Ekoyono, Petani Milenial Yang Sukses Berbisnis Kelapa Sawit

Puluhan tahun yang lalu, kehidupan Ekoyono dan keluarganya sangat penuh dengan dilema. Di satu sisi, kedua orang tua Eko ingin memperbaiki perekonomian keluarganya, karena mereka datang dari keluarga yang kurang mampu.

Namun di sisi lain mereka bingung karena tidak memiliki keahlian apapun untuk menunjang hal tersebut.

Sebuah harapan besar datang kepada Eko ketika keluarganya ditawari untuk mengikuti program Perkebunan Inti Rakyat Transmigrasi (PIR Trans) yang tengah dicanangkan pemerintah ketika itu. Melalui program PIR Trans ini, pemerintah mendorong pola kerjasama antara petani kelapa sawit dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Pada tahun 1990 Eko dan keluarganya, kemudian pindah dari tempat tinggal awalnya di Ciamis, Jawa Barat, ke Pelalawan, Riau, untuk bergabung sebagai petani plasma dari perusahaan perkebunan PT. Inti Indosawit Subur (Asian Agri). Melalui program kemitraan ini, selain mendapatkan binaan mengenai tata cara bertani kelapa sawit yang baik dan benar, mereka juga mendapatkan jatah hidup setiap bulannya dari pemerintah dan Asian Agri.“Orang tua saya dapat informasi dari temannya bahwa program PIR Trans ini memiliki prospek kedepannya sangat menjanjikan,” kata Eko.

“Jadi transmigrasi ini adalah salah satu upaya orang tua saya untuk memperbaiki perekonomian keluarga saya. Kami pindah dari Ciamis, Pulau Jawa, ke Riau, Pulau Sumatera” lanjutnya.

Pada mulanya, Eko dan keluarganya agak khawatir, karena banyak sekali orang yang beranggapan bahwa para transmigran adalah orang-orang yang dibuang oleh pemerintah.

“Dulu kami dianggap sebagai orang buangan. Bahkan ada yang bilang bahwa kami akan tinggal di hutan. Padahal kan tujuan program tersebut adalah untuk pemerataan,” ujar pria kelahiran 1977 ini.

Awalnya Eko dan keluarganya menerima lahan seluas 2 hektar yang bisa dijadikan sebagai perkebunan kelapa sawit.

Seiring berjalannya waktu, perkebunan kelapa sawit milik keluarga Eko semakin besar dan maju. Lambat laun kesejahteraan Eko dan keluarganya pun kian meningkat dan berbeda jauh seperti ketika tinggal di Ciamis dulu.

“Saya sangat bersyukur kedua orang tua saya dulu memilih untuk ikut program PIR Trans. Kami sekarang jauh lebih sejahtera, bahkan kini kami telah mempekerjakan 18 orang untuk mengelola perkebunan kelapa sawit kami yang seluas 40 hektar,” kata Eko.“Pendapatan saya per bulan sebenarnya sangat relatif, mungkin di kisaran 60-80 juta per bulannya. Namun yang terpenting adalah, dengan menjadi petani sawit, saya bisa membuka lapangan pekerjaan dan membantu orang-orang sekitar yang membutuhkan,” ujar anak pertama dari 3 bersaudara ini.

Selepas ayahnya tiada, Eko lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia pun memutuskan untuk mengikuti jejak orang tuanya untuk menjadi petani kelapa sawit generasi kedua di keluarganya. Ia menyadari apa yang ia dapatkan sekarang semata-mata datang dari perkebunan kelapa sawit. Bahkan adiknya yang paling kecil kini bisa berkuliah dari hasil bertani kelapa sawit. Sedangkan adik perempuannya yang kedua, lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga.

“Orang tua tidak pernah menyuruh saya untuk menjadi petani kelapa sawit. Ini murni keinginan saya sendiri. Orang tua saya memang mengajarkan mengenai bagaimana tata cara bertani yang baik. Tapi selain itu saya juga belajar secara dari luar juga, tidak hanya dari orang tua saja,” Eko menjelaskan.

“Orang tua saya hanya bermodal cangkul saja bisa menjadi petani sukses dan menyejahterakan keluarganya.

Kemudian saya berpikir bahwa saya harusnya bisa menjadi petani yang lebih sukses lagi, terlebih lagi di jaman modern seperti ini. Itulah mengapa saya tetap ingin menjadi petani kelapa sawit” kata Eko.

Eko mengungkapkan dirinya tidak pernah malu berprofesi sebagai seorang petani kelapa sawit. Meskipun labelnya adalah seorang petani, namun menurutnya penghasilan yang ia dapatkan jauh lebih besar dibandingkan bekerja kantoran.

“Intinya jangan gengsi. Karena menjadi petani kelapa sawit pun sangat menguntungkan,” tutup Eko.

Ananda Dwi Septian, Petani Muda Dari Purwakarta

Roda kehidupan terus berputar, seseorang yang sempat di bawah akan mengalami masa di atas. Apapun kondisinya fase kehidupan arus tetap dijalani. Terpenting, terus mendulang prestasi. Hal ini dilakukan seorang pemuda asal kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Ananda Dwi Septian akrab disapa Boti. Pria berusia 24 tahun itu sukses menjadi seorang petani. Boti awalnya bekerja di perusahaan tidak kurang dari satu tahun setengah, kemudian memutuskan mengundurkan diri dan membuka usaha isi ulang pulsa seluler untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak berselang lama, Boti memilih terjun sebagai seorang petani memanfaatkan lahan milik orang tuanya.Tak disangka, rezekinya justru mengalir deras dari profesi barunya tersebut. Boti mengaku, dalam jangka waktu tiga tahun terakhir, dirinya bisa menghasilkan keuntungan minimal Rp7 juta per bulan dari hasil bertani. “Dulu pernah bekerja di pabrik. Saat itu, penghasilan saya di bawah Rp4 juta. Memang, saya bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga tapi tidak bisa menabung,” ujar dia, Sabtu (28/12/2019). Dia bercerita, awalnya dirinya tidak berniat terjun ke dunia pertanian, namun setelah bergaul dengan Himpunan Pemuda Tani Purwakarta (Hidata), dia merasa terdorong menggeluti usaha pertanian dengan modal Rp3.500.000 hasil dirinya menabung. Mengawali terjun ke pertanian sempat dilarang kedua orang tua dengan alasan dianggap kurang menguntungkan dari sisi ekonomi. Namun, dirinya nekat memanfaatkan lahan seluas 5.000 meter persegi milik orang tuanya untuk dijadikan ladang penghasilan barunya. “Dulu tidak direstui. Sekarang justru keluarga saya yang lain jadi ikut bertani seperti saya, bahkan mereka belajar dari saya,” kata dia. Boti memilih bertani berbagai jenis sayuran seperti mentimun, cabai, hingga kacang panjang. Hasil produksinya sudah bisa masuk ke pasar-pasar modern di dalam dan luar daerahnya. Sisanya, dibeli oleh tengkulak. “Produk saya belum bisa masuk standar ke supermarket. Soalnya baru kelas B, yang diterima kelas A,” ucap Boti. Boti mengajak kepada para pemuda untuk tidak ragu bertani karena hasilnya cukup menjanjikan tidak kalah dengan bekerja di luar.

