Stevanus Rangga Santoso, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Melon

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo terpukau dengan inovasi petani muda asal Kabupaten Kudus. Karena, yang berkaitan berhasil menanam melon tanpa pestisida, sehingga aman dikonsumsi.

Adalah Stevanus Rangga Santoso, Founder CV Santoso Agro yang berhasil menanam melon menggunakan inovasi greenhouse tanpa pestisida. Ganjar bersama rombongan meninjau tempat penanamannya di Jalan Lingkar Barat, Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Rabu (1/7/2020).

Pertanian di dalam greenhouse adalah sistem produksi pertanian yang menggabungkan pemanfaatan perlindungan tanaman dari intensitas hujan, sinar matahari dan iklim mikro, yang mengoptimalkan pemeliharaan tanaman, pemupukan dan irigasi mikro, sehingga mampu menambah produksi buah.

“Kita di sini melihat anak kreatif, si Rangga (Stevanus Rangga) ini. Muda, mau bertani, produknya sangat saleable (laku). Dengan teknologi tinggi,” ujar Ganjar saat di lokasi.

Sosok petani muda ini, menurutnya, sangat menginspirasi. Terutama di masa pandemi, di mana ekonomi sedang turun. Ganjar memuji tindakan Rangga. Sebab bisa memproduksi produk pertanian berkualitas.

Bahkan, berdasarkan penjelasan Rangga kalau produk melonnya memiliki pasar yang bagus dan berpeluang besar untuk berkembang. “Maka untuk nambah berapapun, sebenarnya kapasitasnya, produk melon saja, marketnya enggak akan habis. Itu baru (market) Jakarta, belum yang lain,” tambah Ganjar.

Gubernur menilai tindakan memulihkan ekonomi seperti ini sangat baik. Apalagi, ini merupakan produk dalam negeri. Hal itu sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk bersama membangkitkan ekonomi. Dengan demikian dari produk melon saja, kebutuhan bisa terpenuhi dengan teknologi yang canggih, berarti ada optimistis tinggi untuk kembali menumbuhkan perekonomian.

“Cukup sangat membantu luar biasa,” katanya.

Ganjar juga yakin jika produk melon karya petani muda Kudus ini akan bisa menembus pasar ekspor. Hal itu mengingat kualitasnya yang luar biasa.

“Bahkan dunia juga bisa,” tambah Ganjar.

Stevanus Rangga menerangkan konsep pertanian melon yang dia pakai adalah wujud aplikasi teknologi di pertanian. Yaitu, menanam dengan sistem hidroponik, tanpa tanah, supaya tidak mengandung kadar pupuk sama sekali.

“Sehingga 100 persen, hasil yang kita tumbuhkan tergantung dengan komposisi yang kita berikan. Misalnya saya mau awal pertumbuhannya, daunnya mau saya besarkan sekian. Saya kasih pupuk nitrogen sekian PPM (part per million atau seperjuta bagian yang merupakan satuan pada pengukuran nilai kepadatan suatu zat di dalam air),” ujar Rangga.

Hal itu berlaku juga untuk buah yang misal mau dibesarkan seberapa ukurannya, petani tinggal menambah zat lainnya. Artinya, dengan teknologi pertanian ini pihaknya bisa mengontrol. Hal itu berbeda jika penanamannya dilakukan di atas tanah. Yang berujung pada sulitnya pengontrolan tanaman.

Dia mengatakan hasil buah melon yang diharapkan adalah buah yang premium. Tentunya yang memiliki pasar bagus. Serta sehat untuk dikonsumsi lantaran minim kandungan pestisidanya.

“Yang lagi ditanam ini jenis melon Jepang, melon Eropa, ada melon China, melon Jawa,” katanya.

Dengan masa panen bervariasi, atau setidaknya 60 hari hingga 80 hari bisa panen. Saat ini untuk hasil panennya pernah dikirim hingga Singapura. “Kualitasnya mereka cocok,” ungkap Rangga.

Sosok Beri Tohari, Petani Muda Sukses Dari Citarum

Berbeda dari teman-teman sebayanya di Karawang yang memiliki bayangan menjadi karyawan dan buruh pabrik, cita-cita Beri Tohari membuatnya sering ditertawakan. Cita-citanya yaitu menjadi Petani. “Buat apa jadi petani? Sudah kerjanya capek, susah, kalau panen gagal makin bangkrut, gak keren lagi” biasanya hal ini yang dikatakan oleh teman-temannya.

