mampu meningkatkan pertanian yang ada di Sumatera Barat ini khususnya. Karena lewat penangkarran benih padi ini petani bisa sejahtera jika dilaksanakan dengan baik dan benar pada prosesnya awal sampai akir. Maka  dengan adanya penangkaran benih padi ini sangat diharapkan dapat meningkatkan pertanian yang ada di Sumatera Barat, terkhususnya di Kabupaten Tanah Datar. Pada penangkaran benih padi yang ada Gapoktan Empat Sehati Mandiri ini benih padi yang dihasilkan cukup bagus, dan sudah melalui proses tes labolatorium yang ada di Dinas Pertanian yang ada di Kabupaten Tanah Datar.


Daftar Pustaka

BPS. 2013. Naik turunnyua sektor di bidang pertanian

Kementerian Pertanian. 2015b. mengutip pernyataan Food and Agriculture                                                                Organization (FAO)

Kepmentan  No.3. 2015. tentang penetapan   kawasan padi, jagung, kedelai dan ubi kayu

Kementan. 2015. kawasan mandiri benih terdiri dari seribu desa mandiri  benih  

Sumber: https://www.kompasiana.com/masregy/60126893d541df660a13d452/penangkaran-benih-padi-dalam-mendukung-pembangunan-pertanian-berkelanjutan?page=3

Ulus Pirmawan, Petani Muda Dari Lembang

Untuk meraih kesuksesan tidaklah mudah. Dibutuhkan ketelitian, keuletan serta usaha yang kuat guna bisa mencapai target dari usaha atau kegiatan yang sedang kita jalani.

Setidaknya hal itulah yang bisa dipelajari dari seorang Ulus Pirmawan. Petani asal Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ini sukses memberdayakan produk hotikulturanya hingga mendapat penghargaan internasional.

Berawal sejak masa kanak-kanak, Ulus terus berusaha mendalami dunia pertanian. Sampai sekarang berhasil mempertahankan kualitas hingga produknya menjadi salah satu yang terunggul.

Kementan Salurkan Benih Padi untuk Petani Pangandaran, Ini Rinciannya

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran Aep Haris mengatakan, bantuan tersebut rencananya akan dialokasikan untuk masa tanam bulan Maret dan April 2021.

“Jenis padi yang akan diterima di antaranya padi inbrida, padi rawa, padi nutrizing dan padi organik,” kata Aep, Selasa (2/2/2021).

Untuk padi inbrida mendapat kuota sebanyak 6.898 hektare (Ha), sedangkan bantuan padi rawa sebanyak 131 Ha.

Kemudian, padi nutrizing sebanyak 30 Ha, dan padi organik sebanyak 50 Ha.

“Padi inbrida yang disalurkan sebanyak 172.450 kilogram benih yang terdiri dari tiga jenis varietas yaitu Inpari 32, Inpari 42, Inpari 43,” tambah Aep.

Untuk padi rawa akan disalurkan kepada petani padi di Kecamatan Padaherang.

Selanjutnya, padi nutrizing disalurkan ke Kecamatan Mangunjaya dan Kecamatan Kalipucang.

“Padi organik akan didistribusikan ke Kecamatan Parigi dan Kecamatan Padaherang,” terang Aep.

Aep berharap, bantuan bentuk padi yang disalurkan oleh Kementan kepada petani padi dapat mempertahankan angka produktivitas padi di Kabupaten Pangandaran.

“Kondisi saat ini, areal pesawahan di Kabupaten Pangandaran sebagian besar mengandalkan air dari hujan.”

“Karena, masih banyak areal pesawahan yang kondisi irigasinya belum memadai,” jelasnya.