Sosok Zulaini, Petani Milenial Yang Sukses Menanam Padi

Musim panen padi kali ini di rasakan berbeda bagi petani Desa Mandalasari Kecamatan Mataram Baru Kabupaten Lampung Timur, pasalnya di akhir tahun ini petani sawah di Desa mandalasari bisa memaksimalkan hasilnya.

Musim gadu, atau sebutan kata lain dari bertanam di saat kemarau bagi para petani Desa Mandalasari memang waktu yang bisa di harapkan bagi pertanian padi mereka, dan akhir tahun ini mereka sudah memulai memanen hasil sawahnya dengan hasil yang terbilang sempurna dari musim sebelumnya.

Zulaini salah satu petani yang dapat di temui menuturkan kepada tim peliput, Kamis (13/12/2018), bahwa total area sawah yang di milikinya, dalam 1 hektarnya sudah mendapatkan 120 karung gabah basah, atau di perkirakan 8,5 ton lebih.

“Luas 3 hektar sawah saya, 1 hektar yang sudah saya panen dapet 120 karung mas, sisanya belum saya panen nunggu agak tua sedikit” kata Zulaini yang beralamat di dusun 2 Desa Mandalasari yang juga mantan P3A itu.

“Alhamdulilah musim gadu ini, kalau area sawah di Desa mandalasari rata rata bisa maksimal hasilnya, tetapi juga semua itu tergantung perawatan para petani itu sendiri” tambahnya menjelaskan.

Edi Rusmawan Kepala Desa Mandalasari juga menanggapi hal tersebut, serta menjelaskan bahwa musim gadu memang menjadi tumpuan para petani Desanya, karena dalam setahunya para petani masih mampu menanam hanya 2 musim saja, di karenakan menjelang hujan mereka tidak berani memulai, dikarenakan faktor alam yaitu ancaman banjir yang masih melanda di area persawahan, yang mengakibatkan persentase gagal panen sangat besar.

“Hampir 70% warga Desa kami petani, musim tahun ini bisa di katakan lumayan, sampai saat ini petani Desa kami memang masih hanya mengandalkan pada musim gadu saja untuk bisa berharap hasil banyak”. kata Wawan sapaan akrabnya.

“Tapi kami beruntung berkat koordinasi yang baik antara instansi pertanian, segala hal teknis permasalahan di pertanian kami bisa teratasi dengan baik, segala bantuan bibit, kemudahan mendapatkan pupuk dan pengawasan dari dinas juga sudah kami rasakan manfaatnya”. jelasnya.

“Tahap demi tahap kami akan terus bergerak dan berupaya untuk membantu para petani untuk bisa meningkatkan produksi pertanian di Desa kami yang total luas areal persawahanya mencapai 330 hektar ini”, tambahnya.

Tumaji, Petani Muda Asal Pacitan Yang Sukses Berbisnis Kedelai Hitam

Sebuah jabatan yang tak selalu menjadi sebuah ukuran kesuksesan seseorang. Hal itu juga dialami Tumaji warga RT/RW 01/II, Dusun Krajan, Desa Kembang, Pacitan. Pria yang menjabat sebagai Kepala Desa Kembang sejak 2002 hingga 2012 ini kini menjadi petani kedelai yang sukses.

Saat berbincang dengan Pacitanku.com, Minggu (19/1/2020) di Pacitan, Tumaji menceritakan dirinya sejak tahun 2007 mulai menekuni pertanian, khususnya kedelai jenis malika. Dia menceritakan, awal sebagai petani malika hanya ikut – ikutan saja.Tapi lama kelamaan, dia terus menekuni bisnisnya tersebut, salah satunya tekun belajar bertani kedelai malika dengan teman – teman petani di daerah Kecamatan Pringkuku sampai tahun 2012. Dalam perjuangannyapun tidak semudah apa yang di bayangkan, banyak tantangan, banyak liku – liku dan banyak lagi kesulitan – kesulitan yang di jumpainya.

Walaupun awalnya mendapat tentangan keras dari beberapa orang, tetapi lambat laun ia mampu meyakinkan para petani. Tumaji berhasil membuktikan diri kalau menjadi petani juga bisa memberikan kepastikan hidup sukses.

“Saya meyakini dari hal yang terpenting dalam semangat hidup kita ini adalah, bagaimana hidup kita bisa bermanfaat bagi para petani yang ada di wilayah kita, karena kita adalah masyarakat petani, berawal dari sebuah keprihatinan,”kata Tumaji.

Keprihatinan yang dimaksud, kata Tumaji, adalah saat para petani pada musim panen sering mengalami harga anjlok, hancur.

“Saya pernah dalam masa tidak pernah mendapatkan harga yang sepadan, tidak pernah mendapatkan uang tunai, kadang kala hasil panen diutang dengan tempo berbulan – bulan, bahkan sampai terjadi tak terbayar,”ujarnya.

Close Ads X
Keseriusan Tumaji setalah tidak menjabat sebagai Kepala Desa, meihat keprihatinan para petani, ia terpanggil untuk berbuat walaupun sedikit bisa membantu petani malika. Bersedia sebagai jembatan selama dirinya kuat membantu para petani malika.

Berkat kegigihannya, kini kedelai malika yang dirintisnya mulai membuahkan hasil. Bahkan, saat ini dirinya membangun kemitraan para petani di sekitar, juga sudah merambah ke daerah Jawa Tengah, seperti daerah Pracimantoro, Baturetno sampai Wonogiri.

