Panen Padi di Abdya Tak Merata, Ini Penyebabnya

Namun, panen ini tak merata lantaran usia tanaman padi di hampir sembilan kecamatan dalam kabupaten itu tidak sama.

Hamdani, petani di Kecamatan Blangpidie, mengatakan petani yang sudah memulai panen padi bisa dikatakan belum terlalu banyak.

Untuk areal persawahan di wilayah Kecamatan Susoh, masih sebagian kecil petani yang sudah dan sedang panen.

Sedangkan sisanya masih menunggu panen yang diperkirakan sekitar satu hingga dua pekan mendatang.

“Belum semua petani sudah memanen padi, masih banyak hamparan padi yang masih menunggu masa panen, sebab kondisinya belum sepenuhnya menguning,” ujar Hamdani. 

Adanya petani yang terlambat memanen padi, katanya, dikarenakan sewaktu masa pengolahan tanah dan hingga proses penanaman padi lalu, sejumlah petani banyak yang terkendala akibat sawah mereka kering tidak dialiri air.

“Sehingga dengan terpaksa mereka harus menunda proses penanaman padi,” ujar Hamdani.  

Tidak hanya itu, lanjutnya, penyebab lain seperti terkena rendaman banjir luapan juga menjadi pemicu utama yang menjadikan keterlambatan panen padi.

“Masih ada tanaman padi milik petani seperti di Kecamatan Jeumpa, Manggeng dan Setia masih dalam fase pengembangbiakan,” tuturnya.

Ia menyebutkan, sejumlah petani yang telah memanen padinya, rata-rata hanya mendapat sekitar 7,5 ton/hektare (ha).

Namun ada juga petani yang memperoleh hasil panen dengan ubinan rata-rata mencapai 8 ton per hektare.

“Umumnya lebih banyak petani yang memperoleh hasil panen rata-rata 7,5 ton per hektare.

Memang ada yang 8 ton per hektare, tapi hanya sebagian kecil.

Kondisi itu dipengaruhi oleh serangan hama yang menyerang tanaman padi pada fase pengembangbiakan dan serangan hama burung disaat padi mulai berisi,” paparnya.

Seperti diketahui, ada sekitar ratusan ha areal persawahan di Abdya yang kerap terendam banjir luapan secara berulang kali, terhitung sejak akhir 2016, kondisinya masih sangat memprihatinkan. 

Areal persawahan dimaksud meliputi, areal persawahan Jeumpa Barat, Asoe Nanggroe, Ikue Lhueng, Kuta Makmur, Kecamatan Jeumpa.

Di Kecamatan Susoh meliputi areal persawahan Rubek Meupayong, Padang Panjang, Ladang, Padang Baru dan Ujung Padang. 

Untuk Kecamatan Setia terdapat dua hamparan yang kerap terendam banjir yaitu kawasan Tangan-Tangan Cut dan Mon Mameh, terakhir di areal persawahan di Paya Laot Kecamatan Manggeng.

Persoalan sawah yang kerap terendam banjir luapan itu hingga saat ini masih menjadi momok yang menakutkan bagi para petani, lantaran kehadiran banjir luapan selalu mengundang petaka bagi tanaman padi milik petani. 

Apalagi kondisi tanaman padi yang masih dalam fase pengembangbiakan, tentu rendaman air luapan akan merusak tanaman padi.

Kondisi tersebut jelas sangat bertolak belakang dengan kondisi tanaman padi milik petani di kawasan lain yang tidak terkena banjir luapan.

Oleh karena itu, upaya khusus Pemkab setempat untuk mengantisipasi banjir luapan ini sangat dinantikan  petani.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2021/01/29/panen-padi-di-abdya-tak-merata-ini-penyebabnya?page=3







Petani Gunungkidul Mulai Panen Padi

Petani di Dusun Walikangin, Ngestirejo, Kapanewon Tanjungsari puas dengan panen padi di musim tanam pertama. Pasalnya, dari hasil ubinan yang dilakukan satu hektar lahan bisa menghasilkan 6,08 ton gabah kering panen.

Ketua Kelompok Tani Sido Makmur, Dusun Walikangin, Sadikin mengatakan, penanaman dilakukan sejak Oktober tahun lalu. Adapun jenis padi yang ditanam ada varietas Inpari 42 dan padi gogo. “Untuk inpari lahan yang ditanam seluas 10 hektare dan padi gogo seluas 29 hektare,” kata Sadikin kepada wartawan, Kamis (28/1/2021)

 

Menurut dia, padi yang ditanam sudah membuahkan hasil karena mulai dipanen. Adapun hasil dari pengubinan diketahui untuk jenis Inpari 42 bisa menghasilkan gabah seberat 6,08 ton per hektarenya.

Sadikin pun mengaku puas karena padi dapat tumbuh dengan subur sehingga hasilnya dapat maksimal. “Kami juga berterimakasih karena adanya bantuan traktor memudahkan dalam pengolahan lahan,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengatakan, secara umum panen padi di musim pertama baru akan dilaksanakan mulai Februari mendatang. meski demkian, untuk wilayah selatan sudah ada petani yang mulai memanen padi. “Salah satunya di Dusun Walikangin, Ngestirejo,” katanya.

Selain bisa memanen padi lebih awal, Bambang mengakui penanaman di Dusun Walikangin juga special karena merupakan panen perdana padi jenis Inpari 42 yang ditanam di daerah kering. Ia menjelaskan, varietas ini merupakan jenis padi di persawahan, namun faktanya juga bisa ditanam di wilayah kering. “Hasilnya juga baik karena bisa menghasilkan 6,08 ton per hektarenya,” ungkapnya.

Ditambahkan Bambang, pihaknya terus berupaya memberikan pendampingan kepada petani untuk mengotimalkan hasil pertanian. “Kami terus berikan penyuluhan, selain itu kami juga menyiapkan bantuan benih untuk petani. Mudah-mudahan hasil panen di musim pertama ini dapat dimaksimalkan,” katanya.

Sumber: https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2021/01/30/513/1062246/petani-gunungkidul-mulai-panen-padi