Sumber: https://ruber.id/kementan-salurkan-benih-padi-untuk-petani-pangandaran-ini-rinciannya/

Iqbalul Arifin, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Jambu Biji

Membaca peluang yang sangat besar akan kebutuhan buah Jambu Biji di kota-kota besar seperti Semarang,Cilacap,Purwokerto dan kota lainnya yang potensial dan sangat besar menjadi langkah awal pemuda desa Pasiraman Lor Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas

Dirinya mengawali terjun ke dunia pertanian membudidayakan Jambu Biji kultivar Citayam dan Jambu Merah Getas di lahan seluas 1000 m 2 di desanya.sekitar dua tahun yang lalu.Pemuda yang sejak mudanya bergelut di bidang percetakan dan sablon sangat faham betul lika liku dunia usaha,Menjadi wirausaha yang telah dirintis di desanya disamping mengajar ilmu agama Islam di sekitar rumahnya. Menjadi ustadz ,merupakan panggilan hidup sesudah menekuni ilmu-ilmu agama di sebuah Pondok Pesantren Magelang.

Tak cukup sampai disitu, lelaki muda berkekacamata itu ternyata seorang qori dengan suaranya yang imerdu nan indah saat membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an pada kegiatan acara-acara peringatan Hari Besar Agama Islam baik di desanya sendiri maupun wilayah kecamatan Pekuncen dan lain-lainnya.

Mengabdi kepada masyarakat dan umat senantiasa tertanam begitu dalam dihatinya, dengan menjadi ustadz ,merangkap wirausaha dan penyuluh agama di desanya.

Perjuangan dan pengabdiannya menjadi Penyuluh Agama Islam di desanya berbuah manis saat Pemerintahan Presiden SBY membuat kebijakan nasional dengan mengangkat tenaga honorer Penyuluh Agama Islam diseluruh Indonesia. menjadi PNS.

Ustadz Iqbalul Arifin akhirnya besama-sama teman -teman Penyuluh Honorer di Kabupaten Banyumas diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil.(PNS).

Keberhasilan menanam Jambu Biji kultivar Citayam di Pasiraman Lor dengan menghasilkan keuntungan yang cukup lumayan dan melakukan ekspansi atau perluasan lahan budi daya di grumbul Kaliblundeng Desa Semedo dengan menanam sebanyak 1600 pohon dengan luas areal lahan kebun 1,5 ha,

Upaya melakukan perluasan lahan karena permintaan pasar akan Jambu Biji kultivar Citayam tak terpenuhi sebagaimana penuturan beliau pada penulis, kebutuhan jambu biji di kota Semarang 8.ton, Cilacap ,Purwokerto 3 ton

Berdasarkan analisis ustadz,untuk memenuhi permintaan keseluruhan pangsa pasar harus menanam 12.600 pohon, sementara saat ini baru menanam 4.600 pohon yang ia kelola sendiri maupun besama sahabat-sahabatnya yang bergabung budidaya jambu biji.Dengan demikian masih kekurangan 8000 pohon yang harus ditanam,

Ustad Iqbalul Arifin membuka tangan selebar-lebarnya pada sahabat-sahabat muda khususnya di Kecamatan Pekuncen ,dan umumnya di Kabupaten Banyumas yang berminat di bidang pertanian budidaya Jambu Biji untuk bergabung bersama-sama

Oleh karena kebutuhan pasar masih cukup tinggi juga sangat menguntungkan hasilnya dengan penegelolaan yang profesional.

Dari pengalamnya selama dua tahun budidaya Jambu Biji Citayam diperoleh bahwa jambu bij Citayam perpohon menghasilkan 3-4 kg dengan masa petik 30 kali selama dua bulan atau 15 kali petik perbulan dengan harga jual Rp.5000/kg…wow banyak banget jumlah rupiahnya.

Dinas Pertanian Balangan Bantu Petani, Berikan Benih dan Jagung Pasca Banjir

Bencana banjir yang terjadi di Kabupaten Balangan beberapa waktu lalu, turut berimbas pada keberlangsungan tanaman padi milik petani yang lahan sawahnya juga terendam.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Dinas Pertanian Kabupaten Balangan, ada 2.287 hektare sawah terdampak.

Di antaranya 88 hektare tanaman padi mengalami kerusakan.

Terlebih ada sawah yang sudah mulai berkembang dan ada benih yang sudah disemai.