Selain itu, hasil pertanian kedelai malika Tumaji menyetok kebutuhan perusahaan yang menggunakan kedelai sebagai bahan bakunya.

“Dengan teman – teman Asosiasi kemitraan kedelai hitam ini, berusaha menyediakan kepada unilever Bangau agar tidak mendatangkan kedelai hitam dari luar negeri. Kebetulan saya dipercaya menjadi Sekjend asosiasi kemitraan kedelai hitam, jadi saya berharap semua kebutuhan bangau unilever kita cukupi,”ungkapnya.

“Saya dan teman – teman akan berjuang dalam rangka bagaimana petani kedelai malika bisa menjadi mitra kami. Dalam membangun kemitraan kepada para petani kedelai hitam, perlunya kita menjadi oendamping mereka, kita berikan benih, lalu kita pantau sampai panen, dan juga mengenalkan bagaimana mengolah tanah dalam pertanian yang sesuai dengan prosedur,”ceritanya lagi.

Lalo, Petani Milenial Asal Ambon Yang Sukses Menanam Sawi

Dibawa bedeng sawi yang tertutup plastik, Lalo bersama istrinya, Neni merawat tanaman sawi di lahan kosong kawasan Desa Paso Kecamatan Baguala Kota Ambon, Sabtu siang 26 Agustus lalu.

Lelaki berusia 38 tahun, rajin mengamati satu persatu sawi yang berusia sepekan di bedeng dengan lebar sekitar 2 meter dan panjang 15 meter itu. jika ada sawi yang mati atau layu, terserang hama, Lalo dan istrinya langsung menggantinya dengan sawi baru.Sesekali Lalo juga menyiram air serta menyemprot pupuk agar tanama sawi sehat. Itulah aktivitas Lalo di atas lahan milik RRI Ambon yang disewanya untuk lahan pertanian sejak 2013. Lalo menggarap lahan tersebut menjadi subur. Di atas lahan seluas 25 x 30 meter itu, pria beranak dua ini menanami sawi, kangkung darat dan bayam merah.

Lelaki asal Makasssar, Sulawesi Selatan (Sulsel) ini merintis usaha pertanian di Ambon. Baginya, Ambon memiliki potensi pertanian yang menjanjikan. Masih banyak lahan kosong dan tidak jauh dari pusat kota. Awal membuka usahanya, Lalo mengakui hampir putus asa, karena keterbatasan dana untuk membeli benih atau bibit sawi, pupuk membasmikan hama dan membuat bedeng.Namun harapanya mulai bangkit setelah permohonan kredit usaha kecil (KUR) diterima BRI Ambon pada 2013. Saat itu, Lalo mendapat kucuran kredit sebesar Rp 15 juta. Dana tersebut digunakan membeli kebutuhan pertanian, seperti benih sayur, pupuk, membuat bedeng serta plastik ultraviolet. Plastik itu digunakan menutup bedeng melindungi hasil kebunnya dari hujan ataupun sinar matahari secara berlebihan. Apalagi Kota Ambon memiliki intensitas hujan yang tinggi.

“Saat modal belum ada, usaha kami belum maju. Alhamdulillah setelah ambil KUR usaha mulai lancar,” ujar Lalo, saat ditemui wartawan peserta Journalist Class yang digelar Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Maluku pada Sabtu 26 Agustus. Dalam kunjungan ke lokasi pertanian Lalo itu, hadir juga Kepala OJK Maluku Bambang Hermanto dan pimpinan BRI Cabang Ambon Tito Witarnawan.

Lalo mengungkapkan, hasil panen sayur mayur diutamakan membayar angsuran kredit. Panen berikutnya, digunakan untuk membeli pupuk, benih dan kebutuhan. Lalo menggunakan masa tanam sayur mayur hingga panen selama 20 hari, sehingga perputaran modal cepat.Setelah kredit pertama lunas, Lalo pun mengajukan permohonan KUR dengan nilai Rp 20 juta, dan langsung diterima BRI Ambon. Untuk menjaga kepercayaan pihak BRI, Lalo mengungkapkan tiap bulan mengembalikan cicilan kredit sebesar Rp 1,4 juta hingga Rp 1,5 juta. Dalam waktu sepuluh bulan lunas dari jangka waktu setahun yang ditentukan BRI.

Seiring berkembang usaha menanam sayur, dan lancar membayar kredit tiap bulannya, Lalo pun mengajukan kredit lebih besar yakni, Rp 25 juta. “Dengan penambangan nilai kredit ini, tentu penghasilan kita makin bertambah. Karena bisa beli banyak kebutuhan untuk meningkatkan hasil usaha pertanian kita termasuk perluas sewa lahan,” ucapnya.

Lalo mengungkapkan, saat ini hasil usahanya itu sebulan bisa mendapat untung hingga Rp 8.000.000, namun jika cuaca panas, keuntungan mereka turun berkisar Rp 4.000.000. Hasil usahanya ini juga mengantarkan seorang anaknya ke bangku kuliah di pergurian tinggi ternama di Makassar, Sulsel, dan seorang lagi masih sekolah di Ambon.

Pimpinan Bank BRI Cabang Ambon, Tito Mitarnawan mengungkapkan, awalnya pihak bank khawatir memberikan kredit kepada petani. Penyebannya usaha di sektor pertanian termasuk perikanan itu tidak beromset harian.Namun lain halnya dengan Lalo, bank memberikan kepercayaan kepada kreditur binaanya itu lantaran memiliki pola penanaman berkala. Waktu panen pertama, Lalo gunakan untuk pembayaran KUR. Panen berikutnya untuk membeli kebutuhan pupuk sehingga memudahkannya dalam pembayaran kredit.

“Jujur saya awalnya kami dari perbankan agak takut memberikan kredit di bidang pertanian dan perikanan, karena konsistensi pembayarannya beda dengan perdagangan yang memiliki omset harian. Tapi Pak Lalo memodifikasi sistem hasil panennya dengan mengutamakan pembayaran KUR, sehingga kami percaya beliau hingga saat ini,” jelas Tito.

Ia mengungkapkan, saat ini pemerintah memberikan kemudahan kredit melalui sektor pertanian. Dan BRI menjadi satu-satunya bank yang menjalankan kredit program tersebut. “Secara keseluruhan sampai saat ini total penyaluran KUR dari BRI pada berbagai bidang di Maluku mencapai 300 miliar rupiah,” sambung Tito.

