Rommy Mamesah, Petani muda Dari Minahasa

Petani merupakan orang yang berprofesi bercocok tanam, baik di lahan pribadi maupun memiliki hak penuh dalam menjalankan budidaya. Petani sukses sangat membantu bagi semua orang. Hal ini dikarenakan, petani memberikan sarana hidup bagi masyarakat berupa bahan makanan yang tentunya membuat kita bisa bertahan hidup. Untuk menjadi seorang petani sukses bukanlah hal yang mudah. Anda bisa belajar dari kisah petani sukses dari nol. Para petani inspiratif tersebut memulai usahanya dari awal dengan pengalaman, ketekunan, pengetahuan, dan kegigihan.Kisah petani sukses dari nol seringkali menjadi inspirasi petani pemula yang ingin mencoba melakukan budidaya tanaman. Apabila anda ingin menjadi seorang petani sukses, anda harus mempunyai pengalaman yang cukup dalam berbudidaya. Pasalnya, banyak lulusan sarjana pertanian yang lulus bergelar S1 namun dalam praktek di lapangan kurang terampil. Hal ini dikarenakan pengetahuan dasar saja memang tidak cukup untuk bertani. Melakukan pertanian ini tidak mudah. Sebagai petani pemula, ada baiknya anda belajar kepada petani yang telah berpengalaman.Petani yang sukses melakukan budidaya tanaman kali ini bernama Rommy Mamesah. Petani ini tinggal di wilayah Kawangkoan, Tompaso, Langowan, Minahasa, Sulawesi Utara. Rommy meraup keuntungan berlipat dengan membudidayakan cabai dan tomat. Dari hasil bertani cabai dan tomat ini, puluhan keluarga sudah mendapat keuntungan mencapai Rp. 200 juta dalam sekali musim tanam. Lahan seluas sekitar seperempat hektare yang ada di Langowan Barat bisa menghasilkan uang sebesar Rp. 150 juta hanya dalam waktu 4 bulan.Ketika cabai dipanen pertama kali, harga jualnya mencapai Rp. 70 ribu/kg. Pada panen pertama ini, Rommy memetik sekitar 50 kg cabai. Rommy berhasil meraup keuntungan sebesar Rp. 3,5 juta. Banyak pengumpul yang datang untuk membeli cabainya, salah satunya ialah pria dari Manado. Pria ini datang menawar cabai Rommy. Keduanya sepakat dengan harga Rp. 150 juta. Sepekan kemudian harga cabai menembus harga paling tinggi yakni Rp. 90 ribu/kg. Harga jual cabai ini sangat tinggi, bahkan melebihi harga jual cengkeh kala itu.Kisah petani sukses dari nol lainnya bernama Abdul Qohar. Petani sukses ini tinggal di Desa Candisari, Kecamatan Sambeng, Lamongan. Abdul meraup banyak keuntungan dengan berkebun pepaya calina. Lahan pertanian yang ada di ujung selatan Lamongan terkenal kering dan sudah turun temurun hanya ditanami tembakau, padi, serta jagung. Namun hal ini tidak menyurutkan niat Abdul. Dengan keuletan dan kegigihan, Abdul berhasil membentuk Kelompok Tani Godong Ijo Sejahtera dengan 112 anggota yang tersebar di 8 desa di wilayah Kecamatan Sambeng.Dengan total kebun buah pepaya calina seluas 15 hektar, Lamongan menjadi produsen terbesar ketiga di wilayah Jawa Timur. Tak hanya ke Lamongan saja, buah pepaya calina dari Sambeng ini juga dipasarkan hingga ke Tuban, Gresik, serta Jakarta. Dalam lahan seluas 1 hektar, dapat ditanam hingga 1.520 batang pepaya calina. Pada setiap hektar, petani dapat mendapat omzet sebesar Rp. 18 juta/bulan. Hal ini pun sudah dihitung dengan adanya kemungkinan faktor kegagalan.Masa panen buah pepaya calina itu sendiri yakni ketika telah berusia 6 bulan 20 hari. Pepaya calina akan terus berbuah sampai berumur 3 tahun kemudian. Pepaya calina dari Sambeng ini sudah memiliki merk dagang. Pemilik kebun pun sudah mendapatkan binaan khusus untuk menjaga kualitas buah pepaya agar sama, meski ditanam di lahan yang berbeda.

Sanusi, Petani Milenial Dari Tangerang

Indonesia dikenal sebagai sebuah negara, yang sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Oleh karena itu, kini pemerintah tengah menggalakkan sektor pertanian Indonesia, untuk menekan impor bahan pangan.

Bahkan, ada beberapa petani yang dinobatkan sebagai petani sukses dalam acara Danamon Award 2014. salah satunya bernama Sanusi, yang merupakan seorang petani sukses asal desa Rancalabuh, kecamatan Kemiri, kabupaten Tangerang-Banten.

Berdasarkan dari kisah hidupnya, perjalanan hidup Sanusi tergolong menyedihkan. Pasalnya, Ketika baru pertama kali menginjakkan kaki di Rancalabuh, Sanusi adalah petani kere tanpa modal, yang hanya bermodalkan semangat. Seiring berjalannya waktu, Sanusi mendapat kepercayaan untuk membuka dan mengelola lahan tidur yang belum layak untuk ditanami.Dan berawal dari kerja kerasnya di tahun 1987, Sanusi mulai mengolah lahan tersebut dengan penuh keuletan. Berkat jerih payahnya, akhirnya ia berhasil mengolah lahan tersebut. Tak hanya membuka lahan, ia juga sukses menambah wawasan bertani dengan pola tanam modern untuk warga sekitar.

Sejatinya, Sanusi merupakan petani urban asal Tuban-Jawa Timur yang berhasil membuka lahan tidur seluas 30 hektar, menjadi lahan pertanian produktif. Yang mana lahan tersebut kini bisa ditanami padi, timun, kacang panjang dan beberapa jenis tanaman hortikultura lainnya.

