Penjual Alpukat Mentega Kota Malang Curhat Pandemi Susah, Pilu Ditertibkan Satpol PP: Mau Gimana

Takin (25), satu di antara pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di Jalan HOS Cokroaminoto, Klojen, Kota Malang tak bisa apa-apa lagi ketika didatangi petugas Satpol PP Kota Malang saat melakukan patroli pada Rabu (3/2/2021).

Pria yang berjualan alpukat mentega itu diminta pergi meninggalkan tempat di mana dia menjajakan dagangannya sehari-hari.

Sembari mengemas alpukat yang dipajang di atas jok motornya, pria yang tinggal di Wonokoyo hanya menundukkan kepala saat ditemui petugas.

Petugas hanya meminta kepada Takin, dan tujuh PKL lainnya yang berjualan di Jalan HOS Cokroaminoto agar tidak berjualan di pinggir jalan.

“Tadi cuma diperingatkan kalau tidak boleh berjualan. Tapi ya mau bagaimana lagi. Sudah setahun lebih saya berjualan di sini,” ucapnya.

Pria yang tinggi di Wonokoyo Kecamatan Kedungkandang ini kebingungan, apabila nanti harus mencari tempat baru untuk berjualan.

Pasalnya, penghasilan yang dia dapatkan mengalami penurunan saat pandemi virus Corona ( Covid-19 ) melanda Kota Malang hampir setahun ini.

Jika biasanya, penghasilannya mencapai Rp 250 Ribu per hari sebelum pandemi, saat pandemi ini untuk mendapatkan Rp 200 Ribu dirasanya cukup susah.

Takin hanya minta agar nantinya diberikan kelonggaran agar dia bisa berjualan di lokasi tersebut.

“Sudah dua kali ini saya diperingatkan. Tapi mau gimana lagi, bingung sekarang kalau mau pindah. Pandemi ini susah,” ucapnya.

Penertiban yang dilakukan oleh Satpol PP tersebut ialah untuk menindaklanjuti perintah dari Wali Kota Malang.

“Jadi penertiban tadi seusai kami pulang dari operasi yustisi yang kami gelar bersama TNI Polri di Dieng. Sembari kami jalan pulang, kami lakukan penertiban kepada PKL yang berjualan di pinggir jalan,” ucap Antonio Viera, Kasi Operasi dan Penegakan Satpol PP Kota Malang.

Operasi penertiban kata pria yang akrab disapa Anton tersebut hanya berupa teguran lisan dan teguran tertulis saja.

Apabila ada PKL yang tetap ditemui masih berjualan, pihaknya akan menindak langsung dengan denda tipiring sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Untuk mekanismenya kami berikan teguran lisan, teguran tertulis pertama sampai ketiga. Kalau tidak digubris ya kami bongkar dan kami kenai tipiring,” ucapnya.

Berkaitan dengan penertiban PKL ini, Anton tidak akan memberikan toleransi kepada sejumlah PKL. 

Mengingat apa yang dia dikerjakan ini, sesuai dengan Perda Nomor 20 Tahun 2012 tentang ketertiban umum dan lingkungan.

“Kalau bicara toleransi kami tidak bisa menjawab. Karena kami hanya melaksanakan tugas sesuai dengan aturan dan arahan pimpinan,” tandasnya.

Sumber: https://jatim.tribunnews.com/2021/02/03/penjual-alpukat-mentega-kota-malang-curhat-pandemi-susah-pilu-ditertibkan-satpol-pp-mau-gimana?page=2