Kepala OJK Maluku Bambang Hermanto menyatakan, selaku pihak yang mengawasi industri jasa keuangan dan industri perbankan, OJK terus mendorong perbankan untuk menyalurkan KUR. Menurut Bambang, OJK mencatat, penyaluran kredit sektor produktif maupun sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berkembang positif di Maluku. Terutama di sektor UMKM mengalami peningkatan sebesar 8,58 persen atau sebesar Rp. 229,61 miliar dari Rp.2,66 triliun menjadi Rp. 2,91 triliun.

Penyaluran kredit itu didominasi sektor ekonomi usaha kecil yang mencapai Rp 1,20 Triliun atau sebesar 41,20 persen dari total kredit UMKM. “Dukungan pembiayaan oleh perbankan kepada sektor produktif merupakan motor penggerak utama dalam pembangunan ekonomi masyarakat, karena dari sektor inilah efek berantai kesejahteraan dimulai, ”ujar Bambang.

Kini usaha Lalo terus berkembang. Hasil panenya dikonsumsi warga Ambon dan sekitarnya. Lalo adalah salah satu pemasok sayuran dengan jumlah besar di Pasar Mardika Ambon. “Selama orang masih makan sayur, usaha pertanian itu sangat menguntungkan,” jelas Lalo.

Rommy Mamesah, Petani muda Dari Minahasa

Petani merupakan orang yang berprofesi bercocok tanam, baik di lahan pribadi maupun memiliki hak penuh dalam menjalankan budidaya. Petani sukses sangat membantu bagi semua orang. Hal ini dikarenakan, petani memberikan sarana hidup bagi masyarakat berupa bahan makanan yang tentunya membuat kita bisa bertahan hidup. Untuk menjadi seorang petani sukses bukanlah hal yang mudah. Anda bisa belajar dari kisah petani sukses dari nol. Para petani inspiratif tersebut memulai usahanya dari awal dengan pengalaman, ketekunan, pengetahuan, dan kegigihan.Kisah petani sukses dari nol seringkali menjadi inspirasi petani pemula yang ingin mencoba melakukan budidaya tanaman. Apabila anda ingin menjadi seorang petani sukses, anda harus mempunyai pengalaman yang cukup dalam berbudidaya. Pasalnya, banyak lulusan sarjana pertanian yang lulus bergelar S1 namun dalam praktek di lapangan kurang terampil. Hal ini dikarenakan pengetahuan dasar saja memang tidak cukup untuk bertani. Melakukan pertanian ini tidak mudah. Sebagai petani pemula, ada baiknya anda belajar kepada petani yang telah berpengalaman.Petani yang sukses melakukan budidaya tanaman kali ini bernama Rommy Mamesah. Petani ini tinggal di wilayah Kawangkoan, Tompaso, Langowan, Minahasa, Sulawesi Utara. Rommy meraup keuntungan berlipat dengan membudidayakan cabai dan tomat. Dari hasil bertani cabai dan tomat ini, puluhan keluarga sudah mendapat keuntungan mencapai Rp. 200 juta dalam sekali musim tanam. Lahan seluas sekitar seperempat hektare yang ada di Langowan Barat bisa menghasilkan uang sebesar Rp. 150 juta hanya dalam waktu 4 bulan.Ketika cabai dipanen pertama kali, harga jualnya mencapai Rp. 70 ribu/kg. Pada panen pertama ini, Rommy memetik sekitar 50 kg cabai. Rommy berhasil meraup keuntungan sebesar Rp. 3,5 juta. Banyak pengumpul yang datang untuk membeli cabainya, salah satunya ialah pria dari Manado. Pria ini datang menawar cabai Rommy. Keduanya sepakat dengan harga Rp. 150 juta. Sepekan kemudian harga cabai menembus harga paling tinggi yakni Rp. 90 ribu/kg. Harga jual cabai ini sangat tinggi, bahkan melebihi harga jual cengkeh kala itu.Kisah petani sukses dari nol lainnya bernama Abdul Qohar. Petani sukses ini tinggal di Desa Candisari, Kecamatan Sambeng, Lamongan. Abdul meraup banyak keuntungan dengan berkebun pepaya calina. Lahan pertanian yang ada di ujung selatan Lamongan terkenal kering dan sudah turun temurun hanya ditanami tembakau, padi, serta jagung. Namun hal ini tidak menyurutkan niat Abdul. Dengan keuletan dan kegigihan, Abdul berhasil membentuk Kelompok Tani Godong Ijo Sejahtera dengan 112 anggota yang tersebar di 8 desa di wilayah Kecamatan Sambeng.Dengan total kebun buah pepaya calina seluas 15 hektar, Lamongan menjadi produsen terbesar ketiga di wilayah Jawa Timur. Tak hanya ke Lamongan saja, buah pepaya calina dari Sambeng ini juga dipasarkan hingga ke Tuban, Gresik, serta Jakarta. Dalam lahan seluas 1 hektar, dapat ditanam hingga 1.520 batang pepaya calina. Pada setiap hektar, petani dapat mendapat omzet sebesar Rp. 18 juta/bulan. Hal ini pun sudah dihitung dengan adanya kemungkinan faktor kegagalan.Masa panen buah pepaya calina itu sendiri yakni ketika telah berusia 6 bulan 20 hari. Pepaya calina akan terus berbuah sampai berumur 3 tahun kemudian. Pepaya calina dari Sambeng ini sudah memiliki merk dagang. Pemilik kebun pun sudah mendapatkan binaan khusus untuk menjaga kualitas buah pepaya agar sama, meski ditanam di lahan yang berbeda.

Sanusi, Petani Milenial Dari Tangerang

Indonesia dikenal sebagai sebuah negara, yang sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Oleh karena itu, kini pemerintah tengah menggalakkan sektor pertanian Indonesia, untuk menekan impor bahan pangan.

Bahkan, ada beberapa petani yang dinobatkan sebagai petani sukses dalam acara Danamon Award 2014. salah satunya bernama Sanusi, yang merupakan seorang petani sukses asal desa Rancalabuh, kecamatan Kemiri, kabupaten Tangerang-Banten.

