Profil Rio Erlangga, Petani Milenial Pendiri CV Cipta Agripratama

Siapa bilang menjadi petani itu impian usang? Buktinya, Rio Erlangga (35 tahun) rela pindah kuadran dari profesional di Astra International menjadi petani milenial dengan mendirikan CV Cipta Agripratama (Cipta Agri).

Padahal, posisinya di Astra cukup menjanjikan. “Delapan tahun di Toyota Sales Operation-nya, saya pegang mulai dari Asset Management. Kemudian, saya mutasi ke Daihatsu, saya pegang HR-Compensation Benefit selama empat tahun. Setelah itu, Industrial Relations, tapi saya memilih resign,” kata Erlangga yang tidak menyesali keputusannya itu.

Bagi Erlangga, menjadi petani adalah pilihan impian. Sebelum keluar dari Astra, beliau sudah mulai mencoba berbisnis buah-buahan. Awalnya, dari melihat tren produk-produk pertanian lokal yang ramai di supermarket papan atas.

“Setiap saya ke Ranch Market, misalnya, saya perhatiin banyak buah dan sayur lokal, saya lihat harga-harganya yang lumayan juga,” ujarnya. Dia saat itu sengaja mencatat harganya dan membanding-bandingkan dengan harga di Pasar Kramat Jati.

“Saya juga mencoba ngobrol dengan kerabat di Garut, menanyakan harga buah-buahan dan sayuran dari petani langsung. Ternyata, jauh banget, jauh lebih murah dibandingkan dengan harga di supermarket maupun di Pasar Kramat Jati,” ungkapnya menceritakan saat awal memulai usaha.

Sejak itu, Erlangga bertekad fokus terjun 100% ke bisnis pertanian. Dia memilih mundur dan menggunakan uang pensiun Astra serta Jamsostek untuk mulai masuk ke kebun yang ternyata dinamikanya luar biasa.

Belajar dengan mengandalkan Google saja tidak cukup. Ia pun mencari mentor dan bertemu dengan praktisi agribisnis dan pebisnis pertanian Wayan Supatno. “Beliau yang membukakan jalan. Beliau sharing do’s and dont’s-nya, sehingga saya bisa lebih cepat berakselerasi di bisnis pertanian,” Erlangga menceritakan.

Ia mengawali dengan menanam cabai, jahe, lalu mulai masuk ke produk buah-buahan. “Nah, begitu masuk ke buah, saya lihat ini lebih cepat roda bisnisnya,” ujarnya senang.

Cipta Agri yang didirikan tahun 2016, awalnya hanya sebagai trader buah-buahan; lalu perlahan ikut ke kebun, dan sekarang sudah punya 300 hektare lahan yang tersebar di Cianjur, Cipanas, Purwakarta, Pandeglang, Bengkulu, dan Kalimantan. Komoditas yang didapatkan ada lemon california, pisang kirana, jeruk dekopon, pisang barangan, jeruk gerga, jeruk siam, jeruk chokun, dan manggis. Hasil panennya dipasarkan ke para mitra secara langsung, yakni Ranch Market, Transmart, Total Buah segar, Tanihub, Sayurbox, Superindo, Farmers & Market, Rezeki, Lottemart, Lulu, Maxim, dan Sewu Segar.

Menurut Erlangga, kalau ingin serius berbisnis pertanian, tidak bisa hanya main di hulu, melainkan juga harus turun sampai ke hilirnya. Mengapa? “Supaya supply-demand-nya bisa terukur dan terkontrol. Kalau nggak begitu, bisa berantakan. Jadi, kalau kita sudah bisa mapping market, kebutuhannya, ke mana dan di mana bisa masuk, nah baru kita bisa manage di hulunya,” ungkapnya.

Dari membaca peta pasar, ternyata dapat dikenali bahwa memasok kebutuhan industri itu lebih bagus dibandingkan menjual fresh ke pasar. “Ini baru market lokal aja ya, udah segitu besar peluang-peluangnya, belum yang ekspor,” kata Erlangga memberi gambaran.

Ia mengaku beruntung pada akhirnya dapat terhubung dan memulai kontrak dengan beberapa mitra B2B. Sebelumnya, hanya dengan Grup Gunung Sewu. Akhirnya, dengan beberapa mitra lainnya, misalnya manufaktur makanan dan minuman seperti Mayora dan Sosro. Selain B2B, secara B2C juga dijalankan. “Kami masuk lewat supermarket, traditional market, dan e-commerce juga,” ceritanya gembira.

Erlangga berbagi pengalaman sebagai petani milenial. Jika kita mau mengembangkan sebuah komoditas, katanya, kita sudah harus tahu dulu untuk pemenuhan pasar yang mana, dan seberapa besar. Sehingga, semuanya terukur, tidak dipermainkan oleh rantai distribusi yang panjang, tengkulak alias middle trader.

“Nah, itulah yang selama ini jadi momok pertanian kita, jadi tidak bisa maju. Petani kapok, profesi petani identik dengan kemiskinan. Karena mereka terbatas, tidak punya map dan data sehingga nggak bisa baca, harus mulai dari mana lalu ke mana. Akhirnya, terjebak nasibnya di tangan tengkulak. Padahal, potensi agribisnis luar biasa,” papar Erlangga.

Ia meyakinkan, kuncinya adalah memiliki peta yang komprehensif. “Kalau mau masuk ke pertanian, harus bangun utuh sebagai agroindustri, jangan setengah-setengah. Harus dari hulu sampai hilir,” katanya menegaskan.

Sekarang, dari 300-an ha perkebunan, Erlangga berjanji masih akan meningkatkan diri. Walaupun banyak rintangan di depan mata, ia tetap percaya diri dan menyadari titik lemah yang menghadang. Contohnya, soal impor, menurutnya, tidak bisa demo ke pemerintah suruh stop impor, karena kan memang sekarang sudah eranya pasar bebas. “Nah, maka yang harus kita lakukan adalah bagaimana caranya kita tetap bisa jadi pemenang di rumah sendiri,” ujar Erlangga tegas.

Ia menyayangkan banyak petani kita yang masih menjalankan usaha tani dengan pola lama itu. Menurutnya, ini pekerjaan-rumah kita bersama, bagaimana mengubah pola pikir petani dan generasi muda, bahwa yang ketinggalan itu bukan profesi taninya, melainkan strateginya.

Salah satu strategi yang ia jalankan untuk mendobrak tradisi lama di dunia trading agribisnis yaitu memperbaiki harga pasar yang sering dispekulasi. Misalnya, lemon. Jika lemon impor sedang kosong, dan pasokan lemon lokal banyak, pasar akan memilih yang lokal.