Isnanto, Petani Muda Yang Sukses Menanam Cabai Rawit

Musim kemarau yang masih terus terjadi membawa berkah bagi para petani cabai di Kecamatan Patuk. Isnanto, salah seorang petani cabai rawit di Dusun Putat, Desa Putat, sukses memanen cabai rawit miliknya di tengah puncak musim kemarau tahun ini. Menurutnya, cabai rawit adalah tanaman yang cocok ditanam saat kemarau, sehingga dirinya bisa panen setiap pekan.

“Panen minggu ini merupakan panen ketiga kalinya. Musim kemarau tahun ini sangat pas untuk menanam cabai rawit,” ujar Isnanto.Isnanto mengatakan tanaman cabai rawit ditanam sejak awal musim kemarau sekitar Juni 2019. Tak ada cara khusus yang dilakukan untuk merawat tanaman tersebut. Menurut Isnanto, tanaman cabai hanya butuh penyiraman setiap hari.

Dijelaskan Isnanto, berbeda dengan wilayah lain yang dilanda kekeringan, selama kemarau wilayah Desa Putat masih memiliki air irigasi yang mencukupi untuk menanam tanaman hortikultura. Air sungai masih mengalir lancar dan bisa digunakan untuk menyirami tanaman. “meski kemarau, air untuk menyirami tanaman masih mencukupi,” ucapnya. Untuk sekali panen Isnanto mengaku bisa memetik cabai rawit hingga 25 kilogram dan dijual dengan harga di kisaran Rp35.000 per kilogram. “Saat puncak musim panen seminggu bisa panen hingga tiga kali,” ujarnya.

Kabid Ketahanan Pangan Dinas Petanian dan Pangan Gunungkidul, Fajar Ridwan, mengungkapkan musim kemarau tahun ini sangat panjang dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Ia menjelaskan musim hujan berhenti lebih cepat dan hujan datang lebih lambat.

Ia mengakui jika tanaman tanaman hortikultura sangat cocok ditanam para petani di tengah musim kemarau yang cukup panjang ini, salah satunya cabai rawit. “Kebanyakan petani di Gunungkidul memanfaatkan tanaman hortikultura seperti cabai, terung, bawang merah dan lainnya,” ujar Fajar.

Ia menuturkan tanaman hortikultura selain membutuhkan air yang tidak banyak, juga mudah dalam perawatan. Selain itu, hasil panen tanaman hortikultura juga bisa bersaing di pasaran. “Jika para petani memanfaatkan lahan mereka di musim kemarau dengan menanam hortikultura, maka bisa mendatangkan penghasilan dibanding tanaman lainnya,” kata Fajar.

Bagas Suratman, Mantan Preman Jadi Petani Milenial Sukses

Bagas Suratman, warga Tangerang, Banten, tak menyangka dirinya bisa menjadi petani sukses.

Sebelumnya, Bagas memiliki kehidupan yang pahit. Ia pernah bekerja sebagai porter di bandara, kondektur, hingga menjadi preman.

Bahkan, ia mengaku dulu sering mabuk-mabukan dan gemar berjudi.

Bagas juga bekerja di sejumlah bidang, tetapi akhirnya selalu dipecat.

“Saya juga sudah menjalani banyak pekerjaan. Namun, ending-nya enggak enak. Selalu dipecat,” kata Bagas di depan peserta roadshow BBC Get Inspired di Kampus Universitas Merdeka Malang, Jawa Timur, Kamis (14/2/2019).

Titik balik perubahan hidup Suratman terjadi melalui perenungan.

Pria tiga anak itu kerap memperhatikan anak-anaknya beranjak dewasa dan tentu saja membutuhkan biaya untuk pendidikan.

“Dari melihat anak itulah saya mulai sadar bahwa saya harus berubah, apalagi anak-anak sudah mulai dewasa dan membutuhkan biaya pendidikan,” ujar Bagas di sela-sela waktu istirahat sebelum presentasi di acara tersebut.

Pria yang kini berusia 38 tahun itu kemudian berpikir bagaimana bisa mendapatkan mata pencarian yang layak.

Dia ingin membahagiakan keluarga dan orangtuanya. Akhirnya, ia memutuskan untuk bertani.

Ide itu muncul setelah ia sering melihat seorang petani begitu ulet dan telaten menyiram sayur.

“Saya waktu pulang kerja sebagai porter di bandara (Bandara Soekarno-Hatta) naik angkot karena waktu itu jarang ada motor. Saya sering melihat dia begitu ulet menyiram sayur. Saya jadi tertarik,” katanya.

Bagas lalu belajar bertani sayur secara otodidak, yakni melihat bagaimana orang bertani sayur.

Ia mengaku memang berasal dari keluarga petani. Namun, dulu ia enggan meneruskan pekerjaan orang tuanya dengan alasan gengsi.

“Waktu itu saya tidak mau jadi petani karena gengsi. Menjadi petani itu enggak keren,” katanya.

Setelah belajar cukup lama, Bagas kemudian mencoba bertani.

Ia menyewa lahan tanah tidur seluas 3.000 meter persegi untuk ditanami sayuran dan buah-buahan.

