Babinsa Koramil 28/Pirak Timu Mencabut dan Menanam Benih Padi Bersama Petani

Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 28/Pirak Timu Kodim 0103/Aut Kopda Tito membantu petani mencabut dan menanam bibit padi di lahan sawah milik salah seorang petani Desa Alue Bungkoh, kecamatan Pirak Timu, Kamis (27/01/2021).
Dalam kesempatan itu Babinsa Koramil 28/Prt Kopda Tito saat mendampingi petani menggungkapkan, bahwa pihaknya akan terus membantu petani di desa binaannya masing-masing. Hal ini dilakukan sebagai wujud nyata TNI dalam mewujudkan Swasembada pangan Khususnya di Wilayah Kodim 0103/Aut.
“Seperti saat ini, kami ikut terjun kesawah dalam membantu para petani untuk mengumpulkan bibit padi yang siap untuk ditanami,” pungkasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan pendampingan kepada kelompok tani merupakan kegiatan rutin yang kami laksanakan, ini sudah merupakan tugas kami sebagai aparatur kewilayahan membantu para petani dalam hal pertanian.
“Seperti kegiatan tanam padi dan mencabut bibit padi yang siap untuk di tanam seperti yang sedang saya kerjakan ini adalah merupakan wujud kemanunggalan TNI-,rakyat”, ujar Kopda Tito.
Ditempat terpisah Komandan Kodim 0103/Aut Letkol Arm Oke Kistiyanto. S.A.P melalui Danramil 28/Prt Kapten inf Sarman menyampaikan bahwa apa yang telah di laksanakan oleh Babinsa Koramil jajaran Kodim 0103/Aut adalah suatu bentuk kepedulian TNI mendukung program Pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mensejahterakan masyarakat terutama para petani padi.
“Babinsa melansanakan pendampingan kepada para petani bukan hanya saat panen padi saja tetapi juga di saat penyemaian bibit padi, pengolahan lahan sawah, perawatan sampai panen padi. Seperti saat ini mereka lakukan ialah menanam padi di sawah, sebagai wujud rasa kepedulian terhadap para petani.
Ia menambahkan, untuk menambah produktivitas panen padi kali ini, kita telah menghimbau kepada para petani agar mengupayakan percepatan masa persiapan tanam.
“Dengan mengerahkan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) yang ada dan perluasan lahan sawah, sehingga target produksi padi dapat dicapai.” ungkap Kapten Sarman. 

Sumber: https://www.indometro.id/2021/01/babinsa-koramil-28pirak-timu-mencabut.html

Petani Aceh Tamiang Dilatih Tanam Padi Organik, Ini Kelebihannya dari Anorganik

Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan (Distanbunak) Aceh Tamiang melatih sebagian petani menanam padi secara organik.
Pelatihan ini dilakukan di lahan seluas 8 hektare milik kelompok Tani Jaya di Tanahterban, Karangbaru, Aceh Tamiang, Senin (25/1/2021).

Petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) Karangbaru Distanbunak Aceh Tamiang dan PPL swadaya, Armand Lubis yang baru saja menyelesaikan kontrak pertanian di Qatar dilibatkan dalam pelatihan ini.

“Kita melibatkan penyuluh senior kita, bang Armand Lubis terlibat dalam pelatihan ini. Keahlian beliau di bidang tanah pertaniaan kami rasa cukup dibutuhkan,” kata Kadistanbunak Aceh Tamiang, Yunus.

Yunus menjelaskan pelatihan ini cukup penting untuk meningkatkan kesejahteraan petani dalam mengolah tanaman padi. Sebab kata dia, banyak kelebihan yang diraih dari sistem organik dibandin anorganik.

“Jelas organik ini memiliki banyak keunggulan, makanya ke depan kita berharap petani kita semuanya menerapkan organik,” lanjut Yunus.

Dijelaskannya kelebihan pertama yang diperoleh petani mengolah tanaman organik ialah ongkos produksi.

Bahkan dalam pelatihan ini, petani turut dilatih membuat pupuk organik yang otomatis akan semakin menurunkan biaya tanam.

Di sisi lain, harga jual padi organik juga jauh lebih tinggi. Bila padi hasil tanam anorganik memiliki haga jual berkisar Rp 5 ribu, padi organik sudah mencapai dua kali lipatnya.

“Ternyata masih sedikit yang tahu kalau beras organik ini memiliki kelas tinggi. harganya pun bisa sampai Rp 10 ribu,” kata Yunus.

