Restiyani, Petani Muda Dari Sulawesi

Restiyani, Generasi Tani Milenial Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari menjadi bagian dari Kelompok Tani Padang Iring, Rantetayo, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Resti, begitu ia dipanggil, di tengah wabah covid-19 turut berperan sebagai petani milenial.

Menuruti Surat Edaran Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, tentang pemulangan mahasiswa Polbangan ke rumah sebagai bentuk pencegahan penyebaran covid-19, Dara cantik ini pun pulang ke Tana Toraja. Tetap mengikuti kuliah daring, disela-sela waktu luangnya ia bergabung bersama Kelompok Tani Padang Iring untuk menanam padi.

Tidak luas, hanya setengah hektar lahan yang dikerjakan. “Di tengah Covid-19 Petani tidak bisa lockdown dalam rumah. Petani harus kuat ke lahan untuk menyediakan pangan bagi masyarakat,” ujar Resti pada Selasa (28/4).

Kelompok Tani yang berada di Sulawesi Selatan tepatnya di Tanah Toraja daerah Rantetayo tetap bersemangat. Sistem tanam jerman yang tidak menggunakan benang telah turun temurun digunakan masyarakat disana.

Pertimbangannya pun sederhana, “Banyak keong jadi tidak bisa pakai benang, nanti malah benang yang di makan keong,” kata Mahasiswa tingkat II Polbangtan Manokwari. Penanaman dikerjakan dengan menanam bibit padi secara berdampingan dengan jarak lima hingga tujuh centimeter (cm) pada setiap titik penanaman sesuai dengan jarak tanam 30×30 cm.

Paras yang cantik, kulit yang bersih, tidak melunturkan semangat dara cantik ini untuk turun ke sawah. Bertelanjang kaki, sambil menyusun benih-benih padi membuat Resti semakin memantapkan diri untuk menjadi petani milenial.

Dengan tegas ia pun mengungkapkan untuk memenuhi kebutuhan pangan kita harus tetap menjadi garda terdepan dalam penyediaan bahan pangan meski adanya wabah virus corona.

Profil Rio Erlangga, Petani Milenial Pendiri CV Cipta Agripratama

Siapa bilang menjadi petani itu impian usang? Buktinya, Rio Erlangga (35 tahun) rela pindah kuadran dari profesional di Astra International menjadi petani milenial dengan mendirikan CV Cipta Agripratama (Cipta Agri).

Padahal, posisinya di Astra cukup menjanjikan. “Delapan tahun di Toyota Sales Operation-nya, saya pegang mulai dari Asset Management. Kemudian, saya mutasi ke Daihatsu, saya pegang HR-Compensation Benefit selama empat tahun. Setelah itu, Industrial Relations, tapi saya memilih resign,” kata Erlangga yang tidak menyesali keputusannya itu.

Bagi Erlangga, menjadi petani adalah pilihan impian. Sebelum keluar dari Astra, beliau sudah mulai mencoba berbisnis buah-buahan. Awalnya, dari melihat tren produk-produk pertanian lokal yang ramai di supermarket papan atas.

“Setiap saya ke Ranch Market, misalnya, saya perhatiin banyak buah dan sayur lokal, saya lihat harga-harganya yang lumayan juga,” ujarnya. Dia saat itu sengaja mencatat harganya dan membanding-bandingkan dengan harga di Pasar Kramat Jati.

“Saya juga mencoba ngobrol dengan kerabat di Garut, menanyakan harga buah-buahan dan sayuran dari petani langsung. Ternyata, jauh banget, jauh lebih murah dibandingkan dengan harga di supermarket maupun di Pasar Kramat Jati,” ungkapnya menceritakan saat awal memulai usaha.

Sejak itu, Erlangga bertekad fokus terjun 100% ke bisnis pertanian. Dia memilih mundur dan menggunakan uang pensiun Astra serta Jamsostek untuk mulai masuk ke kebun yang ternyata dinamikanya luar biasa.

Belajar dengan mengandalkan Google saja tidak cukup. Ia pun mencari mentor dan bertemu dengan praktisi agribisnis dan pebisnis pertanian Wayan Supatno. “Beliau yang membukakan jalan. Beliau sharing do’s and dont’s-nya, sehingga saya bisa lebih cepat berakselerasi di bisnis pertanian,” Erlangga menceritakan.

Ia mengawali dengan menanam cabai, jahe, lalu mulai masuk ke produk buah-buahan. “Nah, begitu masuk ke buah, saya lihat ini lebih cepat roda bisnisnya,” ujarnya senang.