Sedangkan untuk sistemnya, menggunakan sistem pertanian modern, serta pengairan yang mengandalkan pompanisasi. Berkat sistem tersebut Sanusi berhasil menaikkan hasil panen padi dari 1-2 ton per hektar menjadi 6-7 hektar per hektar. Luar biasa !!!

Untuk mengelola lahan tersebut, Sanusi bekerja sama dengan kelompok tani Rancalabuh. Berkat kerja kerasnya, kini Sanusi mampu menghasilkan keuntungan hingga Rp 40-70 Juta per bulan.

Keuntungan ini tentunya sebuah prestasi tersendiri. Mencetak lahan pertanian produktif lalu menghasilkan keuntungan yang membanggakan dan mempelopori sistem pertanian modern kepada petani sekitar. Dan itulah nilai lebih bagi seorang sanusi yang hanya lulus Sekolah Rakyat (SR).

Hebatnya lagi, meski sudah meraih kesuksesan Sanusi tak pernah melupakan warga dan petani yang kurang berhasil di sekitarnya. Tiap tahun 400 anak yatim dan janda miskin mendapat bantuan berupa uang. Sanusi juga tak pelit berbagi ilmu, ia menjadi tempat bertanya tentang pertanian dan permasalahannya.

H Bambang Sumadji HS, Petani Mienial Dari Kediri

Kisah Awal Petani Sukses Bambang Sumadji

Kisah sukses usaha pertanian Bambang sendiri dimulai pada tahun 1977. Ketika itu dengan uang sebesar Rp 1,5 juta yang diperolehnya dari pengajuan kredit Bank BNI, Bambang melakukan penanaman bawang merah di atas lahan sewaan seluas 1 hektar. Tak dinyana dari apa yang dilakukan pada awal usahanya ini Bambang mendapatkan hasil yang lumayan baik. Pada panen awalnya saat itu Bambang mampu mendapatkan 7 ton bawang merah yang kemudian dijualnya dengan harga Rp 150 per kilogram (harga tahun 1997). Dalam waktu satu tahun sendiri pria yang pernah kuliah di Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya ini kala itu mampu memanen bawang merahnya sebanyak tiga kali. Ini artinya dalam satu tahun Bambang mampu meraup hasil Rp 3,15 juta rupiah (tahun 1997).

Perkembangan Usaha Tani Bambang Sumadji
Dari setiap keuntungan yang didapat itu sedikit demi sedikit Bambang menggunakannya untuk pengembangan usaha bawang merah. Dari sinilah kepemilikan lahannya pun berkembang semakin luas menjadi 200 hektar yang tersebar di tersebar di Sukomoro Nganjuk dan juga Sidowarek serta Plemahan, Pare, Kediri. Tidak hanya itu pemasaran usaha pertaniannya juga telah meluas hingga Indonesia Timur. Dari perkembangn usaha ini Bambang juga kemudian meluaskan usahanya pada penanaman cabe pda lahan seluas 25 hektar di desa Pelem, Pare. Maka dari keseluruhan lahan pertanian yang dimilikinya ini Bambang bisa memanen 28 ribu ton bawang merah, dalam dua kali masa panen. Sedangkan pada komoditas cabe merah sendiri dengan total luas satu hektar maka akan menghasilkan 20 ton dalam panennya. Dari sini maka dalam setahunnya, bambang bsai memperoleh 500 ton per tahun dari kedua komoditi yang ditanamnya ini.
Kewalahan Penuhi Permintaan
Untuk komoditi bawang merah sendiri, Bambang mengaku masih kewalahan memenuhi permintaan pasar meski panen telah mencapai ribuan ton. Bahkan untuk kawasan Indonesia Timur yang sebelum dipasoknya kini tak sanggup lagi disupplai-nya. Mengapa bisa demkian? Sebab, menurut Bambang untuk kebutuhan sendiri saja, ia masih kekurangan bahan. Bahkan pada tahun 1991 sendiri Bambang tak lagi menjual bawang merah dalam kondisi mentah, namun lebih dari itu Bambang sudah mengolahnya. Olahan bawang merah yang digoreng produksi Bambang ini sendiri diberi nama atau merek Bagindo. Nah untuk produksi Bagindo ini Bambang mengaku membutuhkan pasokan 150 ton bawang merah mentah.

Pabrik Usaha Bambang Sumadji
Pabriknya sendiri saat ini telah dibantu oleh 150 karyawan dengan gaji rata-rata Rp 500 ribu/bulan hingga Rp 1 juta. Selian membuat bawang goreng kemasan, di pabriknya ini Bambang juga membuat sambal pecel dengan merek yang sama yaitu Bagindo.Untuk produksi sambel pecel sendiri, bambang dibantu oleh 50 karyawan dengan total produksi mencapai 30 ton sambal pecel per bulan. Untuk pemasaran hasil-hasil pertanian dan produksinya ini Bambang memiliki 20 unit armada angkutan jenis L-300.

Terjun ke Dunia Perbankan
Setelah sukses di bidang pertanian dan juga produksi bahan makanan, bambang kembali meluaskan bidang usahanya ke perbankan. Mantan pengurus Muhammadiyah Pare ini memang diketahui terlah merambah ke dunia perbankan sejak tahun 1990 dengan mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) ‘Agro Cipta Adiguna’. Dibidang perbankan ini sendiri Bambang mendapati kesuksesan. Bahkan BPR yang didirikan Bambang ini pernah terpilih sebagai BPR terbaik tingkat nasional, Desember tahun lalu.

Dididik Belajar Jual-beli dan Istiqomah Sejak Kecil
Kesuksesan yang didapat oleh Bambang Sumadji ini memang tidak bisa dilepaskan dari didikan orangtuanya saat dirinya masih kecil. Sejak kecil sendiri Bambang dididik orang tuanya untuk selalu istiqomah dengan apa-apa yang dikerjakannya. Keluarga Bambang yang berlatar belakang petani dan pedagang ini akhirnya juga mendidik Bambang dalam dua bidang ini. Menurutnya, tak jarang dirinya selalu dilibatkan oleh orang tuanya dalam kegiatan jual beli hasil pertanian. Keterlibatan Bambang dalam hal ini misalnya saat terjadi transaksi atau diskusi-diskusi usaha. Dari keterlibatan Bambang dalam kegiatan jual beli sejak kecil inilah maka kemudian naluri bisnisnya tumbuh dan terus bertumbuh. Bahkan menurutnya beberapa hal seperti kiat menangkap peluang usaha juga banyak diperolehnya dari pembelajaran sejak kecil tersebut.

