Sosok Agus Wibowo, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Kentang

Agus Wibowo, petani warga Dukuh Kragon Wetan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang mewakili Indonesia pada ajang Global Student Enterpreneur Award (GSEA) yang akan dilaksanakan di Macau Cina, pada 8-13 April 2019.

Mahasiswa jurusan pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang lebih dikenal dengan panggilan Agus Kentang ini, akan bersaing dengan peserta dari 56 negara. Agus dengan puluhan pemuda dari berbagai penjuru dunia akan mempresentasikan berbagai usaha “zaman now” yang memiliki dampak sosial tinggi terhadap masyarakat sekitar.

“Konsep yang akan saya usung pada kompetisi mahasiswa skala internasional di Tiongkok, yaitu Agro Lestari Merbabu. Agro Lestari Merbabu ini mempunyai sub divisi usaha mulai dari pembibitan benih kentang hingga pengolahan pascapanen,” terang Agus Kentang saat audiensi dengan Wakil Gubernur di ruang kerja wakil gubernur, Jumat (5/4/2019).

Pemuda yang aktif di bidang pertanian ini menjelaskan, aktivitas yang ada di Agro Lestari Merbabu melibatkan banyak orang, dari orang tua hingga anak-anak muda, baik laki-laki maupun perempuan bekerja dan memperoleh penghasilan dari kentang yang menjadi komoditas unggulan lereng Merbabu tersebut.

“Bapak-bapak biasanya budidaya dan menanam kentang, ibu-ibu mengolah menjadi berbagai produk. Sedangkan para anak muda bagaimana mengemas dan memasarkan produk agar menarik dan diminati konsumen,” bebernya.

Menurutnya, usaha ‘zaman now’ itu usaha yang bisa berdampak untuk orang banyak. Sebab itu, melewati budidaya kentang dari hulu sampai hilir, baik langsung maupun tidak langsung berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan sebagian besar warga berprofesi sebagai petani dan luas lahan pertanian 200 hektare, Kregon Wetan sangat berpotensi sebagai daerah penghasil kentang unggulan.

Saat ini, lanjut dia, Agro Lestari Merbabu sedang mengembangkan varietas Vega yang nikmat untuk olahan goreng maupun rebus. Apalagi selama ini bahan baku olahan kentang goreng merupaan kentang impor. Sehingga dengan pembudidayaan varietas lokal untuk olahan kentang goreng, peluang usaha dan penyerapan tenaga kerja di desa semakin terbuka luas.

“Apa yang akan saya paparkan di kompetisi lusa, sekaligus untuk memikat generasi muda di desa mau menekuni bidang pertanian. Mengolah lahan dan komoditas yang ada di desa supaya dapat menghasilkan pendapatan,” terangnya.

Agus menegaskan, petani milenial itu dapat bercocok tanam dengan memasukan teknologi. Antara lain smart Irigasi yang diterapkan sejumlah kelompok tani di kawasan Ngablak. Dengan menerapkan teknologi irigasi ini, penyiraman bisa dilakukan kapanpun, tanpa harus ada petani di lokasi pertanian. Karena proses penyiraman dikendalikan lewat aplikasi yang terdapat di telepon genggam.

Wakil Gubernur Jawa Tengah H Taj Yasin Maimoen mengaku bangga atas keikutsertaan salah warga Jateng pada ajang Global Student Enterpreneur Award. Dengan masuknya petani kentang asal Magelang di kompetisi internasional. Diharapkan, Agus mampu memberikan semangat kepada generasi muda untuk terjun di bidang pertanian.

Dalam kesempatan itu, mantan anggota DPRD Jateng ini, juga mengapresiasi berbagai program yang digencarkan para petani kentang di Desa Sumberejo dan sekitarnya. Melewati penerapan teknologi di bidang pertanian, akan menarik generasi muda untuk menggeluti dan memajukan pertanian.

Pria yang akrab disapa Gus Yasin ini mengatakan, kentang yang merupakan salah satu komoditas unggulan petani di daerah Magelang dan sekitarnya, akan semakin “menjual” dan diburu konsumen dari berbagai daerah, jika diolah dan dikemas menarik. Dengan produktivitas kentang yang melimpah dan berkualitas, diharapkan memunculkan aneka produk kentang yang menjadi ciri khas Magelang.

“Supaya konsumen lebih yakin dengan produk yang dikonsumsi, maka para pelaku usaha harus memperhatikan kualitas produk dengan mencantumkan izin IPRT, halal, serta legalitas produk lainnya. Kita harus mendorong pelaku usaha untuk mengurus izin IPRT da lainnya,” tandasnya.