Berdasarkan dari kisah hidupnya, perjalanan hidup Sanusi tergolong menyedihkan. Pasalnya, Ketika baru pertama kali menginjakkan kaki di Rancalabuh, Sanusi adalah petani kere tanpa modal, yang hanya bermodalkan semangat. Seiring berjalannya waktu, Sanusi mendapat kepercayaan untuk membuka dan mengelola lahan tidur yang belum layak untuk ditanami.Dan berawal dari kerja kerasnya di tahun 1987, Sanusi mulai mengolah lahan tersebut dengan penuh keuletan. Berkat jerih payahnya, akhirnya ia berhasil mengolah lahan tersebut. Tak hanya membuka lahan, ia juga sukses menambah wawasan bertani dengan pola tanam modern untuk warga sekitar.

Sejatinya, Sanusi merupakan petani urban asal Tuban-Jawa Timur yang berhasil membuka lahan tidur seluas 30 hektar, menjadi lahan pertanian produktif. Yang mana lahan tersebut kini bisa ditanami padi, timun, kacang panjang dan beberapa jenis tanaman hortikultura lainnya.

Sedangkan untuk sistemnya, menggunakan sistem pertanian modern, serta pengairan yang mengandalkan pompanisasi. Berkat sistem tersebut Sanusi berhasil menaikkan hasil panen padi dari 1-2 ton per hektar menjadi 6-7 hektar per hektar. Luar biasa !!!

Untuk mengelola lahan tersebut, Sanusi bekerja sama dengan kelompok tani Rancalabuh. Berkat kerja kerasnya, kini Sanusi mampu menghasilkan keuntungan hingga Rp 40-70 Juta per bulan.

Keuntungan ini tentunya sebuah prestasi tersendiri. Mencetak lahan pertanian produktif lalu menghasilkan keuntungan yang membanggakan dan mempelopori sistem pertanian modern kepada petani sekitar. Dan itulah nilai lebih bagi seorang sanusi yang hanya lulus Sekolah Rakyat (SR).

Hebatnya lagi, meski sudah meraih kesuksesan Sanusi tak pernah melupakan warga dan petani yang kurang berhasil di sekitarnya. Tiap tahun 400 anak yatim dan janda miskin mendapat bantuan berupa uang. Sanusi juga tak pelit berbagi ilmu, ia menjadi tempat bertanya tentang pertanian dan permasalahannya.

H Bambang Sumadji HS, Petani Mienial Dari Kediri

Kisah Awal Petani Sukses Bambang Sumadji

Kisah sukses usaha pertanian Bambang sendiri dimulai pada tahun 1977. Ketika itu dengan uang sebesar Rp 1,5 juta yang diperolehnya dari pengajuan kredit Bank BNI, Bambang melakukan penanaman bawang merah di atas lahan sewaan seluas 1 hektar. Tak dinyana dari apa yang dilakukan pada awal usahanya ini Bambang mendapatkan hasil yang lumayan baik. Pada panen awalnya saat itu Bambang mampu mendapatkan 7 ton bawang merah yang kemudian dijualnya dengan harga Rp 150 per kilogram (harga tahun 1997). Dalam waktu satu tahun sendiri pria yang pernah kuliah di Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya ini kala itu mampu memanen bawang merahnya sebanyak tiga kali. Ini artinya dalam satu tahun Bambang mampu meraup hasil Rp 3,15 juta rupiah (tahun 1997).

Perkembangan Usaha Tani Bambang Sumadji
Dari setiap keuntungan yang didapat itu sedikit demi sedikit Bambang menggunakannya untuk pengembangan usaha bawang merah. Dari sinilah kepemilikan lahannya pun berkembang semakin luas menjadi 200 hektar yang tersebar di tersebar di Sukomoro Nganjuk dan juga Sidowarek serta Plemahan, Pare, Kediri. Tidak hanya itu pemasaran usaha pertaniannya juga telah meluas hingga Indonesia Timur. Dari perkembangn usaha ini Bambang juga kemudian meluaskan usahanya pada penanaman cabe pda lahan seluas 25 hektar di desa Pelem, Pare. Maka dari keseluruhan lahan pertanian yang dimilikinya ini Bambang bisa memanen 28 ribu ton bawang merah, dalam dua kali masa panen. Sedangkan pada komoditas cabe merah sendiri dengan total luas satu hektar maka akan menghasilkan 20 ton dalam panennya. Dari sini maka dalam setahunnya, bambang bsai memperoleh 500 ton per tahun dari kedua komoditi yang ditanamnya ini.
Kewalahan Penuhi Permintaan
Untuk komoditi bawang merah sendiri, Bambang mengaku masih kewalahan memenuhi permintaan pasar meski panen telah mencapai ribuan ton. Bahkan untuk kawasan Indonesia Timur yang sebelum dipasoknya kini tak sanggup lagi disupplai-nya. Mengapa bisa demkian? Sebab, menurut Bambang untuk kebutuhan sendiri saja, ia masih kekurangan bahan. Bahkan pada tahun 1991 sendiri Bambang tak lagi menjual bawang merah dalam kondisi mentah, namun lebih dari itu Bambang sudah mengolahnya. Olahan bawang merah yang digoreng produksi Bambang ini sendiri diberi nama atau merek Bagindo. Nah untuk produksi Bagindo ini Bambang mengaku membutuhkan pasokan 150 ton bawang merah mentah.

Pabrik Usaha Bambang Sumadji
Pabriknya sendiri saat ini telah dibantu oleh 150 karyawan dengan gaji rata-rata Rp 500 ribu/bulan hingga Rp 1 juta. Selian membuat bawang goreng kemasan, di pabriknya ini Bambang juga membuat sambal pecel dengan merek yang sama yaitu Bagindo.Untuk produksi sambel pecel sendiri, bambang dibantu oleh 50 karyawan dengan total produksi mencapai 30 ton sambal pecel per bulan. Untuk pemasaran hasil-hasil pertanian dan produksinya ini Bambang memiliki 20 unit armada angkutan jenis L-300.

Terjun ke Dunia Perbankan
Setelah sukses di bidang pertanian dan juga produksi bahan makanan, bambang kembali meluaskan bidang usahanya ke perbankan. Mantan pengurus Muhammadiyah Pare ini memang diketahui terlah merambah ke dunia perbankan sejak tahun 1990 dengan mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) ‘Agro Cipta Adiguna’. Dibidang perbankan ini sendiri Bambang mendapati kesuksesan. Bahkan BPR yang didirikan Bambang ini pernah terpilih sebagai BPR terbaik tingkat nasional, Desember tahun lalu.