Amanah Jauh Lebih Penting Dari Modal
Dari sekian banyak pembelajaran yang diberikan orang tuanya, Bambang mengaku bahwa ilmu yang paling penting yang pembelajaran yang ada adalah soal amanah (kepercayaan). Menurutnya amanah memang adalah hal yang sangat penting dari proses bisnis itu sendiri. Bahkan saking pentingnya amanah ini ia bisa mengalahkan apapun termasuk modal. Atau boleh dibilang amanah adalah modal yang paling penting dari dunia usaha (entrepreneur). Maka menurutnya, bila bisnis dijalankan hanya dengan mengutamakan modal besar tanpa amanah maka usaha ini akan bisa jeblok (bangkrut).

Pentingnya Istiqomah
Dalam sebuah usaha, apapun itu bentuknya termasuk bidang pertanian, maka istiqomah adalah yang juga penting untuk dilakukan setiap pebisnis menurut Bambang. Masalah jatuh bangun, untung dan rugi adalah hal yang biasa saja dalam bisnis. Jadi ketika usaha sedang turun, seorang pengusaha tidak boleh lantas menyerah. Tapi lebih dari itu mereka harus tetap istiqomah (tetap terus bergerak dan tekun) dalam usahanya. Jika pengusaha sudah menyerah saat jatuh maka mereka akan sulit untuk mencapai suskes, tutur Bambang. Bambang sendiri sudah sangat sering mengalami jatuh bangun usaha. Bahkan ditahun 1994 usahanya pernah nyaris bangkrut. Kejatuhan usahanya saat itu sendiri terjadi karena ia mengalami gagalan panen. Saat itu ia harus menanggung kerugian hingga mencapai Rp 1 miliar lebih.

Sadar Akan Kekuasaan Tuhan
Kejatuhan yang sangat berat tahun 1994 saat itu membuat Bambang kemudian tersadar akan kekuasaan Tuhan. ya, saat itu ia merasa ditampar oleh Tuhan agar berubah dan memikirkan orang lain juga. Nah dari sini kemudian Bambang pun banyak berkontribusi dalam kegiatan sosial dan keumatan. Setiap tahunnya dari laba bersih sebesar 500 – 700 juta rupiah, Bambang mengeluarkan 15% untuk zakat usahanya. 15% dari zakatnya sendiri disalurkan ke para bekerja pabrik, lembaga-lembaga sosial, serta buruh tani di lingkungan perusahaan.

Ikut Serta Dalam Pemberdayaan Ekonomi Petani
Jiwa sosial Bambang sendiri terus meluas pada hal lain. Sebagai seorang koordinator Kopermas (Koperasi Peran Serta Masyarakat) di wilayah Kediri dan Madiun, Bambang memang kemudian diberikan tanggung jawab untuk memberdayakan perekonomian para petani. Nah untuk hal inil kemudian Bambang mendapat kesempatan bersama lembaga swadaya masyarakat PPM (Pusat Peran Serta Masyarakat) Jawa Timur untuk mewujudkan pemberdayaan ekonomi para petani tersebut. Lembaga swadya masyarakat PPM ini sendiri memang memiliki gungsi untuk membantu para petani dalam beberpa hal seperti menyalurkan KUT (Kredit Usaha Tani), pengadaan pangan, penyediaan saprodi (sarana produksi padi), serta menampung hasil panen.

Masa Depan Sektor Pertanian yang Cerah
Menurt Bambang, masa depan pertanian Indonesia kedepan akan sangat cerah. Hal ini terbukti dari potensi agribisnis yang terus mengalami peningkatan yang fluktuatif. Optimisme Bambang sendiri juga didukung oleh kondisi masa reformasi yang membuatnya mudah mendapatkan informasi penting dan bermanfaat mengenai dunia pertanian. Keterbukaan informasi yang menunjang pertanian ini memang sangat sulit didapatkan para petani termasuk Bambang dulu ketika masa orde baru.

Suwarno, Petani Muda Yang Sukses Menanam Melon

Meski di tengah masa pandemi Covid-19, produktivitas pertanian di kabupaten Tuban tampak tidak terpengaruh. Hal ini terbukti dari keberhasilan Kelompok Petani Bangkit Makmur Kecamatan Parengan yang sukses panen petik buah melon dengan masa tanam selama kurang lebih 2 bulan, Kamis (20/8/2020).

Ketua Kelompok Petani Bangkit Makmur Parengan Suwarno mengatakan, dari 19.200 tanaman melon sebanyak 90 persen tumbuh sehat dan tidak dimakan hama. Hasil panen melon kali ini diperkirakan 80 persen atau sekitar 41.472 kilo memiliki grade A. Sedangkan untuk melon grade B sebanyak 7.776 kg dan selebihnya 2.592 kg.

Berdasarkan hasil perhitungan, lanjut Suwarno, total biaya yang dikeluarkan untuk budidaya tanaman melon kali ini mencapai 172 juta. Biaya tersebut sudah termasuk sewa lahan dan perawatan melon. Diperkirakan panen melon mencapai 51 ton dengan rata-rata beratnya 2 kg /buah.

Suwarno menambahkan harga jual buah melon cenderung mudah berubah, berkisar 5-7 ribu per kilo. Setelah dilakukan kalkulasi pendapatan kotor dikurangi biaya produksi, didapatkan rata-rata pendapatan bersih sekitar 134 juta rupiah.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Tuban atas perhatian dan dukungannya. Harapannya, dapat memotivasi petani terus berkreasi dan berinovasi menuju petani sukses,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan /DPKP Kabupaten Tuban, Murtadji, menyebutkan lahan pertanian melon seluas 1,8 ha ini dikelola oleh Perkumpulan Petani Bangkit Makmur kecamatan Parengan. Lahan tersebut ditanami 19.200 tanaman melon dengan estimasi panen mencapai 51 ton. Melon yang dipanen dibagi menjadi 3 grade yaitu A, B, dan C.