Beri Tohari memang tidak seperti pemuda biasanya. Dirinya tidak goyah dengan pendapat orang lain tentang pilihannya menjadi petani. Lulus STM Jurusan mesin pada tahun 2007, pemuda yang tinggal di desa Majalaya, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Karawang ini memilih menunda masuk kuliah. Ayahnya yang juga petani meninggal dunia. Sang Ibu dan ke-empat kakaknya memiliki pilihan meneruskan mengolah lahan sebagai petani atau menjualnya. “Awalnya saya kasihan sama Mamah. Kita kan punya lahan, masa tidak diolah. Apalagi dari dulu saya suka diajak ke sawah, sedikit-sedikit saya jadi belajar” ujar Beri. Ketika mulai mengolah lahan, Beri berhasil meningkatkan hasil panen dari 4 ton hingga 7 ton per hektarnya. Hal itu membuatnya bertambah semangat. Mendengar tentang SRI, Beri pun mendaftar ikut sekolah lapang tani binaan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) di Jatinangor. Namun karena lahan sawahnya yang rendah dan susah mengatur keluar masuk air, Beri memutuskan belum menerapkan metode tanam SRI di sawahnya.

Lahan sawah yang dikelola Beri sekitar 4 hektar. Di umur baru 24 tahun, Beri memutuskan untuk meragamkan jenis tanamannya. Ia bertanam jati dan sengon serta beternak bebek. Dia memungut keong emas, hama yang kerapkali menyerang sawahnya sebagai campuran pakan bebeknya.

“Saya dapat bimbingan banyak dari para petani senior di sini” Singkat Beri. Sebaliknya ketika dikonfirmasi, petani senior seperti Pak Udin Samsudin, ketua kelompok Tani Tirta Saluyu di Desa Sarijaya mengatakan bahwa beliau dan teman-temannya justru heran dan kagum dengan Beri. “Jarang sekali ada anak muda memutuskan secara sadar ingin jadi petani. Lihat kami ini, rata-rata sudah 50-60 tahunan. Anak-anak kami tidak ada yang mau jadi petani, karenanya kami sangat senang ketika ada petani muda seperti Beri” ujar Udin Samsudin.

“Jam kerja” Beri di sawah setiap hari mulai dari jam 9 pagi hingga jam 4 sore. Setelah makan siang biasanya Beri mengatur petani untuk mencangkul dan mengolah lahan, mengatur penanaman, mengurus ternaknya. Kadang Beri turun sendiri mencangkul lahan. Kini Beri sedang kuliah jurusan pertanian di salah satu universitas swasta di Karawang. “Tapi saya lebih suka kuliah di lapangan, lebih variatif, lebih banyak yang dipelajari dan bukan cuma teori melulu” Cerita Beri.

Beri membuktikan menjadi petani tidak selalu kalah dengan penghasilan karyawan atau buruh. Sebaliknya, jika dengan pengelolaan yang baik, penghasilannya sebagai petani dirasakan sudah lebih dari memadai. Dari 1 hektar lahannya dengan panen 6 ton, Beri bisa mendapat penghasilan sekitar Rp 24 juta.

Meskipun demikian, Beri sangat menyadari bahwa menjadi petani memang banyak tantangannya. Hama, penyakit, kekhawatiran gagal panen, kekeringan dan banjir adalah beberapa tantangan yang dihadapi petani yang juga dirasakan oleh Beri. Selain itu kekhawatiran Beri lainnya yaitu semakin menyusutnya lahan pertanian di Karawang. Padahal bagi Beri lahan sawah adalah anugerah dan harus dikelola dengan baik agar berguna bagi orang lain dan bagi pemiliknya.

Ketika ikut pelatihan di Jatinangor, Beri pernah mengunjungi Sungai Citarum. Meskipun ketika aliran Sungai Citarum sampai ke desanya, sampah di sungai tidak sebanyak yang ia lihat di wilayah hulu, namun bagi Beri sampah di saluran irigasi pun menjadi tantangan. “Padi kami bisa terganggu pertumbuhannya kalau sampah ikut masuk ke sawah. Selain itu kasihan petaninya pada gatal-gatal kena air penuh sampah. Belum lagi kami harus selalu menyingkirkan sampah dari tangan-tangan iseng yang buang sampah sembarangan” Kata Beri serius.

