Nopi Herdinal Petani Muda dari Jambi

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) terus mendorong anak muda termasuk kalangan milenial mau bertani. Dia meyakini generasi muda menjadi penentu kemajuan pertanian nasional. Menurut Menteri, estafet petani selanjutnya berada di pundak generasi muda. Karena mereka memiliki inovasi dan gagasan kreatif yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan pertanian. “Generasi milenial adalah masa depan sektor pertanian. Generasi yang mampu memanfaatkan teknologi yang tersedia, dunia dalam genggaman mereka,” papar SYL

Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi adalah daerah yang potensial untuk pengembangan pertanian, baik itu tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Potensi inilah yang dimanfaatkan oleh salah satu generasi muda milenial kelahiran Kota Sungai Penuh yang bernama Nopi Herdinal.

Bagi Nopi Hardinal, menjadi petani adalah pilihan bukan pelarian. Sebagai generasi muda, dia ikut terpanggil mengajak generasi muda yang lain untuk berkontribusi memajukan pertanian Kota Sungai Penuh. Nopi bergerak dibidang tanaman pangan yaitu padi sawah dengan luas lahan ¬+ 2 hektar yang produktivitas hasilnya mencapai 10,5 ton/hektar dengan bimbingan dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura serta penyuluh Kota Sungai Penuh. “Alhamdulillah untuk produksi terus meningkat setiap tahunnya,” ujar Nopi

Pemuda yang menjadi petani berprestasi Kota Sungai Penuh tahun 2020 ini juga menekuni bidang tanaman hortikultura diantaranya tanaman cabe, tomat dan bawang merah. ”Pada saat ini tanaman tomat telah berumur 2 bulan 1 minggu, sudah siap panen dan memasuki panen ke-4 dan Alhamdulillah hasilnya cukup bagus,” Disamping itu, Nopi juga menekuni tanaman perkebunan yaitu tanaman kopi Arabica yang telah berumur 2 tahun dan sudah mulai berproduksi di lahan seluas 2 hektar.

Nopi yang juga pernah menjadi petani berprestasi tingkat nasional pada tahun 2016 lalu ini telah menggagas rencana kedepannya dibidang pertanian. “Kita berencana membuat channel youtube untuk penyebaran informasi dibidang pertanian ditambah untuk mengangkat profil dari teman – teman yang sukses dibidang pertanian. Selain itu, kita juga merencanakan pendirian usaha fresh market yang dengan tujuan untuk pemasaran hasil produk – produk pertanian yang bermutu dengan packaging yang bagus dan menarik ditambah dengan pemanfaatan media social sebagai sarana promosi dan juga sarana pemasaran,” terang Nopi.

Sementara itu penyuluh swadaya Kota Sungai Penuh, Asmaneli memberikan sarannya tentang profil Nopi Hardinal. “Saya cukup mengenal Nopi dalam berbagai kegiatan – kegiatan yang dilakukan olehnya tentang pertanian. Dan Nopi Herdinal juga pernah menyampaikan beberapa materi dan menjadi narasumber pada kegiatan pelatihan di bidang pertanian,” ucap Asmaneli.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa keberadaan para petani milenial sangat dibutuhkan untuk menjadi pelopor sekaligus membuat jejaring usaha pertanian. “Mereka (petani milenial) diharapkan mampu menarik minat generasi milenial menekuni usaha dibidang pertanian. Apalagi sudah banyak petani milenial yang kini telah menjadi pengusaha sector pertanian dan mengembangkan usahanya dari hulu hingga ke hilir,” ujar Dedi.

Sandi Octa Susila Ketua Petani Milenial Telah Merasakan Untungnya Pertanian

Ketua Duta Petani Milenial, Sandi Octa Susila, mengatakan pertanian menjadi sektor yang bonafide dan menguntungkan untuk dikerjakan, sekalipun di masa pandemi. Menurut dia, generasi muda memiliki kemampuan yang lebih untuk mengoptimalisasi pertanian lewat internet of things.

“Saya sudah rasakan betul, karena memang ada duitnya. Usaha yang saya jalankan sudah masuk ke tahun kelima,” kata Sandi dalam dalam Talk Show Virtual yang digelar Satgas Penanganan Covid-19, Senin (23/11).

Sandi menceritakan, awalmula menjadi petani, ia mengkoordinasikan 10 petani di kampungnya di Cianjur. Namun, sekarang terus berkembang menjadi 385 petani yang bergabung. Adapun komoditas yang digeluti yakni hortikultura dan disuplai langsung ke pasar modern sehingga usaha yang dijalankan terintegrasi dari hulu ke hilir.

“Kita kerja sama dengan mitra yang pasti membeli produk kita. Harga hasil dari petani juga dibeli lebih tinggi karena kita benahi kualitas. Ini satu-satunya sektor yang tahan terhadap pandemi,” ujarnya.

Ia pun bercerita, membangun bisnis pertanian memang tidak mudah ketika di awal. Apalagi saat mengkonsolidasikan para petani di desanya yang seluruhnya berusia tua. Menurut Sandi, penggunaan teknologi digital tidak bisa digunakan oleh generasi petani tua saat ini. Ia mengaku telah berulang kali melatih petani namun tetap tidak bisa ditiru.

“Mereka hanya butuh kalimat sederhana dan bisa diimplementasi di lapangan. Jadi, bicara revolusi industri 4.0 itu tidak sampai,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata Sandi generasi milenial dibutuhkan dalam sektor pertanian. Karena, hanya milenial yang bisa mengadopsi industri 4.0 di dalam sektor pertanian.

Sekarang, ia sendiri sudah mengkoordinasikan luasan lahan sekitar 120 hektare yang dipantau lewat aplikasi. Dengan begitu, kontrol pertumbuhan tanaman dapat dilakukan lewat komputer sehingga lebih mengefisienkan kinerja namun dengan hasil yang lebih efektif.

Sumber: https://republika.co.id/berita/qk8s4r423/petani-milenial-saya-sudah-rasakan-pertanian-menguntungkan