Cipta Agri yang didirikan tahun 2016, awalnya hanya sebagai trader buah-buahan; lalu perlahan ikut ke kebun, dan sekarang sudah punya 300 hektare lahan yang tersebar di Cianjur, Cipanas, Purwakarta, Pandeglang, Bengkulu, dan Kalimantan. Komoditas yang didapatkan ada lemon california, pisang kirana, jeruk dekopon, pisang barangan, jeruk gerga, jeruk siam, jeruk chokun, dan manggis. Hasil panennya dipasarkan ke para mitra secara langsung, yakni Ranch Market, Transmart, Total Buah segar, Tanihub, Sayurbox, Superindo, Farmers & Market, Rezeki, Lottemart, Lulu, Maxim, dan Sewu Segar.

Menurut Erlangga, kalau ingin serius berbisnis pertanian, tidak bisa hanya main di hulu, melainkan juga harus turun sampai ke hilirnya. Mengapa? “Supaya supply-demand-nya bisa terukur dan terkontrol. Kalau nggak begitu, bisa berantakan. Jadi, kalau kita sudah bisa mapping market, kebutuhannya, ke mana dan di mana bisa masuk, nah baru kita bisa manage di hulunya,” ungkapnya.

Dari membaca peta pasar, ternyata dapat dikenali bahwa memasok kebutuhan industri itu lebih bagus dibandingkan menjual fresh ke pasar. “Ini baru market lokal aja ya, udah segitu besar peluang-peluangnya, belum yang ekspor,” kata Erlangga memberi gambaran.

Ia mengaku beruntung pada akhirnya dapat terhubung dan memulai kontrak dengan beberapa mitra B2B. Sebelumnya, hanya dengan Grup Gunung Sewu. Akhirnya, dengan beberapa mitra lainnya, misalnya manufaktur makanan dan minuman seperti Mayora dan Sosro. Selain B2B, secara B2C juga dijalankan. “Kami masuk lewat supermarket, traditional market, dan e-commerce juga,” ceritanya gembira.

Erlangga berbagi pengalaman sebagai petani milenial. Jika kita mau mengembangkan sebuah komoditas, katanya, kita sudah harus tahu dulu untuk pemenuhan pasar yang mana, dan seberapa besar. Sehingga, semuanya terukur, tidak dipermainkan oleh rantai distribusi yang panjang, tengkulak alias middle trader.

“Nah, itulah yang selama ini jadi momok pertanian kita, jadi tidak bisa maju. Petani kapok, profesi petani identik dengan kemiskinan. Karena mereka terbatas, tidak punya map dan data sehingga nggak bisa baca, harus mulai dari mana lalu ke mana. Akhirnya, terjebak nasibnya di tangan tengkulak. Padahal, potensi agribisnis luar biasa,” papar Erlangga.

Ia meyakinkan, kuncinya adalah memiliki peta yang komprehensif. “Kalau mau masuk ke pertanian, harus bangun utuh sebagai agroindustri, jangan setengah-setengah. Harus dari hulu sampai hilir,” katanya menegaskan.

Sekarang, dari 300-an ha perkebunan, Erlangga berjanji masih akan meningkatkan diri. Walaupun banyak rintangan di depan mata, ia tetap percaya diri dan menyadari titik lemah yang menghadang. Contohnya, soal impor, menurutnya, tidak bisa demo ke pemerintah suruh stop impor, karena kan memang sekarang sudah eranya pasar bebas. “Nah, maka yang harus kita lakukan adalah bagaimana caranya kita tetap bisa jadi pemenang di rumah sendiri,” ujar Erlangga tegas.

Ia menyayangkan banyak petani kita yang masih menjalankan usaha tani dengan pola lama itu. Menurutnya, ini pekerjaan-rumah kita bersama, bagaimana mengubah pola pikir petani dan generasi muda, bahwa yang ketinggalan itu bukan profesi taninya, melainkan strateginya.

Salah satu strategi yang ia jalankan untuk mendobrak tradisi lama di dunia trading agribisnis yaitu memperbaiki harga pasar yang sering dispekulasi. Misalnya, lemon. Jika lemon impor sedang kosong, dan pasokan lemon lokal banyak, pasar akan memilih yang lokal.

Lip Irpan, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Sayuran

Di tengah kondisi pandemi covid-19, petani dituntut inovatif dalam memasarkan produknya. Seperti halnya yang dikerjakan oleh Iip Irpan, salah satu Duta Petani Milenial dari Tasikmalaya.