Tanah tersebut tepat berada di pinggir Bandara Soekarno-Hatta.

“Modalnya dari hasil dagang sedikit-sedikit. Sebelumnya saya juga sempat dagang,” kata Bagas.

Hari berlalu. Usaha tani Bagas berjalan lancar. Bahkan, ia sudah mampu menyewa lahan seluas 26 hektar untuk ditanami sayuran dan buah-buahan seperti melon.

Ia memasok hasil usaha taninya ke pasar-pasar tradisional dan supermarket-supermarket di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Anggota TNI Ini Sukses Jadi Petani Kelengkeng Setelah Satu Kaki Terkena Ranjau

Meskipun dengan satu kaki, anggota TNI bernama Mugiyanto ini tetap semangat menjadi petani. Ia memilih menjadi petani kelengkeng yang sukses hasilkan puluhan ton kelengkeng setiap tahun

Tidak ada yang tahu kapan musibah datang, termasuk bagi Mugiyanto. Anggota TNI yang harus rela kehilangan satu kakinya setelah terkena ranjau saat bertugas di Ambon. Namun hal ini tak membuatnya putus asa.

Meskipun fisiknya sudah tak sempurna, tapi Mugiyanto sadar ia harus tetap menjalani hidup. Ia pun memilih menjadi petani buah setelah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Kementrian Pertanian RI.

Kisah Mugiyanto ini dirangkum dalam video yang diunggah di channel youtube Kementrian Pertanian RI. Selain memberi semangat, Mugiyanto juga menjadi sosok inspiratif bagi banyak orang.

Pria dengan pangkat Serda ini setiap hari sibuk mengurus ratusan pohon kelengkeng di kebun Borobudur. Kebun buah yang berlokasi di Magelang, Jawa Tengah ini menjadi saksi dari perjuangan Mugiyanto.

“Tahun 2000 saya kecelakaan saat tugas di Ambon. Saya terkena ranjau di sana, sekarang ini saya menggunakan kaki palsu,” kata Mugiyanto.

Di kebun ini setidaknya ada 250 pohon kelengkeng jenis Kateki yang ia rawat. Kelengkeng ini termasuk jenis terbaik dan unggulan di Indonesia. Buahnya manis, berukuran besar dan bisa dipanen sepanjang tahun tanpa kenal musim.

Kelengkeng yang ditanam Mugiyanto ini termasuk varietas super, dalam satu tangkai bisa menghasilkan buah seberat 3-5 kilogram. Inilah yang membuat banyak Mugiyanto semakin semangat bertani.

Dalam setahun, kebun ini bisa menghasilkan hingga 50 ton buah kelengkeng. Ia mengaku sama sekali tidak kesulitan memasarkan buah ini karena pasarnya sangat terbuka lebar.

Selain menjual langsung ke pasaran, Mugiyanto juga membuka kebunnya ini sebagai sarana agro wisata. Siapapun boleh datang, memetik kelengkeng dan membeli serta menjadikan buah ini sebagai oleh-oleh. Mugiyanto juga membuka sarana edukasi bagi orang-orang yang mau mencoba bertani kelengkeng.

“Petani itu tidak kotor. Petani itu penghasilannya sangat luar biasa.
Jangan malu dikatakan anak muda sebagai petani. Petani itu sangat menjanjikan,” ujar Mugiyanto.

Dalam sekali panen kelengkeng, Mugiyanto bahkan bisa mengantongi hingga 500 juta. Dari sini ia menyebarkan semangat pada orang-orang agar jangan memandang remeh profesi sebagai petani.

Sumber: https://food.detik.com/info-kuliner/d-5356558/anggota-tni-ini-sukses-jadi-petani-kelengkeng-setelah-satu-kaki-terkena-ranjau

Ketut Martin, Petani Muda Yang Sukses Menanam Durian

Karena orang tuanya sudah tidak sanggup lagi membiayai, selepas SMP Ketut Martin tidak melanjutkan sekolahnya, di Desa Padang Bulia, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Anak ke empat dari enam bersaudara itu pun kembali ke sawah untuk membantu kedua orang tuanya.

Meskipun mempunyai lahan hampir satu hektar di daerah yang relatif subur, hasil panen di lahan mereka tidak kunjung mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Bapak saya petani tradisional yang tidak begitu memahami bagaimana cara budidaya yang ideal. Hal ini lah yang menyebabkan hasil panen semakin menurun dan berimbas pada pendapatan keluarga. Saat itu saya hanya belajar dari Bapak, dengan ilmu pertanian yang serba terbatas,” kisah Ketut Martin.

Tidak tahan hidup dalam kemiskinan di desanya, anak muda kelahiran 30 April 1991 itu merantau ke Denpasar. Dicobanya berbagai pekerjaan di ibu kota Provinsi Bali tersebut. Ternyata hidup di kota besar tidak membuatnya nyaman, meskipun mendapatkan gaji bulanan. Karena Denpasar tidak mengubah nasibnya, Ketut memutuskan kembali ke desa.