Sebagai bentuk kepedulian kepada petani yang mengalami kerugian pada musibah kali ini, Dinas Pertanian Kabupaten Balangan pun memberikan bantuan berupa bibit benih dan bibit padi kepada petani.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Balangan, Rahmadi Ouen, Rabu (3/2/2021), mengungkapkan, pendataan telah pihaknya lakukan pada lahan pertanian yang rusak, baik itu lahan sawah maupun lahan jagung dan tanaman lainnya.

Saat ini, bantuan benih padi yang pihaknya berikan baru pada Kecamatan Halong untuk lahan sawah seluas sekitar 10 hektare.

Bantuan untuk kecamatan lain pun akan menyusul.

Dikatakannya, pemberian benih memang harus lebih cepat.

Hal itu agar tidak terjadi keterlambatan menanam yang akan berdampak pada siklus tanaman berikutnya.

“Kami berharap nanti juga ada bantuan dari Kementan RI melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalsel,” harapnya.

Sumber: https://banjarmasin.tribunnews.com/2021/02/03/dinas-pertanian-balangan-bantu-petani-berikan-benih-dan-jagung-pasca-banjir





Adi Pramudya, Petani Muda Dari Pati

Kalau ditanya tentang cita-cita, sebagian besar generasi milenial tentu bergumam ingin mendirikan perusahaan start up, youtuber, influencer hingga profesi lainnya yang syarat dengan teknologi. Tetapi tidak demikian dengan Adi Pramudya. Pemuda berusia 26 tahun ini justru merantau dari Pati, Jawa Tengah ke Jakarta untuk menjadi seorang petani.

Musibah yang melanda toko kelontong milik sang ibu delapan tahun yang lalu membuatnya tak ingin membebani keuangan keluarga.

Adi sendiri mengaku mendapat beasiswa melanjutkan perguruan tinggi di Universitas Telkom di Bandung, Jawa Barat. Akan tetapi ia berpikir panjang bahwa tentunya uang saku yang dibutuhkannya hidup di kota Kembang tak sedikit.Dirinya pun memilih merantau ke Jakarta. Kebetulan kakaknya telah lama menetap di ibukota. Sehingga untuk masalah tempat tinggal sudah teratasi, tinggal membuat usaha untuk menghidupi diri dan bayar uang kuliah. Dia Lalu bekerja serabutan untuk mengumpulkan pundi-pundi tabungan demi melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah.

Pemuda asal Pati ini memang pandai melihat peluang. Meskipun bisnis komoditi pertanian kurang dilirik, fakta tersebut justru dilihatnya sebagai sebuah peluang besar. Apa lagi Indonesia pada dasarnya adalah negara agraris yang tanahnya subur dengan sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani.

Sambil kuliah, dirinya memberanikan diri menanam singkong di lahan yang disewanya di Jonggol. Meski untung, ia tak mau berdiam diri di zona nyaman. Adi mencari tahu tanaman lain yang lebih menguntungkan untuk dibudidayakan. Hingga akhirnya Adi beralih menanam rempah-rempah dan sukses luar biasa.

Adi Pramudya membuktikan bahwa sektor pertanian terutama agribisnis yang tidak banyak dilirik oleh anak muda ini telah membuatnya sejahtera. Tidak hanya mensejahterakan dirinya saja, melainkan juga orang-orang di sekitarnya.

“Selama manusia masih makan, di situlah petani masih dibutuhkan,” begitu Adi menuliskan kata-kata motivasi dalam caption foto di akun twitternya.Adi Pramudya lahir dari keluarga pedagang. Keluarga yang memberikan jiwa berbisnis yang kuat dalam dirinya. Secara tidak langsung, Adi banyak belajar detil-detil bisnis dari sang ayah, seperti bagaimana berdagang yang baik, melayani pelanggan atau sekedar menghitung keuangan. Kehidupan yang memberinya mimpi besar, sukses sebagai seorang entrepreneur.“Sejak sekolah dasar saya sudah membantu orang tua. Dari nimbang beras, nimbang kemiri. Jadi, praktek dasar berdagang itu ada di saya, makanya saya bersyukur,” ujarnya.