Harga jual tinggi ini kata dia didukung rasa yang lebih pulen dan tidak mudah basi.

“Kualitasnya lebih baik, selain pulen, lebih tahan lama dibanding anorganik,” sambungnya.

Bagian lain yang tak kalah penting kata dia, pola tanam organik ini tidak mematikan kesuburan tanah.

Hal ini sangat memungkinkan petani meraih produksi lebih besar dan bisa melakukan tanam lebih banyak.

Yunus mencontohkan lahan demonstrasi plot (demplot) di Tangsilama, Seruway berhasil memproduksi padi organik 5,7 ton per hektare.

Padahal di lahan serupa dengan pola anorganik. Produksi yang dihasilkan hanya 5,2 ton.

“Ini hasil uji coba, artinya produktivitas ini masih bisa ditingkatkan lagi,” ujarnya.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2021/01/25/petani-aceh-tamiang-dilatih-tanam-padi-organik-ini-kelebihannya-dari-anorganik?page=2





Babinsa Bantu Petani Tanam Benih Padi di Aceh Utara

Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 28/Pirak Timu Kodim 0103/Aut Kopda Tito membantu petani mencabut dan menanam bibit padi di lahan sawah milik salah seorang petani Desa Alue Bungkoh, Kecamatan Pirak Timu, Kamis (27/01/2021).

Dalam kesempatan itu Babinsa Koramil 28/Prt Kopda Tito saat mendampingi petani mengungkapkan, bahwa pihaknya akan terus membantu petani di desa binaannya masing-masing.

Hal ini dilakukan sebagai wujud nyata TNI dalam mewujudkan swasembada pangan khususnya di wilayah Kodim 0103/Aut.

“Seperti saat ini, kami ikut terjun ke sawah dalam membantu para petani untuk mengumpulkan bibit padi yang siap untuk ditanami,”

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan pendampingan kepada kelompok tani merupakan kegiatan rutin yang sering dilaksanakan

“Ini sudah merupakan tugas kami sebagai aparatur kewilayahan membantu para petani,” ujar Kopda Tito.

Ditempat terpisah Komandan Kodim 0103/Aut Letkol Arm Oke Kistiyanto melalui Danramil 28/Prt Kapten Inf Sarman menyampaikan bahwa apa yang telah di laksanakan oleh Babinsa Koramil jajaran Kodim 0103/Aut adalah suatu bentuk kepedulian TNI mendukung Program Pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mensejahterakan masyarakat terutama para petani padi.

“Babinsa melansanakan pendampingan kepada para petani bukan hanya saat panen padi saja tetapi juga di saat penyemaian bibit padi,” terang Dandim.

Selain itu sambung Dandim, pengolahan lahan sawah, perawatan sampai panen padi. Seperti saat ini yang sedang mereka lakukan menanam padi di sawah, sebagai wujud rasa kepedulian terhadap para petani.

Ia menambahkan, untuk menambah produktivitas panen padi kali ini, pihaknya menghimbau kepada para petani agar mengupayakan percepatan masa persiapan tanam.

“Dengan mengerahkan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) yang ada dan perluasan lahan sawah, sehingga target produksi padi dapat dicapai,” demikian Letkol Arm Oke Kistiyanto.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2021/01/28/babinsa-bantu-petani-tanam-benih-padi-di-aceh-utara



Petani Keluhkan Sulit Tanam Padi di Lahan Food Estate

Pada tahun 2020 lalu, Pemerintah Pusat telah mencanangkan program food estate atau lumbung pangan merupakan upaya Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Tujuannya, mengantisipasi krisis pangan akibat dampak pandemi Covid-19, yang hingga kini masih berlangsung.

Sebagai salah satu wilayah yang dijadikan lokasi program food estate adalah Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis), khususnya untuk jenis tanaman padi. Namun, sebagian petani di lokasi tersebut mengaku kesulitan menanam padi, khususnya jenis padi IP 300.

Hal ini diungkapkan Kepala Desa Tahai Jaya, Jasimin mewakili petani di desanya ketika kegiatan kunjungan kerja Senator DPD RI Agustin Teras Narang melalui daring, Jumat (29/1/2021) siang.

Menurut Kades Tahai Jaya, Jasimin, lahan di desanya yang masuk kawasan food estate seluas 490 hektare, khusus untuk tanaman padi. Untuk musim tanam sekarang yang berbarengan dengan program food estate telah panen untuk padi IP 300, tetapi hasil panen tak sesuai yang diharapkan.