Beri berharap lebih banyak anak muda menjadi petani, hingga ia bisa punya lebih banyak teman dan membentuk jejaring. Jika tidak sedang sibuk di sawah, hobi Beri lainnya adalah menonton Jaipongan dan Wayang Golek.

Dede koswara,Petani Milenial Dari Bandung Yang Sukses Berbisnis Labu

“Saya nggak mau kerja di bawah telunjuk orang lain!” Kalimat singkat sarat makna itu terlontar dari mulut Dede Koswara, petani labu di Desa Cukanggenteng, Kecamatan Pasirjambu, Bandung, Jawa Barat.
Pernyataan tersebut disampaikan Dede saat menjawab pertanyaan terkait pilihannya menjadi petani. Sebuah pekerjaan yang bukan termasuk favorit kaum milenial. Namun, pria berusia 31 tahun ini semangat menekuni pekerjaan tersebut.

Dede berkisah, setelah lulus sekolah menengah kejuruan (SMK) ia ditawari sang ayah untuk berkuliah atau masuk satuan kepolisian. Namun, Dede mengambil pilihan lain. Dirinya mau hidup merdeka, menjalani pekerjaan tanpa digerakkan orang lain.Panggilan jiwa akhirnya menuntun Dede untuk mengikuti jalur hidup ayahnya, menjadi petani. Dia beranggapan profesi ini bukan pekerjaan rendahan. Karena, petani punya peranan penting untuk kemaslahatan hidup orang banyak. Di tahun 2010, Dede mulai bertani menanam tomat di lahan pemberian orang tua. Dirinya tak hanya bertani tapi juga mempelajari proses distribusi komoditas.

“Awalnya saya minta (tanah) 100 tumbak ke orang tua, itu berarti sekitar 1400 meter persegi. Awalnya untuk menanam tomat. Menanam sendiri, dibawa (menjual) sendiri, saya ngikutin pola orang tua. Menanam tomat itu dari (lahan) 100 tumbak pelan-pelan bisa memperluas (lahan) jadi 200 tumbak, 300 tumbak. Ditambah lagi komoditasnya tanam jagung dan cabe,” cerita Dede.

Dede benar-benar mendalami pengetahuan di bidang pertanian. Ia tak sekadar bertani, lalu panen dan menjualnya ke tengkulak dengan harga jual pas-pasan. Sejak awal Dede mendistribusikan hasil taninya sendiri ke pasar-pasar sampai ke Cirebon hingga Tangerang, dengan mengendarai mobil pikap. Dirinya tak puas hanya menanam dan memasarkan tomat, cabai, dan jagung. Ia merasa harus menanam dan memasarkan lebih banyak lagi komoditas, agar tak kesusahan kalau ada satu komoditas yang harganya anjlok.

Suatu ketika di tahun 2016, seorang pedagang di Tangerang meminta Dede untuk mengirimkan labu siam. Sayuran yang di Jawa Barat disebut labu acar itu ternyata cukup tinggi permintaannya.

Meskipun tak mempunyai stok labu acar di lahannya, Dede memenuhi permintaan tersebut. Ia menghubungi kolega-kolega petani di desanya yang menanam labu acar dan mengumpulkan hasil panen mereka.

“Awalnya gini, ada pedagang di Tangerang itu minta dikirim labu (acar), saya nggak kenal awalnya sama orangnya. Tapi saya coba saja, ambil labu dari petani, minta ke beci (pengepul) di sini. Saya kirim awalnya dua kwintal. Setelah itu terus bertambah pesanan,” ujar Dede.Berawal dari situ, Dede berinisiatif untuk menanam labu di lahannya. Sayuran yang biasa dijadikan lalapan ini ternyata menghasilkan untung besar buatnya.

Dede menguraikan untuk menanam labu dibutuhkan modal sekitar Rp 15 juta untuk setiap 1.400 meter persegi. Modal tersebut mencakup biaya garap lahan, bibit, serta paranggong (deretan bambu tempat merambatnya pohon labu).

