Sanusi, Petani Milenial Dari Tangerang

Indonesia dikenal sebagai sebuah negara, yang sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Oleh karena itu, kini pemerintah tengah menggalakkan sektor pertanian Indonesia, untuk menekan impor bahan pangan.

Bahkan, ada beberapa petani yang dinobatkan sebagai petani sukses dalam acara Danamon Award 2014. salah satunya bernama Sanusi, yang merupakan seorang petani sukses asal desa Rancalabuh, kecamatan Kemiri, kabupaten Tangerang-Banten.

Berdasarkan dari kisah hidupnya, perjalanan hidup Sanusi tergolong menyedihkan. Pasalnya, Ketika baru pertama kali menginjakkan kaki di Rancalabuh, Sanusi adalah petani kere tanpa modal, yang hanya bermodalkan semangat. Seiring berjalannya waktu, Sanusi mendapat kepercayaan untuk membuka dan mengelola lahan tidur yang belum layak untuk ditanami.Dan berawal dari kerja kerasnya di tahun 1987, Sanusi mulai mengolah lahan tersebut dengan penuh keuletan. Berkat jerih payahnya, akhirnya ia berhasil mengolah lahan tersebut. Tak hanya membuka lahan, ia juga sukses menambah wawasan bertani dengan pola tanam modern untuk warga sekitar.

Sejatinya, Sanusi merupakan petani urban asal Tuban-Jawa Timur yang berhasil membuka lahan tidur seluas 30 hektar, menjadi lahan pertanian produktif. Yang mana lahan tersebut kini bisa ditanami padi, timun, kacang panjang dan beberapa jenis tanaman hortikultura lainnya.

Sedangkan untuk sistemnya, menggunakan sistem pertanian modern, serta pengairan yang mengandalkan pompanisasi. Berkat sistem tersebut Sanusi berhasil menaikkan hasil panen padi dari 1-2 ton per hektar menjadi 6-7 hektar per hektar. Luar biasa !!!

Untuk mengelola lahan tersebut, Sanusi bekerja sama dengan kelompok tani Rancalabuh. Berkat kerja kerasnya, kini Sanusi mampu menghasilkan keuntungan hingga Rp 40-70 Juta per bulan.

Keuntungan ini tentunya sebuah prestasi tersendiri. Mencetak lahan pertanian produktif lalu menghasilkan keuntungan yang membanggakan dan mempelopori sistem pertanian modern kepada petani sekitar. Dan itulah nilai lebih bagi seorang sanusi yang hanya lulus Sekolah Rakyat (SR).

Hebatnya lagi, meski sudah meraih kesuksesan Sanusi tak pernah melupakan warga dan petani yang kurang berhasil di sekitarnya. Tiap tahun 400 anak yatim dan janda miskin mendapat bantuan berupa uang. Sanusi juga tak pelit berbagi ilmu, ia menjadi tempat bertanya tentang pertanian dan permasalahannya.