Keinginan Adi untuk menjadi pengusaha yang berpenghasilan, sudah ada sejak di bangku SMP. Saat itu, toko kelontong orang tuanya habis terbakar, sehingga mereka harus memulai usaha dari awal. Dari kejadian tersebut, Adi bertekad akan membahagiakan orang tua dengan memiliki penghasilan sendiri.

Walau begitu, keputusannya menjadi seorang pengusaha saat itu bukan tanpa penolakan dari keluarga. Seperti kebanyakan orang tua Jawa, bapak ibunya lebih menginginkan Adi menyelesaikan kuliah dan menjadi pegawai negeri. Mereka kurang setuju anaknya bercita-cita menjadi pengusaha. Hal tersebut dianggap wajar oleh Adi. Namun, Adi tetap pada pendiriannya dan akan membuktikan bahwa menjadi pengusaha memiliki masa depan cerah.

Sembari menjalankan kegiatan perkuliahan di Universitas Gunadarma, Depok, Adi mencoba peruntungan berbisnis di bidang kuliner dengan menjual pisang cokelat menggunakan gerobak di daerah Jagakarsa, Jakarta.

Usahanya tersebut membuahkan hasil yang menggembirakan pada awal berdirinya. Berkembang hingga 4 gerai. Namun masalah kemudian mulai muncul bertubi tubi hingga membuatnya menyerah. Kegagalan ini sempat membuatnya trauma menjalankan bisnis. Namun satu hal yang menguatkan dirinya adalah keyakinan bahwa kegagalan yang sesungguhnya adalah ketika kita memutuskan berhenti berjuang. Dari situ Adi merasa tidak ada alasan untuk berhenti.

Adi sempat vakum berbisnis, sampai akhirnya dia bertemu dengan seseorang yang bisnis di bidang pertanian ketika bertandang ke daerah Jonggol, Bogor, Jawa Barat. Dari situ Adi bertekad untuk menekuni usaha agribisnis. Ide tersebut seperti mengalir begitu saja saat Adi melihat potensi besar dari sebuah lahan yang luas dan belum digarap. Bisnis pertanian, bidang usaha yang tergolong kurang diminati.

Saat itu, tahun 2011, pria lulusan Teknik Industri ini menyewa lahan dengan luas tidak sampai satu hektare seharga Rp 2,5 juta yang uangnya dia dapat hasil meminjam dari sang kakak. Sejak awal, Adi menyadari, memang tak tahu menahu tentang pertanian. Namun dengan tekad, ketekunan dan niat, ia belajar langsung budidaya singkong kepada petaninya selama tujuh bulan.

“Kalau mau belajar tani ya belajarlah kepada gurunya pertanian, yaitu ya petaninya. Jangan belajar dari buku karena buku dibikin kan supaya laku. Kalau buku menceritakan soal rugi, siapa yang mau beli,” ujar Adi.

Komoditas pertama yang dia tanam adalah singkong. Cukup berhasil, namun ternyata harga jual hasil panen singkong tidak stabil di pasar. Hal ini membuat laba bersih yang dia peroleh menjadi terlampau kecil.

Adi kemudian melihat peluang yang lebih menggiurkan dengan berbisnis rempah, saat berbincang dengan tetangga lahannya yang petani rempah. “Waktu itu dia menanam lengkuas. Cuma di lahan 1.000 meter, tapi bisa menghasilkan uang Rp 5 juta sekali panen. Dengan modal hanya sejuta, artinya untung Rp 4 juta. Luar biasa, keuntungan 400%. Akhirnya saya belajar dari dia,” cerita Adi mengenang.

Tahun 2012, Adi mencoba peruntungannya dengan mulai menanam lengkuas di lahan seluas 2 hektare. Ternyata dengan modal 40 juta untuk satu hektare lahan lengkuas, Adi bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 90 juta tiap kali panen.

Seiring berjalannya waktu, Adi mampu memperluas lahan tanamnya menjadi lima hektare pada 2013. Empat hektare digunakan untuk menanam lengkuas dan sisanya untuk menanam kunyit dan kencur. Usahanya tersebut pun akhirnya juga menghasilkan keuntungan.

