Menakar Potensi dan Tantangan Petani Milenial di Jawa Barat

Pemprov Jawa Barat tengah membuka program Petani Milenial. Para milenial akan mendapatkan suntikan dana hingga lahan perkebunan secara cuma-cuma di pedesaan.

Menanggapi hal tersebut, rasanya penting untuk mengetahui potensi bisnis dan rintangan yang mungkin akan dihadapi generasi milenial saat terjun ke dunia pertanian. Di Jawa Barat, komposisi penduduk milenial mencapai 26,07 persen dari total jumlah penduduk di Jabar yang mencapai 48,27 juta jiwa. Sementara secara nasional, jumlah kelompok milenial berada di angka 25,87 persen, dengan begitu kelompok milenial di Jabar lebih tinggi dari jumlah klasifikasi secara nasional.

Pakar Ekonomi Universitas Pasundan Acuviarta Kartabi mengatakan, jika dilihat dari jumlah potensinya, bisnis pertanian bisa dikatakan cukup menggiurkan. Hanya saja, pertanian menjadi salah satu bidang ekonomi yang cukup kompeks permasalahannya.

“Selain mendorong masuknya petani milenial, juga harus diperhatikan rantai bisnis dan perdagangan komoditas pertanian. Itu masalah yang kompleks. Perlu disampaikan dulu seperti apa skenario jangka menengah, katakanlah asumsinya ada petani milenial bertambah, siapa yang akan membeli komoditas yang mereka hasilkan karena itu bagian dari program pemerintah daerah,” ujar Kartabi saat dihubungi detikcom, Jumat (28/1/2021).

Dia memperkirakan, adanya petani milenial dapat merubah mindset anak muda soal pekerjaan tani. “Misalnya mereka lebih bisa beradaptasi dengan teknologi, sehingga akan ada penemuan-penemuan baru, varietas baru, jaringan pemasaran yang lebih inovatif, gaya kemasan yang beragam, dan adaptasi pemasaran secara online yang lebih maju,” jelasnya.

Seperti yang sempat terjadi di Jawa Timur, di mana seorang petani milenial di Blitar berhasil membuat varietas baru alpukat yang bernama Aligator. Aligator ini menghasilkan buah sebesar kepala bayi dengan berat mencapai dua kilogram dengan jual bibit seharga Rp 50 ribu per batang dan keuntungan hingga Rp 2 juta dari buah yang dihasilkan per pohon.

“Seorang petani milenial melakukan uji coba siangan tanaman ini bertahun-tahun hingga berhasil membuahkan hasil dengan kualitas dan kuantitas maksimal,” ujarnya.

Pemprov Jawa Barat tengah membuka program Petani Milenial. Para milenial akan mendapatkan suntikan dana hingga lahan perkebunan secara cuma-cuma di pedesaan.

Menanggapi hal tersebut, rasanya penting untuk mengetahui potensi bisnis dan rintangan yang mungkin akan dihadapi generasi milenial saat terjun ke dunia pertanian. Di Jawa Barat, komposisi penduduk milenial mencapai 26,07 persen dari total jumlah penduduk di Jabar yang mencapai 48,27 juta jiwa. Sementara secara nasional, jumlah kelompok milenial berada di angka 25,87 persen, dengan begitu kelompok milenial di Jabar lebih tinggi dari jumlah klasifikasi secara nasional.

Pakar Ekonomi Universitas Pasundan Acuviarta Kartabi mengatakan, jika dilihat dari jumlah potensinya, bisnis pertanian bisa dikatakan cukup menggiurkan. Hanya saja, pertanian menjadi salah satu bidang ekonomi yang cukup kompeks permasalahannya.

“Selain mendorong masuknya petani milenial, juga harus diperhatikan rantai bisnis dan perdagangan komoditas pertanian. Itu masalah yang kompleks. Perlu disampaikan dulu seperti apa skenario jangka menengah, katakanlah asumsinya ada petani milenial bertambah, siapa yang akan membeli komoditas yang mereka hasilkan karena itu bagian dari program pemerintah daerah,” ujar Kartabi saat dihubungi detikcom, Jumat (28/1/2021).

Dia memperkirakan, adanya petani milenial dapat merubah mindset anak muda soal pekerjaan tani. “Misalnya mereka lebih bisa beradaptasi dengan teknologi, sehingga akan ada penemuan-penemuan baru, varietas baru, jaringan pemasaran yang lebih inovatif, gaya kemasan yang beragam, dan adaptasi pemasaran secara online yang lebih maju,” jelasnya.

Seperti yang sempat terjadi di Jawa Timur, di mana seorang petani milenial di Blitar berhasil membuat varietas baru alpukat yang bernama Aligator. Aligator ini menghasilkan buah sebesar kepala bayi dengan berat mencapai dua kilogram dengan jual bibit seharga Rp 50 ribu per batang dan keuntungan hingga Rp 2 juta dari buah yang dihasilkan per pohon.

“Seorang petani milenial melakukan uji coba siangan tanaman ini bertahun-tahun hingga berhasil membuahkan hasil dengan kualitas dan kuantitas maksimal,” ujarnya.

Sumber: https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5351050/dicari-5-ribu-petani-milenial-di-jabar-dimodali-duit-dan-lahan