Iip Irpan berkolaborasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya dan Serikat Ekonomi Pesantren Kabupaten Tasikmalaya menanggapi hasil panen petani serta mengemasnya menjadi sayuran modifikasi untuk dijual secara online dengan brand Hoyong Deui dan Salawasna Shop.

Sayuran kemasan disuplai ke 500 warung UKM, sembilan mini market, dan 25 perumahan di Kabupaten Tasikmalaya.

Iip Irpan mengawali usaha tani pada 2009 dengan budidaya padi organik sistem SRI. Tahun 2011, meningkat usaha tani ke hortikultura dengan komoditas cabai, buncis Kenya, jahe, mentimun, sayuran daun, dan melon.

Berlanjut pada 2016 sampai sekarang, Iip meningkatkan pertanian terpadu yang memadukan sektor hortikultura, peternakan, dan perikanan.

“Manfaat pertanian terpadu ialah limbah dari hortikultura akan diberikan kepada ternak dan ikan, kemudian limbah ternak dikembalikan kepada ikan dan hortikultura,” kata Iip Irpan.

Omzet usaha tani yang dikerjakan Iip Irpan dan tim mencapai hingga Rp50 juta dalam sebulan. Iip Irpan memiliki 63 mitra usaha yang juga petani milenial di Kabupaten Tasikmalaya dan berkolaborasi aktif dengan beberapa P4S yaitu P4S Okiagaru Cianjur, P4S Agro Priangan Okiagaru, P4S Lembang Agri, P4S Bina Karya Tasikmalaya, dan Okiagaru Indonesia Agricorp.

Iip Irpan menjadi salah satu figur petani milenial sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo pada saat pengukuhan Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan. Mentan mengatakan, anak muda yang mau terjun di bidang pertanian berpeluang memiliki kehidupan dan ekonomi lebih baik.

Sama halnya disampaikan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi. Duta Petani Milenial diharapkan bisa menarik generasi milenial yang lain untuk ikut berwirausaha pertanian.

“Selain itu mampu Ikut membantu sekaligus menjadi corong positif pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian, dengan mempercepat advokasi kepada masyarakat terutama berkaitan melalui program-program Kementerian Pertanian sehingga program tersebut dapat dilaksanakan dengan cepat di lapangan. Otomatis juga mempercepat dampak positif pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Dedi.

Gestianus Sino SP, Petani Muda Dari NTT

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo optimistis dengan semangat para milenial dalam upaya penumbuhan usaha agribisnis di Indonesia. SYL, sapaan akrabnya, yakin sektor pertanian adalah bidang usaha yang sangat prospektif.

“Sekarang saatnya yang muda yang menguasai teknologi yang jadi penggerak sektor pertanian, didukung teknologi modern maka dunia dalam genggaman kalian. Saya makin percaya anak muda yang terjun di bidang pertanian punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik,” ucap SYL.

Lebih lanjut, SYL mengatakan, sekarang banyak petani milenial yang sukses menjadi pengusaha di berbagai sektor pertanian dan mengembangkan usahanya dari hulu hingga hilir. Ini bukti bahwa pertanian merupakan sektor usaha yang sangat menjanjikan untuk masa depan.Gestianus Sino SP, salah satu petani milenial asal NTT ini satu dari 67 orang petani milenial yang dikukuhkan oleh Menteri Pertanian pada Senin lalu. Pria kelahiran 22 April 1983 ini mengerjakan kegiatan pertanian terpadu dengan menggabungkan ikan lele, ayam kampung, ternak kambing, aquaponic, semuanya dalam satu lahan.

Gesti panggilan akrab nya, bercerita awal memulai terjun kedunia pertanian, dia hanya berpikir bagaimana dapat bercocok tanam di tengah lahan yang tidak memungkinkan dimana lahan di kabupaten Kupang merupakan lahan kering dan di penuhi banyak batu karang.”Proses diawali dengan mencungkil karang, untuk mendapat tanah yang cocok di tanami, kemudian melakukan treatment dasar dengan pupuk organik dari bahan lokal, pemilihan bibit sayur dan buah, dan penggunaan pupuk organik. bokasi/kandang dan pestisida organik. Setelah itu, saya mulai melakukan kegiatan pertanian terpadu dengan menggabungkan ikan lele, ayam kampung, ternak kambing, aquaponic, semuanya dalam satu lahan. Hasilnya dijual dan kebun tersebut dijadikan sebagai sekolah pertanian,” terangnya.