Petani Pangandaran Akan Dapat Bantuan Benih dari Pemerintah Pusat

Petani di Kabupaten Pangandaran akan mendapat suplai benih dari pemerintah pusat. Bantuan diberikan agar hasil tanaman padi lebih maksimal.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran Aep Haris mengatakan bantuan tersebut disalurkan kepada para petani dalam bentuk barang.

“Pemberian bantuannya itu sesuai dengan kuota yang telah ditetapkan Pemda Pangandaran,” ucapnya kepada wartawan Rabu (3/2/2021).

Dirinya mengatakan bantuan tersebut rencananya bakal dialokasikan untuk masa tanam bulan Maret dan April 2021. “Beberapa benih padi yang diberikan diantaranya inbrida, rawa, nutrizing dan padi organik,” ujarnya.

Kuota benih padi inbrida diperuntukan bagi lahan seluas 6.898 hektare, rawa sebanyak 131 hektare, nutrizing 30 hektare dan organik sebanyak 50 hektare.

“Padi inbrida yang disalurkan sebanyak 172.450 kilogram benih yang terdiri dari 3 jenis varietas yaitu inpari 32, inpari 42, inpari 43,” ungkapnya.

Ia berharap bantuan bentuk benih padi kepada para petani bisa mempertahankan angka produktivitas padi di Kabupaten Pangandaran.

“Kondisi saat ini areal pesawahan di Kabupaten Pangandaran sebagian besar mengandalkan air dari hujan karena masih banyak areal pesawahan yang kondisi irigasinya belum memadai,” ucapnya.

Salah seorang petani, Salwan (45) berharap bantuan benih itu bisa benar-benar terealisasi. “Mudah-mudahan saja benar, karena kami sekarang masuk masa panen dan kemungkinan akan masuk masa tanam sebentar lagi,” jelasnya.

Kata dia, kemungkinan masa tanam akan cepat karena curah hujan juga sangat tinggi untuk saat ini. “Jadi kami juga suka buru-buru tanam lagi,” kata dia.

Sumber: https://www.radartasikmalaya.com/petani-pangandaran-akan-dapat-bantuan-benih-dari-pemerintah-pusat/

Siti Soraya Cassandra, Petani Milenial Dari Tangerang Selatan

Siti Soraya Cassandra, sarjana psikologi lulusan University of Queensland, Australia, dan Universitas Indonesia, begitu antusias ketika berbagi pengetahuan tentang berkebun kepada sekelompok anak muda pada pelatihan berkebun di Kebun Kumara. Wajahnya berbinar-binar dan tampak sekali bahagia.

Tanpa merasa risih, kedua tangannya mengaduk-aduk kompos yang terdiri dari campuran dedaunan, serbuk kayu, plus kotoran unggas ketika menjelaskan cara membuat kompos. Suaminya, Dhira Narayana, juga sarjana psikologi alumnus Universitas Indonesia, sibuk mengangkut sampah organik yang akan dijadikan kompos. Seperti Cassandra yang biasa dipanggil Sandra, Dhira cekatan bekerja.

Memberi pelatihan menjadi tugas Sandra, sementara Dhira yang aktivis lingkungan mendapat tugas mengurus kebun dan riset. Pengelolaan Kebun Kumara, tempat mereka berkarya yang berada di Pulau Situ Gintung 3, Tangerang Selatan, dilakukan bersama adik Sandra dan suaminya. Adik Sandra, Siti Alia Ramadhani adalah dokter gigi alumnus UI. Suami Alia, Rendria Arsyan Labde, sarjana teknik mesin, juga alumnus UI. ”Kami sama-sama cinta pertanian,” ucap Sandra.

Kebun Kumara jadi tempat pelatihan. Awalnya belum banyak orang tahu tempat tersebut. Akibatnya, pendapatan yang mereka peroleh pun kecil. Jauh dibandingkan dengan gaji yang Sandra terima ketika bekerja di sebuah perusahaan. Adiknya lebih ”beruntung” punya pekerjaan sebagai dokter gigi. Namun, Sandra dan Dhira tidak mengeluh. Mereka telah bertekad menjadi petani sehingga, apa pun yang terjadi, mereka siap menghadapi.