“Saya kembali membantu orang tua menanam padi di sawah. Meskipun saat itu penghasilan masih tidak menentu, tapi saya lebih kerasan tinggal di desa. Di kampong halaman, kami bisa makan dari hasil bumi, dan tidak usah menyewa kamar kos,” ujarnya.

Dari luas lahan hampir satu hektar milik orang tuanya, setengahnya ditanami pohon durian. Ketut mengaku saat itu panen pohon duriannya tidak pernah memuaskan. Hasilnya dari musin ke musim terus menurun, baik kuantitas maupun kualitasnya.

“Sebelumnya sering terjadi busuk batang, dan buahnya rontok sebelum masak. Hingga akhirnya kami dibantu oleh Pak Gusti Susila (Staf Penjualan PT Petrokimia Gresik). Pak Gusti menyampaikan bahwa pohon-pohon durian kami harus dirawat dengan serius,” akunya.

Hal pertama yang dilakukan oleh Gusti Susila saat itu, kata Ketut, menyarankan untuk memberikan Petroganik, pupuk organik produksi PT Petrokimia Gresik (PG). Gusti juga menganjurkan untuk mengaplikasikan Petro Gladiator serbuk, dekomposter produksi PG. “Petro Gladiator kami taburkan di atas tumpukan daun-daun kering yang berserakan di bawah pohon,” terang Ketut.

Setelah mengaplikasikan dua produk PG tersebut, mereka disarankan lagi oleh Gusti Susila untuk memupuk NPK Kebomas 12:12:20 (sekarang namanya Petro Nitrat). “Pak Gusti juga melakukan pendampingan dalam pencegahan dan penaggulangan terhadap hama dan penyakit,” paparnya.

“Setelah berjalan selama 6 bulan, hasilnya di luar dugaan. Pada saat panen, selain jumlah buah semakin banyak, ukuran buah durian juga menjadi lebih besar, dagingnya semakin tebal, dan rasanya manis sekali. Rasanya baru kali ini pohon durian di lahan kami bisa mendapatkan panen yang seperti itu,” terang Ketut.

Dengan kualitas dan kuantitas panen yang meningkat, tentu saja berpengaruh pada nilai jualnya. Saat panen pertama setelah mengaplikasikan Petroganik, Petro Gladiator, dan NPK Kebomas 12:11:20, bapaknya mendapatkan untung lumayan besar. “Saat musim panen, satu pohon durian rata-rata bisa mencapai 20 buah siap petik, dengan bobot sekitar 7 kilogram per biji,” akunya.

Keberhasilan panen durian di lahan milik orang tuanya, menjadikan Ketut Martin optimis. Ternyata hidup di desa sebagai petani bisa menghasilkan uang lumayan besar.

Suami dari Nyoman Resminadi itu pun akhirnya total menekuni budidaya durian. Selain ke dua orang tuanya beranjak tua dan tenaganya tidak seperkasa dulu lagi, dia merasa bahwa pertanian adalah dunianya.

“Dengan bekal ilmu yang saya dapatkan dari berbagai pihak, utamanya Pak Gusti Susila dalam hal perawatan tanaman, saya pun mulai serius bertani,” ungkapnya.

Dengan kerja keras dilambari dengan ilmu pertanian yang didapat, hasil penen duriannya semakin bagus. Tidak hanya itu, dia menyewa kebun durian milik tetangganya yang kondisinya mengenaskan. Oleh Ketut Martini pohon-pohon durian itu dipelihara dengan telaten, sehingga hasil panennya meningkat.

“Ketika hasil panen bagus, permintaan terus meningkat. Saya tidak hanya melayani pasar di Buleleng saja, tapi juga pembeli dari kabupaten-kabupaten lain di Bali. Bahkan saya juga mengirim hingga Surabaya dan Jakarta,” tegasnya. Durian dari lahan yang dikelolanya berhasil menembus pasar swalayan besar di Denpasar, Surabaya, dan Jakarta.

Keuntungan dari hasil usahataninya, disisihkan untuk tambahan modal, dan membeli kendaraan bak terbuka. Selain itu, Ketut Martini juga bisa membangun rumah sendiri. Ke depan dia berencana akan mengembangkan usaha taninya, dengan menambah luas lahan durian yang disewa, dan memperluas jaringan pemasaran di Indonesia.

Mengenal Lebih Dekat Kelengkeng Super Sleman, Bisa Dibudidayakan di Pesisir Pantai

Peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan varietas kelengkeng unggul yang dinamai Kelengkeng Super Sleman.

“Keunggulan Kelengkeng Super Sleman ini adalah memiliki ukuran buah relatif lebih besar dengan daging buah tebal dan biji kecil,” papar peneliti Kelengkeng Super Sleman dari Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi S Daryono, S.Si., M.Agr.Sc., Kamis (4/2/2021), dalam rilis yang diterima Harianjogja.com. 

Kelengkeng ini potensial dibudidayakan mulai dari pesisir pantai hingga dataran menengah dengan ketinggian sekitar 700 dpl. Tak hanya itu kelengkeng yang lahir dari inovasi Budi dan Yusuf Sulaiman, S.IP., ini juga dapat dikembangkan di lahan karst.