“Barangkali perlu evaluasi kembali. Contohnya, saya menaman padi jenis IP300 luas 5,5 ha hanya bisa panen 4 sak. Salah satu alasan kemungkinan kondisi tanah yang belum siap untuk padi IP 300, dan dukungan pemerintah juga harus maksimal,” ungkap Jasimin.

Dipaparkannya, kendala yang dialami tidak hanya soal tanah saja, melainkan banyak masalah yang lain, di antaranya penyakit hama, keterlambatan pupuk, infrastruktur jalan tani dan lainnya, sehingga benar-benar memerlukan kesiapan yang lebih matang agar hasil panen ke depan jauh lebih baik._

Jasimin berharap kendala-kendala ini ke depan dapat teratasi melalui program food estate yang sedang berjalan sekarang ini. Terlebih, hasil panen padi para petani bisa berkali lipat dari sebelumnya.

Menanggapi persoalan itu, Teras mengaku telah mendapat informasi berkenaan dengan pelaksanaan program food estate di wilayah setempat. Teras berjanji akan berkoordinasi, baik dengan Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian.

“Saya sudah bisa menangkap beberapa hal yang penting. Nanti, saya akan berdialog dengan pemerintah kabupaten dan provinsi. Kemudian nanti saya juga akan sampaikan kepada Menteri Pertanian terkait masalah-masalah yang dialami petani selama ini,” ujarnya.

Teras juga menekankan pentingnya pendampingan dalam rangka keberhasilan program food estate. Dengan pendampingan, tentunya akan diketahui kesulitan-kesulitan dari hulu ke hilir yang dihadapi, baik infrastruktur jalan, jembatan, irigasi, bibit, pupuk, dan lainnya.

“Saya mengharapkan keberadaan food estate ini memang betul-betul membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Tidak hanya bagi masyarakat Kalteng, tetapi juga masyarakat luar daerah bisa menikmati,” pungkas Teras. adn

Sumber: https://www.tabengan.com/bacaberita/48727/petani-keluhkan-sulit-tanam-padi-di-lahan-food-estate/

Petani Belum Bisa Menanam Padi

Sejak adanya pengerjaan saluran irigasi sungai Batanghari, ke ratusan hektare lahan cetak sawah Dusun Kuamang, Sari Mulya, dan Bukit Sari Kecamatan Jujuhan Ilir,  membuat para petani terpaksa tidak bisa beraktifitas dengan lancar. Para petani belum bisa menanam padi, mereka hanya bisa menanam jagung dan kacang tanah.

Katiyo (50), salah satu petani menuturkan lahan cetak sawah mereka sekarang kacau balau. Sebab tidak ada suplai air ke lahan cetak sawah, akrena ada perbaikan irigasi.

“Kami terpaksa alih fungsi tanam jagung dan kacang tanah. Itupun hasilnya tidak memuaskan. Pemasaran kacang tanah, kami mengalami kendala. Namun, dari pada tidak diolah lahannya, lebih baik diolah tanam kacang tanah dan jagung,” katanya.

Katiyo mengatakan, seharusnya bulan Januari 2021 ini sudah ada suplai air. Namun, para petani mendapatkan informasi terbaru, bahwa air baru bisa masuk tiga bulan lagi.

“Kami yang petani ini susah jadinya. Mau cocok tanam padi kalau seperti ini, kacau balau jadinya,” ungkap Katiyo.

Untuk diketahui, saat ini rata-rata petani yang biasa bercocok tanam padi, sudah perguliran tanam ke komoditi jagung dan kacang tanah.

Petugas penyuluhan pertanian Kecamatan Jujuhan Ilir, Yusmaizar mengatakan sekarang petani yang biasa menggarap lahan cetak sawah, terpaksa perguliran tanam menjelang suplai air kembali normal. Diperkirakan, April 2021 nanti baru ada suplai air yang normal.

“Kalau tidak berubah lagi, April sudah normal kembali. Sekarang lagi ada pengerjaan saluran irigasi,” tutup Yusamizar. (mai/enn)

Sumber: https://www.jambi-independent.co.id/read/2021/01/28/58347/petani-belum-bisa-menanam-padi—/

Program Agro Solution Dongkrak Kapasitas Produksi Padi Hingga 80 Persen

Wakil Ketua DPR RI, Rachmat Gobel mengapresiasi program Agro Solution Pupuk Kaltim sebagai langkah jitu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Langkah ini terbukti mampu mencapai hasil secara signifikan. Hal ini melihat keberhasilan program yang mampu meningkatkan kapasitas produksi padi Gorontalo hingga 80 persen atau 10 ton per hektare, dari sebelumnya berkisar 5-6 ton per hektare.