Dididik Belajar Jual-beli dan Istiqomah Sejak Kecil
Kesuksesan yang didapat oleh Bambang Sumadji ini memang tidak bisa dilepaskan dari didikan orangtuanya saat dirinya masih kecil. Sejak kecil sendiri Bambang dididik orang tuanya untuk selalu istiqomah dengan apa-apa yang dikerjakannya. Keluarga Bambang yang berlatar belakang petani dan pedagang ini akhirnya juga mendidik Bambang dalam dua bidang ini. Menurutnya, tak jarang dirinya selalu dilibatkan oleh orang tuanya dalam kegiatan jual beli hasil pertanian. Keterlibatan Bambang dalam hal ini misalnya saat terjadi transaksi atau diskusi-diskusi usaha. Dari keterlibatan Bambang dalam kegiatan jual beli sejak kecil inilah maka kemudian naluri bisnisnya tumbuh dan terus bertumbuh. Bahkan menurutnya beberapa hal seperti kiat menangkap peluang usaha juga banyak diperolehnya dari pembelajaran sejak kecil tersebut.

Amanah Jauh Lebih Penting Dari Modal
Dari sekian banyak pembelajaran yang diberikan orang tuanya, Bambang mengaku bahwa ilmu yang paling penting yang pembelajaran yang ada adalah soal amanah (kepercayaan). Menurutnya amanah memang adalah hal yang sangat penting dari proses bisnis itu sendiri. Bahkan saking pentingnya amanah ini ia bisa mengalahkan apapun termasuk modal. Atau boleh dibilang amanah adalah modal yang paling penting dari dunia usaha (entrepreneur). Maka menurutnya, bila bisnis dijalankan hanya dengan mengutamakan modal besar tanpa amanah maka usaha ini akan bisa jeblok (bangkrut).

Pentingnya Istiqomah
Dalam sebuah usaha, apapun itu bentuknya termasuk bidang pertanian, maka istiqomah adalah yang juga penting untuk dilakukan setiap pebisnis menurut Bambang. Masalah jatuh bangun, untung dan rugi adalah hal yang biasa saja dalam bisnis. Jadi ketika usaha sedang turun, seorang pengusaha tidak boleh lantas menyerah. Tapi lebih dari itu mereka harus tetap istiqomah (tetap terus bergerak dan tekun) dalam usahanya. Jika pengusaha sudah menyerah saat jatuh maka mereka akan sulit untuk mencapai suskes, tutur Bambang. Bambang sendiri sudah sangat sering mengalami jatuh bangun usaha. Bahkan ditahun 1994 usahanya pernah nyaris bangkrut. Kejatuhan usahanya saat itu sendiri terjadi karena ia mengalami gagalan panen. Saat itu ia harus menanggung kerugian hingga mencapai Rp 1 miliar lebih.

Sadar Akan Kekuasaan Tuhan
Kejatuhan yang sangat berat tahun 1994 saat itu membuat Bambang kemudian tersadar akan kekuasaan Tuhan. ya, saat itu ia merasa ditampar oleh Tuhan agar berubah dan memikirkan orang lain juga. Nah dari sini kemudian Bambang pun banyak berkontribusi dalam kegiatan sosial dan keumatan. Setiap tahunnya dari laba bersih sebesar 500 – 700 juta rupiah, Bambang mengeluarkan 15% untuk zakat usahanya. 15% dari zakatnya sendiri disalurkan ke para bekerja pabrik, lembaga-lembaga sosial, serta buruh tani di lingkungan perusahaan.

Ikut Serta Dalam Pemberdayaan Ekonomi Petani
Jiwa sosial Bambang sendiri terus meluas pada hal lain. Sebagai seorang koordinator Kopermas (Koperasi Peran Serta Masyarakat) di wilayah Kediri dan Madiun, Bambang memang kemudian diberikan tanggung jawab untuk memberdayakan perekonomian para petani. Nah untuk hal inil kemudian Bambang mendapat kesempatan bersama lembaga swadaya masyarakat PPM (Pusat Peran Serta Masyarakat) Jawa Timur untuk mewujudkan pemberdayaan ekonomi para petani tersebut. Lembaga swadya masyarakat PPM ini sendiri memang memiliki gungsi untuk membantu para petani dalam beberpa hal seperti menyalurkan KUT (Kredit Usaha Tani), pengadaan pangan, penyediaan saprodi (sarana produksi padi), serta menampung hasil panen.

Masa Depan Sektor Pertanian yang Cerah
Menurt Bambang, masa depan pertanian Indonesia kedepan akan sangat cerah. Hal ini terbukti dari potensi agribisnis yang terus mengalami peningkatan yang fluktuatif. Optimisme Bambang sendiri juga didukung oleh kondisi masa reformasi yang membuatnya mudah mendapatkan informasi penting dan bermanfaat mengenai dunia pertanian. Keterbukaan informasi yang menunjang pertanian ini memang sangat sulit didapatkan para petani termasuk Bambang dulu ketika masa orde baru.

Suwarno, Petani Muda Yang Sukses Menanam Melon

Meski di tengah masa pandemi Covid-19, produktivitas pertanian di kabupaten Tuban tampak tidak terpengaruh. Hal ini terbukti dari keberhasilan Kelompok Petani Bangkit Makmur Kecamatan Parengan yang sukses panen petik buah melon dengan masa tanam selama kurang lebih 2 bulan, Kamis (20/8/2020).

Ketua Kelompok Petani Bangkit Makmur Parengan Suwarno mengatakan, dari 19.200 tanaman melon sebanyak 90 persen tumbuh sehat dan tidak dimakan hama. Hasil panen melon kali ini diperkirakan 80 persen atau sekitar 41.472 kilo memiliki grade A. Sedangkan untuk melon grade B sebanyak 7.776 kg dan selebihnya 2.592 kg.

Berdasarkan hasil perhitungan, lanjut Suwarno, total biaya yang dikeluarkan untuk budidaya tanaman melon kali ini mencapai 172 juta. Biaya tersebut sudah termasuk sewa lahan dan perawatan melon. Diperkirakan panen melon mencapai 51 ton dengan rata-rata beratnya 2 kg /buah.

Suwarno menambahkan harga jual buah melon cenderung mudah berubah, berkisar 5-7 ribu per kilo. Setelah dilakukan kalkulasi pendapatan kotor dikurangi biaya produksi, didapatkan rata-rata pendapatan bersih sekitar 134 juta rupiah.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Tuban atas perhatian dan dukungannya. Harapannya, dapat memotivasi petani terus berkreasi dan berinovasi menuju petani sukses,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan /DPKP Kabupaten Tuban, Murtadji, menyebutkan lahan pertanian melon seluas 1,8 ha ini dikelola oleh Perkumpulan Petani Bangkit Makmur kecamatan Parengan. Lahan tersebut ditanami 19.200 tanaman melon dengan estimasi panen mencapai 51 ton. Melon yang dipanen dibagi menjadi 3 grade yaitu A, B, dan C.