Menurutnya, pertanian organik terpadu ternyata cocok dipakai di NTT, sebab menghasilkan ketersediaan pangan, sehat serta mendukung kemandirian petani. Dengan penerapan pertanian organik terpadu Gesti telah menghasilkan omzet mencapai Rp.232 juta/tahun.

Selain itu, Gesti juga menanam sayuran dan buah organik seperti pokcoy/kaylan, brokoli, bayam, kangkung, dan buah seperti papaya California, serta mangga dan dengan peternakan seperti ternak kambing, ayam kampung dan ikan lele.”Soal produk yang dipasarkan memang masih di Kota Kupang dan sekitarnya, seperti dipasarkan ke pusat swalayan, hotel, dan perumahan-perumahan, namun ia optimis ke depan produk yang dihasilkan bisa keluar ke kota dan kabupaten lainnya di NTT,” ungkap Gesti.

berhubungan dengan hal ini, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menambahkan, peningkatan petani pengusaha milenial sebagai upaya Kementan untuk mempercepat regenerasi petani. Petani pengusaha milenial ini juga didorong untuk ekspor.

“Turunnya jumlah petani berusia muda akan menimbulkan krisis petani. Oleh karenanya, regenerasi petani mutlak dilakukan karena mereka paling berperan sangat strategis dalam pembangunan pertanian Indonesia ke depan, di era modern. Mereka dipastikan melek teknologi dan cerdas,” kata Dedi Nursyamsi.

Sosok Agus Wibowo, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Kentang

Agus Wibowo, petani warga Dukuh Kragon Wetan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang mewakili Indonesia pada ajang Global Student Enterpreneur Award (GSEA) yang akan dilaksanakan di Macau Cina, pada 8-13 April 2019.

Mahasiswa jurusan pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang lebih dikenal dengan panggilan Agus Kentang ini, akan bersaing dengan peserta dari 56 negara. Agus dengan puluhan pemuda dari berbagai penjuru dunia akan mempresentasikan berbagai usaha “zaman now” yang memiliki dampak sosial tinggi terhadap masyarakat sekitar.

“Konsep yang akan saya usung pada kompetisi mahasiswa skala internasional di Tiongkok, yaitu Agro Lestari Merbabu. Agro Lestari Merbabu ini mempunyai sub divisi usaha mulai dari pembibitan benih kentang hingga pengolahan pascapanen,” terang Agus Kentang saat audiensi dengan Wakil Gubernur di ruang kerja wakil gubernur, Jumat (5/4/2019).

Pemuda yang aktif di bidang pertanian ini menjelaskan, aktivitas yang ada di Agro Lestari Merbabu melibatkan banyak orang, dari orang tua hingga anak-anak muda, baik laki-laki maupun perempuan bekerja dan memperoleh penghasilan dari kentang yang menjadi komoditas unggulan lereng Merbabu tersebut.

“Bapak-bapak biasanya budidaya dan menanam kentang, ibu-ibu mengolah menjadi berbagai produk. Sedangkan para anak muda bagaimana mengemas dan memasarkan produk agar menarik dan diminati konsumen,” bebernya.

Menurutnya, usaha ‘zaman now’ itu usaha yang bisa berdampak untuk orang banyak. Sebab itu, melewati budidaya kentang dari hulu sampai hilir, baik langsung maupun tidak langsung berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan sebagian besar warga berprofesi sebagai petani dan luas lahan pertanian 200 hektare, Kregon Wetan sangat berpotensi sebagai daerah penghasil kentang unggulan.

Saat ini, lanjut dia, Agro Lestari Merbabu sedang mengembangkan varietas Vega yang nikmat untuk olahan goreng maupun rebus. Apalagi selama ini bahan baku olahan kentang goreng merupaan kentang impor. Sehingga dengan pembudidayaan varietas lokal untuk olahan kentang goreng, peluang usaha dan penyerapan tenaga kerja di desa semakin terbuka luas.

“Apa yang akan saya paparkan di kompetisi lusa, sekaligus untuk memikat generasi muda di desa mau menekuni bidang pertanian. Mengolah lahan dan komoditas yang ada di desa supaya dapat menghasilkan pendapatan,” terangnya.

Agus menegaskan, petani milenial itu dapat bercocok tanam dengan memasukan teknologi. Antara lain smart Irigasi yang diterapkan sejumlah kelompok tani di kawasan Ngablak. Dengan menerapkan teknologi irigasi ini, penyiraman bisa dilakukan kapanpun, tanpa harus ada petani di lokasi pertanian. Karena proses penyiraman dikendalikan lewat aplikasi yang terdapat di telepon genggam.