“Melon dengan Grade A menjadi kualitas terbaik dan dijual hingga ke luar pulau Jawa,” katanya.

Murtadji menerangkan bantuan alat pertanian yang diserahkan kepada kelompok petani berasal dari Kementerian Pertanian RI. Bantuan tersebut diharapkan mampu mendukung peningkatan hasil pertanian di Bumi Wali.

Bupati Tuban, H. Fathul Huda menjelaskan penduduk Kabupaten Tuban sebanyak 80 persen berprofesi petani. Pertanian di Bumi Wali dihadapkan permasalahan berupa biaya produksi mahal untuk akomodasi transportasi pertanian.

Menyikapi hal tersebut, Pemkab Tuban sejak 2011 terus berupaya meningkatkan infrastruktur Jalan Usaha Tani. Petani juga dihadapkan dengan ketersediaan sumber air yang minim di beberapa wilayah. Adanya sumber air yang representatif mampu meningkatkan produktivitas pertanian.

Karenanya, Pemkab Tuban terus berupaya mengoptimalkan tersedianya pengairan dgn pengeboran ataupun dari sumber air terdekat.

Bupati mengajak petani berkreasi dan berinovasi mengembangkan pertaniannya dengan tidak hanya menanam padi dan jagung. Potensi pertanian dapat dimaksimalkan dengan menanam holtikultura maupun tanaman lainnya, seperti melon, jeruk, kelengkeng, alpukat maupun porang.

“Saat ini, Pemkab Tuban tengah berupaya menyediakan lahan seluas 100 ha untuk budidaya tanaman porang dari Kementerian Pertanian RI,” ujarnya.

Bupati Tuban dua periode ini mengungkapkan rasa bangga atas keberhasilan pertanian di kabupaten Tuban meski di tengah pandemi Covid-19. Produktivitas panen padi dan jagung tiap tahunnya meningkat meski luas lahan tanam mengalami penurunan.

“Ini bentuk kerjasama yg baik antara pemerintah dan petani, hal ini harus terus terjaga dan dapat ditingkatkan krn kab.Tuban telah ditetapkan sebagai salah satu lumbung pangan untuk tetap terjaganya ketahanan pangan Nadional,” tuturnya.

Tosca Santoso, Petani Muda Yang Berhasil Menghutankan TN Gunung Gede Pangrango

Perjuangan untuk mengembalikan fungsi hutan dari kebun sayur milik petani yang tidak memiliki lahan tidaklah mudah. Selain harus memberikan pengertian tentang mereka yang akan kehilangan penghasilan hingga membujuk warga dan komunitas menanam pohon sangat sulit.

Namun dengan niat dan kerja keras, Tosca Santoso berhasil mengubah kebun sayur petani kembali menjadi hutan di Sarongge adalah nama sebuah kampung di kaki Gunung Gede.

Dia akhirnya mampu menyulap kebun sayur milik petani kembali men jadi hutan hijau. Komunitas dan pejabat pun berbondong-bondong memberikan bantuan. Dan ‘bonus’ yang tidak terduga yakni kedatangan Presiden SBY melihat lahan yang sudah dihijaukan tersebut.

Siapa pria yang bertanggungjawab di balik kesuksesan memulihkan hutan yang masuk dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango tersebut?. Dia adalah Tosca Santoso. Tosca adalah punya sejarah pajang sebagai seorang jurnalis. Ia juga menjadi salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI)

Kisah Petani Kembalikan Hutan

Bukit-bukit di atas kampung Sarongge itu, kini terlihat rindang. Rasamala, puspa, saninten, suren, ki hujan, tumbuh berdampingan. Sebagian sudah 20 meter tingginya. Pakis purba muncul di sana-sini, tanpa pernah ada yang menanam. Tanda hutan mulai pulih.Udara segar.

Banyak satwa mendatangi hutan kecil, yang dua belas tahun lalu, masih berupa kebun sayur.
Dua belas tahun. Waktu yang lama untuk menunggu. Tapi berharga untuk dijalani, ketika hasilnya adalah hutan yang kembali. Saya terlibat bersama masyarakat Sarongge, memulihkan hutan di kaki Gunung Gede. Di area yang termasuk dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Ikhtiar yang perlu dicatat.

Tiga punggungan bukit kecil itu, dinamai : Pasir Leutik, Pasir Tengah dan Pasir Kidul. Luasnya sekira 38 ha.Bertahun-tahun, petani Sarongge mengolahnya untuk kebun sayur. Sejak area itu masih di bawah Perhutani. Ada 150 keluarga yang menggantungkan hidup di sana, dengan menanam sawi, kol, brokoli dan sayur lain.

Tahun 2008, saya jumpa petani-petani itu, dan mengajak mereka menghutankan kembali kebunsayurnya. Karena bukit-bukit itu telah jadi bagian dari taman nasional, yang menurut aturan tak boleh ditanami sayur. Presiden Megawati Soekarnoputri mengubah status lahan di kaki gunung itu, dari Perhutani ke TN Gunung Gede Pangrango pada 2003.

“Jadi kami akan diusir?” gugat Dudu Duroni, ketua kelompok tani. Pada pertemuan pertama kami di madrasah kampung itu. Saya sedang jelaskan tentang program adopsi pohon. Selama tiga tahun pertama, pohon endemi ditanam, petani masih boleh tanam sayur di sela bibit pohon hutan. Kalau pohonnya makin tinggi, sayur tak cocok lagi. Ini dengan lugas ditangkap Dudu, sebagai cara mengusir petani.Saya berhenti menjelaskan adopsi pohon. Kabut turun tiap sore dari kaki Gede. Juga pada hari pertemuan itu. Bercampur rupa-rupa asap rokok yang memenuhi madrasah. Kami bercerita sana-sini. Tak fokus lagi pada tema pertemuan. Salah satunya adalah pertanyaan,” Berapa penghasilan berkebun di kaki gunung itu?” Dudu menyebut angka.