Selain tak punya gaji, Sandra pun harus mengerjakan semua pekerjaan kasar sendiri. ”Setiap hari harus mengepel kantor. Belum lagi mengurus kebun, mengolah lahan untuk kebun sayur dan membersihkan kandang. Makanya, badanku jadi kurus,” tuturnya.

Karena tubuhnya kian kurus, ibunya sampai bertanya, ”Punya uang buat makan enggak?” Ibunya memang sempat keberatan ketika Sandra memutuskan beralih profesi dari orang kantoran yang kinclong menjadi petani.

”Bukannya saya menentang orangtua, tetapi saya lihat di keluargaku semua orang kantoran, enggak ada yang bisnis. Apalagi jadi petani. Orangtua mungkin khawatir saja dengan masa depanku,” kata Sandra menjelaskan.

Sadar orangtua ingin hidupnya stabil, Sandra menikah dulu. ”Kalau sudah menikah, aku jadi tanggung jawab suami, kan, he-he,” ujarnya menyambung pembicaraan. Dhira juga berniat menjadi petani dan orangtuanya tidak keberatan.

Berguru kepada petani

Tidak hanya Sandra yang mesti meyakinkan orangtua bahwa pilihan menjadi petani itu baik. Andhika Mahardika, sarjana teknik mesin alumnus Universitas Diponegoro, Semarang, juga mengalaminya.

Ayah-ibu Andhika yang menjadi guru sebenarnya memberi kebebasan untuk memilih profesi. Namun, Andhika tahu mereka menyimpan keinginan anaknya juga menjadi guru.

Ketika Andhika selesai kuliah, ia memilih bekerja di sebuah perusahan multinasional dengan gaji dua digit. Namun, belakangan ia merasa tidak nyaman. ”Saya gelisah, kemudian keluar dari tempat kerja. Di tengah pencarian, saya ikut Indonesia Mengajar, ditugaskan di Aceh. Desa memberi saya kenikmatan dan membuat saya akhirnya memilih jadi petani,” tutur Andhika.

Sebelum memutuskan menjadi petani, ia berpikir cukup lama. ”Kegelisahan itu ternyata tak hanya aku yang mengalami. Banyak kawan mengalaminya juga,” kata Andhika.

Pada 2015, ia bersama Asri Saraswati, sarjana teknik kimia lulusan Universitas Teknologi Malaysia; Awaludin F Aryanto, lulusan Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta; dan Ari Hendra Lukmana, lulusan Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, sepakat berkeliling Jawa dan Bali untuk mengunjungi sentra-sentra pertanian.Kelompok kecil ini pada 2016 mendirikan Agradaya di Yogyakarta. Perusahaan itu bertujuan membangun desa lewat kerja sama dengan petani guna menerapkan pembangunan berkelanjutan. Andhika kemudian menikah dengan Asri. Bersama Awaludin dan Ari, mereka berguru langsung kepada para petani. Awaludin dan Ari belakangan mundur untuk pulang kampung.

Sama seperti para pendiri Kebun Kumara, Andhika dan Asri juga mengalami banyak tantangan. Di awal bekerja sebagai petani, Agradaya merugi karena upaya membantu petani menanam beras merah gagal. ”Tak mudah bekerja dengan petani, tetapi itu jadi pembelajaran,” ujar Asri yang berkomitmen tetap tinggal di desa yang telah memberi rasa nyaman.

Walau Andhika, Dhira, dan Sandra berkiprah di bidang pertanian, bidang pekerjaannya berbeda. Agradaya bekerja dengan petani, sedangkan Kebun Kumara memberi pendidikan tentang pertanian di kota.

Melihat kondisi masyarakat perkotaan, Dhira dan Rhendria, adik ipar Sandra, menyimpulkan, berkebun di kota harus berkait dengan bisnis. ”Mereka tidak tertarik melakukan jika tak menghasilkan uang,” kata Dhira.

Selain menumbuhkan kesadaran pentingnya menanam, mereka akan membuat kebun sayur organik. Mereka ingin menunjukkan bahwa, kalau mau, anak muda bisa menjadi petani di kota besar.