Wakil Gubernur Jawa Tengah H Taj Yasin Maimoen mengaku bangga atas keikutsertaan salah warga Jateng pada ajang Global Student Enterpreneur Award. Dengan masuknya petani kentang asal Magelang di kompetisi internasional. Diharapkan, Agus mampu memberikan semangat kepada generasi muda untuk terjun di bidang pertanian.

Dalam kesempatan itu, mantan anggota DPRD Jateng ini, juga mengapresiasi berbagai program yang digencarkan para petani kentang di Desa Sumberejo dan sekitarnya. Melewati penerapan teknologi di bidang pertanian, akan menarik generasi muda untuk menggeluti dan memajukan pertanian.

Pria yang akrab disapa Gus Yasin ini mengatakan, kentang yang merupakan salah satu komoditas unggulan petani di daerah Magelang dan sekitarnya, akan semakin “menjual” dan diburu konsumen dari berbagai daerah, jika diolah dan dikemas menarik. Dengan produktivitas kentang yang melimpah dan berkualitas, diharapkan memunculkan aneka produk kentang yang menjadi ciri khas Magelang.

“Supaya konsumen lebih yakin dengan produk yang dikonsumsi, maka para pelaku usaha harus memperhatikan kualitas produk dengan mencantumkan izin IPRT, halal, serta legalitas produk lainnya. Kita harus mendorong pelaku usaha untuk mengurus izin IPRT da lainnya,” tandasnya.

Muhammad Padil, Petani Muda Dari Kalimantan Timur

Muhammad Padil, pemuda asal Samarinda terpilih sebagai Duta Petani Milenial Kalimantan Timur. Terpilihnya Padil, sapaan karibnya, untuk mewakili Kalimantan Timur pada program Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Padil menjadi salah satu dari duta petani milenial se-Indonesia yang baru saja dikukuhkan oleh Menteri Pertanian, pada Senin, (13/4/2020) lalu.
Berdasarkan Surat Kementrian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian dengan nomor B-55556/SM.050/I/04/2020, dia merupakan 1 dari 67 Duta Petani Milenial yang sukses dalam mengembangkan usaha pertanian.
Akan tetapi, pengukuhan ini harus dilaksanakan melalui video conference karena pandemi corona yang dialami oleh berbagai negara di belahan dunia pada Senin (13/4).
Provinsi Kalimantan Timur menjadi salah satu provinsi yang sukses mengirimkan salah satu perwakilanya untuk menjadi Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA).Pada tahun 2018 seorang Padil sempat tidak lolos dalam sistem pendaftaran online. Tapi dia tidak putus asa dan mencari jalan yang lain. Sambil terus memperbaiki diri apa yang menjadi kekurangannya, Padil mengikuti jalur pendaftaran PWMP (Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian). Hasil tidak akan mengkhianati proses adalah ungkapan yang sangat tepat buat Padil, karena ia memperoleh pengumuman bahwa dirinya lolos.
“Pada dua tahun kemarin tepatnya 2018, saya gak terlalu update tentang informasi dan malah cuma dapat sekilas tentang duta petani, saya daftar online itu tidak dapat info lanjutan. Akhirnya saya gagal dan kesempatan kedua ini saya coba jalur lain, yang bernama PWMP sambil memperbaiki diri dan juga persiapan akhirnya saya lolos” katanya.
Terpilihnya Padil bukanlah hal yang gampang, sebab dirinya harus menjalankan salah satu program Pemerintah yaitu penumbuhan wirausaha muda pertanian.
“Perbaikan diri itu pasti kita lakukan, di PWMP sendiri saya menang di penumbuhan wirausaha muda pertanian tahun 2018 dan tetap konsisten dan itu memperoleh bantuan pemerintah dan kementrian dan dipantau selama 2 tahun,” katanya.
Diketahui DPM dan DPA yang dikukuhkan sebanyak 67 orang. Terdiri dari 59 orang DPM yaitu petani yang berusia antara 19-39 tahun, dan 8 orang DPA yaitu petani yang berusia diatas 39 tahun. Semuanya itu dari berbagai aspek komoditas seperti tanaman pangan, perkebunan, peternakan hingga hortikultura.
Dalam hal ini, menjadi duta pertanian sangatlah penting untuk terus memajukan sektor pertanian. Anak muda di era milenial ini yang harus menjadi penggerak sektor pertanian supaya pertanian menjadi sebuah sektor yang maju dan modern.

Wisnu Saepudin, Petani milenial dari Bandung Barat

Wisnu Saepudin, petani milenial asal Kampung Barunyatu, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) sukses menjadi petani Paprika di usia muda.