Menurut dia, lahan pertanian Gorontalo sangat mendukung pelaksanaan Agro Solution, karena kapasitas yang sangat memadai dengan berbagai jenis komoditas. Pendampingan Agro Solution diharap mampu memecahkan persoalan klasik yang kerap dihadapi petani, seperti harga jual gabah murah saat panen melimpah, hingga ketersediaan pupuk subsidi yang dibatasi regulasi Pemerintah.

“Solusi itu ada di Agro Solution, karena membangun sektor pertanian dari hulu hingga hilir dengan mengoptimalkan pupuk non subsidi,” kata Rachmat Gobel, saat Panen Demplot Padi Program Agro Solution di Desa Hutabohu Kecamatan Limboto Barat Gorontalo dikutip Jumat (29/1).

Keunggulan Agro Solution juga menawarkan beragam kemudahan bagi petani, mulai dari permodalan, ketersediaan pupuk dan pendampingan pengelolaan lahan, termasuk memfasilitasi penjualan kepada offtaker, yang didukung asuransi pertanian untuk antisipasi gagal panen. Hal itu dinilai dinilai sebagai gagasan inovatif dalam membangun sektor pertanian Indonesia.

Dirinya pun menargetkan perluasan program Agro Solution dalam skala lebih besar di berbagai daerah, yang tak hanya mengakomodasi satu atau dua desa, namun bisa mencakup tingkat kecamatan dengan jumlah lahan yang jauh lebih luas.

“Kami harap ini bisa jadi tantangan Pupuk Kaltim bersama Pupuk Indonesia Grup, agar Agro Solution tidak lagi bicara satu dua hektare saja, tapi ratusan hektare lahan di berbagai daerah bisa diakomodir,” lanjut Rachmat Gobel.

Direktur Utama Pupuk Kaltim, Rahmad Pribadi menambahkan, dari 3 bulan demplot program Agro Solution di atas lahan 1,5 hektare, produktivitas padi yang dihasilkan mencapai 10 ton, dari sebelumnya maksimal 5-6 ton per hektare. Hal ini membuktikan efektivitas program Agro Solution, sebagai solusi pertanian terintegrasi dengan pemakaian pupuk non subsidi yang melibatkan kerjasama multipihak.

“Melihat keberhasilan program Agro Solution, Pupuk Kaltim bersamaPupuk Indonesia Grup optimis target ketahanan pangan dan kemandirian petani dapat tercapai secara maksimal,”? ujar Rahmad Pribadi.

Sumber: https://www.merdeka.com/uang/program-agro-solution-dongkrak-kapasitas-produksi-padi-hingga-80-persen.html

Panen Padi di Abdya Tak Merata, Ini Penyebabnya

Namun, panen ini tak merata lantaran usia tanaman padi di hampir sembilan kecamatan dalam kabupaten itu tidak sama.

Hamdani, petani di Kecamatan Blangpidie, mengatakan petani yang sudah memulai panen padi bisa dikatakan belum terlalu banyak.

Untuk areal persawahan di wilayah Kecamatan Susoh, masih sebagian kecil petani yang sudah dan sedang panen.

Sedangkan sisanya masih menunggu panen yang diperkirakan sekitar satu hingga dua pekan mendatang.

“Belum semua petani sudah memanen padi, masih banyak hamparan padi yang masih menunggu masa panen, sebab kondisinya belum sepenuhnya menguning,” ujar Hamdani. 

Adanya petani yang terlambat memanen padi, katanya, dikarenakan sewaktu masa pengolahan tanah dan hingga proses penanaman padi lalu, sejumlah petani banyak yang terkendala akibat sawah mereka kering tidak dialiri air.

“Sehingga dengan terpaksa mereka harus menunda proses penanaman padi,” ujar Hamdani.  

Tidak hanya itu, lanjutnya, penyebab lain seperti terkena rendaman banjir luapan juga menjadi pemicu utama yang menjadikan keterlambatan panen padi.

“Masih ada tanaman padi milik petani seperti di Kecamatan Jeumpa, Manggeng dan Setia masih dalam fase pengembangbiakan,” tuturnya.

Ia menyebutkan, sejumlah petani yang telah memanen padinya, rata-rata hanya mendapat sekitar 7,5 ton/hektare (ha).