Budi menjelaskan Kelengkeng Super Sleman telah dikembangkan sejak tahun 2015 silam. Kelengkeng ini berasal dari persilangan antara kelengkeng KD dengan kelengkeng LD. Sementara untuk pangkal stek menggunakan kelengkeng lokal.

Selain itu, kelengkeng jenis ini memiliki cita rasa manis dengan kadar gula 22-23 brix. Berat perbuah mencapai 9,74-10 gram. Adapun diameter biji 1,1-1,3 cm dan berat biji 0,96-1,53 gram.

Ditambahkan Budi, varietas Kelengkeng Super Sleman ini dapat berbuah sepanjang waktu atau tidak terpengaruh musim dengan pemberian induksi fitohormon/POC untuk pembungaan dan pembuahan. Dalam sekali panen dari satu pohon berusia 2 tahun bisa mencapai 2-4 Kg dan 3 tahun 4-6 Kg.

“Setelah umur 4 tahun akan mencapai 10-25 kg/pohon tergantung jumlah pembungaan dan penyerbukan menjadi buah,” terang Dekan Fakultas Biologi UGM ini.

Kelengkeng Super Sleman ini memiliki pangsa pasar yang luas untuk dibudidayakan. Varietas ini juga telah lama dibudidayakan oleh masyarakat binaan Fakultas Biologi UGM di Condongcatur Sleman, Kemadang Gunungkidul, Hargowilis Kulonprogo, serta Balikpapan Kalimantan Timur.

Sumber: https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2021/02/05/512/1062749/mengenal-lebih-dekat-kelengkeng-super-sleman-bisa-dibudidayakan-di-pesisir-pantai

Sosok Deden Purbaya, Petani Mienial Sukses Berbisnis Anggur Brazil

Siapa bilang lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon hanya menjadi guru atau ustadz saja? Ternyata, alumni kampus negeri satu-satunya di wilayah III Cirebon ini juga ada yang menjadi seorang petani sukses di Kabupaten Majalengka.

Dia adalah Deden Purbaya. Pria lulusan Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2013/2014 ini telah berhasil membudidayakan tanaman buah ajaib yang mempunyai 7 rasa sekaligus dalam satu pohonnya. Tanaman buah tersebut adalah Anggur Brazil (Jaboticaba)Ketujuh rasa itu, yakni rasa jambu biji, leci, manggis, markisa, menteng, srikaya dan anggur yang muncul ketika menjelang matang sampai benar-benar matang pohon.

Kisah suksesnya ini berawal pada tahun 2012. Saat itu, ayahnya yang berprofesi sebagai penjual bibit berbagai jenis tanaman di Majalengka memiliki cabang di daerah Pamengpeuk, Garut. Suatu hari, ada seorang konsumennya di Garut yang mencari bibit pohon buah tersebut.

“Awalnya bapak juga gak tau kalau ada pohon buah Anggur Brazil dan saat itu juga gak punya tanaman itu. Tapi saat itu bapak juga gak menolak permintaan konsumen ini,” kisah Deden kepada suaracirebon.com saat mengunjungi perkebunan Anggur Brazil miliknya di Jalan Wisata Curug Tonjong, Teja, Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Senin (1/6/2020).Untuk memenuhi permintaan konsumen tersebut, sang ayah pun berusaha mencari tanaman yang masih jarang orang miliki tersebut. Diakuinya, untuk mencarinya tidak mudah, tapi akhirnya pohon ini berhasil didapatkan. Tidak jauh sampai ke Brazil, ternyata dia menemukannya di sekitar Majalengka saja.

“Melihat tanaman ini cukup unik, akhirnya bapak membelinya beberapa pohon. Saat itu harganya Rp80 ribuan. Sebagian dijual lagi ke konsumen yang sudah memesan tersebut dan sekitar 5 pohon ditanam sendiri,” terang Deden.

Bahkan, setelah melihat pohon yang ditanam sang ayah, Deden pun merasa tertarik dengan tanaman ini. Pasalnya, pohon anggur ini berbeda dengan jenis anggur lainnya. Jika umumnya tanaman anggur merambat, tapi Anggur Brazil ini dapat berdiri kokoh dengan batang kayu yang keras.“Itu dia, makanya tanaman ini itu unik. Bahkan, buahnya pun tumbuhnya di batang-batang pohonnya. Itu salah satu alasan kenapa kami membudidayakan pohon ini,” ujarnya.Hari demi hari pun terus berganti, pohon Anggur Brazil yang dia rawat semakin tumbuh dan membesar. Bukan tanpa kendala, tapi segala bentuk ikhtiar dikerahkan hingga akhirnya perkebunan yang dikelola tersebar luas dan mendapat perhatian.

Handphone jadul Nokia 6630 miliknya menjadi sebuah benda yang turut andil dalam kesuksesannya. Pasalnya, melalui alat ini Deden dapat membuat video berdurasi 1 menit 41 detik yang kemudian dia upload ke akun youtube miliknya “Deden Purbaya” pada 21 Juli 2018 lalu. Hingga saat ini, video tersebut sudah lebih dari 735 ribu kali ditonton.Hingga sekarang, handphone itu masih dia simpan dengan baik. Benda itu telah menjadi saksi bisu perjalanan kisah sukses ini. Dan peristiwa itu pun akan selalu terselip dalam ingatannya menjadi kenangan indah yang takan pernah Deden lupakan.