Selama 4 tahun bertani sayuran Paprika dengan mengusung konsep kolaborasi dan edukasi, dia berhasil menjadi sosok pembaharu untuk milenial di kampungnya dan sekarang mempunyai 22 petani binaan.

Tak tanggung, dari ketekunan serta konsistensinya memilih jalan hidup menjadi petani, sekarang dia mampu mendapatkan laba bersih sampai puluhan juta sebulan dan menjunjung kesejahteraan petani binaannya.

Wisnu baru saja selesai mengirim sayuran paprika kualitas terbaik ke pasar Kramatjati Jakarta. Sehari, ia bisa memasok 1 sampai 1,5 ton Paprika berbagai jenia untuk memenuhi permintaan pasar yang kian melonjak.Disela aktifitasnya ini, Wisnu sedikit berbagi kisah sukses menjadi petani milenial yang kini kurang diminati sebagian besar generasi muda.

“Tidak gengsi, mau belajar dan konsisten untuk berjuang menjadi petani,”ucap dia membuka perbincangan.

Wisnu mengatakan, awal mula ia memilih menjadi petani Paprika sebetulnya dengan alasan sederhana. Lahir dan dibersarkan pada daerah pertanian, dia berinovasi melihat peluang besar menjadi kaya dengan menanam Paprika.”Simpel saja sebenarnya, disini banyak petani sayuran seperti brokoli dan seladah, tapi yang jadi petani kaya itu menanam Paprika. Atas dasar itu saya belajar menanam Paprika,”cetus dia.

Diwarisi orang tua lahan seluas 1.200 meter persegi, Wisnu memberanikan diri membangun green house diatas lahan tersebut. Memang butuh modal yang tidak sedikit untuk bertani Paprika, setidaknya green house dibangun dengan biaya Rp105 juta namun tahan hingga 8 tahun.

Tapi ia tak begitu khawatir, nilai jual Paprika di pasaran tak pernah anjlok, jika lesu pun Paprika terbilang mempunyai harga yang lebih baik ketimbang sayuran lainnya.

Disamping itu, panen Paprika warna merah, hijau dan kuning akan berlangsung sepanjang tahun asalkan mahir merawat dan menjaganya dari hama.

“Secara mandiri itu mulai tahun 2016, orang tua sudah memulainya tahun 2012. Tapi pengolahan dan perawatan Paprika jauh berbeda dengan saya,” kata dia.

Sosok Jatu Barmawati petani milenial yang sukses berbisnis manggis

Segala cara terus dilakukan Kementerian Pertanian untuk melakukan regenerasi petani. Salah satunya dengan program YESS. Di program ini, kisah-kisah sukses petani milenial diangkat ke permukaan. Salah satunya kisah Jatu Barmawati yang sukses menjadi eksportir.

Jatu Barmawati terlahir dari seorang petani di pinggiran Lampung. Wanita berusia 29 tahun ini menjalani profesi yang bisa membuatnya menjadi sarjana pertanian di salah satu kampus di DI Yogyakarta.

Anggapan miring terhadap profesi petani yang identik dengan kuno, kotor, kumuh, tidak mendapatkan banyak uang berhasil ditepis oleh Jatu Barmawati. Ia menjelma menjadi seorang wirausaha pertanian milenial yang telah sukses mengekspor manggis ke wilayah Eropa. Jatu bahkan bertekad menjawab tantangan yang umumnya menganggap pekerjaan pertanian dilecehkan, terlebih lagi bagi seorang wanita.

“Setelah saya lulus kuliah, image miring profesi petani menjadi tantangan, motivasi dan juga peluang untuk dapat mengembangkan diri saya pribadi dan mengubah mindset orang sekitar,” kisah Jatu.

Menurutnya, pertanian itu sustainability sexy, semakin ditekuni semakin penasaran dan menggairahkan.

Awalnya, Jatu memberanikan terjun ke dunia pertanian karena memperhatian usaha pertanian yang dikelola ayahnya. Dari itulah ia pun tergugah melanjutkan pendidikannya di jurusan pertanian sampai akhirnya bisa menjadi eksportir wanita muda yang bisa dibilang sukses.