“Setelah empat bulan tanam labu bisa panen setiap dua hari sekali,” ungkap Dede.Selain memanen dan memasarkan labu dari lahan pribadi, Dede juga mengumpulkan labu dari petani desa yang sudah diakomodir oleh para pengepul yang biasa disebut beci. Dede juga membentuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Reggeneration (Regge) untuk mengakomodir aktivitas para petani dan beci.

“Gapoktan ini saya buat untuk apa, agar harga beli itu semakin transparan. Di Gapoktan Regge ini menerapkan transparansi harga beli dari petani ke beci hingga harga jual ke pasar. Jadi tidak ada lagi oknum yang beli dengan harga seenaknya,” tegas Dede.

Setiap harinya, Dede bisa membeli 20-40 ton labu dari para beci. Labu-labu tersebut dipasarkan ke beberapa pasar di Cirebon, Tangerang, Bogor.

Dari aktivitas pemasaran labu itu, Dede bisa mendapatkan omzet Rp 50-100 juta per hari. Tapi, ia tidak hanya berorientasi mencari keuntungan untuk pribadi. Dede menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan di Gapoktan Regge yang beranggotakan 2.100 orang.”Uang itu dipakai kalau misalnya harga sayuran anjlok, untuk stabilkan harga. Maksudnya untuk subsidi ke petani. Dari uang itu juga bisa jalan-jalan anggota Gapoktan juga buat acara sosial, seperti qurban dan sunatan massal tahun lalu,” ujar Dede.

Dede membuktikan petani bukanlah pekerjaan rendahan. Ia sudah mampu membangun rumah mewah serta membeli mobil berharga ratusan juta.

Ulus Pirmawan, Petani Muda Yang Sukses Menanam Sayuran

Ulus Pirmawan, salah satu sosok petani sayur yang sukses dan tidak dapat dipandang sebelah mata. Ia adalah seorang tokoh pemuda tani yang berjuang di sektor pertanian. Ulus berdomisili di Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Cibodas – Lembang. Kerja kerasnya bisa menunjukkan kalau petani dapat berkembang.

Setelah beranjak dewasa, Ulus Pirmawan banyak belajar tentang pertanian, baik yang diadakan oleh Dinas Pertanian ataupun lembaga perusahaan yang kompeten dengan dunia pertanian. Dia pernah menjadi supplier dan pada tahun 2005 mendirikan Kelompok Tani Baby French. Setelah sukses dengan Kelompok Tani Baby French, ia mendirikan kembali gabungan kelompok tani yang diberi nama Wargi Panggupay. Wargi Panggupay membawahi delapan kelompok tani produktif. Seluruh kelompok tani ini berperan aktif dan terlibat langsung dalam program tanam. Wargi Panggupay juga melakukan kerja sama serta menjalin kemitraan dengan Eksportir PT Alamanda Sejati Utama, Fortuna Agro Mandiri (Farm/Multi Fresh) dan supplier supermarket.

Bermodal pengalaman dan pengetahuan, usahanya terus berkembang menjadi ladang bisnis menguntungkan, berkelanjutan dan berkesinambungan. Bahkan dirinya bisa meregenerasi anak – anak muda di sekitarnya untuk tekun bertani.

Sebut saja, Doni Pasaribu. Seorang sarjana pertanian yang memutuskan sepenuh hati memilih pertanian sebagai jalur bisnis.

“Ini adalah panggilan hati. Dulu orang bertani karena keturunan. Sekarang saya sendiri memilih jadi petani”, ujarnya.

Beliau juga merasa prihatin jika lahan pertanian tidak dimaksimalkan. Pemuda berusia 22 tahun ini nyaman dengan profesi sebagai petani karena mempunyai fleksibilitas waktu tapi tetap berpenghasilan mencukupi.

“Kalau lahan pertanian tidak digunakan bertani maka lahan yang ada lama – lama bisa habis. Inilah kesempatan menghancurkan doktrin negatif bertani sulit kaya. Bertani bisa sukses. Sayang kalo sarjana pertanian tapi tidak bertani. Penghasilan saya memang di bawah Pak Ulus tapi penghasilan saya bisa melebihi dari seorang PNS”, katanya penuh semangat.

Ada sosok lain di samping Doni. Seorang lulusan SMK Komputer. Meski baru berusia 21 tahun, Umbara sudah mampu mengisi pasokan pasar retail wilayah Bandung sampai Jakarta.