“Awalnya dari keterbatasan bikin video pakai HP jadul Nokia 6630 dan diupload ke youtube. Kemudian bumingnya itu tahun 2019 mas. Ada wartawan meliput perkebunan anggur ini dan alhamdulillah perkebunan ini terus berkembang dan banyak dikunjungi wisatawan,” kata Deden.

Sejak saat itu, perkebunan Anggur Brazil miliknya mulai dikenal luas masyarakat. Banyak wisatawan yang datang berkunjung, tidak hanya dari dalam negeri, bahkan ada juga yang dari luar negeri.

Untuk itu, dibantu santri pondok pesantren Daar Al Tarbiyah Rajagaluh, dirinya melakukan penataan di sekitar kebun dan melengkapinya dengan saung. Bahkan, para wisatawan juga dapat memesan nasi liwet beserta lauknya yang dapat disantap di kebun dengan suasana sejuk dan indahnya pemandangan di pegunungan.

“Yang datang ke sini itu ada yang dari Indramayu, Bekasi, Jakarta, Aceh dan daerah lainnya. Selain itu pernah ada orang Jerman datang ke sini dan membeli bibit pohon Anggur Brazil. Sering juga wisatawan anak-anak dari sekolah datang untuk belajar tentang tanaman dan rombongan umum lainnya,” paparnya.Sebagai alumni mahasiswa PAI, dirinya mengaku mendapat pengalaman tentang menanam pohon saat Praktik Kerja Lapangan (PKL) ditambah lagi ketika magang di pesantren daerah Ciwidey Bandung utusan dari santri Daar Al Tarbiyah. Pengalaman dan ilmu yang didapat, kemudian dia terapkan dalam menjalankan usahanya saat ini di bidang pertanian.

“Di sana diajarin nyangkul dan mengolah tanah agar subur. Pokoknya pesantren itu luar biasa,” kisahnya.Saat ini, ada 12 ribu bibit pohon Anggur Brazil yang dia kelola dengan harga jual mulai dari Rp60 sampai Rp6 juta. Namun, hanya puluhan saja yang dia rawat sendiri untuk dibuahkan. Hal itu sengaja ia lakukan untuk memenuhi permintaan pasar yang cukup besar akan buah ini.

“Potensinya sangat luar biasa, untuk hasil buah yang dijual pun kami belum bisa memenuhi permintaan pasar. Dan harga jual buahnya juga lumayan tinggi, yaitu Rp250 ribu per kilogramnya,” ungkap Deden.

Bahkan, yang memesan buah Anggur Brazil ini juga tidak hanya di dalam negeri, dirinya pun mendapat pesanan dari luar negeri. Sehingga, ketika dia tidak dapat memenuhi permintaan pasar tersebut, dirinya akan menghubungi orang-orang yang telah membeli bibit darinya untuk membeli buahnya jika di perkebunan sedang tidak ada.

“Ada juga yang dari Malaysia dan Singapura yang memesan buahnya, tapi karena ada beberapa kendala sehingga kita belum bisa kirim ke sana. Sedangkan untuk yang membeli bibit pohon di sini memang kami simpan nomor telfonnya, selain untuk sharing tentang cara merawat pohon ini juga agar kalau ada pesanan buah kita mudah komunikasinya. Jadi bisa bermanfaat,” jelasnya.

Deden mengungkapkan, banyaknya buah dari satu pohon tidak dapat disamakan, karena selain umur, pemupukan pun menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap buah yang dihasilkan pohon tersebut.

“Jika buah itu tergantung pemupukan dan umur pohonnya. Di kebun ini, rata rata 4 tahun dari biji sudah berbuah bahkan ada yang belum 2 tahun sudah berbuah. Kalau pohon induk yang ada di sini itu umurnya 9 tahun dan bisa menghasilkan 12 sampai 13kg dalam sekali panen. Jika yang masih baru belajar berbuah yang sedikit. Dalam setahun, pohon ini bisa berbuah 4 sampai 6 kali,” paparnya.Namun, dia mengaku, setelah dipetik dari pohonnya, Anggur Berazil ini hanya mampu bertahan sekitar 4 sampai 5 hari saja. Sehingga hal itu menjadi salah satu faktor dirinya belum bisa melayani pembelian yang pengirimannya memakan waktu cukup lama.

Untuk itu, dia berencana akan melakukan terobosan dengan mengolah buah ini menjadi selai dan sirup agar awet. Sehingga, selain dapat memenuhi kebutuhan konsumen juga dapat menyerap tenaga sekitar yang tentunya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Pandemic Covid-19? Pertanian Tidak Boleh Berhenti Berinovasi


Pertanian
 tidak boleh berhenti dan inovasi teknologi hasil karya anak bangsa harus terus dihilirkan ke pelaku utama dan pelaku pertanian secara umum, tegas Steivie Karouw Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Utara.