Saya menawarkan, “kalau penghasilan dari usaha lain lebih besar dari itu, apa mau turun dari gunung?”
“Mau,” jawab Dudu cepat. Bertani di gunung itu mahal ongkosnya. Pupuk harus diangkut ke gunung. Biaya panen lebih tinggi. Mereka terpaksa bertani di sana, hanya karena tak punya lahan lain.

Maka program adopsi pohon – yaitu petani menanam pohon endemi di area yang akan dihutankan, dengan dana sumbangan dari pengadopsi pohon; sedikit kami modifikasi. Petani turun dari gunung, bukan ditarget waktunya. Tetapi kalau penghasilan lain sudah lebih tinggi dibanding berkebun di gunung.

Sejak pertemuan itu, kami rajin mengumumkan program adopsi pohon di Green Radio – radio dengan perspektif lingkungan yang dulu mengudara di Jakarta. Sekarang sudah mati-. Kami ajak pendengar ikut mengadopsi pohon. Rp 108 rb/pohon. Bisa ditanam sendiri atau ditanam oleh petani. Lalu pohon itu ditandai dengan GPS. Supaya pengadopsi tahu di mana lokasi pohonnya. Dan kalau mereka sempat, dapat menengok kapan saja.

Program ini menarik minat kelas menengah Jakarta. Mereka berpartisipasi menghutankan lagi bukit gundul, mengurangi banjir di ibukota, tanpa banyak repot. Hanya sekali menyumbang, pohonnya dirawat petani. Kalau sedang longgar dan ingin nikmati udara desa, mereka bisa tengok pohonnya ke Sarongge. Sejak 2008 itu, banyak tokoh yang mengadopsi pohon : Faisal Basri, Jimly Assidiqie ( waktu itu Ketua MK), Teten Masduki, sekarang Menteri Koperasi, juga kalangan seni : Goenawan Mohamad, Ayu Utami, Olga Lydia. Seribu lebih individu tercatat ikut adopsi pohon. Olga Lydia tergolong rajin mengadopsi pohon. Ia punya seratus pohon adopsi, yang kini sudah jadi hutan mini.

Perusahaan juga senang ambil bagian. Astra Internasional, Bodyshop, Four Seasons Hotel, Toshiba, Unilever dan banyak perusahaan lain. Mereka adopsi pohon dan gunakan kesempatan menanam untuk acara keakraban karyawannya. Pemilik Bodyshop Indonesia, Suzy Hutomo, bahkan membuat vlog tentang hutannya dan mengunggah di saluran youtube nya. Keterlibatan perusahaan membuat jumlah pohon adopsi cepat meningkat. Sekira 22.000 pohon diadopsi, ketika program ini ditutup pada 2014.

Lebih dari separo dana dialokasikan untuk kegiatan ekonomi alternatif di luar kebun. Ada yang ternak kambing. Ternak kelinci. Para pemuda merintis kebun sayur organik. Ada juga yang mencoba industri rumahan seperti membuat sabun, minyak sereh, jamu hingga merintis ekowisata Sarongge.

Produk- produk seperti Sabun Sarongge, Jamoe dan Teh Sereh Sarongge, sampai sekarang masih diproduksi dan dapat dibeli lewat pesanan online. Berbagai sumber ekonomi baru itu, menjadi gantungan mereka yang dulu berkebun sayur di taman nasional.

Sedikit demi sedikit, mereka yang telah dapat penghasilan di luar kebun, turun dari taman nasional. Sukarela. Tahun 2011, misalnya, setelah tiga tahun pohon endemi ditanam, Dudu memutuskan berhenti berkebun. Kami buatkan piagam untuk setiap petani yang sukarela turun. Penghargaan atas kesediaan mereka menghutankan kembali kebun sayur. Proses ini berjalan alamiah. Kadang 5 orang turun. Kadang hanya3 orang. Tak ada jadwal. Tanpa tekanan. Kami hanya berupaya keras untuk terus mencari alternatif pekerjaan. Sambil merawat pohon-pohon adopsi.

Kisah petani Sarongge menghutankan lagi kebun sayur itu, rupanya terdengar sampai telinga Presiden SBY. Ia berkunjung ke desa di kaki Gede itu 8 Januari 2013. Ia ingin melihat sendiri hutan yang dipulihkan. Selain itu, presiden menanam pohon bersama belasan menteri dan pejabat tinggi lain. Desa heboh. Belum pernah pejabat tinggi sebanyak itu, datang ke kampung Sarongge.

Pohon SBY, rasamala, dan pohon yang ditanam almarhumah Bu Ani, sebatang ki hujan, sampai sekarang tumbuh subur, dan sering ditengok pengunjung perkemahan Sarongge.
SBY datang dengan banyak bantuan. Sekolah, masjid, kegiatan ekonomi warga mendapat bantuan dana. Sebagian bantuan digunakan untuk membangun saung, tempat warga kini berkumpul dan berkegiatan.

Saung Sarongge, ikon desa itu, mulai digunakan tak lama setelah kunjungan SBY. Dan hadiah terbaik untuk warga adalah diberikannya izin kelola eco wisata atas hutan yang dipulihkan itu, kepada koperasi petani :Koperasi Sugih Makmur. Mereka dipercaya negara memanfaatkan hutan, untuk tujuan wisata dan pendidikan. Izin untuk Koperasi Sugih Makmur itu berlaku sampai sekarang.

Selain hal positif, kunjungan presiden juga membawa konsekuensi baru. Petani yang masih berkebun sayur diberi tenggat. Harus turun sebelum Agustus 2013. Negara mempercepat proses turun itu dengan memberi santunan bulanan, kepada mereka yang belum dapat alternatif kerja. Hutan di ujung Sarongge itu, secara resmi ditutup untuk kebun sayur.