Bersama rekannya, Jatu memulai usaha dengan membuat tiga pilar kegiatan, yaitu edukasi, RnD serta pengabdian masyarakat. Beberapa event pun diselenggarakan seperti Little Farmers Academy, Earth Camp, serta Healthy Hangout Bazaar.Dari berbagai kegiatan tersebut, komunitas Agriculture Youth Organization-Community (AYO) membuat suatu gerakan untuk mengembangkan produk-produk anggotanya melalui AYOMart sebagai sayap mandiri dalam fund rising. “Profit yang ada dari AYOMart kemudian untuk kegiatan sosial tim kami,” ujarnya.

Sosok Jayadi, Petani Muda Sukses dari Indramayu

Di kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura), Kabupaten Indramayu menjadi salah satu kantong pertanian yang selalu diharapkan produksinya. Sebab itu, gerakan Kostratani harus terus menggema di seantero Kota Mangga tersebut. Termasuk dalam menciptakan milenial milenial yang terus mengerjakan pertanian Indramayu.

Adalah Jayadi, salah seorang petani milenial yang dimiliki oleh Kabupaten Indramayu. Selain sebagai petani padi berusia 32 tahun ini pun menekuni komoditas hortikultura diantaranya bawang merah dan cabai.Jayadi menggarap lahan padi seluas 2 hektar dengan rata-rata produksi 6,3 ton per hektarnya. Ia menanam cabe diluasan 100 bata (1 bata = 14 m, red) dengan hasil 7 kwintal per sekali petik serta bawang merah di lahan seluas 100 bata dengan hasil 4 ton per 100 bata.

Untuk mengembangkan daya jual hasil pertaniannya bawang yg ia tanam diolah menjadi bawang goreng dan Siwang (terasi bawang).

“Saya pernah memilih pergi keluar negeri untuk menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI), tapi kemudian memutuskan untuk kembali di tempat kelahirandan menekuni sektor pertanian sekitar 7 tahunan lalu,” ungkap Jayadi.

Ia pun terus menambah pengetahuannya tentang budidaya, panen serta paska panen melalui berbagai cara salah satunya adalah mendatangi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Lelea yang selama ini telah membinanya.

Abdullah Muklas adalah penyuluh pertanian yang mendampingi Jayadi. “BPP Lelea banyak memiliki petani milenial, salah satunya Jayadi. Komoditas yang digeluti pun beragam mulai dari tanaman pangan, hortikultura baik budidaya maupun pengolahan,” jelasnya.

Produk olahan bawang goreng produksi Jayadi awalnya masih sangat tradisional dan dikemas seadanya, akan tetapi setelah mendapatkan informasi dan pelatihan ia pun memperbaiki serta meningkatkan kualitas produknya. “Bahkan kini produknya sudah bisa ditemui di pasaran dengan kemasan yang menarik”, jelas Abdullah.

Sinergitas antara Jayadi selaku petani dan Abdullah selaku penyuluh merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Didukung dengan keberadaan BPP sebagai pusat simpul koordinasi (posko) pembangunan Pertanian di tingkat Kecamatan menjadi wadah belajar dan berlatih bagi petani untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuannya.

Terlebih BPP Lelea menjadi model Kostratani di kabupaten Indramayu yang didukung digitalisasi dalam menjalankan tugas, peran dan fungsi BPP guna mendukung peningkatan produksi dan produkfitas pertanian.

Tambah Milenial

Dalam setiap kesempatan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) Dedi Nursyamsi mengatakan ada 3 faktor pengungkit produktivitas di sektor pertanian. Mulai dari teknologi, peraturan perundangan termasuk Peraturan Daerah yang bisa menjamin luas sawah serta sumberdaya manusia (SDM). Dari ketiga faktor tersebut, SDM pertanian memiliki kontribusi paling besar yaitu mencapai 50%. Karena, SDM-lah yang mengarahkan teknologi, sarana prasarana, termasuk kebijakan.

“Jumlah petani di Indonesia sekitar 33, 4 juta orang, dan sekitar 76?alah pria dan sisanya wanita. Berdasarkan kelompok umur, mayoritas petani kita berada di usia 45 hingga 54 tahun. Jumlahnya sekitar 27%, pada rentang usia 55-64 sekitar 21%, dan usia petani di atas 65 tahun sebanyak 13%. Jika dijumlahkan jumlah petani usia tua mencapai 61%,” jelasnya

Sedangkan dari petani dari kelompok milenial sangat sedikit. Pada rentang usia 35-44 tahun, jumlahnya sekitar 24%. Petani usia 25-34 tahun sebanyak 12%, dan sisanya petani berusia di bawah 25 tahun. Kategori petani milenial adalah yang usianya kurang dari 40 tahun. “Kondisi ini yang harus menjadi perhatian. Sebab, ada prediksi yang menyebutkan jika 10 tahun yang akan datang kita bisa mengalami krisis jika tidak terjadi regenerasi. Karena, sampai saat ini petani masih didominasi oleh yang berusia tua,” tambahnya.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo juga mengatakan sektor pertanian sangat terbuka untuk semua usia. “Semakin muda semakin kuat, semakin enerjik, semakin kritis, makin apik kerjanya. Anak milenial harus mau diajak melihat teman-temannya yang sukses. Online sistem, startup, digital sistem menjadi jawaban peluang bisnis pertanian,” ujarnya.