BPTP Sulut, sebagai sumber inovasi teknologi pertanian (ITP) spesifik local di Sulawesi Utara, terus hadir dan memberikan pelayanan sesuai dengan tugas dan funsinya, untuk pertanian Sulawesi Utara. Dan saya tegaskan pada para pengkaji, untuk ITP spesifik local Sulut, kita harus jadi solusinya.

Ditengah new normal baru karena C19, kita bersyukur karena kegiatan pertanian di Sulawesi Utara terus bergerek, penuhi kebutuhan masyarakat. Sebagai contoh kita lihat, petani hortikultura di daerah Tompaso yang terus bergiat hasilkan pangan dalam keterbatasan C19.Demikian dengan di Remboken Bawang merah dan Cabe.

Lanjut Karouw, saat ini BPTP Sulawesi Utara bekerjasama dengan Bank Indonesia. BPTP mengkaji varietas unggul baru Bawang Merah. Hasil karya anak bangsa di Balitbangtan Kementerian Pertanian ini, diharapkan akan perkaya koleksi bawang local yang adaptive di Sulut. Varietas baru yang sedang di kaji yaitu: Bima Brebes, Batu Ijo, Tajuk.

Vareitas-varietas ini secara umum sesuai dengan deskripsinya memiliki keunggulan. Bahkan untuk Brebes dan Tajuk, sudah pernah kami hasilkan benihnya. Namun,keterbatasan BPTP dalam hilirisasi jadi kendala. Hadirnya BI dan meminta  pendampingan ITP kami sambut baik. Kegiatan ini akan percepat hilirisasi ITP dan diharapkan keunggulan-keunggulan Varietas baru ini, dapat berkontribusi bagi petani di Sulawesi Utara, tutur Steivie.

Di tempat yang sama, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Maumbi Jaya, Hanny Pantouw yang didampingi oleh anggotanya apresiasi BPTP dan BI yang menjadikan Poktannya sebagai entri point pengkajian varietas baru ini. “Kami merasakan manfaat dari inovasi teknologi bawang merah, setelah mendapatkan pendampingan dari BPTP. Harap kami agar inovasi-inovasi baru dari BPTP dapat hadir di kelompok kami”.

Peneliti Balitbangtan Olvi Tandi,SP.MSi., tegaskan bahwa dari varietas baru ini, seperti Bima Brebes memang sudah pernah dikaji di daerah Tomohon dan memberikan hasil baik. Untuk itu dengan adanya permintaan BI untuk damping teknologi Bawang Merah ini,kami sambut baik. Agar ITP Balitbangtan semakin banyak yang terhilirkan ke pelaku utama.

Pada kegiatan ini,kami melakukan di Tompaso Bawang Merah monoculture dan di Leleko Kecamatan Remboken, kami kaji Bawang Merah bersanding dengan tanaman Cabe Rawit. Nanti dari hasil ini, diharapkan dapat menjadi Solusi tumpeng sari cabe dan bawang merah.

Sumber: https://www.kompasiana.com/arnoldturang2326/601c6e47d541df1d396b45e2/inovasi-teknologi-pertanian-terus-dihilirkan-ditengah-pandemic-c19

Made Sandi,Petani Muda Sukses Dari Bali

Banyak terjadi pemutusan hubungan kerja akibat dampak pandemi Covid-19 atau virus Corona, membuat masyarakat Bali ada yang kembali menekuni pekerjaan sebagai petani. Seperti salah satu mantan pekerja di sektor pariwisata bernama I Made Sandi alias Kadek Melon. Dirumahkan sejak bulan Maret 2020 lalu akhirnya ia dipaksa untuk menekuni penuh aktivitas sebagai petani, dimana sebelumnya ditengah pekerjaan pokoknya hanya dijadikan pekerjaan sambilan saja.“Sebelumnya saya seorang scurity villa di Petitenget, Kerobokan, Badung bekerja sejak 2005, imbas Covid dirumahkan bulan Maret. Dulu menjadi petani nomaden (sampingan, red), sekarang bisa fokus memproduksi. Tidak saja bertani tapi menjual kualitas dan kita tinggalkan sistem tradisional,” ujar Kadek Melon yang kini sudah menjadi salah satu petani sukses di Bali, ditemui di Pasar Tani di halaman Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Jumat (5/6/2020).Diceritakan Kadek Melon, sebelumnya saat masih bekerja sebagai scurity ia bersama keluarganya hanya menanam satu jenis sayuran saja seperti sayur hijau itu pun tidak lebih dari satu are. Namun sejak mulai fokus menjadi petani sejak tiga tahun lalu ia berhasil menggarap lahan seluas 75 are yang berlokasi di Banjar Munduk Andong, Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Sebagai petani ramah lingkunahn ia memproduksi produk pertanian organik agar bisa diterima pasar.“Banyak guide atau sopir pariwisata belajar bertani, cuma tiang melakukan itu sekalipun dulu punya pekerjaan pokok. Sekarang kita tidak ambil pusing dan tidak perlu belajar dari awal menjadi petani. Sekarang benar-benar mengikuti pasar lokal, harga memang dibawah sekarang. Kita tidak merasa jebol, tidak meras merugi keras karena kita bergeraknya di pertanian tradisional yang ramah lingkungan,” jelasnya.Di saat yang sama, petani muda sukses lainnya yakni, I Gusti Ngurah Putu Sunia Negara mengatakan, ia juga sebelumnya telah bekerja menjadi staf di Kantor Desa Plaga. Namun sejak lima tahun lalu lebih memilih hidup sebagai petani desa. Ia menceritakan berani meninggalkan pekerjaan dengan penghasilan gajih bulanan itu karena melihat potensi besar di sektor pertanian. Diakuinya pandemi Covid-19 membuat penjualannya menurun dan hanya menghandalkan pasar lokal. “Harga tidak masuk harga pokok produksi untuk beberapa jenis sayur,” terang petani asal Banjar Auman itu.Mendengar keluhan dari petani Penyuluh Pertanian Madya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Probinsi Bali, Ir. I Putu Karyana, MMA pada saat yang sama menyampaikan, pihaknya terus melakukan pembinaan kepada petani. Terlebih ditengah pandemi Covid-19 tentunya produksi kebutuhan untuk restaurant dan hotel tidak perlu diproduksi banyak. Sebaliknya kebutuhan pokok masyarakat tetap diproduksi sesuai permintaa, agar hasil produksi tidak dibeli murah oleh pasar.