Saya lihat petani yang sadar kebunnya harus dihutankanitu, menanggung beban berat ketika dihadapkan pada tenggat. Ada beberapa keluarga yang istrinya terpaksa berangkat jadi TKW. Saya selalu terharu kalau mengingat pengorbanan itu. Maka, saya putuskan untuk terus mendampingi petani Sarongge, meski program adopsi pohon sudah selesai.

Petani Sarongge selalu mengingatkan saya akan Tiga O. Slogan mereka tentang hubungan petani dan hutannya. Leweung hejO. Reseup nu nenjO. Patani ngejO. Hutan hijau. Senang yang melihatnya. Petani bisa menanak nasi. Pendeknya : Hutan terjaga, kalau petani sekitarnya sejahtera.

Boimin, Petani Milenial Yang Sukses Menanam Semangka

Kesuksesan Boimin sebagai petani hortikultura tidak diraih dalam semalam. Butuh waktu belasan tahun untuk menjadikan dirinya seperti saat ini. Dengan berbekal pendidikan pas-pasan, jejak kehidupan lelaki kelahiran Banyuwangi 5 Juni 1966 ini dimulai dari buruh panggul di desanya. Pekerjaan tersebut dilakoninya hingga dua tahun sejak berumah tangga. Setelah temannya yang bekerja di perusahaan benih mengajari bertani, Boimin mulai tertarik untuk melakukan budidaya.

“Pertama kali belajar bertani, saya menanam cabai di lahan milik orang tua seluas seperempat hektar. Panen pertama tidak begitu menggembirakan, ya maklum saja, namanya juga baru belajar,” ujarnya. Tapi bapak dua anak ini tidak menyerah, dia terus mencoba dan mencoba lagi. Hinggga akhirnya Boimin mulai memahami bagaimana cara menanam cabai agar hasil panennya optimal.

Setelah beberapa kali panen dengan hasil menggembirakan, Boimin mendapat informasi dari temannya tentang banyaknya lahan potensial di Sulawesi Tengah. Lelaki yang suka tantangan ini pun mulai mencoba untuk mengadu nasib di tanah rantau. Ketika informasi yang diterima tentang tanah harapan itu dirasa cukup, Boimin, istri dan salah satu anaknya pergi ke Sulawesi Tengah. Tujuannya adalah Desa Jonoge, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi.

“Di Jonoge saya menyewa lahan seluas 7 ribu meter persegi. Lahan tersebut saya tanami berbagai komoditas hortikultura, seperti semangka, cabai, dan kacang panjang. Saya sisakan sepetak untuk mendirikan gubug buat rumah tinggal,” kenangnya. Dengan keuletannya, dari berumah gubug kecil di lahan sewa, Boimin mampu membeli rumah dengan halaman yang cukup luas, pada tahun 2012.

Disusul dua tahun kemudian, lelaki rendah hati ini bisa membeli tanah garapan dengan total luas 2 hektar. “Tadinya saya hanya mampu beli setengah hektar, setelah uang terkumpul, beli lagi satu hektar, dan belakangan saya nambah lagi setengah hektar,” paparnya. Lahan seluas itu ditanaminya belimbing dan tomat. “Untuk lahan sewa, luas saat ini mencapai hampir satu hektar. Semuanya saya tanami semangka, labu madu, dan kacang panjang sebagai tanaman pagar,” ujarnya.

Semangka yang ditanam di lahan sewa, adalah semangka tanpa biji. Rencananya komoditas tersebut akan dipanen sekitar sehari lagi. Menurut Boimin, berat satu buah semangka di lahannya berkisar antara 6 hingga 7 kilogram. “Bahkan ada beberapa yang bisa mencapai 10 kilogram per buah, rasanya juga manis. Di pasaran tentu saja harganya lebih tinggi,” katanya.

Agar semangka tumbuh menjadi subur dan menghasilkan buah yang lebat, besar dan rasanya manis, Boimin menekankan pentingnya pemupukan. Dia mengaku mengaplikasikan PHONSKA Plus, NPK produksi Petrokimia Gresik dengan tambahan Sulfur dan Zink. “Dengan PHONSKA Plus efeknya mulai terlihat sejak semangka berumur 20 hari. Ditandai dengan cepatnya pertumbuhan cabang-cabang yang menjalar. “Bunganya juga semakin banyak dan tidak mudah rontok, sehingga banyak yang berhasil menjadi buah hingga menjelang panen,” ucapnya.

Petani horti yang baru saja membeli mobil MPV keluaran terbaru ini juga heran dengan PHONSKA Plus. Pupuk NPK ini harganya lebih murah dibanding pupuk sejenis yang impor, tapi hasilnya relatif sama. “Dengan PHONSKA Plus, selain panennya bisa meningkat dari 20 ton menjadi 25 ton per hektar, biaya produksinya juga bisa berhemat, Hal ini jika dibandingkan jika menggunakan NPK impor. Sehingga untungnya juga lebih banyak,” tuturnya sambil tersenyum.

Alam Hidayat Naibaho, Petani Muda Dari Sumalunggun

Alam Hidayat Naibaho mengalami jatuh bangun saat memulai usahanya di bidang budidaya pertanian selama tiga tahun.

Sebelum jadi petani, Alam merantau ke Baganbatu untuk mencari pengalaman kerja. Selama 7 tahun, Alam menggeluti beberapa pekerjaan termasuk bertani.Kemudian, pada awal tahun 2012, Alam kembali ke kampung halamannya di desa Said Buttu Saribu, Kabupaten Sumalunggun.

Dia berniat memulai usaha bercocok tanam yang nanti hasil panen pertaniannya untuk membantu kehidupan keluarga.

Banyak rintangan dalam proses bercocok tanam di kebun milik keluarganya. Niat baik Alam untuk membantu keluarga juga mengalami banyak rintangan.

Alam memberanikan diri budidaya cabai dengan menggunakan modal awal sekitar Rp3 juta hasil dari kerjanya selama merantau.Walau sudah serius bertani, namun karena masih minim edukasi, panen pertama Alam gagal total.