“Seharusnya menjadi petani itu bangga. Di sini banyak orang tuanya yang petani tapi anaknya tidak mau bertani. Kita harus meningkatkan potensi diri. Pendapatan minimal saya Rp 200 ribu per hari”, ungkap Umbara ketika ditanyakan berapa nilai penghasilannya.

Dia menerangkan bahwa penghasilan sebesar itu adalah angka minimal yang dapat diperolehnya sehari – hari. Tidak jarang dirinya dapat menghasilkan berkali – kali lipat. Pemuda asli Desa Suntenjaya meyakini kalau dirinya tidak akan beralih profesi.

“Sesunguhnya sebagai penerus bangsa, kita itu bisa lebih terbuka ke bidang pertanian. Pertanian itu lebih menjanjikan, bisa atur waktu kerja sendiri. Penghasilannya bagus. Pasar dalam negeri masih membutuhlan. Peluang di pasar ekspor juga masih terbuka luas. Indonesia harus jadi lumbung pangan dunia”, kata Ulus menyemangati.

Rayndra Syahdan Mahmudin, Petani Muda Dari Magelang

Seorang pemuda di lereng Gunung Merbabu ini patut diapresiasi. Diusianya kini 24 tahun sudah sukses menjadi seorang petani muda dengan segudang prestasi.

Dia adalah Rayndra Syahdan Mahmudin yang merintis menjadi petani muda sejak duduk di bangku SMK N Ngablak Magelang, Jawa Tengah. Sekarang, dia sering membagi ilmu dan mengajak anak muda mau bertani.
Jalan hidup Rayndra Syahdan Mahmudin, 24 berubah ketika menempuh pendidikan menengah jurusan pertanian. Setelah lulus, dia merintis menjadi petani muda. Kini, usahanya semakin sukses sehingga bisa berbagi ilmu pertanian ke desa-desa di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Dengan nilai pas-pasan, setelah lulus SMP, Rayndra diterima di SMK N Ngablak, Magelang, Jawa Tengah, di jurusan pertanian. Awal bersekolah di SMK bidang pertanian, Rayndra masih enggan.
Rayndra pun semakin giat belajar dan meraih sederet prestasi. Dia semakin percaya diri karena dipilih untuk mewakili sekolah di ajang Lomba Kompetensi Siswa bagi siswa SMK dan masuk enam besar se-Jawa tengah.
Setelah itu, timbul dalam benak Rayndra untuk menjadi wirausaha alias pengusaha di bidang pertanian. Ia pun memulai dengan berjualan beragam sayur-mayur produksi gurunya di SMK.

”Saya sering jualan di acara car free day gitu, menenteng kotak berisi sayur. Teman-teman lain pada mejeng, saya pede saja jualan,” kata pemuda kelahiran 29 November 1995 tersebut.
Tiap hari pukul 02.00-05.00 Rayndra bangun untuk mencabuti bulu ayam. Lalu dia mengantar ayam yang sudah bersih ke pasar pukul 06.00, dan sejam kemudian bersiap kuliah tanpa mengantuk.
Ternyata, ada pejabat Kementerian Pertanian saat bermalam di kampus melihat kegiatan Rayndra. Kegigihan Rayndra menginspirasi munculnya program ”Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP)”.

Tahun 2016, Rayndra mendapat modal Rp 15 juta dari PWMP. Bersama dua teman lainnya, dia membuat bisnis di bawah bendera Cipta Visi Group.

Wirausaha diawali dengan membuka usaha peternakan ayam jawa super, persilangan ayam petelur dan ayam bangkok. Sisa keuntungan dikembangkan jadi peternakan kambing. Dia mengembangkan binis dengan tambahan modal dari pinjaman bank Rp 50 juta.
Bisnis Rayndra terus meningkat sehingga pada tahun 2018 dapat PWMP lagi sebesar Rp 30 juta. Mereka mampu menarik investor dengan konsep beternak kambing, domba, dan sapi yang minim modal dan pertanian terintegrasi dengan sentuhan inovasi dan teknologi.

Sofian Adi Cahyono, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Sayuran

Pandemi Covid-19 telah berdampak yang luar biasa bagi sektor dunia usaha. Di Jawa Tengah, tak sedikit dunia usaha yang ikut terpuruk hingga para pelakunya harus menghadapi situasi perekonomian yang semakin sulit.