“Mempunyai nilai ekonomis tinggi atau yang laku di pasaran itulah yang kita bina. Agar apa yang dia (petani, red) usahakan tidak mubazir dan dipasaran tidak dinilai rendah. Dengan adanya pandemi peluang pasar ke hotel berkurang sehingga kiat dinas melaksanakan Pasar Tani,” terangnya mengajak petani tetap berjualan mengedepankan protokol kesehatan yang ketat.

Sudah Sebulan, Harga Cabai di Pasar Bojonegoro Alami Kenaikan

Sejak awal tahun 2021 atau sejak saat memasuki musim penghujan tahun ini, harga sejumlah komoditas khususnya harga cabai rawit di pasar tradisional di Kabupaten Bojonegoro, alami kenaikan cukup tajam. Kondisi berbeda terjadi untuk harga bawang merah yang sempat mengalami penurunan, namun kini berangsur naik.

ADVERTISEMENTKenaikan harga cabai tersebut diduga akibat datangnya musim penghujan, sehingga produksi petani cabai mengalami penurunan karena banyak cabai yang rusak akibat terkena air hujan. Selain itu, banyak petani yang mulai beralih menaman padi, yang mengakibattkan produksi cabai atau pasokannya menurun.

Sementara, penurunan harga bawang merah akibat adanya panen raya pada akhir tahun lalu sehingga produksinya melimpah yang berdampak turunnya harga di pasar.

Di Pasar trdisional Kota Bojonegoro, harga cabai rawit sebulan lalu berkisar antara Rp 40 ribu per kilgram, sementara seminggu lalu harganya naik menjadi Rp 70 ribu per kilogram, dan hingga Kamis (04/02/2021) hari ini, harganya bertahan Rp 70 ribu per kilogram.

Untuk cabai rawit hijau, sebulan lalu harganya berkisar antara Rp 35 ribu per kilgram, sementara sejak seminggu lalu naik menjadi Rp 45 ribu per kilogram, dan bertahan hingga hari ini.

ADVERTISEMENTDemikian juga untuk cabai merah keriting, sebulan lalu berkisar antara Rp 35 ribu per kilgram, sementara seminggu lalu harganya naik menjadi Rp 50 ribu per kilogram dan terus bertahan hingga hari ini.

Harga Cabai merah besar (lompong), sebulan lalu berkisar antara Rp 35 ribu per kilgram, seminggu lalu naik menjadi Rp 55 ribu per kilogram, dan hari ini, harganya mencapai Rp 60 ribu per kiligram.

Untuk harga bawang merah, sebulan lalu harganya sempat anjlok hingga Rp 15 ribu per kilgram, namun seminggu lalu mulai naik menjadi Rp 20 ribu per kilogram, dan hari ini, harganya mencapai Rp 22 ribu per kiligram.Sementara untuk bawang putih, sejak sebulan lalu harganya relatif stabil pada kisaran Rp 20 ribu per kilgram, di mana hari ini harganya mencapai Rp 22 ribu per kiligram.ADVERTISEMENT

Salah satu pedagang di pasar tradisional Kota Bojonegoro, Hj Sumirah (55) asal Kelurahan Ledok Kulon Kecamatan Bojonegoro Kota, kepada awak media ini mengatakan bahwa kenaikan harga cabai tersebut tejadi sejak seminggu lalu dan hingga kini kenaikannya masih bertahan.

“Sudah seminggu harga tetap. Penyebabnya barangnya tidak ada, soalnya musim hujan ini barangnya banyak yang rusak, sehingga produksinya menurun,” kata Sumirah.Menurutnya, dengan adanya kenaikan harga tersebut berdampak pada penjualan dari masing-masing pedagang di pasar Kota Bojonegoro.