Namun ada juga petani yang memperoleh hasil panen dengan ubinan rata-rata mencapai 8 ton per hektare.

“Umumnya lebih banyak petani yang memperoleh hasil panen rata-rata 7,5 ton per hektare.

Memang ada yang 8 ton per hektare, tapi hanya sebagian kecil.

Kondisi itu dipengaruhi oleh serangan hama yang menyerang tanaman padi pada fase pengembangbiakan dan serangan hama burung disaat padi mulai berisi,” paparnya.

Seperti diketahui, ada sekitar ratusan ha areal persawahan di Abdya yang kerap terendam banjir luapan secara berulang kali, terhitung sejak akhir 2016, kondisinya masih sangat memprihatinkan. 

Areal persawahan dimaksud meliputi, areal persawahan Jeumpa Barat, Asoe Nanggroe, Ikue Lhueng, Kuta Makmur, Kecamatan Jeumpa.

Di Kecamatan Susoh meliputi areal persawahan Rubek Meupayong, Padang Panjang, Ladang, Padang Baru dan Ujung Padang. 

Untuk Kecamatan Setia terdapat dua hamparan yang kerap terendam banjir yaitu kawasan Tangan-Tangan Cut dan Mon Mameh, terakhir di areal persawahan di Paya Laot Kecamatan Manggeng.

Persoalan sawah yang kerap terendam banjir luapan itu hingga saat ini masih menjadi momok yang menakutkan bagi para petani, lantaran kehadiran banjir luapan selalu mengundang petaka bagi tanaman padi milik petani. 

Apalagi kondisi tanaman padi yang masih dalam fase pengembangbiakan, tentu rendaman air luapan akan merusak tanaman padi.

Kondisi tersebut jelas sangat bertolak belakang dengan kondisi tanaman padi milik petani di kawasan lain yang tidak terkena banjir luapan.

Oleh karena itu, upaya khusus Pemkab setempat untuk mengantisipasi banjir luapan ini sangat dinantikan  petani.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2021/01/29/panen-padi-di-abdya-tak-merata-ini-penyebabnya?page=3







Petani Gunungkidul Mulai Panen Padi

Petani di Dusun Walikangin, Ngestirejo, Kapanewon Tanjungsari puas dengan panen padi di musim tanam pertama. Pasalnya, dari hasil ubinan yang dilakukan satu hektar lahan bisa menghasilkan 6,08 ton gabah kering panen.

Ketua Kelompok Tani Sido Makmur, Dusun Walikangin, Sadikin mengatakan, penanaman dilakukan sejak Oktober tahun lalu. Adapun jenis padi yang ditanam ada varietas Inpari 42 dan padi gogo. “Untuk inpari lahan yang ditanam seluas 10 hektare dan padi gogo seluas 29 hektare,” kata Sadikin kepada wartawan, Kamis (28/1/2021)

 

Menurut dia, padi yang ditanam sudah membuahkan hasil karena mulai dipanen. Adapun hasil dari pengubinan diketahui untuk jenis Inpari 42 bisa menghasilkan gabah seberat 6,08 ton per hektarenya.

Sadikin pun mengaku puas karena padi dapat tumbuh dengan subur sehingga hasilnya dapat maksimal. “Kami juga berterimakasih karena adanya bantuan traktor memudahkan dalam pengolahan lahan,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengatakan, secara umum panen padi di musim pertama baru akan dilaksanakan mulai Februari mendatang. meski demkian, untuk wilayah selatan sudah ada petani yang mulai memanen padi. “Salah satunya di Dusun Walikangin, Ngestirejo,” katanya.

Selain bisa memanen padi lebih awal, Bambang mengakui penanaman di Dusun Walikangin juga special karena merupakan panen perdana padi jenis Inpari 42 yang ditanam di daerah kering. Ia menjelaskan, varietas ini merupakan jenis padi di persawahan, namun faktanya juga bisa ditanam di wilayah kering. “Hasilnya juga baik karena bisa menghasilkan 6,08 ton per hektarenya,” ungkapnya.

Ditambahkan Bambang, pihaknya terus berupaya memberikan pendampingan kepada petani untuk mengotimalkan hasil pertanian. “Kami terus berikan penyuluhan, selain itu kami juga menyiapkan bantuan benih untuk petani. Mudah-mudahan hasil panen di musim pertama ini dapat dimaksimalkan,” katanya.

Sumber: https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2021/01/30/513/1062246/petani-gunungkidul-mulai-panen-padi