“Melon dengan Grade A menjadi kualitas terbaik dan dijual hingga ke luar pulau Jawa,” katanya.

Murtadji menerangkan bantuan alat pertanian yang diserahkan kepada kelompok petani berasal dari Kementerian Pertanian RI. Bantuan tersebut diharapkan mampu mendukung peningkatan hasil pertanian di Bumi Wali.

Bupati Tuban, H. Fathul Huda menjelaskan penduduk Kabupaten Tuban sebanyak 80 persen berprofesi petani. Pertanian di Bumi Wali dihadapkan permasalahan berupa biaya produksi mahal untuk akomodasi transportasi pertanian.

Menyikapi hal tersebut, Pemkab Tuban sejak 2011 terus berupaya meningkatkan infrastruktur Jalan Usaha Tani. Petani juga dihadapkan dengan ketersediaan sumber air yang minim di beberapa wilayah. Adanya sumber air yang representatif mampu meningkatkan produktivitas pertanian.

Karenanya, Pemkab Tuban terus berupaya mengoptimalkan tersedianya pengairan dgn pengeboran ataupun dari sumber air terdekat.

Bupati mengajak petani berkreasi dan berinovasi mengembangkan pertaniannya dengan tidak hanya menanam padi dan jagung. Potensi pertanian dapat dimaksimalkan dengan menanam holtikultura maupun tanaman lainnya, seperti melon, jeruk, kelengkeng, alpukat maupun porang.

“Saat ini, Pemkab Tuban tengah berupaya menyediakan lahan seluas 100 ha untuk budidaya tanaman porang dari Kementerian Pertanian RI,” ujarnya.

Bupati Tuban dua periode ini mengungkapkan rasa bangga atas keberhasilan pertanian di kabupaten Tuban meski di tengah pandemi Covid-19. Produktivitas panen padi dan jagung tiap tahunnya meningkat meski luas lahan tanam mengalami penurunan.

“Ini bentuk kerjasama yg baik antara pemerintah dan petani, hal ini harus terus terjaga dan dapat ditingkatkan krn kab.Tuban telah ditetapkan sebagai salah satu lumbung pangan untuk tetap terjaganya ketahanan pangan Nadional,” tuturnya.

Tosca Santoso, Petani Muda Yang Berhasil Menghutankan TN Gunung Gede Pangrango

Perjuangan untuk mengembalikan fungsi hutan dari kebun sayur milik petani yang tidak memiliki lahan tidaklah mudah. Selain harus memberikan pengertian tentang mereka yang akan kehilangan penghasilan hingga membujuk warga dan komunitas menanam pohon sangat sulit.

Namun dengan niat dan kerja keras, Tosca Santoso berhasil mengubah kebun sayur petani kembali menjadi hutan di Sarongge adalah nama sebuah kampung di kaki Gunung Gede.

Dia akhirnya mampu menyulap kebun sayur milik petani kembali men jadi hutan hijau. Komunitas dan pejabat pun berbondong-bondong memberikan bantuan. Dan ‘bonus’ yang tidak terduga yakni kedatangan Presiden SBY melihat lahan yang sudah dihijaukan tersebut.

Siapa pria yang bertanggungjawab di balik kesuksesan memulihkan hutan yang masuk dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango tersebut?. Dia adalah Tosca Santoso. Tosca adalah punya sejarah pajang sebagai seorang jurnalis. Ia juga menjadi salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI)

Kisah Petani Kembalikan Hutan

Bukit-bukit di atas kampung Sarongge itu, kini terlihat rindang. Rasamala, puspa, saninten, suren, ki hujan, tumbuh berdampingan. Sebagian sudah 20 meter tingginya. Pakis purba muncul di sana-sini, tanpa pernah ada yang menanam. Tanda hutan mulai pulih.Udara segar.

Banyak satwa mendatangi hutan kecil, yang dua belas tahun lalu, masih berupa kebun sayur.
Dua belas tahun. Waktu yang lama untuk menunggu. Tapi berharga untuk dijalani, ketika hasilnya adalah hutan yang kembali. Saya terlibat bersama masyarakat Sarongge, memulihkan hutan di kaki Gunung Gede. Di area yang termasuk dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Ikhtiar yang perlu dicatat.

Tiga punggungan bukit kecil itu, dinamai : Pasir Leutik, Pasir Tengah dan Pasir Kidul. Luasnya sekira 38 ha.Bertahun-tahun, petani Sarongge mengolahnya untuk kebun sayur. Sejak area itu masih di bawah Perhutani. Ada 150 keluarga yang menggantungkan hidup di sana, dengan menanam sawi, kol, brokoli dan sayur lain.

Tahun 2008, saya jumpa petani-petani itu, dan mengajak mereka menghutankan kembali kebunsayurnya. Karena bukit-bukit itu telah jadi bagian dari taman nasional, yang menurut aturan tak boleh ditanami sayur. Presiden Megawati Soekarnoputri mengubah status lahan di kaki gunung itu, dari Perhutani ke TN Gunung Gede Pangrango pada 2003.

“Jadi kami akan diusir?” gugat Dudu Duroni, ketua kelompok tani. Pada pertemuan pertama kami di madrasah kampung itu. Saya sedang jelaskan tentang program adopsi pohon. Selama tiga tahun pertama, pohon endemi ditanam, petani masih boleh tanam sayur di sela bibit pohon hutan. Kalau pohonnya makin tinggi, sayur tak cocok lagi. Ini dengan lugas ditangkap Dudu, sebagai cara mengusir petani.Saya berhenti menjelaskan adopsi pohon. Kabut turun tiap sore dari kaki Gede. Juga pada hari pertemuan itu. Bercampur rupa-rupa asap rokok yang memenuhi madrasah. Kami bercerita sana-sini. Tak fokus lagi pada tema pertemuan. Salah satunya adalah pertanyaan,” Berapa penghasilan berkebun di kaki gunung itu?” Dudu menyebut angka.