Walaupun begitu, masih ada bidang usaha di masyarakat yang mampu bertahan di tengah gelombang pandemi tersebut. Salah satunya adalah usaha bidang pertanian. Seperti yang dikerjakan sejumlah pemuda di wilayah Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Mereka –para petani milenial—yang tergabung dalam Kelompok Tani Citra Muda Getasan mampu membuktikan bahwa usaha pertanian yang digeluti bisa bertahan dan bahkan terus meningkat, kendati harus menghadapi situasi pandemi. Ketua Kelompok Tani Citra Muda, Sofian Adi Cahyono, menuturkan, selama ini kelompok tani yang beranggotakan 30 anak-anak muda—usia 19 hingga 38 tahun—ini membudidayakan tak kurang 70 jenis sayuran organik.Guna menjual berbagai hasil pertanian (sayuran) organik tersebut, kelompok tani ini telah memanfaatkan pemasaran daring. Sehingga, mampu menembus cakupan pasar atau konsumen yang lebih luas. Ia melihat usaha pertanian, khususnya sayuran organik, masih sangat potensial. Bahkan dalam jangka yang sangat panjang, apalagi jika didukung dengan model atau cara pemasaran daring.

“Inilah yang kami lakukan bersama teman teman di kelompok tani Citra Muda Getasan selama ini, menjual berbagai produk hasil pertanian kami dengan memanfaatkan teknologi digital,” ungkapnya, akhir pekan kemarin. Sofian juga mengatakan, ikhtiar ini sudah dapat dinikmati hasilnya. Jika dibandingkan pada awal-awal dirintisnya usaha pertanian ini 12 tahun silam, produksi berbagai jenis sayuran kelompok tani ini telah meningkat sangat signifikan.

Kini Kelompok Tani Citra Muda Getasan telah mampu memberdayakan tak kurang 400 petani sayuran dan buah-buahan. Pemberdayaan ini untuk mendukung keberlangsungan pasokan produk kepada konsumen. Mereka, tergabung dalam 18 kelompok tani lain, di wilayah Kecamatan Getasan.

“Saat ini omset kami perbulan mencapai Rp 300 juta. Jadi, penghasilan petani itu tidak kalah dengan profesi lainnya. Apalagi, pertanian menghasilkan bahan makanan dan selama hidup manusia sangat membutuhkan,” katanya. Ia juga menuturkan, selama masa pandemi Covid-19, peningkatan permintaan berbagai jenis sayuran justru meningkat drastis. Jika biasanya per-bulan hanya mampu menjual 4 hingga 5 ton sayur organik, selama masa pandemi hingga kini terus meningkat hingga 15 ton per bulan.

Rakhmad Hardiyanto, Petani Muda Sukses Yang Berbisnis Jambu Kristal

Rakhmad Hardiyanto 35 menanggalkan ilmunya di bidang permesinan Sejak 2012. Ia banting setir ke dunia petanian menjalani agribisnis dengan jenis komoditas jambu kristal. Ia melakukan tata cara pertanian modern dengan harapan bisa mencetak petani-petani milenial Kesibukan lelaki yang akrab.

Oscar Mau, Petani Milenial Dari NTT

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan NTT, mengadakan kunjungan ke kelompok tani Petani Milenial di daerah Sikumana, Kupang, NTT. Oscar Mau, salah satu petani milenial yang berhasil merakit mesin tetas untuk penetasan telur ayam di bawah binaan Ir. Evert Yulianes Hosang, M.Si, Ph.D (Peneliti BPTP NTT).

Kepala BPTP NTT, Dr. Procula Rudlof Matitaputty, S.Pt, M.Si menyampaikan dukungan dan semangat kepada petani milenial untuk menciptakan produk kreatif inovatif yang berdaya guna untuk kebutuhan petani serta khalayak umum sehingga dapat berhasil meningkatkan pendapatan petani, salah satunya produk mesin tetas ini.