“Pembeli ya turun karena harganya mahal. Misal biasanya beli 3 kilo sekarang cuma beli 2 kilo atau bahkan 1 kilo, karena harganya mahal,” kata Sumirah.Seorang warga bernama Endang Gunawan (40), pengusaha warung makan warga Perumda Bojonegoro Kota mengaku dirinya harus pandai-pandai mengatur uang belanjaan akibat kenaikan harga cabai tersebut, karena cabai merupakan bumbu utama di warung miliknya.

ADVERTISEMENT”Biasanya kalau bawa uang 100 ribu rupiah sudah dapat macam-macam bumbu, sekarang harus dibagi-bagi. Cabai biasanya saya beli setengah kiloan, sekarang cuma beli seperempat kilo,” kata Endang.

Sumber: https://kumparan.com/beritabojonegoro/sudah-sebulan-harga-cabai-di-pasar-bojonegoro-alami-kenaikan-1v6tENDeExZ

Ujang Margana, Petani Milenial Dari Bandung Yang Sukses Berbisnis Bawang Merah

Ujang Margana tak pernah ragu bekerja sebagai petani. Setelah lulus sebagai Sarjana Pendidikan pada 2015, ia langsung bergelut dengan tanah dan cangkul.

Ujang memahami bahwa pertanian di tanah kelahirannya, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, memiliki potensi yang luar biasa. Lahan pertanian bawang merah milik ayahnya coba ia garap dengan sebaik-baiknya.

“Sejak kecil memang sudah sering diajak untuk bertani. Saat kuliah pun, sebelum pergi ke kampus, pergi dulu ke kebun untuk mengurus tanaman di sana,” ujar Ujang.

Ada banyak halangan yang Ujang temui. Tetapi, ia tak menyerah. Ia rangkum satu per satu halangan yang ada. Setelah terkumpul, ia pelajari dan coba cari solusinya.

Tak lama setelah mendapat gelar sarjana, ia bersama sang kakak dan petani lainnya berupaya mendorong sektor pertanian di sekitar tempat tinggalnya. Salah satunya membentuk Kelompok Tani Tricipta.

Tricipta menjadi ruang bagi petani-petani di sekitar tempat tinggalnya untuk meningkatkan produksi, dan mengatasi kendala yang kerap hadir dalam kegiatan usaha tani.

Perlahan dan pasti, pertanian di sekitar tempat tinggal Ujang berkembang. Kesempatan Ujang dan Kelompok Tani Tricipta untuk mengembangkan pertanian terbuka lebar saat harga bawang merah (komoditas unggulan Kelompok Tani Tricipta) mengalami lonjakan di tingkat konsumen.

Saat itu, pemerintah pusat melalui Bulog dan Kementerian Pertanian membuka pintu bagi kelompok tani dan petani untuk memasok bawang merah demi memenuhi kebutuhan konsumen dan menstabilkan harga.

Kesempatan itu tidak Ujang sia-siakan. Ia coba menginisiasi Kelompok Tani Tricipta untuk berkontribusi dan membantu pemerintah menstabilkan harga bawang merah.

“Dengan sosialisasi yang penuh kekeluargaan dan memberi pemahaman yang terbuka kepada anggota dan sesama pengurus, akhirnya secara gotong royong bersama seluruh anggota Kelompok Tani Tricipta memasok 150 ton bawang merah kepada bulog,” katanya.

Sejak itu, Ujang terus mengembangkan pertanian komoditas bawang merah. Awalnya ia menggarap lahan seluas 1 hektare. Bawang merah yang dihasilkan dalam sekali panen mencapai 10 ton. Keuntungan yang ia dapat sekitar Rp53 juta.

Ujang dan Kelompok Tani Tricipta juga mengembangkan kegiatan penangkaran benih dan menjadi satu-satunya produsen benih bawang merah di Kabupaten Bandung.

Ujang rutin mengikuti bimbingan teknis (bimtek) yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Bandung dan Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Selain itu, Ujang pun mendapatkan bantuan teknologi pertanian. Salah satunya alat menyiram dari Pemda Provinsi Jabar. Dari situ, Ujang mampu membudidayakan bawang merah dengan optimal.

“Yang terpenting bagi petani adalah akses pasar. Pemerintah, baik pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten Bandung, dan Pemda Provinsi Jabar, sering membantu membuka akses pasar,” ucap Ujang.

Jika sudah mendapatkan pasar, kata Ujang, pertanian menjadi sektor yang menarik untuk berkarier. Saat ini, lahan pertanian bawang merah Ujang sudah mencapai 30 hektare.

“Saya punya moto hidup yakni menjadi petani cerdas, mandiri, cepat, dan lestari. Saya kira, pertanian menjadi sektor yang menjanjikan untuk generasi muda,” tambahnya.

“Saya pun mengajak generasi muda untuk menjadi petani. Selain menjamin masa depan dengan pendapatan yang besar, kita dapat berkontribusi pada ketahanan pangan dan melestarikan lingkungan,” sambungnya.