Di tahun kedua cabai yang ditanam mulai membuahkan hasil. Namun karena mendengar begitu banyak saran dari kerabat yang bukan ahli pertanian, hasil panen belum maksimal.

Bahkan usaha pertanian di tahun ketiga hasil panen juga mengalami kegagalan.

“Menurut saya, terlalu banyak mendengar saran dari yang bukan merupakan ahli juga bukan hal yangg tepat. Tapi saya terus berusaha untuk belajar,” kata Alam.Untuk mendapat ilmu di bidang pertanian, Alam bergabung ke kelompok tani pertamanya pada tahun 2014 yangg bernama parmajaya.

Di sana, Alam mulai mendapatkan ilmu dan belajar dari orang yang tepat.

Akhirnya di tahun 2017, Bitra Indonesia datang ke desanya dengan membawa program ‘Toba Project’.

Sebelum kedatangan Bitra, Alam sudah menanam kopi di lahannya. Kedatangan Bitra jadi momentum yang tepat bagi Alam untuk mendalami ilmu budidaya kopi.

“Setelah Bitra datangm saya mendapatkan ilmu baru tentang cara bertani kopi yang baik. Mulai dari pembibitan penanaman proses perawatan dan akhirnya hingga panen kopi,” terangnya.Namun hasil panen kopinya belum maksimal sebab pohon awal yang dia tanam itu sebelum mendapat pendampingan dari Bitra.

“Kedepan saya ingin mendapatkan hasil panen yang baik karena prospek dari program Bitra ini sangat terasa mulai dari penyuluhan teori sampai dengan praktik ke lapangan langsung. Munculnya Bitra juga membuat tanaman cabai dan kopi berkembang baik. Ilmu yang didapat juga sangat banyak dari Bitra Indonesia,” ujar Alam.

Dia bersama petani lainnya yang mengikuti program ‘Toba Project’ mengalamai peningkatan ekonomi.

Alam pun kini sudah mendapat penghasilkan untuk menghidupi keluarganya dan menyekolahkan adiknya.

Dia berharap pemerintah agar lebih memperhatikan desanya dan lebih meningkatkan bantuan untuk para petani.

“Saran saya untuk pemuda yang mulai bertani, jangan takut dan jangan berhenti belajar. Carilah orang yang tepat untuk belajar. Sebab bertani tanpa ilmu justru akan meneruskan sendiri dan berakibat tidak baik dari sisi alam lingkungan dan juga dari segi penghasilan,” pungkas Alam.

Triana andri, Petani Milenial Ini Sukses Berbisnis Buncis

Ditengah pendemi Covid-19 dan saat orang kesulitan mendapatkan penghasilan karena tidak bekerja atau hanya hanya di rumah saja, sekelompok petani di Desa Cibodas, Lembang Bandung Barat, Jawa barat Justru mengekspor hasil sayuran mereka ke Singapura.

Ekspor sayuran ke Singapora ini berupa sayuran Impor yang ditanam oleh petani Cibodas di Kawasan lembang. Sayuran berupa Buncis French bean atau baby buncis di tanam oleh kelompok tani Macakal.

Baby buncis ini dikembangkan oleh petani dengan mengembangkan pengelolaan holtikultura berbasis diferensiasi advantage, berbeda dengan pola menanam tananan konvensional seperti cabe, tomat atau sayuran lokal lainnya.Inovasi dan terobosan menanam sayuran inilah yang kemudian mampu meyakinkan buyer dan market, sehingga produk baby buncis ini bisa di ekspor ke singapura dan memasok ke sejumlah supermarket modern di Jakarta dan bandung, dengan harga jual 18.000 per kilogram.

Sebanyak 1,2 ton Baby Buncis yang dihasilkan selama sepekan, rutin diekspor ke Singapura. Buncis ekspor ini berasal dari lahan seluas 22 hektare yang dikelola kelompok tani Macakal, Lembang atau sekitar 140 petani.Berkat kegigihan mereka, saat ini, Kelompok Tani Macakal bisa meraup omzet hingga Rp 200 sampai Rp300 juta per bulannya.

Menurut Ketua Kelompok Tani Macakal, Triana andri, selain singapura dalam waktu dekat juga ada permintaan ekspor ke Jeddah Arab Saudi dan Brunei Darussalam, untuk itu kelompok taninya berencana memperluas lahan pertanian baby buncis guna memenuhi permintaan tersebut.

“Mayoritas petani di Macakal merupakan petani milenial. Kita ingin anak-anak muda di Lembang lebih ekspansi ke pekerjaan di sektor pertanian, sehingga bisa lebih sejahtera,” ucap Triana.

Semakin menyempitnya lahan di kawasan Desa Cibodas akibat pembangunan vila dan resort di kawasan ini tak menyurutkan para petani muda untuk patah semangat.

Mereka justru kian berprestasi saat mampu berkreasi menjadikan lahan mereka yang minim menghasilkan produk yang maksimal,

Setidaknya kelompok Tani Macakal di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Bandung Barat telah menjadi pahlawan. Karena mereka telah ikut menyumbangkan devisa bagi negara.

“Ini tantangan buat kami, disaat semakin banyak lahan beralih fungsi menjadi bangunan kita ingin produktifitas hasil panen kita terus meningkat. Selain itu, kita juga mulai melakukan pengembangan di luar Lembang,” ujar Triana.

Selain menanam baby buncis, kelompok tani Macakal juga menanam tanaman import lainnya seperti tomat Cery, bayam kenzo yang juga dipasok ke pasar modern.