Saya menawarkan, “kalau penghasilan dari usaha lain lebih besar dari itu, apa mau turun dari gunung?”
“Mau,” jawab Dudu cepat. Bertani di gunung itu mahal ongkosnya. Pupuk harus diangkut ke gunung. Biaya panen lebih tinggi. Mereka terpaksa bertani di sana, hanya karena tak punya lahan lain.

Maka program adopsi pohon – yaitu petani menanam pohon endemi di area yang akan dihutankan, dengan dana sumbangan dari pengadopsi pohon; sedikit kami modifikasi. Petani turun dari gunung, bukan ditarget waktunya. Tetapi kalau penghasilan lain sudah lebih tinggi dibanding berkebun di gunung.

Sejak pertemuan itu, kami rajin mengumumkan program adopsi pohon di Green Radio – radio dengan perspektif lingkungan yang dulu mengudara di Jakarta. Sekarang sudah mati-. Kami ajak pendengar ikut mengadopsi pohon. Rp 108 rb/pohon. Bisa ditanam sendiri atau ditanam oleh petani. Lalu pohon itu ditandai dengan GPS. Supaya pengadopsi tahu di mana lokasi pohonnya. Dan kalau mereka sempat, dapat menengok kapan saja.

Program ini menarik minat kelas menengah Jakarta. Mereka berpartisipasi menghutankan lagi bukit gundul, mengurangi banjir di ibukota, tanpa banyak repot. Hanya sekali menyumbang, pohonnya dirawat petani. Kalau sedang longgar dan ingin nikmati udara desa, mereka bisa tengok pohonnya ke Sarongge. Sejak 2008 itu, banyak tokoh yang mengadopsi pohon : Faisal Basri, Jimly Assidiqie ( waktu itu Ketua MK), Teten Masduki, sekarang Menteri Koperasi, juga kalangan seni : Goenawan Mohamad, Ayu Utami, Olga Lydia. Seribu lebih individu tercatat ikut adopsi pohon. Olga Lydia tergolong rajin mengadopsi pohon. Ia punya seratus pohon adopsi, yang kini sudah jadi hutan mini.

Perusahaan juga senang ambil bagian. Astra Internasional, Bodyshop, Four Seasons Hotel, Toshiba, Unilever dan banyak perusahaan lain. Mereka adopsi pohon dan gunakan kesempatan menanam untuk acara keakraban karyawannya. Pemilik Bodyshop Indonesia, Suzy Hutomo, bahkan membuat vlog tentang hutannya dan mengunggah di saluran youtube nya. Keterlibatan perusahaan membuat jumlah pohon adopsi cepat meningkat. Sekira 22.000 pohon diadopsi, ketika program ini ditutup pada 2014.

Lebih dari separo dana dialokasikan untuk kegiatan ekonomi alternatif di luar kebun. Ada yang ternak kambing. Ternak kelinci. Para pemuda merintis kebun sayur organik. Ada juga yang mencoba industri rumahan seperti membuat sabun, minyak sereh, jamu hingga merintis ekowisata Sarongge.

Produk- produk seperti Sabun Sarongge, Jamoe dan Teh Sereh Sarongge, sampai sekarang masih diproduksi dan dapat dibeli lewat pesanan online. Berbagai sumber ekonomi baru itu, menjadi gantungan mereka yang dulu berkebun sayur di taman nasional.

Sedikit demi sedikit, mereka yang telah dapat penghasilan di luar kebun, turun dari taman nasional. Sukarela. Tahun 2011, misalnya, setelah tiga tahun pohon endemi ditanam, Dudu memutuskan berhenti berkebun. Kami buatkan piagam untuk setiap petani yang sukarela turun. Penghargaan atas kesediaan mereka menghutankan kembali kebun sayur. Proses ini berjalan alamiah. Kadang 5 orang turun. Kadang hanya3 orang. Tak ada jadwal. Tanpa tekanan. Kami hanya berupaya keras untuk terus mencari alternatif pekerjaan. Sambil merawat pohon-pohon adopsi.

Kisah petani Sarongge menghutankan lagi kebun sayur itu, rupanya terdengar sampai telinga Presiden SBY. Ia berkunjung ke desa di kaki Gede itu 8 Januari 2013. Ia ingin melihat sendiri hutan yang dipulihkan. Selain itu, presiden menanam pohon bersama belasan menteri dan pejabat tinggi lain. Desa heboh. Belum pernah pejabat tinggi sebanyak itu, datang ke kampung Sarongge.

Pohon SBY, rasamala, dan pohon yang ditanam almarhumah Bu Ani, sebatang ki hujan, sampai sekarang tumbuh subur, dan sering ditengok pengunjung perkemahan Sarongge.
SBY datang dengan banyak bantuan. Sekolah, masjid, kegiatan ekonomi warga mendapat bantuan dana. Sebagian bantuan digunakan untuk membangun saung, tempat warga kini berkumpul dan berkegiatan.

Saung Sarongge, ikon desa itu, mulai digunakan tak lama setelah kunjungan SBY. Dan hadiah terbaik untuk warga adalah diberikannya izin kelola eco wisata atas hutan yang dipulihkan itu, kepada koperasi petani :Koperasi Sugih Makmur. Mereka dipercaya negara memanfaatkan hutan, untuk tujuan wisata dan pendidikan. Izin untuk Koperasi Sugih Makmur itu berlaku sampai sekarang.

Selain hal positif, kunjungan presiden juga membawa konsekuensi baru. Petani yang masih berkebun sayur diberi tenggat. Harus turun sebelum Agustus 2013. Negara mempercepat proses turun itu dengan memberi santunan bulanan, kepada mereka yang belum dapat alternatif kerja. Hutan di ujung Sarongge itu, secara resmi ditutup untuk kebun sayur.

Saya lihat petani yang sadar kebunnya harus dihutankanitu, menanggung beban berat ketika dihadapkan pada tenggat. Ada beberapa keluarga yang istrinya terpaksa berangkat jadi TKW. Saya selalu terharu kalau mengingat pengorbanan itu. Maka, saya putuskan untuk terus mendampingi petani Sarongge, meski program adopsi pohon sudah selesai.

Petani Sarongge selalu mengingatkan saya akan Tiga O. Slogan mereka tentang hubungan petani dan hutannya. Leweung hejO. Reseup nu nenjO. Patani ngejO. Hutan hijau. Senang yang melihatnya. Petani bisa menanak nasi. Pendeknya : Hutan terjaga, kalau petani sekitarnya sejahtera.