Ide pembuatan mesin tetas berawal dari Oscar Mau yang memiliki keahlian dalam membuat sound system, lalu keahliannya membuat mesin tetas ini ditingkatkan secara otodidak belajar dari youtube. Mesin tetas yang diproduksi Oscar Mau mempunyai kapasitas 110 butir telur. Sampai sekarang mesin tetas sudah mengalami 3 kali modifikasi. Modifikasi pertama terletak pada roda manual untuk proses putar telur, modifikasi kedua terletak pada lampu mesin tetas untuk pemanas, kemudian modifikasi ketiga ini mesin tetas dibuat secara otomatis untuk proses putar telur dengan cara digeser dan untuk daya listriknya lebih hemat. Kini sudah 9 mesin tetas buatan Oscar Mau yang digunakan oleh petani, instansi pemerintah, maupun swasta di daerah Kupang dan Kefa.

Harapannya dengan dihasilkannya produk mesin tetas oleh petani milenial ini berdampak positif ke petani milenial lainnya. Petani mempunyai jiwa kreatif dan inovatif, berusaha membuka lapangan pekerjaan secara mandiri, meningkatkan pendapatan petani, serta mengangkat petani Indonesia lebih maju.

Yogi Pamungkas Nugroho, Petani Muda Dari Jawa Timur Ini Sukses Menanam Sayuran

Yogi Pamungkas Nugroho, pemuda 22 tahun asal Jawa Timur yang berhasil meraih omzet sekitar puluhan juta rupiah dari hasil berjualan sayuran hasil hidroponik. Yogi membuktikan bahwa sukses bisa diraih di usia muda dan diperoleh dari hasil pertanian.

Dalam mengerjakan bisnisnya Yogi tidak menggunakan tanah sebagai bahan bercocok tanam, melainkan menggunakan hidroponik sehingga menghemat tempat dan biaya, sehingga dapat memperoleh hasil yang berlebih.

Yogi juga memberikan inovasi dalam menjalankan bisnisnya yaitu dengan menjual produk jus sayuran organik hasil olahan sayuran segar yang diproduksinya. Yogi juga masih ingin terus berinovasi dengan mengembangkan naget sayuran plus wisata edukasi sauran hidroponik dan organik.Menjadi petani di era milenial juga tidak harus mempunyai lahan yang luas dan berlokasi di daerah perdesaan. Daerah perkotaan serta memiliki lokasi kecil pun bisa memberikan hasil pertanian yang bagus, asalkan mempunyai ilmu dan teknologi yang baik, serta memiliki keinginan untuk terus belajar dan mau berinovasi dalam mengembangkan hasil pertanian dan produk olahannya.Generasi muda yang tinggal di kota pun bisa mengambil peran untuk menjadi petani milineal. Memberikan inovasi kekinian untuk produknya sehingga diminati oleh semua kalangan terutama kalangan muda.

Kelak, hasil pertanian hasil olahan produk pertanian bisa memberikan nilai lebih dan memberikan pendapatan yang besar bagi pengelolanya.

Harus diingat juga bahwa hasil pertanian adalah kebutuhan primer bagi semua manusia untuk bertahan hidup, seperti beras, buah, sayuran, dan bahan makanan lainnya.

Apabila dikelola dengan baik dan terus berinovasi maka hasil pertanian bisa menghasilkan pendapatan yang baik. Jadi tidak menutup kemungkinan bila mengatakan menjadi petani di era milineal sekarang ini bisa memberikan pendapatan yang juga menjanjikan dari pekerjaan lainnya.

Maya Skolastika Boleng, Petani Milenial Dari Mojokerto

Sebagai negara agraris, Indonesia dianugerahi kekayaan alam melimpah dan posisi geografis strategis yang membuat segala jenis tanaman dapat tumbuh subur. Sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya pun berada di bidang pertanian dan cocok tanam.

Sayangnya, lama kelamaan profesi sebagai seorang petani kelihatannya mulai ditinggalkan, terutama oleh generasi muda. Profesi petani dianggap tidak dapat menjamin masa depan, sehingga membuat banyak orang berpindah ke profesi yang lebih menguntungkan di kota besar.

Tapi, paradigma itu tak berlaku bagi Maya Skolastika Boleng. Wanita yang lahir di Flores ini lebih memilih menekuni pekerjaan sebagai seorang petani muda. Sejak 2017, ia memberdayakan petani Dusun Claket, Mojokerto, di bawah brand Twelve’s Organic yang fokus pada komoditas sayur dan buah organik.Awalnya, bukan hal yang mudah bagi Maya untuk menekuni pekerjaannya sebagai seorang petani muda. Apalagi dengan latar belakangnya sebagai mahasiswa lulusan Sastra Inggris yang tidak mempelajari ilmu pertanian secara formal. Bahkan saat awal meniti karier sebagai petani, Maya pernah merasakan mengalami pengalaman pahit menjadi korban permainan harga sayur yang menurutnya tidak adil di pasaran.