Donny Lembong, Petani Muda Yang Sukses Berbisnis Cabai Keriting

SEKTOR pertanian sangat menjanjikan keuntungan berlipat ganda bila sukses mengembangkannya. Itulah dialami oleh Donny Lembong, petani cabai keriting di Desa Tanbelang, Kecamatan Maesaan, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara. Bermodalkan bantuan sarana produksi dari Dinas Pertanian Kabupaten Minahasa Selatan, hingga pekan keempat April 2020, Donny Lembong mengantongi omset Rp52 juta dari enam kali panen, meski luas lahannya hanya0,7 hektar. Harga jual Rp8.000 per kg di tingkat petani mendorong banyak petani di desanya mengikuti jejak petani milenial tersebut.
Bantuan Saprodi dari Pemkab Minahasa Selatan berupa tiga rol plastik mulsa,pupuk organik 600 kg, pupuk kimia 100 kg dan pupuk hayati ekstragen 10 liter, sementara bibit cabai keriting disediakan oleh petani. Kabar gembira tersebut tak lepas dari ‘tangan dingin’ Mikhail Ramses Dawit, penyuluh pertanian di Kecamatan Maesaan, yang mendorong petani binaannya menanam cabai keriting. Alasannya harganya kerap berfluktuasi sehingga menjadi salah satu pemicu inflasi daerah dan nasional. Keberhasilan Donny Lembong, Ketua Poktan Anuma di Desa Tambelang direplikasi oleh Mikhail Ramses Dawit kepada empat Poktan binaannya di Kecamatan Maesaan. Sukses Mikhail RD diapresiasi Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP, Leli Nuryati pada kegiatan ‘Mentan Sapa Petani’ melalui Agriculture War Room – Komando Strategis Pembangunan Pertanian (AWR KostraTani) di kantor pusat Kementerian Pertanian RI, belum lama ini.
Leli Nuryati mewakili Kepala BPPSDMP Prof Dedi Nursyamsi mengharapkan Mikhail RD mendorong lebih banyak petani untuk mengembangkan budidaya tanaman spesifik lokasi, yang hasil produksinya menguntungkan petani. Penyuluh pertanian pusat di Kementerian Pertanian RI, Edizal, pendamping kegiatan penyuluhan pertanian Provinsi Sulawesi Utara mengatakan selain budidaya cabai keriting, Mikhail RD juga membina petani binaannya di Minahasa Selatan untuk menanam talas dan kacang merah, karenamerupakan pangan lokal yang disukai masyarakat.
“Talas termasuk gampang dibudidayakan. Banyak ditanam di bawah pohon cengkeh dan kelapa. Usia tanam delapan bulan. Hasilnya mencapai 50 kg dari satu rumpun. Harga jual cukup bagus sekitar Rp2.400 per kg untuk dikonsumsi atau menjadi produk olahan seperti keripik,” ujar Edizal. Sementara kacang merah dihargai Rp20.000 di tingkat petani setelah masa tanam dua bulan sudah dapat dipanen untuk konsumsi masyarakat setempat.

Syarif Syaifulloh, Petani Milenial Asal Depok

Setelah sembilan tahun sukses bercocok tanam di Negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Syarif Syaifulloh membagikan kisahnya melalui berbagai kegiatan, mulai dari membuka pelayanan belajar di kebun hingga membuat buku untuk anak-anak.Dari awal cerita Pak Tani asal Depok yang sukses mendulang nama di Kota Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat. Ada yang kurang terekspos disamping mengurus kebun sayur, Syarif memiliki pekerjaan tetap. Yakni seorang Koki di Rumah Sakit Anak, CHOP The Children Hospital of Philadelphia.Dalam sepekan, Syarif bekerja hanya dua hari. Selebihnya dia menghabiskan waktu mengurus kebun sayur organik di pekarangan rumahnya. Kebun seluas 100 meter persegi itu diberi nama Haiqal’s Garden. Nama itu diambil dari anak ketiga hasil pernikahan dirinya dengan Ummu Hani White.

Haiqal’s Garden dijadikan Syarif sebagai sarana edukasi bagi semua orang. Dari mulai anak-anak TK sampai mahasiswa perguruan tinggi dan orang tua. Baik orang Indonesia maupun penduduk setempat. Bahkan ketika kembali ke Indonesia, Syarif juga sering diminta menjadi narasumber di berbagai acara.“Saat kembali ke Indonesia setahun sekali, saya sempatkan sebulan disini menjadi narasumber di berbagai acara tentang perkebunan. Ikhlas tanpa bayaran, Selama saya mampu, saya akan bagikan ilmu dan pengalaman saya secara cuma-cuma,” ujar Syarif.

Melalui Haiqal’s Garden Syarif dan sang istri mempromosikan Indonesia kepada masyarakat Amerika. Saking menariknya kebun Syarif kerap dijadikan sarana penelitian dan pembelajaran bagi pelajar Amerika mencari tahu cara bercocok tanam dengan sayuran organik khas Indonesia.

Para volunteer atau pelajar yang telah selesai menimba ilmu. Pria kelahiran Jawa Timur ini justru membayar mereka dengan sayuran organik hasil panen dari kebun miliknya. Karena sesuai dengan niatnya di awal meniti karir ini, dia ingin membagikan seluruh hasil kebunnya ke WNI dan masyarakat setempat.

“Kebun saya ini mereka jadikan sebagai tempat praktek kerja lapangan (PKL). Ada yang bekerja selama tiga jam atau lima jam. Selesai kerja mereka minta tandatangan dan nilai dari saya, jadi seperti belajar,” ucapnya.Selain datang ke kebun langsung, Syarif juga memberikan edukasi seputar kebunnya melalui buku yang dia rilis dengan nama Haiqal’s Garden. Buku dengan dua bahasa, yakni Indonesia-Inggris itu sudah disebar untuk saranan edukasi yang diselipkan nilai-nilai pendidikan karakter di dalamnya.

Dengan hasil yang telah dia raih selama 19 tahun menetap di Amerika. Syarif sangat bersyukur sehingga ilmu yang dia miliki bisa kembali lagi ke Indonesia. Melalui seminar-seminar baik tingkat Kota-Internasional.

“Saya ingin pemerintah Indonesia lebih memperhatikan rakyat desa khususnya petani. Saya tidak mau mereka hanya bertani terus-terusan secara tradisional tapi harus punya perubahan mengikuti zaman yang canggih ini,” jelas Syarif.