Sebab itu, pertanian dengan semangat baru juga harus diluncurkan. Seperti membangun perilaku baru dan behaviour anak muda untuk mendapatkan pendapatan yang jauh lebih baik dari bidang pertanian.

Hal ini pun diamini oleh Plt Bupati Indramayu, Taufik Hidayat yang sangat mendukung regenerasi petani khususnya di wilayah Indramayu. Hadirnya BPP Kostratani tak hanya dapat membantu meningkatkan produksi dan produktivitas tetapi sekaligus meningkatkan minat generasi milenial untuk menekuni sektor pertanian.

“Kami ingin menciptakan dan terus menanmbah jumlah petani milenial. Kita akan ajak anak-anak muda untuk tetap di Indramayu, bekerja dan berusaha di Indramayu, tetapi dengan penghasilan seperti di kota melalui sektor pertanian,” ungkapnya.

Shofyan Adi Cahyono, Duta Petani Milenal

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta generasi milenial pertanian untuk memanfaatkan paradigma baru dunia digital dalam mengembangkan pertanian. Pertanian era sekarang tidak bisa disamakan lagi dengan era sebelumnya.

“Pertanian sekarang tak lagi sama dengan pertanian di masa lalu. Di era digital seperti sekarang, sektor pertanian juga beradaptasi dengan teknologi 4.0 untuk menjawab tantangan ke depan. Di situlah peran serta generasi milenial,“ ujar Mentan Syahrul, saat mengukuhkan 67 orang Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan, dalam keterangan tertulis, Kamis, 16 April 2020.

Salah satu Duta Petani Milenial asal Semarang yang sudah mengikuti arahan tersebut adalah Shofyan Adi Cahyono.Duta Petani Milenial asal Semarang ini sudah memulai bisnisnya sejak usia belasan tahun. Sekarang, Shofyan menjadi pengusaha pertanian yang sukses.

Sebagai Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Citra Muda dan pendiri P.O Sayur Organik Merbabu (SOM), Shofyan juga menjalani profesi sebagai konsultan pertanian, fasilitator, serta asesor pertanian organik di Lembaga Sertifikasi Profesi Pertanian Organik (LSPPO) Jakarta.

Dia mengaku bangga Kementan telah memilihnya, sebab dengan menjadi Duta Petani Milenial dapat lebih banyak mengenal orang-orang hebat. Terlebih, ia bisa membagikan ilmu dan pengalamannya untuk memotivasi petani muda yang lain.

Pertanian telah membawa saya ke Taiwan untuk belajar pertanian organik. Pertanian pula yang menuntun saya bertemu dengan tokoh-tokoh penting di Indonesia, bahkan bertemu Presiden Jokowi,“ ujarnya, bangga.

Memulai bisnis menjual sayur organik sejak 2014, sekarang Shofyan bisa menikmati manisnya berbisnis di sektor pertanian. P.O Sayur Organik Merbabu (SOM) yang digagasnya sudah memasarkan 50 jenis sayuran organik ke sejumlah daerah di pulau Jawa hingga Kalimantan. Bahkan sampai ke Singapura dengan omzet mencapai Rp60 juta sebulan.

“Rencana ke depan, kami akan tetap fokus pada pertanian organik dengan mengembangkan bisnis, menjalin relasi, kemitraan, serta membuat konten-konten seputar pertanian organik supaya pertanian organik dapat lebih dikenal masyarakat terutama petani muda,” ujar Shofyan.

Terhubung hal ini, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menambahkan, peningkatan petani pengusaha milenial sebagai upaya Kementan untuk mempercepat regenerasi petani. Petani pengusaha milenial ini juga didorong untuk ekspor.

“Turunnya jumlah petani berusia muda akan menimbulkan krisis petani. Oleh karenanya, regenerasi petani mutlak dilakukan karena mereka paling berperan sangat strategis dalam pembangunan pertanian Indonesia ke depan, di era modern. Mereka dipastikan melek teknologi dan cerdas,“ kata Dedi Nursyamsi.