Pada 2008, Maya yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa semester enam Universitas Negeri Surabaya, bersama empat temannya memutuskan untuk terjun di industri pertanian organik. Mereka mengumpulkan uang hasil berjualan pulsa dan honor sebagai guru bimbingan belajar untuk menyewa lahan kosong di Dusun Claket.

Mengajak petani sekitar Dusun Claket, kelompok tani organik yang dirintis Maya pun akhirnya berhasil melakukan panen perdana dan menembus Pasar Induk Surabaya. Namun masih minimnya pengalaman dan bisnis di industri pertanian membuat bisnis Maya tidak berjalan lancar.

Hasil panen perdana kelompok tani organik ini ternyata dibeli dengan harga yang sangat murah di tengkulak. Padahal saat itu produk organiknya yang terdiri dari sayur, buah, dan bumbu dapur ini sudah mulai dikenal orang.

Terbentur modal yang minim saat permintaan pasar sedang meningkat, akhirnya Maya dan teman-temannya memutuskan untuk menghentikan sementara kegiatannya.. Dengan membawa kekecewaan karena salah menerapkan strategi bisnis dan mengalami kegagalan hingga tiga kali, Maya pun memutuskan untuk merantau ke Denpasar dan bekerja di sebuah perusahaan biro perjalanan dan pariwisata.

Setelah enam bulan bekerja, Maya memutuskan untuk kembali ke Mojokerto dan melanjutkan pertanian organik yang sudah dilakukan bersama teman-teman mudanya. Meski berkali kali mengalami kegagalan, ia kembali dengan tekad kuat untuk meningkatkan kesejahteraan petani kecil yang kerap jadi korban murahnya harga sayur di pasaran. Tahun 2017, Maya pun bangkit kembali dan mendirikan Twelve’s Organic. Ia berhasil memasok hasil pertanian mereka ke hotel-hotel dan pasar rumah tangga.

Tak sekadar menyediakan berbagai kebutuhan sayur hingga buah organik, Twelve’s Organic juga terus memberi pemahaman kepada para petani mengenai edukasi pertanian organik dengan kursus eksklusif, agar petani lebih mandiri dan bisa mempunyai pasar sendiri. Kelompok tani yang bergabung di Twelve’s Organic memiliki kebebasan untuk memilih tanaman yang akan ditanam tanpa terbebani permintaan tengkulak.

Selain itu, Maya juga membuka kerap mengadakan acara diskusi dengan mengundang pakar dari berbagai latar belakang, serta tak sungkan menerima konsumen yang ingin melihat langsung sayur yang akan dibelinya di perkebunan Twelve’s Organic. Cara ini dipakai sebagai sarana edukasi sekaligus memperkenalkan Twelve’s Organic ke khalayak yang lebih luas.

Sebagai generasi milenial, Maya juga tak ketinggalan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mengembangkan Twelve’s Organic. Aplikasi pesan WhatsApp dipilih sebagai alat komunikasi dengan pelanggan pelanggan yang ingin memesan sayur maupun buah. Dengan memanfaatkan teknologi yang lebih murah, petani akan lebih untung dan lebih sejahtera karena tidak perlu lagi menjual hasil panen ke tengkulak.

Kini Twelve’s Organic sudah memiliki 25 petani sayur dan buah yang terbagi dalam dua kelompok tani, yaitu Kelompok Petani Madani yang fokus kepada sayuran, serta Kelompok Petani Swadaya yang lebih fokus menanam raspberry dan blueberry serta pembuatan pupuk organik. Sebanyak 80 konsumen rumah tangga, 2 supermarket, dan 2 restoran juga sudah menjadi menjadi pelanggan tetap Twelve’s Organic.

Kerja keras Maya mengembangkan Twelve’s Organic inilah yang membawanya meraih penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU) Indonesia Awards tahun 2019 di bidang lingkungan. Apresiasi ini diberikan sebagai bentuk dukungan karena telah ikut berkontribusi aktif memajukan kesejahteraan petani kecil serta meningkatkan perekonomian di Dusun Claket.